cerita ceriti

Perjalanan ke Pulau Banyak (part 1)

 

Kami berniat memesan ferry hari Jumat yang kabarnya akan berangkat pukul 14.00, tapi berhubung tiket belum ada di tangan dan pembeliannya juga harus langsung ke pelabuhan tersebut, jadi kami berangkat dari rumah pukul 10.30 menuju pelabuhan Singkil. Berangkat dengan rombongan berjumlah 19 orang dengan Faza yang berusia 2,9 tahun. Biaya tiket masing-masing Rp. 27.000 termasuk Faza juga hari itu. Kalau dengan kapal nelayan Rp. 25.000. Karena kami bawa anak-anak dan juga tidak terburu-buru pulang dan perginya, mana dengan ibu-ibu juga, amannya naik ferry saja pulang pergi. Suasana liburan, kapal memang ramai tapi nggak padat seperti balik nanti. Semoga sempat kutulis sampai tuntas sekali duduk. (more…)

Hi, I am Back!

Efek block writing yang diperturutkan hingga liburan usai, beginilah jadinya. Mau memulai menulis perjalanan pulang kampung kemaren saja susahnya minta ampun. Satu kali posting foto di IG dengan caption yang agak panjang. Lainnya begitu mau upload, aksara tetap nggak bisa ditata.

Nah, ini buka lappy saja duduk manis setelah berberes rumah dan sarapan. Faza sudah mandi tapi yang lain susah kalau disuruh mandi pas liburan. Walau udah bela-belain dikasih contoh libur ya, tetap mandinya pagi bukan jam tujuh atau jam delapan bukan jam sebelas. Mandi terus sempetin salat dhuha, tapiii tetap saja berjuang nyuruhnya.

            Well, maafkanlah ini intro harus panjang dan ngalor ngidul demi memecah kesunyian aksara dalam kepala (cieeee bahasanya, haha). Di samping saya sudah ada Akib yang nanya melulu. Waktu Bundaya nyalakan lappy dia juga ambil satu dan duduk di sebelah. “Bunda buat apa?”

“Nulis.” Jawab saya singkat.

“Nulis apa?” seperti biasa pasti lanjutan pertanyaan dari Akib.

“Bunda mau nulis tentang perjalanan ke Pulau Banyak kemaren.”

“Ooh.. Akib juga lah. Boleh, kan?”

“Boleh, silakan.” Jawaban pamungkas. Itu harapan saya, sih. Setelah dia duduk di sebelah, akan ada lagi ‘ujian’ yang lain. Oooh My God, berondongan pertanyaan mulai tanggal, jam, waktu yang dibutuhkan naik kapal ke Pulau Balai dan lain-lain. Cobaan menuliiis. Belum lagi Faza yang ikut ngelendot dan …

“Sapi adek mana, Nda?”

Ups Iya, sapinya di kotak ini yang Bunda jadikan meja lappy. Turunkan dulu, angkat penutup kotak dan ambil dulu segala hewannya di dalam kotak Pandora. Lanjut nulis. Menit berikutnya…

“Akiiib! Mandi dulu kek, kok bau ini?” teriak saya karena tiba-tiba mengendus aroma terapi yang lewat.

“Bukan Bundaa, Akib Cuma ngentut!”

#pengsan#

Ooh Bunda… cobaanmu amatlah unik. Baiklah. Siap melompat ke halaman selanjutnya untuk menceritakan perjalan dengan perencanaan mendadak ke Pulau Banyak. Check it out!

salah satu view yang sempat aku tangkap dengan kamera sebelum naik ke Ferry menuju pulang. Lokasi: Pulau Balai.

Tantangan Hari#9

Biyya anak tengah yang enerjik. Bagaimanapun selama 8 hari ini Bunda sudah berusaha mengaplikasikan komunikasi produktif kepada Biyya, ternyata ia masih tidak menyadari. Pikirannya yang terkotak bahwa Bunda lebih perhatian terhadap adik ketimbang Biyya membuatnya tak bisa merasakan selama seminggu lebih ini Bunda sangat memerhatikan tindak tanduknya. Biyya cuek, acuh tak acuh dan merasa diabaikan itu pasti. (more…)

Tantangan Hari#7

Tantangan Hari#7

Hari ini betul-betul istimewa. Mulai bangun kemudian sahur bersama sudah ada insiden ketulangan. Insiden ini disponsori oleh Tulang Ikan Emas dan Sambal Bocok Bunda. Yasudah jangan dibahas nama sambal yang aneh itu, tapi sungguh enak membuat Biya lupa diri dan makan sahur dengan lahap. Tiba saat azan Bunda mengingatkan kembali bahwa kita sedang berpuasa. Ya supaya tidak ada alasan pura-pura lupa atau gimana gitu, seperti kejadian lalu. (more…)

Tantangan Hari#6

Tantangan Hari#6

Biyya  pulang dari Camp Ramadhan saat Bunda menyelesaikan salat zuhur berjamaah di masjid Taqwa. Kebetulan Ayah dan Bunda sedang ada acara selama Ramadan ini dan memboyong seluruh anak-anak saat beraktivitas. Kantor sekretariat organisasi jadi rumah kedua kami selama Ramadan, nyaman atau tidak nyaman tetap harus dibuat homey ( ngomong sambil senyum syukur). (more…)