Amanah Itu Bernama Anak-anak

Kenapa anak dikatakan pelengkap kebahagiaan? Benarkah hanya pelengkap? Mungkin karena itu hanya sekedar melengkapi dan menggenapi segala hal yang kita ingini di dunia, hingga kita abai akan amanah-amanah yang dititipkan kepada kita melalui Sang Buah Hati.

Seringkali setelah menjadi orangtua, kitapun kerap berkacamata kuda, melihat dari sudut pandang ke’aku’an. Ah, apa jadinya anak seorang ‘aku’ terlihat kusam? Pakai celana yang warnanya sudah pudar? Ah, apa jadinya anak seorang ‘aku’ tidak menjadi jawara kelas? Ah, apa jadinya anak seorang ‘aku’ terlihat tidak terurus? Dan seterusnya dan seterusnya.

Tanpa pernah bertanya dari hati terdalam anak, bagaimana perasaanmu, Nak jika Bunda begini? Jika ayah begitu?

Atau bertanya dalam, Ya Allah bagaimana pertanggung jawaban hamba terhadap amanah besar yang telah Engkau titipkan kepada hamba?

Masih bisa dengan segar kuulang kembali saat Bu Kepala Sekolah sulung kami memberi kata sambutan dalam sebuah acara tasyakur, Bunda… Ayah… jadikan momen ini untuk motivasi, bukan kebanggaan.

Benar sekali, apapun pencapaian anak kita ketika dia sudah dirayakan di luar rumah kita, jadikanlah motivasi, bukan untuk kebanggaan. Deretan tropi dari ajang-ajang kompetensi, yang kita kira sangat baik untuk anak yang belum paham membedakaan kebanggan dan motivasi. Barangkali ia hanya mengerti, ketika ia memiliki prestasi di depan umum, Bunda dan Ayahnya mencintainya, memerhatikannya, ada untuknya, untuk itulah ia terus berusaha walau tekanan datang dari luar dan dalam. Ia tak bisa menjadi dirinya sendiri, ia tak bisa menikmati masa bermain.

Atau lebih sedih lagi ketika motivasi terdalamnya adalah agar semua mata memerhatikan. Ia berbesar hati dan berbangga ketika semua decak kagum hanya untuknya, dan ketika itu tersaji untuk orang lain ia tak rela. Tak khawatirkah kita ketika perasaan seperti itu mengisi relung hati anak-anak kita? Sebuah amanah dari-Nya untuk dititipkan cahaya kebaikan, keluhuran budi dan akhlak Islami.

Itu kekhawatiran yang berkelebat di hati Bunda. Barangkali diri ini kurang mengapresiasi segala kemampuan yang anak miliki apa adanya. Mungkin saja lupa sepaket lengkap yang isinya kekurangan dan kelebihan yang kita sendiri pun sebagai orangtua serupa itu juga.

Akhirnya setelah beberapa hari menulis blog karena alasan tugas saja, hari ini melalui kontemplasi (hihi gayanya kontemplasi, padahal cuma melamun sekenanya) kembali berkaca diri, meneropong ke dalam. Ada apa dengan kita selaku orangtua? Benarkah anak sudah menjadi motivasi untuk menjadi hamba yang lebih baik di mata Allah, sejauh mana usaha menunaikan amanah, atau anak hanya pelengkap untuk kita berbangga di dunia? Ingat, Allah Maha Tahu kemampuan hambanya, ketika jumlah amanah kian bertambah, maka semestinya bertambah yakinlah bahwa Dia telah memilih kita. Jangan pernah abaikan tanda-tanda-Nya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *