anak-kunci

photo by google

Anak kunci itu tidak aku berikan kepadamu untuk kau bawa. Sehingga ketika kau pulang, aku tetap bisa tidur nyeyak, sambil bermimpi jauh di alam lain yang tak terjangkau. Sehingga tak perlu aku bangkit dan menyambutmu di depan pintu dengan kantuk yang menggelayuti kelopak mata. Dengan langkah gontai, terhuyung memutar anak kunci dan menarik gagang pintu kita yang mulai longgar karena bautnya berlompatan tak kuat melekat pada kayu pintu rumah kita yang mulai keropos akibat cuaca.
Anak kunci itu aku biarkan melekat di pintu rumah kita, supaya aku bisa memutarnya untuk mengunci rumah agar aman ketika kau meninggalkan kami. Kemudian bisa kubuka lagi saat menyambutmu pulang ke rumah.
Tak pernah sekalipun kutawarkan anak kunci itu supaya kau bawa. Setiap malam larut bersama detik jam yang bernyanyi pelan, aku menanti saat kau pulang, membawa lelah melebihi keletihanku menanti. Tentunya bersama senyum yang mengguratkan lega, karena kami baik-baik saja. Karena aku masih bisa berdiri membukakan untukmu pintu. Kamu begitu lelah sayangku…
Ya, karena kutahu kamu begitu capai dan lelah. Mana mungkin bisa aku bandingkan dengan kelelahanku menanti. Mana bisa aku bandingkan dengan kelopak mata berat dan langkah gontaiku.
Betapa cinta menghapus nestapa bukanlah puitis yang tertulis dibait-bait lagu cinta picisan. Hidup telah mengajarkan aku cinta seperti yang kau perlihatkan dari waktu ke waktu. Walau kemarin orangtuaku sudah mengguyuriku dengan cinta mereka yang tiada kenal pamrih, tapi dirimu juga yang membuatku tersadar. Karena dulu aku terlalu bodoh untuk memahaminya.
Saat ini, mengingat cintamu, menghadirkan sejuta cinta lagi yang sampai kini diberikan orangtua dan keluargaku. Berhimpit-himpit rasanya nikmat yang tak terperi. Tak cukup-cukup terimakasih yang aku miliki untuk mengimbangi segalanya.
Jikalau sempat suatu ketika kukatakan padamu, betapa aku tak lagi bisa menungguimu pulang tengah malam setiap waktu. Lalu kubiarkan anak kunci itu berada di tanganmu saat kau pergi. Bukan kah aku menjadi wanita yang paling merugi dan menyesali keputusan kerdil itu? hingga aku benar-benar tak mampu berdiri dengan kedua kaki ini.
Tak sudi pula aku menitipkannya pada orang lain agar membukakan pintu buatmu. Walaupun dia seorang pelayan baik budi yang dititipkan untuk kita suatu ketika. Maka kumohon bawalah anak kunci itu. Agar tetap bisa rumah dan kami menaungi, menggantikan setiap energi yang kau keluarkan.

10 November 2009