Bunda Andilau

Sebagai bunda single fighter tanpa asisten, boleh sajakan aku merasa andilau sesekali. Antara dilema dan galau. Jiahahaha

Setelah kembali ke rutinitas dengan formasi penghuni rumah yang berbeda, dimana Uncu dan Bang Opal sudah menyewa rumah dekat kampus, beginilah kondisi keluarga kecil kami. Aku memang nggak expert sekali dalam hal mengolah bahan makanan, tapi kalau amunisi full alias ada yang belanja, biasanya that’s okay. Ada saja yang bisa disajikan di meja makan.

Lha ini, sudah hampir dua minggu belanja nggak terhandle jadilah ketika mau masak sup, eeiih daun supnya tidak ada. Saat mau bikin rendang telor, eeh kelapanya nggak kebeli. Bisa dibayangkan lah gimana kacaunya. Akhirnya bikin tumis atau sayur rebus kentang wortel brokoli. Setelah jadi kupandangi dengan hambar daaaan anak-anak jadi kurang semangat juga. Terus beli cabe mau bikin sambel, tomatnya lupa beli. Ganti deh, sama asam sunti yang ada di rumah. Lagi-lagi selera makan menguap seketika. Duuuh, bisa-bisa kurang gizi kalau begini! Harus cepat ditangani.

Kalau Eun Yud ketimbang disibukkan dengan bolak balik belanja biasanya dia lebih suka ajak makan di luar. Bukan nggak mau belanja ya, toh selama ini belanja dapur biasanya dia juga yang lebih sering karena aku nggak berani lagi naik motor. Cuma kalau bolak balik belanja dalam sehari bisa sekali, kan, buang-buang waktu ya?

Sebenarnya solusi sudah pernah ada tapi harus diulang dari nol lagi nih, juga aku sendiri yang belakangan ini over thinking sebaiknya take a deep breath dan mulai duduk lagi menyusun menu seminggu dan kembali teratur belanja stok dapur.

Hm, terus apa lagi ya? Ooh iya, rempong kali ini juga disponsori oleh Mak Cik Cut yang tidak ada kabar dua minggu ini, terpaksa pakaian aku atur ulang, pilah pilah mana yang ke laundry dan mana yang aku setrika sendiri. Belum lagi perkiraan jam mengajar tambahan dan batita yang kayak blender. Hihihi… a two years old is kind of you having a blender but you don’t have a top of it. Cocok!

Ouh well, beginilah nikmatnya sama-sama berjuang satu keluarga. Selama Eun Yud masih sepengertian itu dan bibit-bibit kemandirian Akib Sang Imajinator Adiluhung yang disleksia seperti kuceritakan di Tentang Akib

Melihat executive function-nya mulai baik dan itu adalah hal yang emeijing bagi aku dan Eun Yud. The show must go on…

Oh tantangan-tantangan di kuliah Institute Ibu Profesional pun sudah enam hari harus kurekap. Alangkah bahagianya kerempongan ini ya Allaah, sebab barangsiapa tidak diaibukkan dengan kebaikan maka ia akan sibuk dengan keburukan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *