Author Archive: aini

About aini

Istri Eun Yud yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya Akib, Biyya, dan Faza. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, namun belum sepenuhnya bisa seperti mereka. Hanya seseorang yang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dunia rabbitry dan hmm... banyak lagi. Saat ini menjabat sebagai Bunda dan asisten (tepatnya drh pribadi) Eun Yud yang punya puluhan ekor kelinci. Jadi just call me dokter hewan subspesialis kelinci :D

LACTACYD LIQUID BABY, BUKAN SEKEDAR MEMINIMALISIR ALERGI

lactacyd photo

Aku dan suami punya riwayat alergi, jadi ketiga anak kami juga punya alergi masing-masing. Anak yang ketiga alerginya paling berat. Usia 5 bulan Faza pernah dirawat di RS karena alergi susu sapi dan tongkol yang seringkali aku konsumsi. Padahal saat itu Faza masih menyusu eksklusif. Nah, bayangkan beratnya alergi Faza. Terakhir ke DSA, Faza menunjukkan tanda gelap di bawah mata alias Faza berkantung mata. Faza yang masih berusia 17 bulan saat itu berkantung mata walau tidak terlalu kentara kalau dilihat sekilas.

Bukan hanya di pencernaan, manifestasi alerginya juga ke kulit. Kulit Faza seringkali kering dan ketika digaruk menimbulkan garis putih, terkesan bersisik. Aku sudah sejak lama menjaga makanannya, bahkan makananku sendiri juga. Karena Faza masih sering menyusu. Susu hipoalergenik juga tidak membantu banyak. Permukaan kulit Faza kala disentuh seperti berbintik kecil dan terasa kasar. Jika ditambah dengan cuaca panas, kulit Faza mulai memerah. Seperti itu dari badan hingga ke paha. Iba melihat Faza tidak nyaman tidur dan bermain. Aku mengganti sabunnya dengan beberapa merk yang katanya sudah teruji secara klinis. Tapi barangkali kulit Faza terbilang amat sangat sensitif, walau dikatakan semua kulit bayi itu sensitif.

DSA menyarankan kami ke sub spesialis alergi. Dari skin prick test Faza punya banyak alergi, aku dan suami harus lebih telaten. Kami juga tidak yakin dengan air tanah yang selama ini kami gunakan untuk mandi. Walau hanya Faza yang terlihat bereaksi berlebihan. Kami mendapat info mengenai produk dari teman di medsos. Awalnya tidak berharap banyak, karena kami sudah gonta ganti produk kosmetik baby yang banyak direkomendasikan para orangtua yang berpengalaman. Ternyata LACTACYD LIQUID BABY berbeda, bukan sekedar kosmetik bayi biasa. Kandungan asam laktat menyeimbangkan PH kulit sensitif bayi. Lactoserum membuat kulit bayi yang sangat sensitif sekalipun menjadi lembut. Aromanya yang lembut membuat terapi kebahagiian tersendiri ketika melihat alergi Faza mulai diminimalisir. Bermain, makan, bahkan tidurnya jauh lebih nyenyak dan nyaman.

Seringkali alergi Faza diperparah dengan diapers rash. Kami tidak lagi bingung gonta ganti merk diapers yang awalnya kami sinyalir sebagai penyebab iritasi. Alergi kulitnya sudah berkurang dan diaper rash-nya justru nyaris pulih. LACTACYD LIQUID BABY sudah diformulasikan sedemikian baik dengan cara pemakaian hanya 2-3 sendok penuh dan diteteskan ke wadah mandi bayi.

Beberapa tips untuk merawat kulit sensitif diambil dari berbagai sumber:

  1. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan.
  2. Hindari bergonta-ganti produk perawatan kulit untuk sekedar mencoba-coba
  3. Hindari hal-hal pemicu alergi atau suspect sekalipun, terutama bagi yang orangtuanya memiliki riwayat alergi.
  4. Gunakan kosmetik bayi yang benar-benar dibutuhkan, hindari yang mengandung alkohol karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit sensitif.
  5. Mengonsumsi madu lokal yang dipasteurisasi dapat mengurangi alergi karena menurut peneitian madu bisa memicu sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi.
  6. Ikuti aturan kulit versi sederhana, yaitu: jika basah, keringkan. Jika kering basahi. Jika berwarna hitam dan terlihat mati, buang (jangan melakukannya sendiri, mintalah bantuan dokter).
  7. Gunakan pakaian yang berbahan lembut dan perhatikan cara mencuci, takaran deterjen dan pewangi yang berebihan justru berefek buruk pada kulit.
  8. Pastikan anda membersihkan lipatan selangkangan, di bawah dagu, dan di balik kulup penis anak yang seringkali menjadi tempat pertumbuhan bakteri.
  9. Untuk perawatan dan pengobatan gunakan produk yang direkomendasikan DSA Anda.
  10. Redakan sebagian nyeri akibat ruam terbuka menggunakan kompres dengan kain yang sudah direndam dengan air hangat yang telah ditetesi LACTACYD LIQUID BABY. Jika mandi, usahakan airnya hangat, bukan panas, karena panas dapat memicu pelebaran pembuluh darah dan membuat gatal semakin parah . Lap untuk menyeka dan handuk mungkin terlalu berat sehingga mencegah kelembaban menguap.

 

Demikian 10 tips yang mungkin bisa membantu mengurangi masalah kuit pada bayi. Kulit bagian yang sangat penting, ia membangun ikatan. Sentuhan mempunyai peran penting dalam membangun kasih sayang. Sentuhan kasih sayang menurunkan kadar hormon stres kortisol dan meningkatkan hormon oksitosin. Bahkan ketika kita tidak lagi menyusui, usahakan tetap mendekap dan mengelus anak. Tugas besar ini melibatkan kulit. Jadi, benar sekali kulit memiliki peran yang sangat penting dalam pengasuhan anak.

Meilissa

Adalah Meilissa, gadis 21 tahun yang saat itu menjadi relawan pasca tsunami di Aceh. Lalu aku seorang gadis yang juga 21 tahun di masa itu. Kami dipertemukan Allah oleh suatu sebab dengan dua belah pikir yang amat bertolak belakang.
“I think I’ll not merried with someone at the future.” Bukanya suatu ketika.

Aku dengan segala prinsip yang masih menjejal otak dan segala idealisme anak muda masa itu, tentu sedikit terkejut. Tapi apalah, kita tidak sedang membahas dalam mengenai ranah yang teramat privasi, begitulah kurasa. Hm, tapi aku cukup tertarik dengan pancingannya. Awalnya ia menanyakan apa aku punya seorang pacar, kujawab apa adanya, hingga hari itu aku belum memproklamirkan seorang pria pun untuk merajai tahta hatiku. Walau, ya, pada dasarnya rasa suka itu ada sejak usia kelas dua setingkat sekolah menengah pertama, dimana aku mengalami masa pubertas dan mulai merasakan kecondongan hati pada lawan jenis.
Berikutya bahasan kami mengenai bagaimana Islam mengatur tentang batasan hubungan antara lelaki dan perempuan sebelum ijab qabul. Ia cukup terkejut kalau seharusnya, sebaiknya tidak ada pacaran sebelum pernikahan. Bagaimana mungkin, bagaimana bisa terjadi saling suka jika tidak dimulai dengan penjajakan sejenis pacaran. Aku jelaskan lagi ta’aruf dan andil Tuhan di bab jodoh. Dengan secuil ilmu yang kudapatkan di kajian-kajian dan diskusi panjang dengar guru-guru, termasuk Umak dan Abak, turut memberi andil mengentalkan prinsip tadi.
“Jadi … kamu akan sungguhan menikahi pria yang akan mengajakmu menikah?” begitulah takjubnya saat itu. Lalu kamu akan rela punya bayi dengan segala konsekuensinya? “yap!” jawabku ringan.  Di otak luguku, yang sudah prinsipil jangan ditawar lagi, apapun ke depannya Allah akan mengokohkanku juga.
“Well, Aini, aku tidak sabar melihatmu benar-benar menemukan pasangan jiwa dan kemudian menikah, kalian akan memiliki anak perempuan yang lucu. Beri dia nama Meilissa, okay?” saat itu aku tergelak. Kami tertawa berdua dan sepuluh hari menarik itu akan kami habiskan dengan bahasan yang ‘aneh’ untuk pertemuan yang singkat.

Meilissa melihat tukang bangunan merokok di sela-sela kerjanya membangun TK yang menjadi proyek kami saat itu, ia serta merta merasa berselera pada sigaret itu dan mencobanya nyaris satu batang.
“Di sini, seorang gadis merokok bukanlah tontonan yang wajar.” Kelitku.
“Baiklah, aku akan berhenti dan kau lihat sampahnya? Di sana membuang sampah sembarangan seperti itu bukanlah tindakan yang wajar.” Sengitnya pula padaku. Kami saling tersenyum. Ya. Harusnya kami juga seperti itu, gumamku.
Mereka juga membagiku beberapa potong sandwich dan snack rendah kalori. Aku dengan seksama memeriksa ingredients-nya. “Ayolah Aini, ini makanan halal karena teman muslimku juga memakan ini. Kami tahu mengenai itu.” Ups, baiklah. Mereka sudah tahu sebelum aku menanyakan “Is it halal?”
Jaman dimana gadget tidak sebernas ini, traveling keliling dunia bukan hal yang bisa dilakukan setiap orang, dimana aku begitu masih hijau dan terang. Aku merasa begitu kentara dan lempang.
“Aku tak akan punya anak.” Lanjut Mei setelah mengatakan ia tak akan menikah. Aku kira ia tidak normal karena barangkali tidak menyukai pria pun. Dia tertawa lepas. Tentu saja ia menyukai pria yang menarik hatinya tapi ia akan menjalani hidup tanpa ikatan yang menurutnya mengerikan. Semacam menikah dan kemudian bercerai, menorehkan trauma dan lain sebagainya. Ia tidak suka teriakan anak-anak, ia benci balon apalagi kalau balon itu tiba-tiba meletus dan membuncahi dadanya. Ia rasa ingin lepas jantung dan mati muda.

Kami saling tertawa lagi dan sedikitpun aku tak ingin menertawakannya yang mungkin akan melukai hatinya. Tapi aku turut prihatin dan sedih sekiranya ia memiliki luka batin yang dalam. Tentu ada musabab ia memiliki prinsip yang begitu bertolak belakang dengan milikku. Tapi sekiranya ia beroleh hidayah, tentu akan bisa mengobati segala luka dan traumanya.

Aku hanya mampu merapal doa dalam hati, akhirnya juga mengatakan maaf, belum tepat setahun perpisahanku dengan Mei, aku menemukan soulmate  dan menikah di usia 21 tahun. Setahun kemudian aku memiliki bayi lelaki dan lima tahun kemudian bayi perempuanku hadir ke dunia. Aku tidak menamakannya Meilissa Hee tapi Hukma Shabiyya. Aku berusaha menjaga fitrahnya, tekadku. Aku harus memberikan yang terbaik dan bukan torehan trauma seperti yang entah siapa berikan untuk Mei.

Mungkin sebuah janji itu tak bisa kupenuhi, Mei. Aku belum siap dengan penyematan nama itu yang akhirnya hingga kini aku masih tidak mencari keberadaanmu, dengan kemudahan teknologi hari ini. Aku belum siap menyapamu kembali dengan mengatakan “Maaf, aku batal memberikan nama itu untuk anak perempuanku.” Tapi aku tentu tetap merapal doa yang sama mengenai hidayah dan semoga kamu tetap beroleh bahagia.
E-mail terakhir kita, aku coba menelusurinya di inbox medicus_84@yahoo.com tapi tenggelam begitu jauh. Eh, kamu mengucapkan selamat atas pernikahanku dan mengingatkan tentang anak perempuan itu “jangan lupa beri dia nama Meilissa. Hahaha…”

Just one more thing

da satu hal lagi yang ingin kuguratkan sebelum kantuk tiba menyapa.

Mungkin memang benar usia membuat seseorang semakin banyak menyesap larutan asam garam kehidupan, merasakan berbagai variasi rasa hidup, tapi kurasa kita bisa mempersingkatnya dengan banyak bergaul. Bertemu banyak orang baru dan berbagi itu, paling mudah dilakukan ketika kita melakukan banyak perjalanan. Petualangan.

Agaknya, itulah salah satu yang masih harus kukejar jauh. Seringkali kubahas saat berduaan dengan Eun Yud. Bukan aku tak bahagia dengan yang kuraih kini, sejak kecil begitu penuh minat dengan polygot. Tapi hanya bahasa Inggris yang masih mampu kupahami alakadarnya. Belajar otodidak dan itu semua tentu bukan tak ada apa-apa. Aku masih menyimpan satu asa tentang sebuah petualangan sebelum waktuku habis di dunia.

Kalau sudah membahas tentang ini, animo yang cukup besar sering tersalurkan melalui perjalanan-perjalanan dengan bermain imajinasi saja. Eun Yud yang paling paham dan dengan cepat mengelus kepala atau menggenggam tangan kecilku sambil berujar “suatu saat ketika anak-anak sudah besar dan punya kesibukan sendiri, kita keliling dunia.”

Tak peduli kapan pun itu akan terwujud, ataukah itu benar-benar akan menjadi nyata, hatiku menggelembung besar sekali. Tak mengapa, sandaran kami Allah yang Maha Mendengar akan selalu memeluk mimpi-mimpiku yang kini menjadi mimpi kami.

Jadi, buat saat ini membuka lembaran-lembaran buku apa saja, berpetualang di dalamnya sambil menikmati cemilan kesukaan adalah hal yang paling menyenangkan.

Lalu jurnal-jurnal keseharianku dengan sikecil akan selalu kuusahakan terdokumentasi agar mereka nanti memiliki bonding yang baik, ketika kami berjauhan buat beberapa waktu nanti dan masa-masa emasnya sudah kami tempa dengan baik, insya Allah. Semoga.

image

image

PENANGGUNG DERITA MASA LALU

“Jadi, ini ya, istrinya?” tanya wanita cantik di depanku. Dalam dekapannya ada seorang bayi belum genap setahun tak kalah menggemaskan. Bisa kupastikan umur wanita itu mendekati kepala tiga. Kudengar ia memang paling populer di sekolah suamiku dulu.

Aku tersenyum sopan sambil mengulurkan tangan, atau tepatnya membalas uluran tangannya dan menggumamkan namaku “Yasmine….”

Percakapan basa-basi itu bertahan cukup lama. Berapa anggota keluarga, aktivitas harian dan dimana tinggal saat ini. Aku yang sejak tadi menjawab seadanya, ditimpali  sedikit guyonan suamiku. Maklum saja, ini reuni. Tak ada yang formal, semua berusaha secair mungkin, tak ubahnya dulu ketika masa-masa SMA yang tak terlupakan.

Bagiku sendiri, ini bukanlah hal yang sulit. Sejak awal menikah kami sudah terbiasa, teman suamiku adalah temanku dan begitu sebaliknya. Aku termasuk pribadi yang luwes berteman. Menguasai banyak kosa-kata dan topik yang menarik. Tapi hari ini, tiba-tiba aku kikuk setengah mati. Hanya karena binar matanya saja. Itu cukup membuatku bertahan sekaligus ingin segera lari dari tempat dan manusia-manusia yang tiba-tiba saja terasa asing. Aneh.

Dua buah hati kami sama sekali tak terpengaruh. Sulung kami yang kekanakan menuntut perhatian lebih, tak bisa bersabar walau sejenak saja tentang janji mainan di hari raya yang hingga lebaran ketiga ini belum terpenuhi. Anak bungsu kami, seperti biasa, kalem. Tak banyak paham atau memang terlalu pengertian sampai hanya tidur saja kerjanya di pangkuanku. Aku mencoba memindahkannya ke sofa yang diletakkan panitia reuni di bagian paling depan.

Sebenarnya kami sudah memiliki tiga momongan. Dengan sedikit rasa bersalah, kuakui putri kami yang terpaut dua tahun usianya dari abangnya itu, lebih senang  ikut paman, bibi, atau neneknya ketika kami ada acara ke luar. Mungkin dia merasa harus lebih banyak mengalah ketimbang didengarkan.

“Kenapa, Ma? Kok diem aja dari tadi?”akhirnya suamiku merasakan keganjilan sejak di pertengahan acara tadi. Baru diperjalanan pulang menanyakannya padaku.

“Oya? Biasa aja, kok. Bete juga lihat si Angga dari tadi rewel melulu.”

“Biasanya juga gitu, kan, kalau kita bawa ke mana-mana.”

“Hm, iya, sih. Tapi kali ini keterlaluan, deh, kayaknya.”

“Mama aja tuh,  yang bete-nya tingkat tinggi hari ini,” tebak suamiku.

“Haha, masa, sih?” mencoba tertawa tapi garing.

Aku melirik sekilas ke samping. Suamiku yang mengemudikan mobil lebih santai dan kulihat dari spion tengah, nampak sulung kami sudah sibuk dengan mainan barunya di jok belakang. Sudah kukatakan berapa kali, sebaiknya uang membeli mainan itu sudah bisa disisihkan sedikit untuk membeli buku. Jatah buku bulananku selalu disunatnya kini. Kalau ke toko buku, sulung kami sudah memilih buku-buku hard cover dan puzzle  dan menyalipku langsung ke kasir. Ia selalu lebih dulu daripada aku yang masih ‘ngiler’ di depan rak buku melepas puasaku membeli buku dalam sebulan.

“Mau singgah minum jus sebentar?” tawar suamiku.

“Nggak, ah. Baru juga, makan-makan, udah singgah buat minum lagi,” protesku.

“Lho, biasanya Mama, kan, yang selalu minta singgah lagi setelah acara makan bareng, berbuka bareng, pesta saudara atau kerabat.”

Tiba-tiba saja aku amnesia. Itu memang kebiasaanku. Pulang dari perhelatan manapun, biasanya aku minta singgah sekali lagi untuk menikmati segelas jus atau secangkir kopi. Alasanku selalu sama, masih lapar.

Kemanapun suami membawaku untuk bertemu banyak orang, aku selalu senang. Bersilaturahmi, bercerita kabar terkini, janji berkunjung lagi, ngobrol sepuas-puasnya berganti-ganti dengan banyak kenalan. Sampai-sampai aku lupa makan santapan utama dan mencicipi aneka kue yang dihidangkan. Paling juga aku mencicipinya sedikit. Mengambil nasi hanya untuk menyuapi anak-anak dan mengobrol panjang sampai sudah tiba saatnya untuk pulang.

Belum lagi kalau di tempat ramai seperti itu, sulung kami selalu banyak tingkah. Selera makanku menguap karena sibuk membujuk atau mengajaknya bercerita demi mengulur waktu. Saatnya rileks sambil menikmati secangkir kopi atau segelas jus.

“Hari ini lagi nggak mood, pengen buru-buru sampai rumah. Kasian, kan, Qariin, Pasti dia nungguin kita.” Kilahku lagi dengan membawa-bawa nama putriku.

Suamiku tersenyum ganjil. Ekor matanya memandangiku jail, aku semakin bete dibuatnya.

“Mama kenapa, sih? Hm, kayak lagi … hm, Ayah tau, Mama lagi cemburu, ya?”

“WHAT?” aku melotot tak suka, dari bete meningkat jadi bete-bete, ah! Bete kuadrat!

“Ayah perhatikan sejak ketemu Ican tadi, Mama jadi lain.” Tembak suamiku dengan telak untuk kedua kalinya. Jangan merasa heran antara paduan panggilan Mama dan Ayah, memang sudah seperti itu. Merujuk karakter kami yang kadang tak senada, panggilan anak-anak pun sama tak senadanya.

Ican, nama panggilan Cantika Dewi. Tuh, lihat, namanya saja cantik begitu. Aku memang pernah melihat fotonya. Tak menyangka aslinya jauh lebih cantik. Mana suamiku memanggil dengan nama panggilan manja ‘Ican’. Huh! Ampun, deh! Mungkin benar kabar yang pernah berhembus, aku ini memang penanggung derita masa lalu suamiku.

Sungguhan tidak, ya, suamiku akhirnya memilih aku karena dibuat patah hati oleh mantan pacarnya itu. Banyak lagi seribu prasangka dalam benakku. Kalau dibanding mantannya, aku ini kayak apa ya? Aku ini pelarian kah?

Aku berusaha tersenyum namun kecut. Padahal sudah menggembung, siap untuk meledak. Suamiku langsung saja mamarkir mobil di cafe favorit keluarga kami. Aku paling suka jus guava-nya. Tak ada bau asam  kelewat masak atau pahit. Bahkan aku pernah minum jus guava kelebihan gula atau sedikit pahit di cafe lain. Tapi di sini, aku selalu puas. Aku boleh meminta mereka menambahkan vanilla float di atasnya.

Aku masih enggan turun.

“Bukan cemburu, sih, Yah,” aku membela diri, “siapa coba, yang suka dengan pertanyaan ‘jadi, ini ya, istrinya?’ seolah-olah dia masih punya kalimat panjang lainnya. Kalau tak terucap secara langsung, tentu lanjutan itu terucap di dalam hatinya.”

“Emang lanjutannya apa?” suamiku masih dengan senyum menyebalkannya. Harusnya kututup wajah itu dengan karung tepung, aku benar-benar melakukannya! Tentu saja di dalam anganku. Soalnya aku tak bisa mendapatkan karung tepung itu di dalam mobil kami.

Aku beralih dengan mencari kantong kertas muntahan untuk menutup wajahnya. Aku coba meraba-raba, tapi tentu saja tak ketemu juga. Itu hanya dalam anganku. Aku hanya diam menggembungkan pipi sambil membuang pandanganku jauh ke seberang jalan.

Oh, Tuhan! Kuharap topik ini cepat beralih, tapi rasanya sakit sekali kalau aku harus terus-terusan menyimpannya. Justru akan meledak sewaktu-waktu. Maka, di sisi lain, aku ingin ini juga diselesaikan. Katakan aku tak sepadan dengannya. Bukan! Katakan saja dia tak sepadan denganku, aku adalah wanita tercantik di matanya. Aku bukan penanggung derita masa lalunya. Lelaki yang tak kurang sesuatu apapun, yang pantas didampingi primadona sekolah, Ican. Tapi Ican pergi ke pelukan lelaki lain dengan alasan yang tak pernah kutahu hingga detik ini.

Katakan lagi, kau sama sekali tak ingat tentang perasaanmu yang dulu, kau benci mengingatnya sampai kau tak mampu walau hanya untuk tersenyum seperti itu, seperti yang kau lakukan sekarang. Tapi, oh, Tuhan. Kuliirik sedikit wajahmu, matamu, kau menahan tawa seperti kegirangan. Kegirangan dengan sesuatu yang sama sekali tak kupahami. Apalagi aku sedang buta seperti ini.

“Ha ha ha ….”

Benar saja! Aduuuh jahatnya! Kalau tak ingat si kecil sedang dalam gendonganku dan aku harus menjadi ibu teladan yang berkelaluan baik di manapun, kapanpun dan dalam situasi apapun, ingin kubanting dia seperti yang sering kulakukan pada pertandingan babak akhir di saat aku masih menjadi bintang di matras. Siapa tak kenal aku, Yasmine si Jago Taekwondo!

“Ya, ampuun, Mama! Sepertinya hari ini hari paling bahagia untuk Ayah,” lanjutnya memekik kecil sepertinya sangat kegirangan.

          Oh, tak kusangka aku menikah dengan lelaki gagah tapi hatinya kerdil, ia suka berbahagia di atas deritaku, umpatku dalam hati. Aku tak tahan lagi. Mataku berdenting.

“Mama ternyata benar-benar mencintai Ayah,” senyumnya melebar sambil mengerling ke arahku. Aku benci sebenci-bencinya.

“Mama nggak mau jadi pelengkap derita masa lalu ayah!” ketuskuseribu-rius dengan pernyataanku.

“Bunda kira Ican itu pantas untuk dicemburui seperti itu?”

Ingin kuberteriak mengatakan berhenti menyebut namanya di depanku!

“Bagaimana kalau lanjutannya kata-katanya tadi, oh, ini istrinya, ya? Beruntung sekali dapat suami seperti Nabil.”

Aku semakin panas dan merasa tak berarti. Harusnya, kan, ia yang beruntung. Eh, tapi kan, kubilang tadi aku ini pelengkap penderitaan, penanggung derita masa lalu. Tiba-tiba aku bingung apa sebenarnya yang aku pikir dan inginkan.

“Hehehe, nggak, ding, Mama Sayang. Jelas sekali dengan kalimat Ican barusan, dia iri melihat Mama begitu memesona. Tidak sombong pula. Mama tak pernah mengenal Ican, kan?”

“Sudah kenal tadi.”

“Mama, Ican itu tidak seperti yang Mama pikirkan. Berhenti memikirkan yang tidak-tidak dan jangan pernah sebutkan yang tadi, apa itu, yang tadi? Penanggung derita masa lalu? Tak pernah ada apa-apa di masa lalu Ayah. Ayah tak pernah ingat menderita walaupun mungkin pernah. Sejak bertemu Yasmine, Ayah semakin banyak lupa. Bahkan hampir semuanya. Hanya yang indah-indah saja yang tertinggal sekarang. Semua tentang Yasmine. Seiring ikrar terucap pertama kali, Ayah seperti baru lahir dari rahim cinta untuk pertama kalinya. Tak ada secuilpun masa lalu itu.”

Thanks for gombaling!” ucapku pura-pura bosan tapi sebenarnya aku sedikit lega. Tapi, mana mungkin masa lalu bisa dilupakan.

“Masih tak yakin karena Ayah berdalih lupa?” tiba-tiba ia melanjutkan seolah ada gelembung dialog di atas kepalaku mana mungkin masa lalu bisa dilupakan. Atau mungkin saja suara hatiku tiba-tiba menggema mengikuti gelombang udara kemudian menyampaikannya ke indera dengar suamiku.

“Paling tidak Ayah sudah berdamai dengan semua masa lalu itu. Tak ada yang pernah memberikan seindah yang Ayah terima dari Mama. Semuanya. Segalanya. Apa arti fisik yang cantik tapi benci menelikung hati? Seberapa bisa cinta itu tumbuh kalau hati ditumbuhi benci berurat berakar, dengki tiada habisnya. Tak perlu pupuk, benci itu kerap tumbuh menelikung, bercabang, berakar-akar di dalam hatinya sampai cinta menjadi sesak tak mampu hidup di rumah hatinya yang sempit. Ada belukar dengki di sana.”

Tiba-tiba mendung bergelayut seperti menghampiri wajahku. Aku ingat, saat kami membuka album foto jadul, ada Ican juga di sana. Krisan, teman dekat suamiku, yang belakangan lebih akrab denganku, menggodaku dan suami dengan menyebutkan Ican itu mantan pacar suamiku.

Aku yang hari itu agak sedikit cemburu tapi ikut tertawa juga. Krisan juga seolah tak peduli dengan perasaanku dan bergumam, “Ah, Ican… Ican yang malang. Mudah-mudahan dia berubah sekarang.

Kudengar ia tak pernah memiliki keluarga kecil yang utuh. Pertengkaran demi pertengkaran memaksa hidup rumah tangganya tak pernah tentram. Dengan suaminya yang baru ini, entahlah. Kubayangakan sekali lagi wajah cantik yang tadi kutemui. Tak ada rona bahagia di matanya yang harusnya indah itu. Tak ada cinta di sana.

Malu menyergapku seketika. Derita dan bahagia itu datang dari pikiran dan prasangkaku sendiri. Cemburu memang membakar akal sehatku. Cepat kuatur posisi si bungsu dan turun dari mobil, harusnya aku menyusul suamiku yang sudah bersiap memilih bangku. Juga memohon maaf atas semua prasangka tak elegan tadi.

Minat Fiksi di Bulan Ini

Kata-kata tak dibuat, ia berkembang sendiri. Tiba-tiba tulisan itu menggema begitu saja di otakku. Kalimat itu memang kutipan dialog antara Anne dan Phill di buku ketiga seri Anne of Green Gables.

Entah kapan tepatnya, aku semakinaddict dengan novel klasik. Padahal genre metropop yang baru saja kutuntaskan tak kalah menarik. Tapi setelah menamatkan genre metropop tadi, tak ada keinginan kuat untuk mengulasnya, atau paling tidak untuk memikirkan sususan kalimatnya berulang kali, sebagaimana yang kurasakan setelah menuntaskan novel klasik.

Aku tak ingat persis duduk di kelas berapa saat aku tergila-gila pada Tom Sawyer-nya Mark Twain. Buku itu dipinjamkan tetangga sebelah untuk kakak sulungku yang saat itu mengajar di sebuah tsanawiyah swasta yang baru buka. Buku yang sebenarnya milik pustaka sekolah negeri pertama di kampungku itu, masih dalam ejaan lama. Sampulnya menampilkan tiga bocah yang tak terlalu lucu. Salah satunya mengenakan celanaover all dan kemeja putih yang lengannya dilipat hingga siku. Bocah itu memakai topi jerami.

Tentu saja saat itu aku masih imut sekali, belum lagi duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Tapi aku masih bisa mengingat kaver novel terjemahan itu hingga adegan awal pembuka ceritanya. Tom yang sedang mencuri roti selai dan Bibi Polly yang judes dan ingin terkesan tegas. Masih bisa kuingat seperti apa aku membayangkan postur, kerling mata enerjik Tom dan Bibi Polly yang judes tapi sebenarnya sangat menyayangi Tom.

Yang namanya klasik memang tak lekang dimakan usia. Mungkin sebab itu juga yang membuatnya sulit lekang dari ingatanku. Makanya, waktu aku menemukan novel Pollyanna dan sekuelnya, Pollyanna Grows Up, tiba-tiba saja aku merasa masa-masa kecil penuh petualangan kembali terbentang di hadapanku.

Dulu koleksi Sir Arthur Conan Doyle milikku juga lengkap. Satu per satu hilang tak tahu rimbanya. Kubeli lagi saat kuliah. Dua bulan lalu, aku spontan menariknya lagi dari rak toko buku. Novel Sherlock Holmes dengan penerbit berbeda, tapi cerita di dalamnya sama.

Novel detektif lainnya seperti karya-karya Agatha Christie, terkadang sama menggiurkan. Tapi aku hanya berminat membaca sekali dan tidak terlalu tertarik mengoleksinya. Biasanya rental buku bisa mengeyangkan laparku untuk buku-buku Si Ratu Kejahatan ini. Agatha Christie memang produktif semasa hidupnya. Sampai aku tak habis pikir, bisa-bisanya sarafnya masih normal untuk terus-terusan memikirkan demikian banyak kasus dan alibi, cara melakukan kejahatan dengan bersih, cara menyingkapnya dengan mengejutkan, lengkap dengan hipotesis yang tak boleh ada celah.

Aku juga menemukan karya-karya Lucy M. Montgomery yang memesona. Ia menarikku ke zaman Clifton sebelum ia berganti nama menjadi New London. Suasana alam yang asri dengan empat musim yang tak pernah kurasakan di kehidupan nyataku hingga kini. Gaun-gaun satin berhias renda. Puncak bukit dengan barisan pinus, rumah bergaya klasik yang tak terlupakan, taman kecil yang penuh dengan bunga-bunga petunia, krisan, marigold,lemon verbena, dan sebagian lagi tanaman-tanaman yang tak pernah kutemui wujudnya di daerah tropis tempat ku lahir dan besar.

Hal itu sedikit membuatku kerepotan menanyakannya pada ‘Om Gugel’. Tapi semua itu memang sangat indah dan memesona. Gadis-gadis dengan gaun muslin, topi-topi berhiaskan kuntum bunga. Tentu saja kalau masih ada gadis yang memakainya saat ini, pasti sudah dituding tak beres. Tapi, sebagaimana menonton film klasik itu memesona, seperti itulah nikmatnya membaca ceritanya.

Tentu saja membaca daripada menontonnya lebih membebaskan kita berimajinasi. Wajah-wajah tokohnya tidak harus seperti yang sudah disuguhkan di film, walau sama-sama menggunankan indera penglihatan, di novel, kita lebih imajinatif dan bebas.

Walau gaya penceritaannya sama memikat, antara Elannor H. Porter dan Lucy M. Montgomery  tentu berbeda.  Montgomery cukup banyak mengutip puisi-puisi di dialog para tokohnya. Membuat kesan puitis semakin kental, setelah pembaca disuguhinya dengan deskripsi yang sedikit bertele namun terlalu memesona untuk dilewatkan per kata-nya.

Kembali ke pertanyaan awal, kenapa tiba-tiba aku terlalu banyak merindu? Setiap membaca cerita klasik itu, hatiku menghangat dan kecewa ketika sampai di halaman akhirnya. Sebab aku merasa terlalu tergesa menuntaskannya. Bahkan untuk Snow Country-nya Kawabata, walau aku merasa akan mati bosan pada awal bab-nya, aku tetap saja ingin membaca novel itu sekali lagi.

Baiklah, hunting serial Anne of Green Gables tak dapat dihindarkan. Kemarin aku beruntung menemukan buku-buku itu diturunkan dari rak dan diobral di toko buku terbesar di Indonesia,  aku membelinya hanya dengan merogoh kocek dua puluh ribu rupiah per buku. Tapi sayang, aku terlambat dan hanya memperoleh satu eksemplar sekuel terkhirnya. Anne of Green Gables diterjemahkan ke dalam 36 bahasa,  diadaptasi menjadi film dan komik.

cover buku anna

anne-of-green-gables

 

 

Dokter hewan? Kamu?

 

I’m a veterinerian…

Yap, bukannya tidak menyukai profesi ini sampai aku jarang sekali mengenalkan diri dengan profesi dokter hewan. Tapi karena di sumpah dokter hewan itu ada poin yang berbunyi “Saya akan melaksanakan profesi saya dengan seksama dan mulia,” hm… untuk itu aku menaikkan sebelah alis.

Pada bab II Kewajiban Terhadap Profesi ada pula pasal yang menyebutkan “Dokter Hewan wajib selalu mempertajam pengetahuan, keterampilan dan meningkatkan perilakunya dengan cara mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Kedokteran Hewan.” Aku harus melongo dengan menaikkan kedua alisku. Halooo… aku di sebelah mana ya?

Di pasal 11 lagi “Dokter hewan dianjurkan menulis artikel dalam media massa mengenai Kodekteran Hewan dalam rangka kesejahteraan hewan dan pemiliknya.” Dengan segera kubuka file tulisan-tulisanku. Makjleb! rata-rata catatn remeh temeh dan fiksi. Belum lagi track record menang menulis dengan tema yang sama sekali beda. Tepok jidat!

Owkeh! cukup dulu syalalalalah… sebenarnya aku masih cinta profesi ini sedemikian rupa sampai sekarang pun masih bermain dengan hewan piara dan mengulang-ulang beberapa materi yang aku sukai. Merawat kelinci dan kadang mengobrol dengan Darryl si kucing ‘sok teng’ yang mulai luka berebut betina. Sudah kubilang tak usah berurusan dengan betina kampung ini tapi dia tak pernah mau dengar. Begitulah kucing, malu-malu kucing, patuh di depan di belakang membangkang.Loh? hahaha kok malah curcol mengenai Darryl? hahaha…

Tapi sungguhan, lho, aku ini dokter hewan. Insya Allah setelah kelahiran anak ketiga akan benar-benar kembali ke profesi sesungguhnya. Daaaaan, tanpa mengabaikan my lovely children tentunya *sambil peluk semuanya. Because of you I took a break, kiddos

OLYMPUS DIGITAL CAMERA IMG_5355

Belajar nge-Blog (Lagi)

Kak Mala yang cantik berkunjung ke rumah lagi. Seperti biasanya aku menyambut beliau dengan suka cita dan menghujaninya dengan berbagai cerita. Yeah, that’s my bad habit! Ya, ya, ya, aku tahu pendengar itu lebih disayang dari pada sesumbar bercerita nggak berhenti sama teman kita. Bisa-bisa mereka bosan, kan? Tapi aku juga paling benci kalau menit-menit berlalu dengan saling diam dan tak tahu harus berkata apa, jadilah aku ahli pemancing topik yang nggak pernah tarik ulur cerita, kerjaanku menguluuuur aja. Syukur kalau si teman punya feed back dan bercerita balik, kalau dia cuma “he-eh, he-eh” saja, aku nggak bisa berhenti. Really talk active person. Hahahaha…

Naaah, kali ini dengan perlahan dan memesona sebagaimana Kak Mala yang kita kenal (pura-puranya semua yang baca itu kenal sama sahabatku yang cantik sekaligus pecinta Jepang ini), Kak Mala bercerita kalau besok (Kamis, tanggal 4 April) ada pelatihan membuat blog di Fakultas Teknik Elektro, tepatnya di ruang Pemrosesan Data di lantai dua. Kabar gembiranya adalaaaah, aku boleh ikut secara cuma-cuma! Yipppiiiiiie, Alhamdulillaaah.

Nah, inilah dia, blog baruku dengan nama domain sama dengan yang di blogspot, stanzafilantropi.

Selamat datang, salam kenal, silakan menjelajah, inilah aku dan duniaku saat ini. Aku Aini, pribadi ekstrovert dan I love to make a lot of friend, I’m very welcomed person:)

Terima kasih sudah berkunjung.

Salam Hangat.

CARE

Mungkin di mata banyak orang kamu adalah seekor anjing lokal yang sama sekali tak istimewa, dengan bulu putih hitam sebagaimana anjing kampung kebanyakan. Tapi bagiku kamu adalah sahabat sejati, kamu adalah anjing pertama -dan mungkin terakhir- yang pernah aku miliki. Walau tidak semua mengerti, tapi pasti ada yang tahu kalau aku sangat menyayangimu, selalu ingin memperlakukanmu dengan baik, seperti yang kamu selalu berikan padaku. Kamu selalu memberikan yang terbaik buatku, tuanmu saat itu.

Seperti yang sudah pernah aku katakan padamu disaat akhirnya aku harus mencarikan tuan baru untukmu, sekali lagi, maafkan aku. Bukan berarti dengan begitu mudah aku membuangmu. Ada yang harus kamu tahu, membiarkanmu terus berada di sampingku, menjadi sahabat selamanya hingga maut menjemputmu, adalah sebuah polemik dalam kehidupanku.

Bagaimanapun yang kuingat adalah kenangan indah bersamamu.Kamu memberikan sejuta sensasi lain dalam hari-hariku selama aku menjadi tuanmu. Sensasi rasa yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Kurasakan semangat dan dukungan di hari-hari berat itu.

Berlari, melompat, mengobrol denganmu, kamu benar-benar sahabat. Pengertian yang kamu pancarkan dari matamu, keinginan yang kuat dan liar mencerminkan sebuah kebebasan untuk memilih dan berbuat.Kamu berusaha keras mengerti apapun dan itu sangat membuatku terkesan.

Walau hanya sekejap kebersamaan kita, kamu mampu mengambil hatiku, kekuatan itu tak terlupakan, aku benar-benar bersyukur pernah mengenalmu.

Saat kamu sudah bersama tuan yang lain, bukan aku tak pernah memikirkanmu. Kamu tahu aku sedih melepaskanmu. Membantu tuan baru-mu menjaga perkebunan, itulah tugas selanjutnya.

Aku bangga kamu tetap jadi berguna. Lalu kondisi lingkungan yang baru membuat tubuhmu harus terbiasa. Ketika bertemu lagi kamu terlihat berbeda. Disaat lain ketika aku bertemu lagi dengan tuanmu, lagi-lagi kabarmu membuatku sangat cemas, tumor yang bersarang di tubuhmu mulai membahayakan dan harus segera diangkat.

Ya, hari itu sekitar bulan Oktober seingatku, aku dan teman-teman termasuk tuanmu menunggui proses operasi yang harus kau jalani. Berapa kali anestesi ulangan yang harus ditambahkan buat terus menidurkanmu selama operasi, kamu anjing yang kuat, Care. Lengkingan pilu itu, aku mengerti, kamu pasti merasa kesakitan.

Bukan aku saja, tuanmu yang baru juga sangat menyayangimu, kamu memiliki kesetiaan yang tiada tara, yang kamu tunjukkan buatnya setiap saat. Lalu jenis poison apa yang menewaskanmu? Aku tidak bertanya lagi, begitu takutnya hati ini semakin menciut sedih mengingat sakitnya merenggang nyawa akibat racun.

Mungkin bagi orang yang meracunimu kamu hanyalah sekedar binatang. Tidak kah terbesit sedikit di hatinya, bahwa kamu juga makhluk Tuhan yang memiliki hak hidup? Pantaskah melampisakan kesal dengan cara yang keji itu? Sementara kamu tidak pernah menyakitinya seujungkuku pun?

Care, sehari penuh bumi menangis seiring air bening yang berloncatan dari kedua bulir mata ini. “Foto terakhir di pegunungan Lam Teuba” tuan barumu yang mengirimnya buatku. Aku sedih, terlebih lagi hanya sekali mengunjungimu di sana, melihat langsung tempatmu yang baru, tanpa rantai ikatan kamu kelihatan bahagia, mengusir binatang pengganggu kebun.

Kamu sahabatku. Semua tahu itu. Sayonara Care, tugasmu usai.Pergilah dengan bahagia karena kamu sudah menoreh tinta emas kesetiaan pada setiap tangan yang merawatmu.

 

My first and last Canis familiaris. My only one dog. Sepuluh kali atau sejuta kali pun membaca tulisan ini, hatiku perih seiring bulir hangat ruah dari kedua mataku. Apapun, sama sekali bukan dusta, aku bahagia memilikimu. Mungkin seumur hidup, nggak akan pernah sensasi rasa itu datang dua kali buatku.  

Anak Kunci Itu

anak-kunci

photo by google

Anak kunci itu tidak aku berikan kepadamu untuk kau bawa. Sehingga ketika kau pulang, aku tetap bisa tidur nyeyak, sambil bermimpi jauh di alam lain yang tak terjangkau. Sehingga tak perlu aku bangkit dan menyambutmu di depan pintu dengan kantuk yang menggelayuti kelopak mata. Dengan langkah gontai, terhuyung memutar anak kunci dan menarik gagang pintu kita yang mulai longgar karena bautnya berlompatan tak kuat melekat pada kayu pintu rumah kita yang mulai keropos akibat cuaca.
Anak kunci itu aku biarkan melekat di pintu rumah kita, supaya aku bisa memutarnya untuk mengunci rumah agar aman ketika kau meninggalkan kami. Kemudian bisa kubuka lagi saat menyambutmu pulang ke rumah.
Tak pernah sekalipun kutawarkan anak kunci itu supaya kau bawa. Setiap malam larut bersama detik jam yang bernyanyi pelan, aku menanti saat kau pulang, membawa lelah melebihi keletihanku menanti. Tentunya bersama senyum yang mengguratkan lega, karena kami baik-baik saja. Karena aku masih bisa berdiri membukakan untukmu pintu. Kamu begitu lelah sayangku…
Ya, karena kutahu kamu begitu capai dan lelah. Mana mungkin bisa aku bandingkan dengan kelelahanku menanti. Mana bisa aku bandingkan dengan kelopak mata berat dan langkah gontaiku.
Betapa cinta menghapus nestapa bukanlah puitis yang tertulis dibait-bait lagu cinta picisan. Hidup telah mengajarkan aku cinta seperti yang kau perlihatkan dari waktu ke waktu. Walau kemarin orangtuaku sudah mengguyuriku dengan cinta mereka yang tiada kenal pamrih, tapi dirimu juga yang membuatku tersadar. Karena dulu aku terlalu bodoh untuk memahaminya.
Saat ini, mengingat cintamu, menghadirkan sejuta cinta lagi yang sampai kini diberikan orangtua dan keluargaku. Berhimpit-himpit rasanya nikmat yang tak terperi. Tak cukup-cukup terimakasih yang aku miliki untuk mengimbangi segalanya.
Jikalau sempat suatu ketika kukatakan padamu, betapa aku tak lagi bisa menungguimu pulang tengah malam setiap waktu. Lalu kubiarkan anak kunci itu berada di tanganmu saat kau pergi. Bukan kah aku menjadi wanita yang paling merugi dan menyesali keputusan kerdil itu? hingga aku benar-benar tak mampu berdiri dengan kedua kaki ini.
Tak sudi pula aku menitipkannya pada orang lain agar membukakan pintu buatmu. Walaupun dia seorang pelayan baik budi yang dititipkan untuk kita suatu ketika. Maka kumohon bawalah anak kunci itu. Agar tetap bisa rumah dan kami menaungi, menggantikan setiap energi yang kau keluarkan.

10 November 2009