Emak Bertanya, Mbak Adi Berbagi

Diskusi dengan Mbak Adi D Adinugroho Horstman Ph.D (Special Needs Specialist)

Semacam kelas parenting informal yang tentu saja santai, diadakan oleh SimpHATI, dihadiri sekitar 25 ibu-ibu dan calon ibu. Kelas ini diadakan di Tika Kupi jalan Imam Bonjol nomor 1, Kampung Baru, Banda Aceh.

Kelas dibuka oleh Bunda Esti. “Awalnya kita mau menyepakati satu tema, tapi karena setiap emak di sini punya selera yang berbeda, menyukai kue yang berbeda, jadilah kita sepakat agar tema diskusi bebas seputar parenting. Jadi, emak-emak di sini bisa membawa pulang kue yang ia sukai, kue yang ia inginkan.” Kurang lebih begitu yang disampaikan Bunda Esti selaku moderator diskusi kali ini.

Baiklah, barangkali ada yang tidak berkesempatan hadir atau sekedar pertinggal untuk mengulang kaji, saya membuat sedikit resume yang semoga saja bermanfaat. Eh tapi, sebelumnya saya mohon maaf kalau redaksi pertanyaannya mungkin berubah, yang penting inti yang ingin ditanyakan ter-cover, ya. Soalnya saya pelupa sekali dan tidak mencatat pertanyaan-pertanyaannya, hanya jawaban dari Mbak Adi saja.

 

  • Salah seorang anak saya yang masih SD sangat respek dan empati dengan sesama muslim, namun sedikit antipati terhadap nonmuslim. Ia menggeneralisasi bahwa nonmuslim itu tidak baik dan tidak layak dibantu. Saat ada musibah di negeri yang mayoritas nonmuslim, ia tidak ingin turut serta menyumbang. Namun, jika disebutkan saudara sesama muslim di Palestina membutuhkan uluran tangan, maka dengan segera ia turut andil. Teman-teman sekolahnya sepertinya juga begitu, mereka hanya bersemangat membantu sesama muslim yang terkena musibah saja.

 

Jawaban Mbak Adi;

Orangtua perlu memberi pemahaman kepada anak tentang Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Menanamkan tauhid itu adalah tugas di dalam keluarga, sementara fungsi sekolah itu sendiri adalah untuk anak-anak mengaplikasikan nilai-nilai ketauhidan yan sudah ditanamkan di rumah. Buka banyak dialog dengan anak. Sebaiknya area ketauhidan, termasuk mazhab dan semacam ini harus dijelaskan dan ditanamkan di rumah. Lalu ajarkan anak menempatkan mana yang berkaitan dengan aqidah dan mana yang kaitannya dengan humanity. Kan tidak mungkin ketika di depan mata kita ada sesama manusia yang teraniaya, sedang susah, mengerang antara hidup dan mati, lalu kita membiarkan begitu saja. Sekali lagi buka banyak dialog dengan anak.

  • Anak saya disleksia, usianya menjelang 12 tahun dan sebentar lagi akan masuk ke jenjang pendidikan menengah. Executive function-nya masih dalam tahap latihan dan ahli meyarankan untuk menumbuhkan kemandirian dan kedisiplinannya, ada baiknya menuruti keinginannya untuk mencoba boarding school. Sementara kami sekeluarga berprinsip membersamai anak hingga usia baligh-nya. Adakah saran Mbak Adi untuk hal seperti ini?

Jawaban Mbak Adi :

Kalau memang anak ingin ke sekolah asrama, siapkan anak tersebut sedini mungkin. Begitu juga dengan orangtuanya, harus mempersiapkan diri melepas anak. Bonding ibu dan anak sangat penting. Ibu dan keluarga lah yang lebih paham apakah anak tersebut sebaiknya di sekolah asrama atau tetap bersama keluarganya dan bersekolah di tempat biasa. Saya juga pernah menangani case yang sama, ternyata memang anak ini berhasil ketika ia di boarding school. Sekarang anak tersebut sudah S2, namun sukses bagi keluarga kita itu, kan, berberda-beda ya. Missal ada yang merasa sukses itu harus di bidang akademik, ada pula hal lain. Kalau misalnya dia sudah S2 pun tapi belum mandiri, tas masih disiapkan orangtua, ini dan itu masih diurus orangtua, kita tentu tidak ingin seperti itu, kan?

 

Mengantarkan anak ke asrama atau tidak, itu adalah mutlak wewenang orangtua. Tentu ibu dan keluarga lebih paham dengan anak tersebut. Di sinilah kekuatan bonding ibu dan anak berlaku, artinya sudah membersamai tentu sudah tahu akan mengambil langkah apa. Anak yang disleksia terkadang mengalami gangguan kognitif namun ia bisa dilatih dengan self organizing. Karena ia tidak terganggu secara IQ, latihan pembiasaan manajemen diri akan banyak membantu perkembangannya.

 

  • Anak saya berusia 4 tahun dan sangat rapuh, mudah trauma. Hingga sekarang tidak berani melepas roda bantu di sepedanya. Pernah operasi dan sewaktu sadar, saya tidak ada di sampingnya, ia ketakutan dan sejak itu trauma ke RS. Melihat halamannya saja ia sudah menangis histeris.

Jawaban Mbak Adi:

Anak-anak pada dasarnya tidak mengenali rasa takut kecuali dikenalkan oleh orangtua atau orang di sekitarnya. Seperti anak kita yang baru belajar berjalan. Ia menelusur terus dan tidak tahu itu bahaya atau bukan, kemudian terjatuh dan reaksi kita yang akan mengajarkan dia bagaimana bersikap. Misal, saat jatuh kita menjerit panik dan kemudian dengan berlebihan menanyakan “aduuh, sakit ya?” dan seterusnya.

 

Jadi kalau memang anak sudah terlanjur trauma, sebenarnya jangankan anak, kita saja pernah mengalami ketakutan. Jadi pertama sekali terimalah perasaannya dengan baik. Pahami dia, mencoba berada di posisinya. Ajak dialog tentang perasaan yang dia rasakan, katakana kalau kita paham apa yang dia rasakan. Jika sudah trauma memang perlu terapi, artinya kita sebagai ortunya bisa menerapi. Karena terapi itu sebenarnya adalah proses, memang ada beberapa area yang harus dilakukan oleh orang yang ahli, namun ada sebagian yang bisa dikerjakan ortu yang bukan terapis. Karena anak kan masih kecil, ya. Memang kita tidak berharap dia sakit, namun interaksi dengan dokter dan RS di usia anak akan terjadi juga. Ketakutan ini harus diatasi dengan baik. Misal kita bisa melewati RS saat berjalan-jalan dan mengingatka kepada anak, “Naah.. nggak apa-apa, kan?” Kemudian bisa diulang lebih dekat lagi hingga anak kembali yakin tidak ada yang harus ditakutkan. Adanya trauma ini karena kehilangan trust, ini harus dikembalikan oleh orangtua.

 

  • Anak saya perempuan 10 tahun, sangat kritis dan menanyakan bersetubuh itu apa. Saya dan suami  sepakat menjelaskan dengan bahasa ilmiah kalau hal yang berkaitan dengan reproduksi. Kita sudah memakai istilah vagina, penis, ovarium, dan sperma untuk menjelaskan hal ini. Jadi saat itu kami menjelaskan artinya, penis tempat keluarnya sperma dimasukkan ke vagina. Di organ reproduksi perempuan Allah sudah berikan yang namanya sel telur atau ovum. Bertemulah ovum dan sperma yang kemudian membentuk zygot dan seterusnya kami jelaskan. Ini tidak sembarangan yang bisa melakukannya hanya orang yang sudah menikah. Kalau belum menikah itu namanya zina. Zina itu dosa. Lalu anak kembali bertanya, gimana cara masukinnya, kan pakai baju? Nah, setelah itu kami berpikir, benarkah cara kami menjelaskan hal tersebut?

Jawaban Mbak Adi:

Menjelaskan reproduksi kepada anak bukan sekedar prosesnya namun juga norma. Lalu kalau pertanyaannya sudah ke hal teknis sebaiknya dibatasi karena anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Apalagi jika dia kritis dan suka membaca. Di sini ada jawaban-jawaban bahwa tanpa diceritakan prosesnya, ketika dewasa nanti kamu akan bisa sendiri, jadi tidak mesti diceritakan sedetail itu. “Sekarang mungkin kamu tidak kebayang, tapi nanti kamu akan paham.” Jika anak masih saja penasaran, maka dialog harus dibuka. Biarkan anak mendapatkan metafora sendiri. Perumpamaan-perumpamaan akan hal itu tidak boleh diarahkan oleh orangtua. Misal, “Nah, kamu tahu selang, kan? Lalu…” tidak bisa begitu. Sebaiknya jawab directly apa yang ditanyakan anak. Jangan melebar kemana-mana. Sebagaimana proses penanaman tauhid tadi, sebagian orangtua juga ada yang menganggap area ini adalah milik orangtua untuk menjelaskan. Makanya saat di sekolah kami, memang ada waktunya kelas pendidikan reproduksi, dan sekolah harus menanyakan kepada orangtua lebih dulu, apa dibolehkan anaknya mengikuti edukasi tersebut. Orangtua berhak berkata; tidak, itu ranah kami menjelaskannya dan kami punya sesuatu atau punya pemahaman yang harus dijelaskan pada anak, seiring dengan penjelasan tentang kesehatan reproduksi tersebut. Ada surat keberatan atau bersedia yang ditandatangani oleh orangtua.

 

Diskusi berikutnya masih berlanjut dan lebih spesifik ke bully atau perundungan. Diskusi di atas masih seperempatnya saja. Mohon koreksi dan penambahan dari kawan-kawan yang ikut menyimak kemarin. Juga permohonan maaf saya yang lemah daya ingat dan tidak tangkas menulis ini. Semoga kawan-kawan dan khususnya Bu Esti selaku moderator bisa menambahkan jawaban-jawaban Mbak Adi yang setiap kalimatnya itu adalah butiran ilmu bagi saya yang ‘kosong’ ini.

 

Setengahnya lagi bersambung ke resume berikutnya. Terus terang yang tengah dan akhir itu saya hanya menyimak dan tidak bisa lagi mencatat poin-poin penting karena si bungsu Faza sudah mulai menginvasi dan memecah konsentrasi saya, hehe. Semoga working memory saya nanti bisa berfungsi baik, tapi mohon bantuan teman-teman dan para expert untuk mengoreksi.

Foto diambil dari FB tuan rumah, Bu Dian Rubiaty,

 

To be continued

Deteksi Dini Disleksia

Salah satu sebab perlunya deteksi dini pada penyandang disleksia adalah, agar bisa dengan cepat dilakukan intervensi. Orangtua yang tidak memahami, lingkungan yang tidak mendukung, dan beberapa momen gagal, perundungan (bullying) pada penyandang disleksia menyebabkan self esteem atau kepercayan dirinya terjun bebas. Anak yang notabene ber-IQ normal hingga gifted ini bisa kehilangan masa depan gemilang yang harusnya ada di gengamannya. Continue reading

Apakah Dyslexia Termasuk Special Needs?

Unik. Itu kata pertama yang harus kutuliskan saat akan mengulas buku Wonderful Life. Bahkan aku bingung sendiri bagaimana mulai meresensinya. Walau sebelum membeli buku karya Mbak Amalia Prabowo ini, aku sudah berselancar mencari tahu isi ataupun sekadar tahu kaver dan harganya untuk kemudian memasukkannya ke keranjang wish list dalam bulan ini. Continue reading

Telor Dadar #savetheday

 

Masih edisi curhat-curhat manjah –pinjam istilah Bang Ubai- kalau udah siayah sibuk 12 jam atau lebih, kerempongan sibunda pun dimulai. Antar jemput anak-anak; siayah, belanja dapur; siayah. Sesuatu yang belum sibunda handel selama 12 tahun ini. Ingat dulu tetangga nyamperin sibunda sore-sore di teras rumah cuma buat lapor, “Aini, tadi ibu lihat Yudhi sedang belanja, lah. Sedang pilih-pilih bawang. Pintar kali dia,” ibu itu sumringah, beliau benar-benar salut sama Bang Udi, sapaanku untuk Eun yud kalau di depan kawan-kawan. Continue reading

Perjalanan ke Pulau Banyak (part 1)

 

Kami berniat memesan ferry hari Jumat yang kabarnya akan berangkat pukul 14.00, tapi berhubung tiket belum ada di tangan dan pembeliannya juga harus langsung ke pelabuhan tersebut, jadi kami berangkat dari rumah pukul 10.30 menuju pelabuhan Singkil. Berangkat dengan rombongan berjumlah 19 orang dengan Faza yang berusia 2,9 tahun. Biaya tiket masing-masing Rp. 27.000 termasuk Faza juga hari itu. Kalau dengan kapal nelayan Rp. 25.000. Karena kami bawa anak-anak dan juga tidak terburu-buru pulang dan perginya, mana dengan ibu-ibu juga, amannya naik ferry saja pulang pergi. Suasana liburan, kapal memang ramai tapi nggak padat seperti balik nanti. Semoga sempat kutulis sampai tuntas sekali duduk. Continue reading