Adalah Meilissa, gadis 21 tahun yang saat itu menjadi relawan pasca tsunami di Aceh. Lalu aku seorang gadis yang juga 21 tahun di masa itu. Kami dipertemukan Allah oleh suatu sebab dengan dua belah pikir yang amat bertolak belakang.
“I think I’ll not merried with someone at the future.” Bukanya suatu ketika.

Aku dengan segala prinsip yang masih menjejal otak dan segala idealisme anak muda masa itu, tentu sedikit terkejut. Tapi apalah, kita tidak sedang membahas dalam mengenai ranah yang teramat privasi, begitulah kurasa. Hm, tapi aku cukup tertarik dengan pancingannya. Awalnya ia menanyakan apa aku punya seorang pacar, kujawab apa adanya, hingga hari itu aku belum memproklamirkan seorang pria pun untuk merajai tahta hatiku. Walau, ya, pada dasarnya rasa suka itu ada sejak usia kelas dua setingkat sekolah menengah pertama, dimana aku mengalami masa pubertas dan mulai merasakan kecondongan hati pada lawan jenis.
Berikutya bahasan kami mengenai bagaimana Islam mengatur tentang batasan hubungan antara lelaki dan perempuan sebelum ijab qabul. Ia cukup terkejut kalau seharusnya, sebaiknya tidak ada pacaran sebelum pernikahan. Bagaimana mungkin, bagaimana bisa terjadi saling suka jika tidak dimulai dengan penjajakan sejenis pacaran. Aku jelaskan lagi ta’aruf dan andil Tuhan di bab jodoh. Dengan secuil ilmu yang kudapatkan di kajian-kajian dan diskusi panjang dengar guru-guru, termasuk Umak dan Abak, turut memberi andil mengentalkan prinsip tadi.
“Jadi … kamu akan sungguhan menikahi pria yang akan mengajakmu menikah?” begitulah takjubnya saat itu. Lalu kamu akan rela punya bayi dengan segala konsekuensinya? “yap!” jawabku ringan.  Di otak luguku, yang sudah prinsipil jangan ditawar lagi, apapun ke depannya Allah akan mengokohkanku juga.
“Well, Aini, aku tidak sabar melihatmu benar-benar menemukan pasangan jiwa dan kemudian menikah, kalian akan memiliki anak perempuan yang lucu. Beri dia nama Meilissa, okay?” saat itu aku tergelak. Kami tertawa berdua dan sepuluh hari menarik itu akan kami habiskan dengan bahasan yang ‘aneh’ untuk pertemuan yang singkat.

Meilissa melihat tukang bangunan merokok di sela-sela kerjanya membangun TK yang menjadi proyek kami saat itu, ia serta merta merasa berselera pada sigaret itu dan mencobanya nyaris satu batang.
“Di sini, seorang gadis merokok bukanlah tontonan yang wajar.” Kelitku.
“Baiklah, aku akan berhenti dan kau lihat sampahnya? Di sana membuang sampah sembarangan seperti itu bukanlah tindakan yang wajar.” Sengitnya pula padaku. Kami saling tersenyum. Ya. Harusnya kami juga seperti itu, gumamku.
Mereka juga membagiku beberapa potong sandwich dan snack rendah kalori. Aku dengan seksama memeriksa ingredients-nya. “Ayolah Aini, ini makanan halal karena teman muslimku juga memakan ini. Kami tahu mengenai itu.” Ups, baiklah. Mereka sudah tahu sebelum aku menanyakan “Is it halal?”
Jaman dimana gadget tidak sebernas ini, traveling keliling dunia bukan hal yang bisa dilakukan setiap orang, dimana aku begitu masih hijau dan terang. Aku merasa begitu kentara dan lempang.
“Aku tak akan punya anak.” Lanjut Mei setelah mengatakan ia tak akan menikah. Aku kira ia tidak normal karena barangkali tidak menyukai pria pun. Dia tertawa lepas. Tentu saja ia menyukai pria yang menarik hatinya tapi ia akan menjalani hidup tanpa ikatan yang menurutnya mengerikan. Semacam menikah dan kemudian bercerai, menorehkan trauma dan lain sebagainya. Ia tidak suka teriakan anak-anak, ia benci balon apalagi kalau balon itu tiba-tiba meletus dan membuncahi dadanya. Ia rasa ingin lepas jantung dan mati muda.

Kami saling tertawa lagi dan sedikitpun aku tak ingin menertawakannya yang mungkin akan melukai hatinya. Tapi aku turut prihatin dan sedih sekiranya ia memiliki luka batin yang dalam. Tentu ada musabab ia memiliki prinsip yang begitu bertolak belakang dengan milikku. Tapi sekiranya ia beroleh hidayah, tentu akan bisa mengobati segala luka dan traumanya.

Aku hanya mampu merapal doa dalam hati, akhirnya juga mengatakan maaf, belum tepat setahun perpisahanku dengan Mei, aku menemukan soulmate  dan menikah di usia 21 tahun. Setahun kemudian aku memiliki bayi lelaki dan lima tahun kemudian bayi perempuanku hadir ke dunia. Aku tidak menamakannya Meilissa Hee tapi Hukma Shabiyya. Aku berusaha menjaga fitrahnya, tekadku. Aku harus memberikan yang terbaik dan bukan torehan trauma seperti yang entah siapa berikan untuk Mei.

Mungkin sebuah janji itu tak bisa kupenuhi, Mei. Aku belum siap dengan penyematan nama itu yang akhirnya hingga kini aku masih tidak mencari keberadaanmu, dengan kemudahan teknologi hari ini. Aku belum siap menyapamu kembali dengan mengatakan “Maaf, aku batal memberikan nama itu untuk anak perempuanku.” Tapi aku tentu tetap merapal doa yang sama mengenai hidayah dan semoga kamu tetap beroleh bahagia.
E-mail terakhir kita, aku coba menelusurinya di inbox medicus_84@yahoo.com tapi tenggelam begitu jauh. Eh, kamu mengucapkan selamat atas pernikahanku dan mengingatkan tentang anak perempuan itu “jangan lupa beri dia nama Meilissa. Hahaha…”