Monthly Archive: October 2016

Hari-hari baru dalam kemasan lampau

Baru saja menulis postingan blog mengenai Sang Kapten yang 1×24 jam di rumah. Stand by layaknya security mengayomi seluruh penghuni, eh mulai minggu depan sudah ada panggilan. Walau tidak setiap hari, tapi kemungkinan besar dalam seminggu akan ada tiga hari absen mengantar anak-anak ke sekolah atau menemani si bungsu makan siang.

Then, how is your feeling, Aini?

Awkward, yes for the first time. Menimbang kapasitas diri ini yang selama ini begitu banyak tergantung pada kelenturan waktu Eun yud.

Happy, yes of course. Harusnya perasaan inilah yang harus aku pelihara seterusnya.

Menyampaikan pada Akib dan Biyya mengenai jadwal baru si ayah, itulah yang aku lakukan. Karena yang selama ini sangat menikmati anugerah kelapangan waktu itu tentu saja anak-anak. Kalau bundanya sih, malam biasanya masih begadang makan kuaci berdua sambil nonton film-film bluray secara random. Walau belakangan ini Eun yud lebih banyak memuat video belajar IELTS dari band 1-9 dan mengajakku belajar bersama. Ealaaah, nggak tau apa emak-emak kayak aku butuhnya Korean Drama! buahahahha.

Ingatanku melayang ke tujuh tahun silam, dimana Eun yud masih ngantor dan ‘sanjungan’ pulang saat pukul 12.30 untuk makan siang sekaligus mengantar Akib yang masih semata wayang, adalah hal yang sangat mengesankan. Waktu itulah aku mulai membuat blog, eh tepatnya sembilan tahun yang lalu membuat blognya dan mulai diisi rutin tahun kedua. Sambil menunggu Eun yud kembali dari Sibreh, aku sempat membuat tulisan ini

Anak Kunci Itu



(more…)

Selamat Ilang Tahun Eun yud

cieeee… ada yang lupa hari lahir suaminya sendiri.

Siapa?l

Aini!

Hah?

Iya Aini yang ngakunya romantis dan rada melankolis itu.

Hap! Hap! Lompat tinggi-tinggi. Sebenarnyaa hari itu aku nggak ingat tanggal. Ya, taulah hari senin dimana aku full mengisi jam noncurriculum subject di Baitul Arqam, senin biasanya hari paling hectic dalam seminggu. Tapi asli, aku lupa tanggal. Hadeeeuh.

“Bunda, Om hari ini ulang tahun?” Kata Naufal memastikan. Aku sedang bersiap berangkat dan merayu Faza untuk tinggal saja di rumah hari ini. Hujan terus-terusan turun. Faza juga sedang masa sapih jadi harus lebih sehat. Lalu istirahat di dalam rumah dengan cuaca seperti ini adalah pilihan terbaik. Toh Uncu juga tidak ada jam mengajar.

Aku sedikit terhenyak. “Hah, ini tanggal 17, ya? Oktober, ya?” Hahaha… sebentar lagi Eun yud mengantarku ke DPBA, aku belum memberi kode apapun. Memang terlihat sekali aku lupa hari istimewa ini.

Nah sebenarnya it’s all no problemo. Tahu kenapa aku jadi begini? Ya karena Eun yud bukan orang yang suka diingat ulang tahunnya, tapi aku kekeuh dengan kebiasaanku. Mengingat hari yang kuanggp istimewa sebagaimana kebanyakan perempuan-peremuan penyuka drama dan bacaan genre roman lainnya, buahhahahah.

Well, apa yang ingin dibahas lebih dulu? Sudut pandangku atau Eun yud?

Barangkali karena latar belakangku memang dari keluarga sederhana. Umak Abak tidak pernah sekalipun merayakan ulang tahun anak-anaknya. sesuatu yang kurasakan amat unik dan sebenarnya aku bangga juga kalau diingat hingga hari ini. Aku mulai tahu merayakan ultah saat bersama teman-teman SD dulu, atau bersama sepupu-sepupu ku yang ramainya hampir sekampung. Dari tontonan di televisi dan buku atau majalah yang kubaca, dari teman-teman yang keluarganya merayakan ulang tahun. That’s all.

Kesan yang kutangkap adalah menyenangkan, seru, dan terlihat apa ya… seperti sebentuk perhatian yang harus dibalas perhatian kembali. Pengikat batin dan betapa istimewanya itu hanya ada satu hari dalam setahun. Begitulah batinku hingga saat menikah dengan Eun yud yang notabene Mama dan keluarga intinya sangat mementingkan hari lahir. Mama selalu memasak sesuatu yang istimewa di hari lahir kelurga inti. Bahkan Eun yud masih punya foto ultah ke-6 kalau tidak salah. Lengkap dengan topi kerucut, balon-balon dan kue tart yang di atasnya ada lilinnya. Hihihi…

Tapi tetap saja penuh teka teki, Eun yud tidak suka perayaan ultah.

Tahun kedua di pernikahan kami, terjadilah sesuatu.

Jreng… jreng … jreng.

Miskomunikasi saat aku baru jadi Ibu beranak satu, lepas dari segala aktivitas publik dan full mengurusi domestik, then Eun yud tidak ingat hari ultahku tepat di pukul 24.01 21 Maret 2007.

Kalau diingat lagi kami tertawa, terutama aku akan membahas hal ini berjam-jam sambil menowel-nowel hidung Eun yud, mengacak-acak rambutnya dan kembali ia minta maaf. Maafnya itu semakin membuatku tak enak hati.

Saat itu, aku yang muntab, uring-uringan seperti anak TK sedang ngambeg. Memasak makan siang sambil berair mata. Dulu dan sampai hari ini semarah apapun tugas domestik tetap kuselesaikan. Eun yud pulang ke rumah untuk makan siang. Membawa pulang kado yang tidak dibungkus. Dua eksemplar buku, satunya novel Taj Mahal, Kisah Cinta Abadi yang ditulis John Shors. Sebenarnya itu ungkapan tak langsung yang sangat romantis. Tapi aku terlanjur sedih, aku pengennya tepat pukul 24.01 tapi ia malah ingat menjelang siang setelah pagi itu tentu saja Eun yud bingung kenapa istrinya yang paling manis mukanya sejagat menangis dan berubah jadi perempuan jadi-jadian yang matanya bengkak merah sampai ia pergi kerja.

Aku salah apa? Aku kudu piye? Itu barangkali jeritan batinnya. Selama kenal sebelum menikah aku pernah sekali mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi kado topi pancing warna hijau navy untuk Eun yud. Itu sebelumnya aku ingat, Eun yud pernah memberi hadiah pena tinta untukku. Masa perkenalan dan beberapa lembar surat dengan kertas surat bergambar Dragon Ball menceritakan latar belakang keluarganya sedikit detail. Surat itu masih kusimpan sebagai bukti sejarah kalau-kalau di sini ada yang tidak mengakui pernah mengirimiku surat dengan kertas surat Son Go Ku. Buahahhahh # dijitak!

Dari sana barangkali aku berangkat dan menyimpulkan sendiri, membuat asumsi bahwa seorang Yudhi juga merasakan hal yang sama, hari lahir adalah sesuatu yang spesial. Jadi, tanpa penjelasan dan persamaan persepsi, aku ujug-ujug ngambek dan bilang hadiah itu sudah terlalu hambar karena hadir setelah aku menangis. Sontak jiwa mudanya juga bergolak, Eun yud merasa seperti tidak dihargai jerih payahnya. Siang itu ia yang kemudian bermuka muram lalu dengan segala yang ia redam, bertanya perlahan padaku. Sebenarnya apa yang adik inginkan, apa mungkin lupa hari lahir sampai sebegitunya?

Eun yud masih 25 tahun, aku dua tahun di bawahnya. Kami menikah muda sekali dengan kondisi yang jika dijabar di sini amatlah panjang. Tapi sekali lagi, menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa adalah pilihan. Kami berdua akhirnya memilih menjadi dewasa berdua. Sebenarnya cerita ini sudah pernah aku tulis juga dan barangkali sudah diposting di blog lama. Malah barangkali tersimpan di Axioo gamewatch-ku yang sudah rusak dan file-nya tidak lagi terselamatkan.

Eun yud menekankan bahwa kekecewaanku bukan murni karena ia telat ingat hari lahirku, tapi ada banyak sesuatu di balik itu. Sebuah akumulasi kekecewaan bahwa aku harus mengalah sepenuhnya mengemong anak dan berhenti dari segala aktivitas kampus, lalu di organisasi juga off untuk sementara. Pekerjaan domestik dibantu oleh Eun yud tanpa asisten lain, pekerjaan Eun yud yang belum bisa dibilang mapan dengan skripsi S1-nya yang masih keteteran. Apakah aku kecewa dengan semua itu?

Satu sisi aku semakin tersinggung karena berpikir ia sudah meragukan keteguhan hatiku plus meremehkan prinsipku mengenai hari istimewa. Di sisi lain aku juga merasa tertampar oleh sikapku yang begitu kekanakan.

Satu hari yang menjadi titik balik dan sejarah untuk rumah tangga kami, aku melukai Eun yud yang sedang babak belur dihantam gelombang ketidakpastian kuliah dan masa depan kami waktu itu. Sementara aku merengek dengan ego kekanakanku. Amatlah lucu.

Setelah hari itu betapa banyak dialog diantara kami. Aku membaca buku-buku yang dihadiahkannya. Ia tahu aku sukaaa sekali. Nonfiksi bergenre roman adalah favoritku, hiburanku di sela-sela tumpukan buku teks Mikrobiologi dan Farmakologi dulu. Walau mungkin bagi Eun yud itu menggelikan menggandrungi roman. Ia sendiri lebih suka menonton. Eh malah ia menonton film action dan syukurlah kami sama-sama menyukai  japanesse anime. Di antara seribu perbedaan kami, aku hanya mampu mengingat sekitar lima atau enam persamaan kami. Itu sudah cukup membuat kami saling menggilai satu sama lain.

“Adek lupa ya, Abang ulang tahun hari ini, pasti tadi sadarnya pas diingatin sama fesbuk kan?” Godanya sambil menembus rinai gerimis mengantarku ke DPBA.

“Aah nggak! Sueer bukan diingatin fesbuuk. Tapi kok bisa Abang berpikir Adek lupa…” ngeleees. Aku tidak bohong loh, ya. Aku diingatkan ponakan bukan Facebook. Haha

“Selama 10 tahun Adek nggak pernah lupa ngucapin selamat ulang tahun tepat di pukul 12 lewat dikit. Bela-belain nunggu dan bangunin Abang untuk jadi yang orang yang pertama bilang.”  Eun yud mengingatkan betapa ‘haha’-nya Si Bunda ini. Tapi aku takjub juga dia ingat kelakuanku selama ini.

“Nah, terus gimana tuh, kali ini beda?” Aku malah bertanya lagi.

“Yah, gak apa-apa…”

“Betulan gak apa-apa? Eh malah nungguin ya kali ini. Maaf yaa…” pintaku sekali lagi sambil berterus terang kalau aku sebenarnya diingatkan ponakan dan bukan karena lupa hari ulang tahunnya tapi lebih karena aku tidak ingat tanggal.

Berderailah tawa kami berdua. Persis seperti anak SMP kami cekikikan sambil menembus rinai gerimis-Halah kayak apa gitu- Lalu keluarlah gurauan faktor U dan lain sebagainya yang semakin membuat perut teraduk-aduk. Lucunya tingkah Ayah Bunda ini yang qadarullah selama nyaris 12 tahun kami selalu dikumpulkan oleh-Nya. Bahkan nyaris 1×24 jam, kami bekerjasama berbagi porsi peran yang sama besar. Aku sebagai Ibu Rumah Tangga sungguhan yang penuh waktu, ia pun Bapak Rumah Tangga sungguhan penuh waktu. Termasuk mencari penghasilan untuk mengepulkan asap dapur, kita tejtap berbagi peran.

Dulu Eun yud pernah bekerja kantoran beberapa tahun dan resign. Salah satu alasannya biar bisa membantuku mengurus dan mengasuh anak-anak. Kita punya waktu bekerja seumur hidup, anak-anak hanya punya satu kali masa kecil. Hal itu kerap diingatnya dan begitu terus ia dengungkan.

Memang resign-nya hari itu tidaklah murni karena hal yang di atas. Ayah mana pula yang bisa berdiri begitu yakin keluar dari tempat kerja sementara ia adalah tulang punggung rumah tangga? Tapi itu adalah salah satu motivasi terbesarnya dan keyakinan bahwa rejeki tidak akan tertukar itu nyata adanya. Hingga detik ini Allah Sang Maha Pemurah memberikan begitu banyak pertolongan-Nya.

Bersama kami bergandengan tangan, menikmati waktu bersama keluarga inti. Diskusi-diskusi mengenai pernikahan jarak jauh juga ada. Bagaimana kami mengatasinya, kemudian jika salah satu dari kami lebih dulu menghadap-Nya.

“Ya, kita usahakan berkumpul sampai anak-anak usia emasnya. Kalau bisa usia akil balighnya juga, semoga jarak kita masih serangkulan begini. Nah, kalau sekiranya nanti akan ada perubahan. Entah Ayah atau Bunda harus berjarak sementara waktu atau bahkan selamanya, ayo disaat bisa sebebas ini menikmati waktu, kita saling mengeratkan hati. Setiap momen dan detik harus berkualitas. Semoga bisa menjadi amunisi selama tinggal di dunia dan berkumpul lagi di surga-Nya.”
Berkali-kali kurapal “Aamiin”dalam hati.

Eun yud juga mengajar beberapa jam dalam seminggu. Ia mengalokasikan waktunya lebih banyak buat keluarga. Awalnya kita tidak lagi berpikir mengenai piknik kemana. Selain tidak suka perayaan ulang tahun, Ia juga tidak suka main air laut. Hal yang mengherankan juga bagiku dulu. Jadi aku harus ekstra sabar kalau merangkai kata dalam balutan piknik dan menyenangkan anak-anak. Sebenarnya susah, loh, mengajak Eun yud piknik outdoor. Kadang Ia lebih suka kita bikin home teather gitu. Gelut-gelutan di rumah sambil beli makanan segombreng. Ngajakin main arcade game  (Ini yang aku tentang dan akhirnya proposal buku per minggu diloloskan untuk menggantikan game).

Untuk sekarang aku kagum Ia mau berusaha main pasir, basah-basahan dengan anak-anak di pinggir pantai. Cebar-cebur di kolam renang. Kalau sedang ada rejeki melepaskan anak-anaknya ke wahana bermain. Kuliner, jangan tanya… Eun yud dan Akib punya lidah yang sangat fleksibel dengan segala aneka rasa dari seluruh dunia.

Buku-buku dan sarana belajar anak selalu diusahkannya, walau tahu sendiri kondisi finansial orangtua tipe kami ini tidaklah semulus keluarga lain yang pasti uang masuknya setiap bulan.

Untuk sekedar menapakkan jejak ingatan yang baru, akhirnya kami singgah di salah satu cafe sederhana untuk menikmati dua gelas minuman hangat dan dua piring mie seafood. Mengobrolkan banyak hal yang tidak bisa kubahas satu-satu di sini. Tidak lupa mie empat porsi untuk dibawa pulang dengan segera.

Ya, sebenarnya tulisan kali ini hanyalah sekedar napak tilas perjuangan seseorang yang gagah berani menjadi kapten bahtera di usia muda. Yang kemarin menginjakkan kakinya di angka 34 tahun. Ayah tiga orang anak yang semoga saja anak-anak ini kerap menyejukkan matahatimu. Penyeka peluh, pelumat gundahmu yang doanya mengalir seterusnya hingga kita keduanya tiada lagi di dunia.

Selamat ilang tahun Eun yud. Jatah satu tahun sudah menghilang lagi dan lagi setiap tahunnya

20140508_175550

edisi berdua saja. Untuk ayah dan bunda beranak tiga, saat berdua itu sangat berharga. hahaha

aini-n-eun-yud

Gawai di Rumah Kita

Adalah hal yang membuatku terkejut alang kepalang ketika membaca cerita yang ditulis Akib di bukunya dan kemudian dirapikannya di laptop Eun Yud malam itu. Pagi sebelum ke sekolah, Akib sudah menunjukkan buku tulis dan isinya itu, tapi katanya nanti saja Bunda baca sampai habis, karena Akib belum selesai tulis semuanya. Hm, oke baiklah. Kurang lebih begitu saja tanggapanku.

Akib menurutku yang masih begitu ‘ketat’ aturan memakai gawainya bisa terlewat? Ini capture ceritanya

.img20160929172533

Di situ menurutku ada konten kekerasan. Game yang boleh dimainkan Akib hanya minecraft untuk saat ini. Kemudian saat online Akib menggunakan WA berkomunikasi dengan keluarga intinya di grup yang dibuatnya ‘GoldBear Family’. Akib terkadang menonton youtube tutorial minecraft dan tentu saja itu di sabtu minggu alias weekend masing-masing dua jam saja.

Suatu waktu aku dan Eun Yud menemui gurunya untuk berdiskusi dan menanyakan perkembangan Akib. Di sana akhirnya disimpulkan aku terlalu ketat sehingga Akib cenderung berontak. Walas Akib bilang jika kita mendidik anak terlalu banyak aturan, maka ia akan cenderung memberontak. Aku setuju dengan statemen beliau dan sangat berterima kasih atas masukannya. Bukan hal yang mengherankan ketika beliau berkomentar seperti itu karena aku berterus-terang sejak awal, kami tidak memasang channel televisi  setelah memiliki anak (pernah berlangganan TV kabel selama tiga bulan dan sama sekali tidak membantu, seluruh keluarga sepakat mengalihkan budget TV kabel ke buku setiap bulannya).  Mungkin cerita ini sudah berulang kali kuulas dari beberapa postingan termasuk jam main gawai untuk Akib dan game apa saja yang boleh dimainkan.

Baca:http://stanzafilantropi.com/menanam-dan-merawat-benih-milik-sendiri/

Nah, sejurus terlihat aturaaan saja yang ada, apalagi Akib juga tetiba memiliki statemen “Bunda ini banyak kali aturan!” dengan kesalnya ia bisa nyeletuk seperti itu.

Akib bercerita temannya punya telepon genggam pribadi, punya komputer pribadi, dan tablet pribadi. Temannya bisa main kapan saja tidak seperti ia yang hanya dijatah di weekend dan hanya beberapa jam. Oke, aku dan Eun Yud kemudian berdiskusi agak alot dan melonggarkan aturan 2 jam menjadi 5 jam di weekend. Ini disambut dengan amat baik dan memberi dampak buruk karena Akib berpikir ternyata aturan gawai bisa ditawar.

Wajar kalau aku dan Eun Yud dianggap banyak aturan karena dua hal di atas. Padahal Biyya tidak sebegitu keberatannya. Karena kenapa? Biyya mudah bergaul dan suka permainan outdoor, Biyya supel dan gawai bukan kebutuhannya dan teman-temannya di sekolah ataupun teman mainnya saat mengaji. Bahkan tetangga yang sering bermain dengannya tidak memiliki gawai pribadi. Ah, kelihatannya ortu temannya juga tidak begitu peduli dengan gawai. Semua sibuk mengurus sawah berpetak-petak.

Akib dan temannya berbeda. Obrolan di sekolahnya dalah game teranyar dan level tertinggi dari game tersebut. Malah ia bercerita temannya sedang seru-serunya bermain game Pokemon Go. Iyap, tak ada salahnya sih, bagi anak-anak Gen-Z seperti sekarang, aku tak kaget. Tapi prinsip keluarga adalah prinsip. Ia tak boleh dilanggar untuk tetap menjadi anggota keluarga ada aturan baku dan tidak baku tentunya. Walau tak tertulis, kami di rumah memahaminya. Termasuk bagaimana berjuang bersama Eun Yud, ayah mereka sedang mencoba sesuatu yang baru dan membutuhkan seluruh dukungan yang sesuai dengan kapasitas pikir anak tentunya. Akib selama ini dengan kelugasannya adalah Akib yang jujur dan tentu saja tidak dalam kondisi tertekan seperti yang barangkali orang pikirkan.

Aku berdiskusi dengan Kak Wina Risman yang mumpuni dalam hal parenting. Melihat bentuk tulisan Akib memang ia seperti darurat gawai. Gawainya harus dihentikan sebelum dia kecanduan. Eun Yud dan aku siap-siap dan serta merta menginspeksi (tanpa sepengetahuan Akib tentunya) mengenai game yang ia mainkan apakah mengandung konten kekerasan. Buku-buku Insya Allah aman, hampir 100 % buku-buku yang dibaca Akib sudah kubaca. Jadi ada satu buku horor komedi yang judulnya ada ‘nightmare’-nya gitu, aku lupa. Itu  isinya juga bukannya menakutkan malah lucu sekali. Ada sempat ia euforia sekali tentang Night at Freedy, segala istilah yang ia temukan di sana ia tanyakan padaku. Diskusi berlanjut dan aku melihat ada dampak kurang baik dan kami sepakat menghentikan video-video night at freedy tadi.

Tanpa menunggu lama, aku mengajak Akib ngobrol lagi sambil jalan-jalan di akhir pekan, apa sebenarnya yang memantik idenya untuk menuliskan cerita di atas. Ada kata-kata menembak, membunuh di sana. Akhirnya aku tahu bahwa itu semua dari obrolan dan rasa penasarnnya memvisualisasikan cerita teman-temannya. Ia bersemangat menceritakan obrolannya (yang sebenarnya sehari-hari pulang sekolah pun ia ceritakan padaku) kemudain kali ini diulang dan lebih detail. Sampai ia juga nyeletuk menirukan gaya temannya memperagakan salah satu iklan rokok. Ia sangat terkesan dan penasaran. Akib tidak pernah menontonnya tapi temannya yang ekspresif menunjukkannya ke Akib dengan aktingnya yang mengesankan. “Dj*rum Cokl*t ” katanya dengan intonasi iklan. “Apa sih itu, Nda?”

“Oh, dimana Akib lihat atau baca?” tanyaku datar.

“Si A sering tiba-tiba bilang itu.”

“Oooh, itu ya iklan rokok di televisi barangkali,” jawabku sekenanya.

Tiba-tiba Akib terbahak dan katanya dia tidak menyangka itu ditirukan Si A dari iklan rokok. Lalu ia geli sambil membayangkan temannya Si A memperagakn jargon iklan itu.

Setelah meningat-ingat cara Akib bergaul dan dunianya saat ini, aku menemukan titik temu. Cara berbicara yang agak kasar sesama anak-anak tersebut dan wallaahu’alam faktor apakah penyebabnya, itu sangat mempengaruhi tulisan-ulisan Akib. Gawai dan penggunaannya kembali kami setting dengan pengaturan awal seperti yang disarakan Kak Wina Risman. Malah dikurangi lagi. Cukup satu jam satu hari di weekend. Akib juga awalnya protes tapi aku sampaikan sejelas-jelasnya dan sepahaman yang mampu dijangkaunya.

Lalu mengenai aturan, kata Kak Hanna yang juga expert di bidang psikologi bilang, hidup akan ada aturannyan itu perlu. Jadi ada … memang ada hal-hal yang harus diatur dan ada yang harus dionggarkan. Kalau membahayakan  dan berdampak tidak baik ke depan, ya dipakai aturan, beda kalau mau pakai baju warna apa, sendal yang mana dan kemudian kita selaku orangtua yang anaknya belia menjelang remaja tetap bersikeras pada pilihan ortu mengenai hal yang remeh-temeh, baru namanya sok mengatur, banyak aturan dan lain sebagainya sesama jenis yang aku sebutkan tadi. Jadi apakah ketiadaan televisi dan penggunaan jam gawai juga dikatakan banyak aturan?

Kembali membicarakan konten tulisan Akib di atas, apakah itu hanya ungkapan verbal yang sering ia dengar dari teman-teman atau dari game dan totonan? Soalnya apa yang didengar itu juga sangat berpengaruh pada tulisan dan obrolan Akib selama ini. Aku coba berdiskusi dengan para Mahmud di Nasyiatul Aisyiyah yang notabene juga memiliki anak yang seusia dengan Akib. Dari diskusi tadi aku tangkap hanya Akib yang agaknya bermasalah dengan gawai dengan bukti tulisan yang dia buat penuh dengan kode game seperti di atas. Entah, aku tidak ingin meperpanjang lagi dan karena ingin dengan sungguh hati mencari solusi akan permasalahan ini, aku beralih dari ketidakefektifan diskusi di atas dan mulai lagi bergerilya mencari referensi. Referensi utamaku tentu saja Akib sendiri. Bagaimana perasaannya dan menyelami segala cerita-cerita dan harus kupastikan bagaimana ide-ide memantik dari pikiran dan imajinasinya. Bagaimana ia melihat anak-anak seusianya, terutama teman dekatnya bisa mengakses lebih banyak daripada yang ia dapatkan. Memastikan bahwa aku percaya padanya dan ia juga harus percaya pada kami orangtuanya, lalu saling menjaga kepercayaan tersebut. Tidak bebas mengakses game online atau berlama-lama di layar bukanlah akhir segalanya, Kib. Lalu solusi lainnya pun kami tawarkan. Jangan sampai setelah kita di depan deal masih ada rasa yang mengganjal di hati Akib yang kemudian membuatnya harus mencari akses dengan cara backstreet. Jelas ini masalah baru yang harus diantisipasi.

Solusi pertama yang sangat disambut baik oleh Akib adalah buku. Buku sebagai sarana hiburan terutama cergam-cergam yang kemudian aku lebih tingkatkan bobot komiknya dari yang awalnya berkonten sains (komik Why berbagai edisi) menjadi konten sejarah (Komik Muhammad Al-Fatih). Lalu yang sekarang teranyar itu Korel alias Komik Religi walau konten religinya menurutku amat sedikit dan lebih banyak komedinya, tapi insya Allah lebih aman. Kemarin Akib membaca komik si Juki di rumah Tia dan meminjamnya, ada yang bilang itu komik dewasa. Iya, guyonan politiknya juga ada, tapi setelah aku baca juga jauh lebih aman daripada Akib harus bermain gawai.

Solusi kedua yang bisa bersinergi dengan yang pertama adalah, mengobrol lebih banyak dengan Bunda. Bunda janji jadi pendengar yang baik dan budiman. Menjadi orang antusias dengan cerita yang Akib lontarkan, apapun itu. Akib senang dan kita deal.

Solusi ketiga adalah memfasilitasi Akib dengan kertas, pensil dan pulpen. Akses bebas untuk menulis, menggambar dan berapa lembar kertas yang Akib butuhkan, berapa jumlah buku, pena, dan pensil. Mari berkarya nyata.

Sekali lagi, bukan konten gawai yang aku takutkan karena hari ini sudah ada fitur-fitur yang menyaring konten-konten dewasa, tapi efek addict dan cetusan dopamin yang dihasilkan saat berlama-lama dengan gawai itulah yang aku dan Eun Yud khawatirkan.

Ooh, ini anak kami walau pakai gawai kencang tapi pelajaran di sekolahnya diprioritaskan dan hafalan qurannya juga sudah mau khatam 30 juz. Di gawainya semua aplikasi yang mendukung belajar dan buat dia semakin pintar Bahasa Inggris. Ini sebagai hadiah untuk kesuksesan yang dia raih karena pintar dalam segala bidang. Oke, silakan kalau ada orangtua yang berprinsip demikian.

Tapi, Kib… Akib adalah anak Ayah dan Bunda. Pernahkah Bunda menuntut Akib menjadi jawara kelas? Hebat di bidang ini dan itu? Bintang panggung bintang lapangan, bintang sekolah? Berapa kali sudah Bunda tegaskan Akib adalah gemintang yang menyemarakkan hati Ayah dan Bunda. Penerang dan teladan adik-adik, Bunda hanya meminta Akib menjaga salat 5 waktu, lainnya Akib lah dengan diri Akib sendiri. Akib anak Ayah dan Bunda yang tidak akan mungkin kami hadiahi jam pemakaian gawai setiap hari.