Monthly Archive: November 2016

November 30th Funniest Disaster (no.. no more, kiddos!)

Sebenarnya niat menyalakan laptop malam ini tak lain dan tak bukan adalah untuk menyelesaikan sebuah worksheet lagi untuk anak-anak kelas 9. Tapi sampai ke rumah tadi sore lalu disambut dengan senyum Akib dan Biyya plus celoteh mereka berdua pasca dijemput si ayah tadi siang, membuat fokus si bunda ini hilang sekejap mengenai tugas luar. Disimpan, dilipat yang rapi dan disembunyikan di balik karpet ruang tengah untuk sementara waktu. Langsung menyiapkan makan malam sambil melayani celotehan kedua kakak adik itu, sementara Faza sudah tidur.

ab6a0af3a26efc4290478714140d9f66

Ah, Akib Biyya! Akur-akurannya nggak pakai lama. Entah apa asal mulanya, Biyya jadi sebal sama Akib. Akib juga semakin menjadi-jadi menggoda Biyya. Magrib menjelang dan seperti biasa kita salat berjamaah. Biyya masih dengan seonggok kesalnya salat masbu’ satu rakaat. Akib juga ba’da salam masih juga mengomentari Biyya yang arah manik matanya tidak ke tempat sujud. Padahal tadi si bunda sudah bilang, “ayo, Biyya… pergi wudhu terus supaya setannya pergi, marahnya reda.”

Ayah dan Bunda tidak begitu menggubris sengketa yang nggak jelas asal mulanya, sepertinya tadi tidaklah seserius itu, hanya karena salah gambar dan buku Biyya sobek sedikit, Biyya tidak terima, Akib juga ogah minta maaf. Kami juga tidak memaksa salah satunya minta maaf, tapi tetap bilang hal seperti itu jangan dibesar-besarkan Biyya, dan Akib kalau memang tidak sengaja sebaiknya dijelaskan ke Biyya. Nah, bagus kalau ada yang minta maaf dan lainnya mau memaafkan. Tapi keduanya bersikeras tidak ada yang mau mengalah apalagi minta maaf.

Baiklah, usai salat kita ada tausiyah dan sedikit diskusi. Biyya yang masih kesal ikut dengan tertib termasuk mengaji, mengambil buku iqra-nya dan mengulang setengah halaman. Bang Akib justru melendot di samping bunda, mendengarkan bunda baca quran supaya dapat rahmat. Iih, ini ikut ayah atau bunda, ngeles nggak baca nyimak doang. Oke, bangkitlah, Kib, giliran Akib mengaji. Malam ini Akib berhasil mengelak karena sudah waktunya makan malam. Masih dengan berdebat hal yang tidak penting di meja makan, Ayah minta Akib dan Biyya lebih tenang. Acara makan berlangsung lancar dan khidmat. Kecuali Akib yang tidak menghabiskan nasinya sekitar tiga suap. Di meja makan si ayah ada panggilan juga, Tengku Ballah memberi kabar akan bertandang ke rumah sekejap. Oke… sulit melepaskan telepon selular kalau sudah mulai ada panggilan tiba-tiba.

Ayah balik lagi bergabung ke meja makan tapi dengan si seksi tadi, penarik perhatian nomor satu. Si telepon genggam. Mulailah percakapan banjir Singkil tadi terputus. Tema jadinya entah kemana-mana. Sejauh ini situasi under control. Bunda menegur kuku Akib yang mulai panjang. Biyya yang hobi sekali menggunting kuku, berinisiiatif lebih dulu mencari penjepit kuku. Nah, iniah muasal perkara besar malam ini.

Ya, benar kita punya beberapa penjepit kuku dengan berbagai ukuran. Hanya satu yang masih baru, mengkilat, tajam dan jadi favorit. Biyya yang sepertinya sejak tadi masih ‘belum terurai’ perasaannya, mulai lagi membuat Akib kesal. Akib juga sudah mengantri jepit kuku favorit tadi. Selain membuat lama proses pemotongan kuku tangannya, Biyya mulai lebay ingin memendekkan lagi kuku kakinya. Pada dasarnya itu tidak begitu urgen. Bisa dilihat dari kuku kakinya yang masih pendek dan bersih. Ada saja cara Biyya supaya penjepit kuku itu tetap   di tangannya. Ini si abang yang sejak awal juga semakin besar gondoknya dengan si adik. Pecahlah perang suara.

“Sssttt… Dedek Faza bobok sayang, jangan ribut. Ayo kakak adik harus sayang-sayangan…” cara persuasif dilaksanakan, karena kalau larangan jangan berantem akan semakin memantik perselisihan. Mulailah saling mengeluh tidak suka abang yang begini, tidak suka adik yang begitu. Suara naik sekian oktaf. Seperti biasa si bunda minta tolong ke ayah untuk menggondol kakak adik ini ke teras supaya mereka bisa meanjutkan adu mulut dengan adu jotos sekalian tanpa mengganggu kami seisi rumah yang butuh ketenangan.

“Ayah, tolong angkat Akib, Bunda gendong Biyya ke luar!” ini klimaks. Gendongan yang tidak dirindukan keduanya adalah saat ini. Biyya yang fisiknya lebih terlatih dibanding Akib, tentu saja bunda urus duluan. Langsung, deh, dia ngacir sambil bilang kalau mereka sudah akur. Akib demi melihat penjepit kuku yang tergeletak langsung memungut dan mulai memotong kukunya sambil menyalah-nyalahkan Biyya yang memulai keributan ini. Melihat gelagat Akib yang belum bisa berdamai, bunda masih usaha menangkap Biyya yang ternyata cukup licin seperti lele- berhubung bunda belum pernah nangkap belut, baru kaliber ikan lele- sungguh Biyya sulit dicekal. Dia juga mahir mencari tempat yang membuat proses ini beribet. Meja makan. Kami berputar mengitari meja makan. Bunda harus mengeluarkan sedikit jurus Harimau Menepis apalah gitu, untuk bisa mencengkeram gadis yang rutin main pencak silat setiap minggu itu. Lengannya dapat, mulai bunda apit kedua kakinya supaya lebih nyaman. Eh Biyya nya malah meronta jadi kaki satunya lagi terjuntai. Bunda hanya memegangi satu lengan satu kaki. Jarak meja makan ke pintu keluar sekitar sepuluh langkah, supaya Biyya tidak sakit, bunda singkat dengan berlari.

Ayah siaga dengan Akib, tapi lebih cekatan bunda lagi. Penjepit kuku terlepas dari tangan Akib, bunda tarik Akib ke luar. Akib dan Biyya sudah di teras dan pintu bunda kunci. Histeria Akib yang tidak suka dikunci di luar, ia mulai menggedor sampai Faza terganggu tidurnya. Bunda mengurus Faza, Ayah keluar mengurus Akib dan Biyya. Untuk menenangkan Akib ayah berikan satu gertakan di kaki Akib. Ayah juga menantang Biyya dan Akib adu jotos di teras. Dihadapkan berdua. Selesaikan sengketa, habis-habisin kesal. Mereka cuma gagu, menangis keduanya. Ayah mulai pidato Akib masih belum bisa menstabilkan emosinya. Matanya masih menyala, Biyya mulai menyesal dengan apa yang terjadi dan mereka harus berakhir di teras rumah menjelang isya. Ayah melanjutkan pidato sambil nggak mau rugi waktu. Hehe… kasih pakan kelinci dan isi penuh dot mereka semua. Di teras ada tumpukan daun Indigofera, di samping itu Akib dan Biyya duduk bersandar ke dinding. Pidato ayah terus berlanjut. Bunda tidak tahu lagi apa kejadian, tapi dari dalam terdengar suara pidato ayah saja. Hahaha…

Terdengar Akib mengulang hafalan doa iftitah, bergantian dengan Biyya. Di sekolah mereka diajarkan doa iftitah Allaahuakbar kabira… sementara di rumah kita juga menghafal yang lebih singkat Allahumma ba’id… Biyya antusias. Laporan terkini dari ayah, Biyya tadi mencoba tenang, dewasa dan mencairkan suasana. Akib masih dengan amarah membara dan tidak terima. Faza minum dan minta makan, karena memang belum sempat makan malam tadi langsung tidur. Setelah selesai bunda elus punggungnya dan melanjutkan tidur lagi.  Bunda wudhu dan pakai mukena. Beranjak ke teras. Meihat ayah sedang mempreteli daun indigo dari tangkainya. Akib dan Biyya masih bersandar dengan kaki ditekuk. Keduanya memeluk kaki dan bersandar ke dinding. Terenyuh hati bunda menyaksikannya.

“Gimana kalian berdua?” bunda tanya dan Akib langsung menoleh ke bunda dengan mata yang memerah dan kali ini memelas. “Kami udah baikan.” Sekilas bunda bertanya kenapa hanya menatap ayah yang sedang menyiangi pakan kelinci, bukannya ikut membantu. Akhir cerita bunda suruh keduanya masuk, sebeum tidur ambil wudhu dan salat isya. Bada isya Biyya masih dengan hafalan doa iftitah dan meminta buku berisikan doa tersebut. Ia keluar lagi memamerkan buku itu ke ayah. Malah minta menyetor lagi nanti. Biyya … Biyya…

 

ignore-them

Menyapih (Faza) Dengan Cinta -WWL versi Bunda dan Faza-

15 november lalu, Faza genap berusia 2 tahun. Sudah sekitar 4 bulan sebelumnya kami sounding tentang sapih. Awalnya reaksi Faza lucu sekali, tapi apapun itu memang namanya baby kerap menggemaskan.

“Faza, sebentar lagi disapih ya…” kata si ayah mengingatkan. Terburu-buru ia menuju kotak mainan dan mengambil mainan sapinya. Menunjukkan ke si ayah sambil bergumam “mooooo! Sapi, sapi!” Meledak tawa kami seluruhnya. Kak Biyya dengan lengkingan khas dan memamerkan gusi depannya yang masih ompong.

Menjelang setengah bulan akan disapih sungguhan, aku pergi menghadiri Musda NA di Nagan, Aceh Jaya. Malam itulah pertama sekali Faza tidak disusukan menjelang tidurnya. Kalau tidur siang memang sudah pernah beberapa kali dinina bobokan Uncu. Hanya berbekal elusan di punggung, air putih, susu formula, teh, buku-buku, mainan atau malah video.

Aktivitas favorit. Pelototin gambar di buku.

Aktivitas favorit., pelototin gambar di buku.

Malam kedua aku sudah sampai ke rumah, Faza memang sudah tidur. Aku menghampiri dan memindahkannya ke kamar kami. Agaknya ia sadar Bundanya sudah pulang dan bergumam “blah… blah” selain kata nenen, blah itu maksudnya sebelah lagi, ya. Hahaha… maafkanlah spontanitas yang kemudian menjadi habit itu. Akhirnya karena rindu iya, mammae juga sudah penuh karena nyaris dua hari tidak menyusukan Faza, aku berikan lagi ASI. Toh belum genap dua tahun pun, pikirku.

Nah, itu proses weaning yang awal. Berikutnya siang aku coba tidak memberikan ASI lagi, jadi hanya menjelang tidur malam. Cuaca november tidak begitu bagus, pancaroba. Faza demam dan rewel, ia kerap minta disusui. Aku kembali ke frekuensi biasa dengan durasi menyusui yang cukup pendek. Tapi ya, kapan dia minta harus dikasih lagi. Begitu sudah ada tanda-tanda selera makan kembali membaik, aku menguragi pemberian ASI dengan lebih kentara. Malah malam kalau cukup dengan dibacakan buku dan dielus punggungnya, aku tidak lagi memberi ASI. Eh, tapi ia baru saja sembuh. Rewel dan manjanya masih terbawa pasca demam. Jadilah Uncu bilang, “kasih aja dulu, napa? Kan belum pun dua tahun penuh” demi mendengar Faza menangis tengah malam.

Tahap kedua masih belum sukses, malah Faza semakin lengket dengan ASI. Sebelum kelewatan, aku mulai mengelurkan beberapa amunisi ala-ala si ayah. Kalau ingat nen, aku perlihatkan video di tablet. Bisa dibilang saat proses penyapihan Faza mulai-mulai terpapar gawai lebih sering dari biasanya. Tapi jangan keterusan, dong. Bahaya!

Buku-buku masih terus menarik minatnya dalam proses ini. Hingga akhirnya tanggal 15 tertera di kalender rumah kami. Yup, Faza is 2 years old. Alhamdulillaah.

 

img20161119190309

buku-buku yang siap sedia menemani Faza menjelang tidur. His fave!

Besoknya walau sapih tetap disampaikan, aku masih menyusui menjelang tidurnya. Tapi Faza sudah tahu kalau susu dari dot lebih kencang dan banyak. Terkadang ia lelah tapi tidak puas dan akhirnya menyerah minta susu. Sufor juga tidak menjadi sesuatu yang wajib untuk bayi yang disapih, ditambah Faza agak ribet memilihkan susunya. Ia alergian. Hanya satu hari satu malam aku hentikan memberi ASI dengan total. Alhamdulillaah tidak ada drama dan histeria di hari keduanya. Ini sudah seminggu tidak menyusu sama sekali, begitu Faza ngantuk dan meminta ASI, aku hanya tinggal bilang Faza sudah disapih. Lalu Faza akan memilih opsi lain, susu atau teh. Sekedar baca buku pun boleh. Juga tidak ada bunda yang demam karena payudara yang bengkak kepenuhan ASI.

Oh iya, Faza suka sekali susu kambing organik. Dia bisa menghabiskan 150 ml dalam beberapa menit. Karena ada riwayat alergi susu sapi dulu ketika masih ASI ekslusif, saat aku sok rajin minum susu ibu menyusui. Hehe… akhirnya aku tidak berani mencoba memberi susu sapi organik. Sedangkan susu formula itu bisa membuatnya mulas, konon lagi susu segar, pikirku.

Dulu sepertinya menyapih tanpa digantikan susu formula serasa menjadi momok tersendiri. Apalagi banyak suara-suara, eh nanti digantikan pakai apa ASI-nya. Ya, makanan sehari-hari dan buah itu jauh lebih menggantikan ketimbang susu formula ternyata. Apalagi jargon empat sehat lima sempurna tidak ada lagi, digantikan dengan makanan gizi seimbang.

Yah akhirnya … barakallaah, Faza sayang. Happy graduation! Sudah lulus ASI 2 tahun dengan ending WWL. Semoga menjadi anak yang salih. Aamiin.