Monthly Archive: June 2016

Antara kita (Bagian kesekian)

    I don’t have any idea when we are fighting and keep silent during a day except remember all your kindess and whisper how I miss you. The way you tie my hair, the way you look in to my eyes, and the way you laugh.

   Tidak selamanya hubungan pasutri lempang dan manis. Tentu ada bruntul-bruntul, ngambeg sesekali, kesal bin frustasi kalau sudah tidak sesuai dengan rencana.

For example, the simple things are; aku baru saja akan menyeduh kopi paginya, seketika kulihat ia sudah menyeruput habis kopi buatannya sendiri. Hm, what’s the matter?
Sip! Aku lupa memisahkan antara sampah plastik dan organik untuk kesekian kalinya atau lupa menggantung plastik sampah di pohon kayu belakang rumah, sekenanya saja aku taruh di samping pintu dan sukses diobrak-abrik ayam tetangga. Dua kali kerja sementara biasanya yang membuang sampah ke kontainer adalah Eun Yud. Ia harus mengais sampah sebelum membawanya ke kontainer dengan kondisi yang lebih mengenaskan. Bau, bertebaran, dan jorok.

Sekali waktu aku sedang cuti salat, saatnya aku menonton film yang sekian lama aku endapkan di laptop or harddisk, berhubung laptopku rusak, aku harus meminjam laptop Eun Yud. Film itu sukses dihapusnya tanpa ‘babibu’. Yes! Aku kesal setelah ngedumel tentang apa yang aku kesalkan. Tega, padahal kita sudah menahan diri setiap hari untuk seminggu ini selama satu bulan pun dikebiri.

Memasak, membuat kopi dan pekerjaan rumah tangga adalah kerja seluruh anggota keluarga. Aku sudah menjelaskan kenapa mengambil porsi lebih besar dibanding seluruh anggota keluarga karena aku suka, aku senang melakukannya, aku bangga melakukannya dan yang paling praktis itu, kerjaku lebih rapi dan bersih. Expert tepatnya, hahaha.

Banyak sekali lika liku mulai hal kecil ataupun besar yang bisa memicu konflik pasutri. Hal itu harus diakui, walau antara aku dan Eun Yud dalam sebulan belum tentu ada korslet apalagi gegap gempita. Sebagaimana tipikal romantisme kami yang standar dan tiada kentara, begitu juga konflik kami. Aku dan Eun Yud adalah pasangan yang tidak romantis. Nah, percayalah. Kami penganut romantis itu jangan sampai bikin eneg. Begitulah kira-kira. Kecuali ritual menulis surat cinta setiap kali hari jadi, lainnya rasanya semua biasa saja bagi kami. Tak ada kata kata kaulah bulan, kau lah bintang dan sejenisnya. Mengingat kemampuan verbal Eun Yud yang kurang mumpuni, ia hanya memiliki tatapan dan sentuhan yang coba sebelas tahun aku terjemahkan. Hm, sudah ahli juga akhirnya. Sementara cara itu masuk di slot yang aku sediakan, ketimbang rayuan maut atau tingkah lebay yang membuatku ilfeel, cara sederhana dan sesekali itu menjadi amunisi kebahagiaan tersendiri bagi rumah tangga kami.

Seperti sore ini, aku bilang ke Eun Yud hari ini kita berbuka bersama di salah satu tempat yang sudah kusebutkan, aku diundang singkatnya. Saat aku menyampaikan ke Eun Yud, ia sedang pusing karena baru kembali dari pasar dan cuaca di luar cukup menyengat. Setelah salat zuhur ia tidur hingga jam 5 sore. Aku bangunkan untuk salat asar. Setelah salat ia berberes kandang dan aku menonton drama korea (aku mengambil jatah bulananku) sambil membereskan kain.

Kami berbenah dan Eun Yud mbuang sampah lama sekali. Ternyata ia membeli kopi dan kue hingga menjelang buka. Bailkah, aku kesal dan terjadilah episode saling mendiamkan.

“Ayah lupa, kok nggak bilang…”
Jiaah hahaha…

Dengan sabar Eun Yud mengajak Faza bermain setelah ia tilawah magrib tadi. Aku masih kesal dan ingin mengambil jatah drama lagi. Tapi anak-anak belum tidur. Oh well, Faza ketiban per besi saat diajak bermain. Aku protes lagi, harus lebih hati-hati mengajak anak bermain. Seharusnya telaten sebagaimana aku. Hihihi betapa seramnya diriku.

Sambil bermain dengan Biyya dan Faza, kami tidak saling mendiamkan tapi terasa ada bukit es di sisi kiri dan kananku. Suasana beku.

Lalu yang biasanya aku lakukan adalah membaca, menulis, meyibukkan diri dengan pekerjaan rumah jika masih ada. Aku begitu bosan ketika semua pekerjaan selesai. Di kepalaku hanyalah segala kebaikan Eun Yud, senyum hangatnya, tangan besarnya, dan binar matanya.

Ia pergi ke luar, ia berpamitan, ia mencium keningku, masih sempat menggodaku karena drakor yang belum selesai kutonton. Malam ini barangkali terakhir aku cuti salat dan bisa menonton. Ia tahu aku kesal tapi ia harus keluar dan janji akan pulang segera.

Sekarang habislah aku dicekam rindu dan sesal. Alangkah lebih bahagianya aku balas memeluk sebentar tadi. Dasar kekanakan. Habislah aku, beberapa jam serasa beberapa bulan. Segeralah pulang, Eun.

Melepas dengan rela

Ada banyak hal atau kebiasaan yang tidak bisa lagi kita pertahankan ketika kita memutuskan berumahtangga dan memiliki anak. Jangan lakukan atau tinggalkan kebiasaan tersebut dengan terpaksa. Lepaskan dengan hati yang ringan penuh kerelaan karena ini akan erat kaitannya dengan pengasuhan yang akan kita lakukan ke depan bersama pasangan.

Salah satu yang paling pokok itu memutus rantai kemalasan. Bentuk kemalasan beragam dan lawanlah dengan tegar. Mulai dari malas bangun pagi, malas mencari referensi untuk menambah wawasan sebagai ortu, dan banyak lagi.

Satu hal lagi, konsisten dalam peraturan. Seiring dengan rajinnya kita belajar, akan ada pengetahuan-pengetahuan baru yang bisa kita terapkan untuk dapat bisa mencapai tujuan bersama. Konsisten adalah pemegang kunci.

Untuk kali ini, dari sekian banyak hal, biarlah hanya dua dulu yang tercatat sebagai pengingat diri. Semoga Allah memberkati.

fb_img_1464230002332

Menanam dan merawat benih (milik) sendiri

“He’s not a perfect boy but I proud of him anyway. I always tell my self that he has his own light as our rising star”

Bunda, otak kanan Akib berarti bekerja.” Ungkapnya di sela-sela khusyuk membaca novel anak yang baru dibelinya sore tadi.

“O, ya?” Tanyaku penasaran. Eun Yud di sebelah tertawa sambil mengedipkan mata. Apalagi kali ini, pikirnya.

“Iya. Setiap Akib baca ini, ada gambar yang bergerak di otak Akib. Padahal di buku ini, kan, semuanya tulisan. Tapi Akib bisa lihat gambarnya.” Ia menjelaskan lebih detail tentang apa yang dirasakannya.

Menurutku antara biasa saja dan unik. Barangkali karena ia memang dikenalkan buku dari pictorial book dan komik, jadi wajar kalau cukup imajinatif. Akupun bisa melakukan itu dulu dengan mudahnya. Walau sekarang membaca di sela-sela waktu, tepatnya mencuri-curi waktu membuatku tidak begitu fokus seperti dulu. Kadang aku harus membaca saat terbangun tengah malam, sambil mengemong Faza atau mengeloninya tidur, sambil menunggui mesin cuci, sambil memasak bahkan pernah untuk kondisi-kondisi tertentu. Multitasker barangkali memang buruk, tapi hanya itu yang mampu aku lakukan sekarang, atau aku tak bisa menikmati aroma lembaran kertas dari buku baru atau buku-buku lama yang sering membuatku rindu membukanya kembali. Boleh jadi aku sedang butuh untuk membuka referensi untuk sebuah keperluan. That’s what a book for.

Akib adalah tantangan dan cobaan tersendiri bagi kami. Tidak sedikit yang menghakimi, Bundanya sih, kayak gitu, makanya anaknya… tiiiit *sensor

Atau ayahnya begitu dan begini. Hm, berbagai macamlah. Ada juga yang mengaitkan profesiku sebagai dokter hewan dengan keunikan Akib. Untuk orang yang seperti itu aku hanya berdoa ia selalu diberikan anak-anak patuh yang penurut yang bisa dikendalikannya bagai televisi dengan remot kontrol di tangannya.

Laa nufarriqu nafsan illaa wus’ahaa, jadi aku berkesimpulan Allah Maha Tahu memilihkan pasangan mana yang menjadi buah hati Bunda. Aku bisa memilih pendamping hidup, tapi anak adalah pemberian Allah untuk Bunda yang sesuai. Aku bangga apapun itu, bagaimanapun Allah mempercayakan tiga buah hati untukku. Untuk kami.

Akib biasa saja bagi kami, tapi jangan terlalu berharap biasa ini dalam kerangka semua orang.

Beberapa metode memang harus melawan arus untuk menemani anak zaman sekarang. Sebagaimana ilmu parenting yang kita dapatkan tidak sepenuhnya bisa dijiplak dan diaplikasikan ke anak-anak kita, setiap pribadi anak itu unik.

Aku juga pernah dikritik mengenai meniadakan televisi di rumah, membatasi gawainya di sabtu minggu-belakangan sabtu minggu dan hanya dua jam- dan komputer bisa diakses dalam waktu tertentu dengan program Scetch up, Smooth Draw, Photoshop, dan Corel Draw. Itu di rumah. Welcome di luar rumah, silakan batasi diri sendiri. Sadar diri, Allah sebaik-baik pegangan Bunda dan Ayah. Peraturan untuk kebaikan Akib. Untuk kebaikan anak.

Nah, ketika ia sudah di luar, dalam artian saat silaturrahim ke rumah teman, saudara yang semua bebas akses, itu tergantung diri anak. Di sini kami selaku orangtua bekerja sama memberi pengertian secara kontinyu. Membuka dialog kenapa dan untuk apa ini semua kami lakukan dan bagaimana sikap anak di luar.

Lagi-lagi nanti akan ada yang berkomentar. Itulah di rumahnya nggak punya teve. Eeh, waktu lihat teve kasihan bener, matanya nggak beranjak dari layar.

Bukan tidak pernah Akib jadi tertawaan karena ia tidak bisa membedakan acara teve dengan iklan. Usianya kira-kira 4 tahun waktu itu, setiap iklan dia protes dan marah siapa yang mengganti film yang sedang ditontonnya.

Kalau ia sedikit menikmati tontonan televisi siaran anak dan begitu antusias di rumah saudara atau temannya yang lain, aku tidak pernah marah. Akib bukan orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak-anak.

Jika akhirnya melihat film yang diputar bukan film yang baik, itu sudah kami diskusikan sebelumnya. Harus ada tindakan konkrit dari anak untuk beralih ke kegiatan lain. Beberapa kartun jepang yang terindikasi untuk dewasa seperti Naruto juga pernah kami diakusikan. Karena semua temannya bercerita tentang itu dan cukuplah bagi Akib untuk sekedar tahu ceritanya secara garis besar. Untuk tontonan rutin apalagi mengikuti semua serinya sudah selesai kami bahas. Akib tidak rugi kalau tidak hapal semua jurus Naruto atau semua nama tokohnya. Naruto film apa dan untuk siapa sudah selesai.

Beberapa animasi seperti Minion dan Zootopia juga tak luput dari adegan yang harus kami diskusikan. Bukan hanya multimedia, buku dan komik juga harus aku baca lebih dulu. Sejauh ini komik Conan dan Lucky Luke pernah jadi bahasan agak panjang. Kalau game itu dipersilakan Eun Yud yang membahas. Pernah ada game GTA yang sudah diberhentikan dan yang hingga kini masih ada akses Minecraft dan Stickdraw.

Kami menghargai setiap orangtua yang menganggap hal-hal kecil dan pembiasaan sejak usia dini adalah sepele. Jika berbohong kecil menjadi kebiasaan orangtua hanya untuk memudahkan urusan jangka pendek yang harus diselesaikan saat itu, kami tidak memaksakan agar ikut dengan peraturan kami, berbohong sekecil apapun, seremeh apapun dilarang. Bahkan untuk teriakkan “iiih hantuuu” “awaaas diculik orang gila, ada orang gila di luar!” “Nanti digigit kucing/anjing baru tahu rasa!” adalah larangan di rumah.

Jadi, seperti itulah kami meminta peraturan di rumah kami tidak direcoki di belakang atau di depan kami. “Makanya Akib, Bundanya suruh pasang antena teve.”

“Beli buku mahal-mahal akhirnya buat disobek juga, kan? Emang ini dibaca semua? Disuruh baca terus, bosanlah anak!”

“Ngapain anak dilarang-larang main game, masa kecilnya kan, untuk bermain. Kasihlah haknya.”

Haknya untuk mendapatkan yang terbaik. Membeli buku mahal, kami punya tips dan triknya. Selama ini insya Allah tidak pernah berutang untuk membeli buku Akib dan Biyya.

Jika kita tidak bisa bekerjasama, itu wajar. Antara aku dan kalian sudah diamanahkan pasangan anak-anak berbeda, ranah kita tak sama. Kalau melihat Akib bukan anak yang hebat dan tidak sukses menurut kalian, silakan. Siapapun berhak menilai, tapi tidak menghakimi.

Aku hanya berharap pada Allah dan berusaha terus memperbaiki diri bersama pembelajar sejati yang ada di sebelahku kini.

image“Otak kanan Akib bekerja, Nda.”:-)

Alasan untuk Bersyukur

Menyaksikan celana baggy selutut dengan ukuran jumbo yang masih bergumul tergeletak di lantai di usia nyaris 11 tahun pernikahan kami untuk kesekian kalinya, alih alih membuatku merasa kesal, lelah dan marah, aku justru tersenyum simpul, memungut sembari menggantungnya di hanger belakang pintu.

Aku punya alasan merasakan seruak bahagia di hati ini demi menyaksikan fenomena tersebut untuk kesekian kalinya.

Pertama, aku jadi punya alasan menyentil bahkan mencubit pinggangnya kali ini. Atau memencet hidungnya yang mulai berlemak kalau tak kuingatkan memakai sabun muka setiap kali mandi.

Kedua, aku merasa tersanjung karena celana itu menjadi style favoritnya setiap hari saat menghabiskan waktu bersama kami di rumah, kebun, dan rabbitry. Walau kubeli dengan bajet super hemat yang tidak bisa dilakukannya, sebab ia hanya tahu berbelanja di toko pakaian berbandrol di sepanjang jalan pusat kota.

Masih jelas raut wajah dan senyum sumringahnya saat kuberikan beberapa lembar dan dipakai berganti-ganti untuk bekerja, bersantai dan menikmati kopi pagi buatanku.

Ketiga, kuantitas dan intensitas terjadinya peristiwa tersebut menegaskan keberadaannya yang lebih banyak mendampingiku mengasuh anak-anak di rumah. Karena entah kenapa, bagiku tetap saja kualitas dan kuantitas adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.

Ada geliat bahagia yang kerap kurasakan setiap membereskan dan segala kerepotan yang dilimpahkan oleh orang-orang tersayang di sisiku.

Ditambah lagi jelang tidur, saat ‘pillow talk’ sesekali kami saling bermaafan atas khilaf yang sengaja, tak sengaja, bahkan rutin seperti kejadian celana baggy itu. Aku jadi tak punya satu alasan pun berkeluh tentang dia.

Aku tak sempurna, begitu juga ia. Tapi karena itulah kami berusaha untuk saling mengisi.

Yang terakhir, aku benar-benar diingatkan untuk terus bersyukur ia ada dalam artian sesungguhnya. Di sini bersama kami, berbagi tugas pengasuhan bersamaku.

Selamat hari ayah Eun Yud, karena bagi kami every day is father’s day, because you always there.

image