Apakah Dyslexia Termasuk Special Needs?

Unik. Itu kata pertama yang harus kutuliskan saat akan mengulas buku Wonderful Life. Bahkan aku bingung sendiri bagaimana mulai meresensinya. Walau sebelum membeli buku karya Mbak Amalia Prabowo ini, aku sudah berselancar mencari tahu isi ataupun sekadar tahu kaver dan harganya untuk kemudian memasukkannya ke keranjang wish list dalam bulan ini.

Padahal ini bukan buku baru. Cetakan pertamanya sudah diterbitkan 2015 silam dan tahun kedua mulai diangkat ke layar lebar dengan judul yang persis sama degan buku, Wonderful Life. Naik ke layar lebar tahun 2016. Ada kelebat ingatan menegaskan memang di tahun terbit tersebut aku pernah mendengar buku baru tentang kisah anak dan ibunya yang bergelut dengan dinamika hidup. Kemudian buku tersebut difilmkan. Cari ah, nanti, batinku.

Fokusku pada Akib, sejak awal Allah memberikannya kepada kami. Sulung kami yang menyedot banyak perhatian dibanding dua adiknya yang lain, membuatku terus mencari sesuatu. Sebuah clue apakah sebenarnya yang membuat Akib berbeda? Walau jika kita tidak hidup lama dan intens dengan Akib, tak ada bedanya ia dengan anak lainnya. Hanya Akib tidak antusias di bidang akademik kalau tak mau dikatakan  terlihat seperti anak malas di sekolahnya. Suka bercerita dan nyeletuk aneh, seperti membangun dunia sendiri dalam imajinasinya. Terlihat sejak usia dua tahun. Aku sebagai ibu muda dan tidak memiliki perbandingan nyata menganggap, yah namanya juga anak kecil. Nanti kalau ia mulai bergaul di sekolah, berteman dengan anak seusianya tentu akan seperti anak-anak pada umumnya juga.

 Namun Akib semakin unik. Seiring bertambah usianya, imajinasinya semakin unik, detail, dan beragam. Mana kutahu ia disleksia karena sejak usia 6 tahun ia bisa membaca dan mulai menulis puisi. Lapar akan buku-buku segala genre yang ada di pustaka rumah kami atau pustaka panti dulu. Aku yang hanya tahu bahwa disleksia adalah kesulitan membaca dan mengenali simbol, tak pernah menduga meraw at seorang disleksik selama ini. Akib yang selalu berbinar kubacakan buku. Tantrum ketika sekelilingnya tidak paham apa yang ia maksud. Akib tidak mengalami speech delay seperti anak yang diduga disleksia pada umumnya. Hingga usianya ke-10 ia masih bisa banyak berkisah dimana aku merasakan, ah, ini anak semakin nggak paham, deh.

Seringkali kehadiran Biyya menjadi pembanding. Ups! Bukan untuk membanding-bandingkan, tapi aku jadi bisa merasakan selama ini perkembangan pemahan Sang Imajinator Adi Luhung ini bukan berdasarkan logika dan fakta. Apapun informasi yang ia terima, baik lisan maupun gejala alam, gesture orang sekitar, awal terjemahannya itu adalah imajinasinya. Misal, ia membaca buku sirah nabawiyah. Saat pertama Rasulullaah dihampiri malaikat Jibril untuk diberikan wahyu, lalu di sana diceritakan prosesnya. Setelah bacaan itu selesai, yang dirasakan Akib adalah bagaimana didatangi malaikat. Seram kah itu? Wujudnya yang Akib sangat penasaran, sumpah! Lalu mulailah ia membayangan ini dan itu. Semacam gambar-gambar muncul dalam imajinya. Lalu nanti ada lagi buku yang menampilkan gambar malaikat hanya kelebat cahaya. Maka ia sangat penasaran apa di balik cahaya itu, kenapa tidak jelas-jelas saja digambarkan. Setan bagaimana wujudnya. Tiba-tiba ketika kita nyalakan film kartun tentang doa bisa menangkal setan. Digambarkan dalam wujud animasi makhluk kerdil, berwarna merah, bergigi runcing, dan lain-lain, itu setannya. Tibalah ia sibuk merangkai lagi ilustrasi-ilustrasi lainnya.

Pemikirannya benar-benar ruwet, kadang benar-benar simpel. “Duuh, salah beli ini mangkok blender. Nggak cocok di mesinnya. Mana tadi pilih yang paling mahal pula, biar ada jaminan bagus. Harus segera balik untuk memastikan ini masih bisa ditukar.”

Bagi Akib sangat mengeherankan pemikiran begitu. Tinggal beli yang lain, itu buang saja, kok ribet? Tak akan masuk di pikirannya bagaimana repotnya membeli lagi, walau dia lihat tadi perjuangan pergi membeli mangkok blender yang jauh. Perjalanan yang biasanya hanya akhir pekan dan sebulan sekali pula. Buang saja, beli lain, tadi ia menyaksikan di kasir ayah masih dapat uang kembalian. Atau ayah membayar pakai kartu, selagi kartu ada dalam dompet, ia akan tetap bisa digunakan sebagaimana yang kita inginkan.

Telat ke sekolah. Akib harus sampai pukul 7.45, itu sama artinya dengan pukul delapan kurang lima belas menit. Akib mandinya pukul delapan saja, kan pukul delapan harus sampai ke sekolah. Titik. Jangan didebat karena Akib tidak suka dingin, tidak suka kamar mandi yang tidak nyaman. Lantainya nggak putih dan tidak ada shower. Boro-boro, Kib! Atau sore tidak mandi lagi, dalihnya karena Akib merasa badannya tidak bau.

“Mengapa mandi kok, tunggu badannya bau?” so simpel jawabnya, karena biasanya yang dia dengar adalah “Kib, mandilah terus. Udah bau kali badannya, tuh.”  Ooh berarti kita harus mandi kalau badan kita terasa bau, kalau nggak, ya nggak apa-apa.

Dulu saat TK ia protes ayahnya yang pulang jam 6 sore setiap hari. Jawaban ayah kerja, cari uang buat sekolah Akib, buat beli ini dan itu. Akib tidak akan paham dan tidak ingin mendengar jawaban semacam itu. Jadi aku harus menyiasati menjelaskan dengan ilustrasi dan beberapa kisah. Hari itu aku ingin menyimpan gambar dan cerita tersebut, tapi karena kesibukan domestik dengan bayi Biyya yang sedang aktif,  tak ada yang terselamatkan. Baik ide maupun gambarnya.

Orang yang tak pernah mengalami atau tidak memiliki anak unik di dalam rumahnya akan mudah sekali menghakimi dan menilai dari berbagai sisi. Tapi aku tidak ingin menceritakan hal itu, terlalu semraut dan aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Tapi setelah membaca keseluruhan buku Wonderful Life, bukan sekedar membaca blurb, resensi, dan sinopsisnya saja, aku jadi tahu kalau banyak ibu yang struggling lebih keras lagi dibandingkan denganku.

Selama ini cukup kagum dengan ibu yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus. Sempat menyaksikan beberapa dan bergumam dalam hati, sepertinya sisi-sisi malaikat dititipkan bagi sekeping hati yang merawat ABK. Hanya orangtua pilihan Allah saja. Itu jelas anaknya berkebutuhan khusus ya, tapi seorang disleksik nyaris normal secara keseluruhan. Tampilan fisik tak ada masalah. Psikisnya tak kentara walau kita berinteraksi dengannya. Hanya saat tersandung perihal akademis, anak disleksia yang IQ-nya rerata normal atau di atas normal ini mulai ‘bertingkah’. Masalah Bahasa dan komunikasi seperti kurang asuhan, itu yang terjadi pada sulung kami Akib. Memang ada gangguan Bahasa ekspresif pada anak disleksia. Ini khas sekali dan aku tidak tahu hari itu.

Bahkan ada pula yang keukeh mengatakan Akib tak ada masalah, ia normal sekali. Ada yang berpendapat aku mengada-ada, aku ibu yang lebay. Ayahnya dan adik kandungku langsung bersinggungan dengan Akib dan cukup peduli dan ikut merasakan ia berbeda. Kemudian tempat Akib biasa mengahabiskan akhir pekan di rumah keluarga abang kandungku. Di sana akan terlihat Akib sedikit lain. Lainnya bagaimana, ya? Mungkinkah akan ada yang tertarik saat kujabarkan kronologis tegaknya diagnosa disleksia untuk Akib.

Jadi, selain imajinasinya yang luar biasa ketika kecil sampai usia belasan, Akib juga punya keluhan saat melihat angka-angka. Terutama kendala ini terlihat ketika kelas 4 SD. Dimana soal matematika kelas tinggi sudah mulai tidak sesederhana dulu lagi. Bukan sekedar tambah, kurang, bagi. Mulai ada perkalian, rumus, faktor pembagian, akar, kuadrat, dan banyak lagi.

Setiap ada pelajaran matematika, Akib akan pulang dengan wajah lelah dan pucat. Biasa ia minta aku mengurut kepala atau kakinya dan minta izin tidur langsung. Tidak tanggung-tanggung, kadang tidurnya dari sejak pulang sekolah hingga subuh. Akib yang sudah kubiasakan salat lima waktu sehari semalam sejak usia 6 tahun, kuanggap dengan sengaja meninggalkan salat magrib dan isya-nya.

Bukan hanya itu, ia juga suka uring-uringan dan tidak stabil secara emosi. Diperparah tidak ada yang bisa memahami dia di sekolah maupun di rumah. Penghakiman dimulai di segala lini. Menyerempet banyak hal. Mulai menolak berangkat ke sekolah, dilema ingin bertemu teman dan main tapi tidak suka beberapa subjek. Termasuk lah ke dalamnya Bahasa Arab juga. Akib yang masih kesulitan membedakan huruf hijaiyah, dimana ada hurufnya yang hanya dibedakan dengan titik atas dan bawah. Tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya. Lingkungannya pun menganggap ia tidak ada keinginan belajar, malas dan menghindari tugas. Tak ada tempat berbagi dan melampiaskan. Ia mulai tantrum dan tidak kooperatif dalam banyak hal.

Kami orangtuanya yang merasa sudah ekstra sabar dan sabar, merasa sudah cukup berusaha mengaplikasikan segala ilmu parenting yang ada. Kehausan mengikuti dan membaca segala macam bekal yang dibutuhkan. Menggali dari buku-buku dan ahli-ahli psikologi anak. Membawa Akib ke psikolog juga sudah, ketika itu usianya masih 4 tahun. Tidak ada yang ‘klik’ di hati. Hanya penghakiman demi penghakiman yang kami terima.

Oh, orangtuanya suka memaksakan kehendak, sibuk, kurang memerhatikan Akib karena sudah punya bayi lagi. Padahal jarak Akib dengan Biyya hampir 4 tahun. Kurang puas apa Akib dalam hal ini? Aku menggeser segala keinginan beraktivitas terikat di luar rumah. Mencoba mengabdikan diri untuk anak dan suami. Menjadi stay at home mother sebelum tahu ada sesuatu dengan Akib. Oh, barangkali ibunya tak bahagia, tidak melepaskan dengan rela. Banyak penghakiman lainnya yang mencabik-cabik hati.

Terpuruk? Entahlah kalau kukatakan belum, ya. Sebab masih ada bahu dan tangan yang hangat. Sajadah-sajadah panjang terhampar. Sempat depresi ringan dan tentu tak ada yang tahu kecuali ayahnya. Aku juga melihat dan membaca ada orangtua yang anaknya berkebutuhan khusus lebih butuh perlakuan istimewa dibanding denganku. Aku banyak mengabdikan diri sebagai volunteer di beberapa lembaga dan  peristiwa yang bersifat insidentil. Hal itu membuatku sering lupa harusnya aku depresi dengan kondisi ini. Allah masih memberi kemurahan untukku tetap bahagia.

Tapi tentu saja ada waktu dimana aku memang jatuh terpuruk. Apalagi akhirnya aku semakin haus ilmu pengasuhan. Mulai dari buku Ayah Edy, Ustaz Faudhil Adhim, Bunda Elly Risman, Ustaz Aad Adriano Rusfi, Ummi Kiki Barkiah, Harry Santoso dengan Fitrah Based Education-nya. Lalu Abah Rama dan berlabuh ke Ibu Septi Peni Wulandari. Buku-buku bertema senada yang sangat kunikmati dan setiap akan berbenah, aku seperti dihambat satu hal. Aku tak pernah menemukan yang pasti, kenapa Akib bisa dengan mudah meruntuhkan segala pertahanan. Membalikkan segala teori-teori parenting tepat ke mukaku.

Ada satu kejadian yang menohokku keras. Akib suka membaca, ia membaca apa saja. Kami tidak memasang channel televisi sejak tahu aku akan melahirkan bayi dulu. Akib tidak bodoh. Tentu aku tahu hal itu sebagai ibu. Tapi apakah namanya itu, segala buku mau ia lahap, segala tanya dia lontarkan, dan segalanya tidak ada arti baginya. Ia tetap dengan dunia dan pemahamannya sendiri.

Siang di akhir pekan, seperti biasa. Ketika jadwal gawainya habis dan saatnya mengembalikan gawainya padaku. Ia kembali tantrum dan berujar keras “BUNDA NGGAK PANDAI MENDIDIK ANAK! PERCUMA INI SEMUA BUKU. PARENTING! PARENTING AJA! NTAH APA!”

Akib usia 11 tahun dan belum tahu menempatkan waktu. Mengorganisir diri dan barangnya sendiri. Memiliki ketakutan berlebih yang dia tahu kata paranoid dan phobia tapi ia tidak tahu bahwa ketakutannya akan segala hal yang keluar dari imajinasinya itulah paranoid-nya dan takut gelap itu adalah phobia-nya. Akib usia 11 tahun yang dilampaui jauh keterampilan dan kemandiriannya oleh Biyya. Akib yang sangat pelupa diamana ia taruh flash disc dan pulpen kesayangannya setiap kali perlu ia tantrum.

Usia menjelang 11 tahun Akib, aku membaca informasi yang lewat di linimasa FB-ku. Seminar Mini Serial Disleksia. Temanya hari itu DYSCALCULIA (kesulitan berhitung). Kesulitan belajar spesifik diskalkuli. Aku rasa erat kaitannya dengan Akib. Cepat kudiskusikan dengan ayahnya dan mendaftar ikut. Waktu sudah mepet sehingga aku membayar registrasi on site saat itu.

Pesertanya tidak banyak. Ini Mini Serial Disleksia, dengan arti diskalkuli ini salah satu tema. Aku merasa sangat terlambat tahu apalagi setelah ada clue yang kudapatkan mengenai Akib. Memang sebelumnya aku dan ayahnya sudah merencanakan konsultasi ke psikolog lainnya. Setelah dulu sempat tidak ada titik terang. Namun setelah satu per satu dibahas secara detail, walau belum begitu nyambung, tapi aku merasakan ada titik terang. Seminar ini diadakan oleh Assosiasi Disleksia Indonesia cabang Aceh yang digagas Dokter Munadia. Seorang dokter spesialis rehab medik yang juga memiliki anggota keluarga disleksia. Kemudian menggali dan mencari ilmu mengenai disleksia dengan penelitian dan sumber yang valid. Eviedence based. Bagiku yang mengikuti diskusinya di beberapa seminar dan sepak terjangnya yang kuamati beberapa tahun belakangan ini, semakin menegaskan ia bisa dikatakan expert di bidang ini.

Sesi bertanya dimulai, aku tidak menyiakan kesempatan tersebut. Kesimpulannya memang tidak cukup sekedar bertanya saat itu. Akib harus diassesment lebih lanjut. Hari itu aku membawa serta Akib karena akhir pekan. Tapi melihat sekilas tentu tidak dapat menyimpulkan.

Membuat janji dengan Dokter Muna dan Akib di-assesment hingga nyaris dua jam lamanya, kalau aku tidak salah ingat. Aku dan ayahnya masuk kembali, Akib sah didiagnosa disleksia dan diskalkulia. Bisa diiringi disgrafia tapi point pentingnya ia harus diterapi perilaku. Karena usia tegaknya diagnosanya sudah terlambat, 11 tahun. Disleksia bisa diketahui sejak dini, yaitu usia 3 tahun.

Kenapa disleksia perlu dideteksi lebih dini dan butuh intervensi? Bisa baca di postingan berikut ini:

yuk, deteksi dini!

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *