Monthly Archive: August 2016

Yeay! Baby Traveling

IMG-20160830-WA0050

nursery room di Hang Nadim, Batam

IMG-20160830-WA0051

 

Jadi selama ada Faza yang usianya pun baru 20 bulan beberapa hari ini, sudah dua kali harus boyongan rada jauh. Memang inginnya tahan dulu sampai usia sapihnya, yakni 2 tahun ke atas, baru aku bisa melawat ikut acara ke sana ke mari. Tapi ke Bandung dan Jogja ini agaknya sudah menjadi kewajibanku, mau bilang apa? Memang terbayang bagaimana ribetnya traveling dengan baby, tapi mau tak mau harus dinikmati.

Bukan hanya ke luar Aceh, dengan Faza aku mengelilingi separuh Aceh, pantai Barat Selatan, Tamiang, dan lain-lain. Terima kasih berat buat my partner in everything, Syarifah Mutia Septiyani dan adikku Syarifah Zainab-yang sering sekali jadi selundupan kalau ada acara- mereka yang sering kebagian rempong kalau dalam perjalanan saat aku membawa serta Faza.

 

Jadi yang selama ini akrab bagiku saat perjalanan adalah mencari PW alias ‘posisi weenak’ untuk si baby Faza. Heran juga, banyak yang bawa anak tapi mereka ogah memanfaatkan fasilitas ruang menyusui (nursery room) dan play ground padahal sudah difasilitasi. Aku rasanya kalau harus membayar akan tetap coba memanfaatkannya, hehe.

 

Walau pernah satu kali, aku pakai ruang menyusui yang cukup kotor, panas, dan menyedihkan di salah satu klinik di Banda Aceh, selebihnya alhamdulillah sangat bermanfaat dan memuaskan. Apalagi tidak banyak yang mau menggunakannya, jadilah terkadang aku dan baby-ku saja yang nyantai. Kali ini di Soetta, aku ajak Tia dan krucilnya, plus satu teman lagi yang semalam kurang tidur untuk persiapan berangkat. Yup, Lena menjahit baju seragam kami sampai kurang tidur. Yuk, ah, join dengan baby Faza.

 

2

mungil tapi lengkap

faza at nursery room

nursery room di Soetta terminal 3

7 3 5

Menyajikan literatur mini di rumah sendiri

Buku fisik memang harus hadir di rumah kita jika menginginkan anak yang gemar menggali ilmu dari aktivitas membaca. Masing-masing orang memiliki tips tersendiri untuk bisa membeli buku-buku bergizi dan bagus untuk anak ataupun ponakan kesayangannya. Aku dan suami juga punya beberapa tips yang barangkali bisa menginspirasi ayah bunda yang memiliki niat yang sama menghadirkan gudang ilmu, jendela dunia bagi anak-anaknya tercinta.

Sebelum menikah, aku sudah mulai tertarik dengan buku anak-anak yang eye catching, bahannya keras untuk yang berjenis boardbook dan ada juga buku bantal yang tidak akan koyak kecuali ya, kalau anak kita iseng mengguntingnya. Selain hunting buku anak sebeum menikah, melirik ke buku-buku loakan pun tak ada salah. Tapi sayangnya di Aceh jarang kutemui kecuali majalah-majalah second yang kini tidak tampak cukup berkembang bisnisnya di Aceh. Sekitar tahun 2012 masih ada gerobak majalah bekas itu di jalan Inong Balee, Darussalam, sekarang sudah tak tampak lagi. Alternatif lainnya bisa pesan pada teman yang berdomisili di kota-kota atau daerah yang banyak menjual buku loakan. Aku pernah pesan ke Kak Fida buku-buku dan majalah bekas yang dijual dengan harga miring. Ingat, hindari beli buku bajakan untuk menghargai jerih payah dan keringat para penulis. Ah, aku pernah membeli sekali karena buku aslinya sudah menjadi begitu langka di toko buku, sementara aku belum kenal salah seorang teman yang menjual buku-buku langka kala itu. Aku membeli Jejak Langkah-nya Pramoedya Ananta Toer dan saat itu rasa bersalah menggelayuti, akhirnya buku tersebut kuhibahkan ke seorang teman. Aku terpaksa membelinya karena hanya itu yang ada dan aku penasaran dengan tetralogi Buru tersebut.

IMG-20151108-WA0056

dua paket buku eye cathing dari MDS menyedot perhatian anak-anak. Membaca jadi aktivitas menarik.

IMG-20160202-WA0008

Ah, sebenarnya ini curcol atau tips, sih? Kenapa jadi panjang begini? Hahaha

Baiklah, lainnya aku pernah diajak seorang teman menjadi salah satu Book Advisor Mandira Dian Semesta. Salah satu lini Penerbit Mizan yang memproduksi buku anak-anak dan dijual per paket. Buku ini tergolong cukup mahal bagi orang dengan ekonomi menengah ke bawah seperti kami, tapi bagiku sebandinglah dengan manfaat yang diberikan. Temanku Mbak Bela, yang menjadi Supervisor di MDS pernah mengatakan, buku mahal itu bukan untuk orang kaya, melainkan untuk orang yang memang ingin membelinya. Yap, perlu mental berbeda untuk memilih menyajikan buku bagus untuk anak. Pun, sudut pandang yang berbeda dari setiap orangtua. Sebenarnya sama herannya dengan Teh Kiki Barkiah yang pernah menulis di buku best seller-nya, 5 Guru Kecilku. Komentar sebagian orangtua yang mengatakan, “Hah? Buku kok semahal itu, kalau saya, sih, mending beli emas saja!” silakan berkomentar, tapi tentu sudah siap dengan sebuah penilaian.

Aku membeli paket pertama dengan ikut arisan dan tak peduli akan narik pada bulan apa. Yang penting aku akan meghadiahkan sebuah buku yang amat menarik bagi sulungku saat itu yang akan berulang tahun ke-8. Ia menyukai sains dan buku terjemahan dari Korea itu terlihat sangat menarik penyajiannya. Confidence in Science judul bukunya. Benar isinya sangat menarik dan sarat ilmu. Karena sulung kami sudah bisa membaca waktu itu, perangkat smart e-pen CIS tidak kubeli.

Ketika aku ingin menambah koleksi buku baru untuk anak-anak, aku mencari teman yang ingin membeli buku sejenis atau di penerbit yang sama. Komisi dari mengajak mereka ini bisa kuangsurkan untuk membeli paket buku-buku lainnya. Alhamdulillaah, jadi semakin lengkap tema dan koleksi buku anak-anak. Selain mengumpulkan komisi itu, aku giat mengajari Akib dan Biyya untuk menabung Rp 2000/ hari untuk membeli buku baru. Kalau sudah dapat ang pao alias salam tempel lebaran, Akib langsung minta dibelikan buku baru. Sisanya barulah dia heboh dengan es krim dan coklat.  O iya, Akib terkadang masih sering tergoda mainan juga.

Sampai saat ini aku merasa belum membelikan banyak buku untuk anak-anak. Oh, apalagi masih ada juga buku-buku yang dipinjam dan belum kembali. So sad kalau mengenang bagaimana perjuangan membelinya dengan menyicil sedikit demi sedikit. Tapi semoga usaha ini tetap konsisten dan menulis seperti ini menambah semangat untuk menyajikan literatur memperkaya dunia literasi di rumah kami.

IMG-20160129-WA0004 (766)

Biyya mulai mencoba membaca sendiri bukunya saat usia 6 tahun. Tidak ada yang namanya dipaksa belajar membaca oleh Bunda.

Masih ada cara pamungkas, jangan lupa hunting di media sosial penulis-penulis cerita anak yang recomended. Pantengin giveaway ataupun kuis-kuis yang biasanya berhadiah (apalagi) kalau bukan bukunya. Amati juga diskon-diskon cetar di toko buku online. Kalau kebetulan kamu punya kesempatan sering-seringlah ke toko buku. Kami punya satu toko buku yang memberikan diskon untuk pelanggan yang memiliki kartu anggota. Selain itu kami menjalin silaturrahim yang baik dengan siempunya toko, punya nomor kontak dan jaringan pribadinya membuat kita mudah mengecek buku-buku terbaru dan buku-buku yang direkomendasikan.

IMG-20151008-WA0007 (166)

sepaket buku Ensiklopedi Bocah Muslim. Wow! Ayah Bundanya aja dapet banyak ilmu baru dari buku-buku ini. Biar kekinian dilengkapi fitur Agmented Reality juga.

Dari banyaknya tips yang tidak rinci di atas, kami berharap ada satu atau dua tips saja yang bisa diaplikasikan dan mudah-mudahan bisa menghadirkan literatur-literatur bergizi untuk buah hati. Tidak akan mubazir hal yang disarankan oleh Syeikh Hasan Al Banna ini, menyediakan pustaka kecil di rumah sendiri. Tokoh-tokoh dan ilmuwan besar seperti Alkhawarizmi, Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Haitsam (Alhazen), dan banyak lagi penemu Muslim yang lahir di abad kejayaan Islam adalah orang-orang yang semasa kecilnya akrab dengan buku-buku. Bahkan penulis seperti Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, dulunya adalah predator-predator buku di perpustakaan pribadi keluarganya. Bagaimana mereka menuliskan dalam otobiografinya tentang ingatan mengenai rak buku yang penuh dengan buku dan momen-momen indah saat Kakek membacakan berbagai buku untuk mereka. Tulisan kali ini tidak akan tuntas membahas kaitan buku dan manfaatnya, juga tidak cukup untuk menjabarkan begitu banyak tokoh yang dilahirkan dari rahim-rahim kedekatannya dengan buku dan ilmu. Seperti kata Kang Emil, “malas membaca, mundur berbangsa,” rasanya bisa menjadi epilog tulisan kali ini.

 

IMG-20151215-WA0001

membacakan buku meningkatkan bonding ortu-anak dan kakak-adik

Children’s daily report

Waktu bergulir cepat dan akumulasi bulan itu menjadi hitungan satu tahun selang beberapa minggu lagi. Yup, kami berencana punya lima momongan –sebenarnya aku tidak begitu berani menyebutkan rencana ini– tapi katakanlah saat ini si bungsu Faza akan genap setahun. Kemudahan dan perkembangan gemilangnya seperti abang kakaknya dulu, semoga ini ungkapan syukur bukan takabur. Allah memudahkan banyak hal untuk kami terkait anak-anak. Hamil, menyusui, melahirkan, dan menemani tumbuh kembangnya. Paling tidak ini membuatku terlupa akan kesulitan-kesulitan yang kami alami di beberapa hal sebagaimana janji Allah di surat Al-insyirah “Sesungguhnya di setiap kesulitan ada kemudahan” dan aku amat layak menyebutkan sebagai wujud syukur.

Kembali mengenai Faza yang sudah tumbuh gigi, berat badan baik, sudah bisa berdiri dan melangkah satu atau dua langkah. Pintar bermain dengan Akib dan Biyya, juga betapa semaraknya rumah dengan suara sahutannya ketika kami berkata “ciluk” dan Faza berteriak “Baa”. Meminta dibacakan buku dengan cara menyodorkan buku pilihannya sambil berkata “uu.. uu” atau “hm.. hm” memanggil kakak dan abangnya. Mengikuti instruksi Biyya dan Akib saat. Kalau sedang bermain denganku di siang hari, Faza suka sekali bermain ciluk ba, menyembunyikan dan menampakkan wajahnya di balik dinding.

 

19 Agustus 2016

Faza menjelang dua tahun, bicaranya banyak sekali dan kosa katanya semakin kaya. Selain menggemaskan, kini ia bisa jadi pemantik cemburu Biyya bahkan Akib. Overall, they still love him aswell.

Kabar Akib saat ini agaknya semakin banyak menelan kecewa karena perbandingan yang tak sepadan yang ia saksikan di sekitarnya. Seperti keinginan ikut kemah ukhuwah di Sumbar yang tidak bisa kami kabulkan karena kami sudah menabung sedikit untuk keberangkatannya ke Malaysia bulan Januari 2017, kami tidak punya cukup budget mengenai hal-hal yang dikabarkan tiba-tiba. Tanggal 24 Agustus aku juga harus bertolak ke Jogja bersama Faza, ini menambah daftar protesnya. Tapi Akib memang anak yang blak-blakan, ia bisa mengatakan semuanya dengan terang. Walau aku sebagai ibunya agak sedikit kecewa atas ucapan kecewanya yang terlalu lugas, barangkali aku bisa sedikit maklum karena Akib tidak cukup dewasa untuk bisa menyematkan begitu banyak maklum di pundaknya. Singkatnya kami orangtua yang belum berhasil menanamkan sikap dewasa dan pengertian di diri Akib. Sedikit dewasa dan pengertian itu yang masih jadi PR besar kami berdua.

Biyya seperti biasa penuh permakluman dengan syarat dan ketentuan berlaku. Anak yang bisa dibujuk dan lebih dewasa dibanding kakak laki-lakinya. Semoga Allah benar-benar menganugerahkan kebijaksanaan sejak engkau kanak-kanak, ya, Hukma Shabiyya. Aamiin.

Catatan tentang tiga malaikat kami baru sampai di sini malam ini. Aku lupa tanggal tepatnya aku menulis catatan paragraf pertama dan kedua di atas. Barangkali sekitar empat bulan lalu.

FB_IMG_1460037152701

foto doc pribadi

Menasehati diri sendiri

FB_IMG_1459812660254

 

Membaca adalah salah satu caraku untuk menasehati diri sendiri, menghindarkan diri dari keras hati.

Semasa sekolah banyak teman yang baik, menurutku shaleha, menjaga salat dan mengajinya. Begitu juga ketika kuliah, Allah Maha Baik masih menganugerahi teman-teman yang serupa. Mereka selalu menasehati ketika melihat ada seseuatu yang tidak baik, insya Allah selalu dengan cara yang baik pula..

Ketika aku menikah, sebagaimana Abak dulu, Eun Yud lah yang mengingatkan aku akan banyak hal. Terus terang, sebaik apapun cara orang lain mengkritik kita pasti ada rasa tak suka yang kita rasakan. Terutama jika dinasehati di depan orang banyak dan ada pula yang tidak begitu dekat turut andil meluruskan kita.

Sejauh ini tidak sampai ada yang begitu menyakiti hati saat menasehatiku. Aku menganggap semua atas dasar rasa sayang saja. Semoga anggapanku benar.

Aku dan Eun Yud saling mengisi dan melengkapi. Ketika sudah memiliki anak, aku merasa teko-teko kami begitu kosong. Yang aku pelajari selama ini adalah mengenai dunia veteriner dan bacaan kegemaranku seputar bakteri, virus, dan protozoa. Sesekali novel, kajian harian dan majalah-majalah random, lalu beberapa komik. Diskusi-diskusi bersama Eun Yud mulai mentok. Kami juga sering membeli beberapa buku pasutri dan ada sedikit mengenai parenting di sana. Berkelanjutan, akupun mulai belajar mengenai pengasuhan-pengasuhan dari berbagai diskusi, berbagi pengalaman, dan seminar (tidak banyak).

Jadi memang pengalaman adalah guru terbaik, tapi buku-buku yang baik adalah guru yang tak kalah baik, membaca lembaran-lembarannya adalah sebuah usaha untuk menuju perbaikan. Mengingatkan kita akan kelalaian dan mengisi teko-teko kosong dengan ilmu yang bermanfaat.

Aku mengamati Eun Yud bukanlah orang yang punya target bacaan seperti beberapa teman yang aku temui. Aku bertemu Eun Yud di toko buku terbesar di Banda Aceh pertama sekali, tapi dia bukan kutu buku. Aku bersyukur ia masih bisa digolongkan predator ilmu. Anggap saja begitu. Bagaimana dia kerap memaksaku bercerita tentang buku yang baru kelar kubaca. Transfer ilmu tepatnya.

Sampai hari ini teko kami masih terlalu sedikit terisi. Kegiatan harian menguras banyak waktu. Tapi menyempatkan diri tetap menasehati diri adalah sebuah usaha tidak terjerumus kepada kekosongan hati dan akhirnya terisi dengan berbagai hal tak perlu lalu membuat hati kita membatu. Bagaimana mau menerima nasehat jika  hati sendiri tak membuka? Di sela sibuknya dunia, siapapun kita, sempatkan menasehati diri. Kalau bukan kemauan yang keras dari diri sendiri, lalu siapa lagi? Aku jadi ingat salah satu kutipan yang pernah kubaca, “jika kamu tidak bisa menulis menyebarkan kebaikan untuk orang lain, maka membacalah untuk memberikan kebaikan bagi dirimu sendiri”.

Sudahkah menasehati diri sendiri hari ini?

FB_IMG_1460084121441

 

 

Sebuah kekuatan bernama ibu

“Kak, pengajian Nasyiatul Aisyiyah hari apa aja? Saya mau datang  karena si kecil udah bisa dibawa keluar. ” tanya seorang adik pada saya suatu siang via WA. Komunikasi kami pun berlanjut dan sisi hati saya menjadi begitu bahagia, semakin banyak yang meramaikan dakwah ini tentu semakin menggembirakan. Pernah kita dengar akan datang suatu masa dimana orang-orang mulai malas mengajak kepada kebaikan dengan berbagai dalih, semakin banyak orang yang tak peduli dengan sekitarnya dan hanya sibuk dengan urusannya sendiri.

Baiklah, sebenarnya ini tentang pengaruh seorang ibu terhadap anak-anaknya. Tapi sungguh ini bukan berarti mengerdilkan peran seorang Ayah, sama sekali bukan. Acapkali saya perhatikan, peran ibu dalam mempengaruhi jiwa, sikap, dan semangat anak-anaknya amatlah besar. Saya melihat begitu banyak ayah yang memiliki aura seorang tokoh besar dan panutan, seorang pengemban amanah dakwah ataupun seseorang yang penting bagi ummat tapi tidak semua anak-anaknya bisa melanjutkan estafet dakwah. Tapi ibu yang aktif membina ummat dan terus berkiprah secara aktif di ranah publik dengan tidak mengabaikan tugas domestiknya, bisa secara otomatis mengalihkan estafet dakwah ke anak-anaknya. Sekali lagi ini bukan tentang mengerdilkan arti ibu yang hanya menjamahi ranah domestik. Pun ia teramat mulia, sebagaimana ibu saya. Beliau adalah yang paling sempurna di hati saya, beliau lah pijar inspirasi yang tak pernah meredup yang membuat saya terus bangkit dan tulisan-tulisan saya bahkan seringkali  tentang beliau.

Tapi sekali lagi ini adalah sebuah tulisan yang menceritakan sebuah kekuatan bernama ibu. Dimana ia dimulai dari seorang gadis kecil, kemudian wanita dan terakhir menjadi seorang ibu. Jika ia dianugrahi anak-anak dari rahimnya ataupun bukan,  ia akan tetap memiliki sisi keibuan yang mengalirkan kekuatan mempengaruhi jiwa sesiapa yang ada di sisinya. Salah satu jawaban kenapa wanita harus cerdas dan pintar, harus terus mengasah diri dan belajar selagi nafas dikandung badan. Cinta kasih yang mengalir di darah dan jiwanya bisa terus dibina dengan kehausannya akan ilmu, belajar dari yang tersurat dan tersirat adalah  tugas penting bagi seorang wanita. Ia akan menjadi sumber bagi sekitarnya, sebagaimana orang di sekitarnya pun harus sesantiasa menjaga fitrah kebaikan seorang wanita untuk kelak ia akan menjadi teladan keluhuran budi generasi.

Ibu adalah model yang akan dicontoh langsung oleh anak-anaknya, terutama sikap dan akhlaknya, bahkan ritme kesehariannya. Saya sendiri menjadikan anak-anak saya cerminan memperbaiki diri. Meneropong diri sendiri jika saya lihat sudah begitu jauh sikap anak dari keluhuran budi. Ketika anak saya yang berusia 6 tahun berbicara kurang elok kepada temannya, saya mengajaknya berdialog dan kemudian intropeksi diri. Tidak jarang saya mengajak suami mengevaluasi hal ini. Walau dikatakan usia 6 tahun adalah masa dimana ke’aku’an seorang anak sedang menonjol, egosentris istilahnya, dimana anak-anak merasa ia adalah pusat semesta, tapi setiap jenjangnya juga merupakan anugerah bagi diri saya sebagai ibu karena kerap diingatkan olehnya.

Sebuah kekuatan juga bagi seorang ibu untuk lebih dalam meneropong dirinya, harap apa sebenarnya yang ia sematkan pada anak-anak dan orang-orang di sekitarnya. Karena itu menjadi ibu harus memiki prinsip dan kepribadian. Ritme keseharian yang juga akan menulari orang di sekitarnya kemudian menjadi teramat penting bagi seorang ibu demi mengantar sukses anggota keluarganya.

Saya mengenal banyak wanita, istri dan ibu yang menginspirasi setiap kali menjejakkan kaki di suatu tempat dan komunitas yang baru. Salah satunya yang anandanya kemudian mengirimkan pesan WA di prolog tulisan ini. Beiau adalah seorang ibu penuh waktu yang memiliki 7 orang anak lelaki dan perempuan. Salah satunya malah berkebutuhan khusus. Beliau mengajar, berorganisasi, bahkan pernah menjadi garda terdepan atau pimpinan. Saat ini bisa dikatakan sukses mendampingi suami dan anak-anaknya. Di masa-masa tenang pensiunnya pun diisi dengan hal bermanfaat untuk tetap berkontribusi bagi umat. Caranya menjadi penasehat organisasi dan terus terlibat di kegiatan-kegiatan rutin atau insidentil saat kondisi beliau fit.

Jadi jangan sedikitpun ragu melangkah untuk terus mengemban amanah menyelesaikan urusan domestik tetapi tetap semarak di ranah publik berbagi ilmu dan keahlian apa saja untuk umat yang lebih baik dan berkemajuan.

20140925_092759

berkumpul untuk kebajikan dan taqwa

IMG-20151016-WA0000 (194)

It’s time to rabbitry

 

“Nda, ada yang kena scabies.” Kode Eun Yud untuk mengajakku ke Rabbitry. Sambil terus berkemas aku bertanya berapa ekor yang terjangkit scabies, anakan, pejantan, or indukan. Ya, standard questions. Anamnesis singkat itu pasti akan berakhir begini, “sebentar ya, dikit lagi, nih.”

‘Dikit’nya emak-emak itu bisa sebutir debu, sebongkah batu, bahkan sebesar gunung. Jadilah terkadang beberapa jam kemudian, bahkan bisa jadi beberapa hari berikutnya baru aku melongok ke belakang atau ke sebelah. Inspeksi sekaligus memberi perlakuan pada pasien-pasien milik klien kesayangan.

Kasus langganan yang biasa kutangani adalah scabies atau semacam kurap, kalau orang awam bilang. Penyebabnya adalah salah satu spesies tungau Sarcoptes scabei yang menyebabkan gatal di bagian kaki, telinga, dan hidung kelinci. Gejala pathognomonik (khas)nya  terlihat keropeng di sela-sela kuku, pinggir telinga dan hidung. Kalau parah bisa meyebabkan kerontokan bulu, keropeng di hidung menebal dan penyakit ini juga sering disebut penyakit hidung pinokio karena salah satu gejalanya seperti di atas. Kelinci yang mengalami scabies akan dengan intens menggaruk-garuk bagian tubuh yang gatal, menggosok-gosokkan badan ke kandang.

 

Scabies penyakit yang mudah menular. Segera pisahkan kelinci yang mengalami gejala scabies dari kelompoknya, jika dipelihara bersama indukan/ anakan/pejantan lainnya. Karena tungau sangat mudah berpindah ke kelinci lain melalui kontak langung atau tempat pakan, kandang, dan nipple yang tercemari tungau tersebut.

 

Kebetulan kandang di rabbitry kami adalah kandang individual. Setelah 40 hari anakan kelinci disapih dan dipisah kan dari induknya. Anakan sudah bisa mengkonsumsi pakan pellet atau hijauan layaknya kelinci dewasa lainnya. Sementara indukan dipersiapkan untuk kawin dengan pejantan yang stand by setiap saat untuk membuahi.

 

Hanya butuh sekitar empat ekor pejantan untuk rabbitry kami dengan kapasitas kandang yang hanya cukup untuk 50 ekor kelinci. Jadi, kita tak perlu banyak pejantan. Hanya satu atau dua ekor pejantan tangguh. Untuk syarat menjadi pejantan atau indukan akan kita coba bahas di tulisan selanjutnya.

 

Pencegahan penyakit scabies dengan sanitasi kandang yang baik, pakan yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Untuk kelinci hias sejenis Jersey Wolly, English Angora, atau Lion Head sebaiknya rutin menyisir bulunya paling tidak seminggu sekali, sebulan sekali boleh dibawa grooming ke petshop terdekat. Jenis lokal, New Zaeland Dwarf, Holland Loop, Rex, Reza, lebih praktis lagi. Cukup rutin membersihkan kandangnya setiap pagi. Kelinci merupakan hewan nokturnal yang aktif di malam hari. Ia akan lebih banyak makan dan minum, juga defekasi saat malam hari atau menjelang subuh. Jadi, pagi adalah saat yang tepat membersihkan kandang dan mengganti pakan paginya.

 

Jika sudah terjangkit scabies, injeksi subcutan 0,1-0,2 cc ivomec (ivermectin) biasanya bisa menyembuhkan penyakit ini. Dalam tiga atau empat hari keropeng akan rontok dengan sendirinya dan kelinci bisa sehat seperti sedia kala. Lakukan pencegahan seperti di atas agar si tungau jahat tidak mampir lagi menjangkiti kelinci kesayangan kita.

1466376485316

asisten cilik Bunda sedang melakukan inspeksi. Hm, bebas scabies! lapornya

Staying home with this lovely daughter

Penampilan putri kami kalau sedang di rumah. Kaos oblong dan celana pendek, the same outfit with her brother:-)

Hari kedua Kak Biyya izin dari sekolahnya. Demam dan flu melanda, terkadang ada keluhan sakit kepala juga. Biyya banyak tidur kalau sudah mulai sakit. Alhamdulillaah walau tidak selahap biasanya, Biyya tetap mau makan, minum teh atau minum susu. Bunda akan coba menyimak semua perkataannya, menjawab setiap pertanyaannya, membantu memenuhi permintaan sederhananya, seperti menyeduh air panas untuk teh/susu, memanaskan air mandi, bahkan untuk hal yang biasa sudah dikerjakan secara mandiri oleh Biyya, seperti menyanduk nasi dan makan.

Saat Bunda menulis ini, Biyya yang baru kelar mandi dan sedang makan pizza mini kesukaannya, teruuus bertanya dan bercerita. Tentang kegiatannya di sekolah kalau pukul 10, tempat ia biasa jajan, jajan apa saja. Biyya bertanya apa yang sedang Bunda tulis, kenapa di tempat kita tidak pernah turun salju dan lain sebagainya.

“Kalau jam 10, kawan-kawan Biyya jajan di belakang. Ada kantin keciiil kali, dekat rumah Pak Budi.” Kisahnya dan langsung membuat Bunda merasa was-was. Karena setahu Bunda rumah Bang Budi di luar pagar sekolah. Tapi setelah bertanya dan Biyya menjawab lebih detail, kantin yang di belakang itu masih dalam pagar sekolah. Bunda merasa lega. Selanjutnya membatin, terkadang Bunda tak adil, kenapa memilih-milih dalam menyimak lebih cermat cerita sianak? Seharusnya semua cerita didengarkan dengan antusias. Bukan hanya dengan tanggapan “hmm”, “iya”, dan “oya?”.  Tapi cerita dan pertanyaan Biyya banyak sekali tak ada henti, bahkan saat Bunda sudah minta izin beberapa jenak untuk menulis tanpa dibombardir ratusan tanya. But that’s Biyya. I love her anyway.

Faza dan renungan hari ini

Jam menunjukkan pukul 15.45. Faza sudah makan siang, sudah minum susu dan tiduran di lantai. Tiduran itu hanya sekedar golek, menempelkan pipi chubby-nya ke lantai, menikmati sensasi dingin ubin ruang tengah.Kartun Paw Patroli menyala di DVD sejak pagi tadi, Akib, Biyya, dan Faza seharian ini di rumah.

Oh, Akib baru saja keluar diajak Ayah belanja bulanan. Biyya mulai kedatangan tamu-tamu kecil, Zahra dan Alwi. Mereka mulai menggambar dan mewarnai di teras rumah.

Tinggal aku berdua dengan Faza di depan TV. Video Paw Patroli kubiarkan menyala sambil melanjutkan buku Tamim Ansary. Bahasan mengenai Khalifah Ustman sangat menarik minatku, saat SMA aku pernah membaca biografi Ustman bin Affan dan sosok yang sangat menyihirku. Kini dengan bahasan yang tidak sebegitu detail, sosok Ustman tetap menawanku. Semoga Allah senantiasa meridhai sosok lembut dan filantropis ini.

Aku kaget ketika menoleh ke kiri, Faza setengah terpejam menikmati semilir angin dari kipas angin di sudut ruangan. Wah, aku terpana lagi. Sungguh nikmat waktu dan kemudahan yang Allah berikan tak mampu dipungkiri. Tapi iman ini tidak cukup baik, apatah lagi jika dibandingkan dengan shahabiyah. Sungguh bukan sebuah kepantasan bagi hamba dhaif sepertiku.

Menatap wajah tidur Faza dan mulai menulis postingan sederhana ini. Kelak ketika aku terlupa dan diuji, lalu aku mulai menginterogasi-Nya. Kenapa, duhai Allah? Mengapa? Dua awalan yang tidak pantas digunakan hamba yang dihujani milyaran nikmat. Semoga ini benar-benar menjadi pengingat.

Suguhan 13 Agustus 2016

Sesi Terapi

Sudah hampir empat bulan menemani Ayus konsultasi dan nimbrung di sesi terapinya. Aku masih bisa mengingat celetukan Mbak Inge “Itu berarti Aini bisa belajar sesuatu lebih cepat.” Nah, itu saat aku ungkapkan kalau seringkali aku merasa ‘de javu’.

Ya, empat bulan yang mengenyangkan ingin tahuku tentang dunia psikologi, walau hari ini aku mulai lapar lagi. Sangat menarik dan terkadang datang keinginan merutuki diri karena dulu tidak memasuki dunia ini lebih dini, rasa itu berusaha kubuang jauh-jauh.

Ah, well. Kurasa aku juga bukan orang yang mampu melakoni semua ini. Bagiku bermain di ranah sugesti dan perasaan begitu berat. Duniaku dengan pengobatan hewan-hewan dan uji coba di laboratorium atau kajian-kajian ilmiah lainnya melalui referensi yang disediakan tentu lebih ‘aman’ dibanding melakoni tokoh terapis, konselor, maupun psikolog. Ya, ya, ya… ketiganya tidak sama mungkin, tapi tugas itu teramat berat. Memperbaiki dan menyembuhkan jiwa, mengobati sesuatu yang tidak tampak. Seolah ia melihat sesautu yang invisible. Yup, tentu saja tak semudah saat mendiagnosa sebuah penyakit yang gejalanya terlihat secara fisik.

Dalam terapi, kita banyak saling mengisi, mensugesti, menyelami banyak sisi. Hidup terlalu berharga untuk kita sia-siakan meraup manfaat. Betapa berharganya setiap denting detik jam untuk berpikir positif. Mari mengingatkan diri sendiri dan minta bantuan orang terdekat kita untuk mengingatkan kita juga.

Ya, Eun Yud. Mari…

 

 

image

Photo by google