cerita ceriti

Sebab Kita Sedang Berjuang

Kita Sedang Berjuang

Sebab kita, Nak… sedang berjuang. Tidaklah sama kondisi kita dengan yang lain. Barangkali ada sedikit kesal kenapa Ayah dan Bunda turut menarik kalian ke dalam pusaran perjuangan, tapi yakinlah anak-anakku, kita akan memanen apa yang telah kita semai. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tidak pula sama nilainya di mata Yang Maha Kuasa yang berpeluh dan tanpa berjuang mengejar nikmat dan hidayah-Nya. Maka simpanlah seonggok kesal dan uraikanlah dengan segala prasangka baik pada-Nya.

Sebab, Nak, kita ini sedang berjuang. Perpanjanglah sumbu sabar. Ini bukan sebuah lelah tak berujung.

  • Lamteungoh, di tengah kedahsyatan rasa itu. Di tengah perjuangan bak gelontor gemuruh panjang menghantam.

Ketika Aku Berada di Atas Angin

Ketika aku berada di atas angin

Ketika aku berada di atas angin
Adakah satu dua orang yang berucap ingatkan aku untuk kembali menepaki tanah

Ketika aku berada di atas angin
Adakah sepasang tangan yang rela merangkulku dengan setulus hati lalu menuntunku untuk kembali ke bawah

Ketika aku berada di atas angin
Adakah benang merah tetap mengait mesra pada kucuran nadiku dengan penuh cinta atau mereka jengah karenaku kerap tengadah

Ketika aku berada di atas angin
Melampaui batas diriku
Dari atas tampak oleh pandanganku betapa semua mengecil

Adakah lambaian tangan yang sayup memanggilku pulang
Atau sepasang tangan penuh cinta lembut melambai menggumamkan “Nak…”

Atau sepasang tangan yang dimiliki jiwa lapang tersebut hanya tersenyum dari bawah

Mengernyit melihat silaunya apa yang kudapatkan
Walau hati tak pernah ragu mereka turut bahagia
Saat aku berada di atas angin
Sepasang binar cinta memandangiku bangga tapi lambaian tangannya tak menyuruhku turun

Ketika aku berada di atas angin
Dielukan dipuji-pujikan
Dipenuhi kenangan sebuah perjuangan tentang betapa sulitnya terbang
Mozaik-mozaik perjuangan dengan lembaran-lembaran tangan dan wajah
Sebagian wajah memudar hilang
Sebagian lagi tampak terang

Ketika aku berada di atas angin
Mengoyak batas angan
Menyemburat euforia
Melupakan siapa sebab kuhadir ke dunia
Cukup tahu saja untuk siapa aku ada

Ketika saat itu…
Kukerat kata agar tak lupa

November 30th Funniest Disaster (no.. no more, kiddos!)

Sebenarnya niat menyalakan laptop malam ini tak lain dan tak bukan adalah untuk menyelesaikan sebuah worksheet lagi untuk anak-anak kelas 9. Tapi sampai ke rumah tadi sore lalu disambut dengan senyum Akib dan Biyya plus celoteh mereka berdua pasca dijemput si ayah tadi siang, membuat fokus si bunda ini hilang sekejap mengenai tugas luar. Disimpan, dilipat yang rapi dan disembunyikan di balik karpet ruang tengah untuk sementara waktu. Langsung menyiapkan makan malam sambil melayani celotehan kedua kakak adik itu, sementara Faza sudah tidur.

ab6a0af3a26efc4290478714140d9f66

Ah, Akib Biyya! Akur-akurannya nggak pakai lama. Entah apa asal mulanya, Biyya jadi sebal sama Akib. Akib juga semakin menjadi-jadi menggoda Biyya. Magrib menjelang dan seperti biasa kita salat berjamaah. Biyya masih dengan seonggok kesalnya salat masbu’ satu rakaat. Akib juga ba’da salam masih juga mengomentari Biyya yang arah manik matanya tidak ke tempat sujud. Padahal tadi si bunda sudah bilang, “ayo, Biyya… pergi wudhu terus supaya setannya pergi, marahnya reda.”

Ayah dan Bunda tidak begitu menggubris sengketa yang nggak jelas asal mulanya, sepertinya tadi tidaklah seserius itu, hanya karena salah gambar dan buku Biyya sobek sedikit, Biyya tidak terima, Akib juga ogah minta maaf. Kami juga tidak memaksa salah satunya minta maaf, tapi tetap bilang hal seperti itu jangan dibesar-besarkan Biyya, dan Akib kalau memang tidak sengaja sebaiknya dijelaskan ke Biyya. Nah, bagus kalau ada yang minta maaf dan lainnya mau memaafkan. Tapi keduanya bersikeras tidak ada yang mau mengalah apalagi minta maaf.

Baiklah, usai salat kita ada tausiyah dan sedikit diskusi. Biyya yang masih kesal ikut dengan tertib termasuk mengaji, mengambil buku iqra-nya dan mengulang setengah halaman. Bang Akib justru melendot di samping bunda, mendengarkan bunda baca quran supaya dapat rahmat. Iih, ini ikut ayah atau bunda, ngeles nggak baca nyimak doang. Oke, bangkitlah, Kib, giliran Akib mengaji. Malam ini Akib berhasil mengelak karena sudah waktunya makan malam. Masih dengan berdebat hal yang tidak penting di meja makan, Ayah minta Akib dan Biyya lebih tenang. Acara makan berlangsung lancar dan khidmat. Kecuali Akib yang tidak menghabiskan nasinya sekitar tiga suap. Di meja makan si ayah ada panggilan juga, Tengku Ballah memberi kabar akan bertandang ke rumah sekejap. Oke… sulit melepaskan telepon selular kalau sudah mulai ada panggilan tiba-tiba.

Ayah balik lagi bergabung ke meja makan tapi dengan si seksi tadi, penarik perhatian nomor satu. Si telepon genggam. Mulailah percakapan banjir Singkil tadi terputus. Tema jadinya entah kemana-mana. Sejauh ini situasi under control. Bunda menegur kuku Akib yang mulai panjang. Biyya yang hobi sekali menggunting kuku, berinisiiatif lebih dulu mencari penjepit kuku. Nah, iniah muasal perkara besar malam ini.

Ya, benar kita punya beberapa penjepit kuku dengan berbagai ukuran. Hanya satu yang masih baru, mengkilat, tajam dan jadi favorit. Biyya yang sepertinya sejak tadi masih ‘belum terurai’ perasaannya, mulai lagi membuat Akib kesal. Akib juga sudah mengantri jepit kuku favorit tadi. Selain membuat lama proses pemotongan kuku tangannya, Biyya mulai lebay ingin memendekkan lagi kuku kakinya. Pada dasarnya itu tidak begitu urgen. Bisa dilihat dari kuku kakinya yang masih pendek dan bersih. Ada saja cara Biyya supaya penjepit kuku itu tetap   di tangannya. Ini si abang yang sejak awal juga semakin besar gondoknya dengan si adik. Pecahlah perang suara.

“Sssttt… Dedek Faza bobok sayang, jangan ribut. Ayo kakak adik harus sayang-sayangan…” cara persuasif dilaksanakan, karena kalau larangan jangan berantem akan semakin memantik perselisihan. Mulailah saling mengeluh tidak suka abang yang begini, tidak suka adik yang begitu. Suara naik sekian oktaf. Seperti biasa si bunda minta tolong ke ayah untuk menggondol kakak adik ini ke teras supaya mereka bisa meanjutkan adu mulut dengan adu jotos sekalian tanpa mengganggu kami seisi rumah yang butuh ketenangan.

“Ayah, tolong angkat Akib, Bunda gendong Biyya ke luar!” ini klimaks. Gendongan yang tidak dirindukan keduanya adalah saat ini. Biyya yang fisiknya lebih terlatih dibanding Akib, tentu saja bunda urus duluan. Langsung, deh, dia ngacir sambil bilang kalau mereka sudah akur. Akib demi melihat penjepit kuku yang tergeletak langsung memungut dan mulai memotong kukunya sambil menyalah-nyalahkan Biyya yang memulai keributan ini. Melihat gelagat Akib yang belum bisa berdamai, bunda masih usaha menangkap Biyya yang ternyata cukup licin seperti lele- berhubung bunda belum pernah nangkap belut, baru kaliber ikan lele- sungguh Biyya sulit dicekal. Dia juga mahir mencari tempat yang membuat proses ini beribet. Meja makan. Kami berputar mengitari meja makan. Bunda harus mengeluarkan sedikit jurus Harimau Menepis apalah gitu, untuk bisa mencengkeram gadis yang rutin main pencak silat setiap minggu itu. Lengannya dapat, mulai bunda apit kedua kakinya supaya lebih nyaman. Eh Biyya nya malah meronta jadi kaki satunya lagi terjuntai. Bunda hanya memegangi satu lengan satu kaki. Jarak meja makan ke pintu keluar sekitar sepuluh langkah, supaya Biyya tidak sakit, bunda singkat dengan berlari.

Ayah siaga dengan Akib, tapi lebih cekatan bunda lagi. Penjepit kuku terlepas dari tangan Akib, bunda tarik Akib ke luar. Akib dan Biyya sudah di teras dan pintu bunda kunci. Histeria Akib yang tidak suka dikunci di luar, ia mulai menggedor sampai Faza terganggu tidurnya. Bunda mengurus Faza, Ayah keluar mengurus Akib dan Biyya. Untuk menenangkan Akib ayah berikan satu gertakan di kaki Akib. Ayah juga menantang Biyya dan Akib adu jotos di teras. Dihadapkan berdua. Selesaikan sengketa, habis-habisin kesal. Mereka cuma gagu, menangis keduanya. Ayah mulai pidato Akib masih belum bisa menstabilkan emosinya. Matanya masih menyala, Biyya mulai menyesal dengan apa yang terjadi dan mereka harus berakhir di teras rumah menjelang isya. Ayah melanjutkan pidato sambil nggak mau rugi waktu. Hehe… kasih pakan kelinci dan isi penuh dot mereka semua. Di teras ada tumpukan daun Indigofera, di samping itu Akib dan Biyya duduk bersandar ke dinding. Pidato ayah terus berlanjut. Bunda tidak tahu lagi apa kejadian, tapi dari dalam terdengar suara pidato ayah saja. Hahaha…

Terdengar Akib mengulang hafalan doa iftitah, bergantian dengan Biyya. Di sekolah mereka diajarkan doa iftitah Allaahuakbar kabira… sementara di rumah kita juga menghafal yang lebih singkat Allahumma ba’id… Biyya antusias. Laporan terkini dari ayah, Biyya tadi mencoba tenang, dewasa dan mencairkan suasana. Akib masih dengan amarah membara dan tidak terima. Faza minum dan minta makan, karena memang belum sempat makan malam tadi langsung tidur. Setelah selesai bunda elus punggungnya dan melanjutkan tidur lagi.  Bunda wudhu dan pakai mukena. Beranjak ke teras. Meihat ayah sedang mempreteli daun indigo dari tangkainya. Akib dan Biyya masih bersandar dengan kaki ditekuk. Keduanya memeluk kaki dan bersandar ke dinding. Terenyuh hati bunda menyaksikannya.

“Gimana kalian berdua?” bunda tanya dan Akib langsung menoleh ke bunda dengan mata yang memerah dan kali ini memelas. “Kami udah baikan.” Sekilas bunda bertanya kenapa hanya menatap ayah yang sedang menyiangi pakan kelinci, bukannya ikut membantu. Akhir cerita bunda suruh keduanya masuk, sebeum tidur ambil wudhu dan salat isya. Bada isya Biyya masih dengan hafalan doa iftitah dan meminta buku berisikan doa tersebut. Ia keluar lagi memamerkan buku itu ke ayah. Malah minta menyetor lagi nanti. Biyya … Biyya…

 

ignore-them

Menyapih (Faza) Dengan Cinta -WWL versi Bunda dan Faza-

15 november lalu, Faza genap berusia 2 tahun. Sudah sekitar 4 bulan sebelumnya kami sounding tentang sapih. Awalnya reaksi Faza lucu sekali, tapi apapun itu memang namanya baby kerap menggemaskan.

“Faza, sebentar lagi disapih ya…” kata si ayah mengingatkan. Terburu-buru ia menuju kotak mainan dan mengambil mainan sapinya. Menunjukkan ke si ayah sambil bergumam “mooooo! Sapi, sapi!” Meledak tawa kami seluruhnya. Kak Biyya dengan lengkingan khas dan memamerkan gusi depannya yang masih ompong.

Menjelang setengah bulan akan disapih sungguhan, aku pergi menghadiri Musda NA di Nagan, Aceh Jaya. Malam itulah pertama sekali Faza tidak disusukan menjelang tidurnya. Kalau tidur siang memang sudah pernah beberapa kali dinina bobokan Uncu. Hanya berbekal elusan di punggung, air putih, susu formula, teh, buku-buku, mainan atau malah video.

Aktivitas favorit. Pelototin gambar di buku.

Aktivitas favorit., pelototin gambar di buku.

Malam kedua aku sudah sampai ke rumah, Faza memang sudah tidur. Aku menghampiri dan memindahkannya ke kamar kami. Agaknya ia sadar Bundanya sudah pulang dan bergumam “blah… blah” selain kata nenen, blah itu maksudnya sebelah lagi, ya. Hahaha… maafkanlah spontanitas yang kemudian menjadi habit itu. Akhirnya karena rindu iya, mammae juga sudah penuh karena nyaris dua hari tidak menyusukan Faza, aku berikan lagi ASI. Toh belum genap dua tahun pun, pikirku.

Nah, itu proses weaning yang awal. Berikutnya siang aku coba tidak memberikan ASI lagi, jadi hanya menjelang tidur malam. Cuaca november tidak begitu bagus, pancaroba. Faza demam dan rewel, ia kerap minta disusui. Aku kembali ke frekuensi biasa dengan durasi menyusui yang cukup pendek. Tapi ya, kapan dia minta harus dikasih lagi. Begitu sudah ada tanda-tanda selera makan kembali membaik, aku menguragi pemberian ASI dengan lebih kentara. Malah malam kalau cukup dengan dibacakan buku dan dielus punggungnya, aku tidak lagi memberi ASI. Eh, tapi ia baru saja sembuh. Rewel dan manjanya masih terbawa pasca demam. Jadilah Uncu bilang, “kasih aja dulu, napa? Kan belum pun dua tahun penuh” demi mendengar Faza menangis tengah malam.

Tahap kedua masih belum sukses, malah Faza semakin lengket dengan ASI. Sebelum kelewatan, aku mulai mengelurkan beberapa amunisi ala-ala si ayah. Kalau ingat nen, aku perlihatkan video di tablet. Bisa dibilang saat proses penyapihan Faza mulai-mulai terpapar gawai lebih sering dari biasanya. Tapi jangan keterusan, dong. Bahaya!

Buku-buku masih terus menarik minatnya dalam proses ini. Hingga akhirnya tanggal 15 tertera di kalender rumah kami. Yup, Faza is 2 years old. Alhamdulillaah.

 

img20161119190309

buku-buku yang siap sedia menemani Faza menjelang tidur. His fave!

Besoknya walau sapih tetap disampaikan, aku masih menyusui menjelang tidurnya. Tapi Faza sudah tahu kalau susu dari dot lebih kencang dan banyak. Terkadang ia lelah tapi tidak puas dan akhirnya menyerah minta susu. Sufor juga tidak menjadi sesuatu yang wajib untuk bayi yang disapih, ditambah Faza agak ribet memilihkan susunya. Ia alergian. Hanya satu hari satu malam aku hentikan memberi ASI dengan total. Alhamdulillaah tidak ada drama dan histeria di hari keduanya. Ini sudah seminggu tidak menyusu sama sekali, begitu Faza ngantuk dan meminta ASI, aku hanya tinggal bilang Faza sudah disapih. Lalu Faza akan memilih opsi lain, susu atau teh. Sekedar baca buku pun boleh. Juga tidak ada bunda yang demam karena payudara yang bengkak kepenuhan ASI.

Oh iya, Faza suka sekali susu kambing organik. Dia bisa menghabiskan 150 ml dalam beberapa menit. Karena ada riwayat alergi susu sapi dulu ketika masih ASI ekslusif, saat aku sok rajin minum susu ibu menyusui. Hehe… akhirnya aku tidak berani mencoba memberi susu sapi organik. Sedangkan susu formula itu bisa membuatnya mulas, konon lagi susu segar, pikirku.

Dulu sepertinya menyapih tanpa digantikan susu formula serasa menjadi momok tersendiri. Apalagi banyak suara-suara, eh nanti digantikan pakai apa ASI-nya. Ya, makanan sehari-hari dan buah itu jauh lebih menggantikan ketimbang susu formula ternyata. Apalagi jargon empat sehat lima sempurna tidak ada lagi, digantikan dengan makanan gizi seimbang.

Yah akhirnya … barakallaah, Faza sayang. Happy graduation! Sudah lulus ASI 2 tahun dengan ending WWL. Semoga menjadi anak yang salih. Aamiin.

Hari-hari baru dalam kemasan lampau

Baru saja menulis postingan blog mengenai Sang Kapten yang 1×24 jam di rumah. Stand by layaknya security mengayomi seluruh penghuni, eh mulai minggu depan sudah ada panggilan. Walau tidak setiap hari, tapi kemungkinan besar dalam seminggu akan ada tiga hari absen mengantar anak-anak ke sekolah atau menemani si bungsu makan siang.

Then, how is your feeling, Aini?

Awkward, yes for the first time. Menimbang kapasitas diri ini yang selama ini begitu banyak tergantung pada kelenturan waktu Eun yud.

Happy, yes of course. Harusnya perasaan inilah yang harus aku pelihara seterusnya.

Menyampaikan pada Akib dan Biyya mengenai jadwal baru si ayah, itulah yang aku lakukan. Karena yang selama ini sangat menikmati anugerah kelapangan waktu itu tentu saja anak-anak. Kalau bundanya sih, malam biasanya masih begadang makan kuaci berdua sambil nonton film-film bluray secara random. Walau belakangan ini Eun yud lebih banyak memuat video belajar IELTS dari band 1-9 dan mengajakku belajar bersama. Ealaaah, nggak tau apa emak-emak kayak aku butuhnya Korean Drama! buahahahha.

Ingatanku melayang ke tujuh tahun silam, dimana Eun yud masih ngantor dan ‘sanjungan’ pulang saat pukul 12.30 untuk makan siang sekaligus mengantar Akib yang masih semata wayang, adalah hal yang sangat mengesankan. Waktu itulah aku mulai membuat blog, eh tepatnya sembilan tahun yang lalu membuat blognya dan mulai diisi rutin tahun kedua. Sambil menunggu Eun yud kembali dari Sibreh, aku sempat membuat tulisan ini

Anak Kunci Itu



(more…)

Selamat Ilang Tahun Eun yud

cieeee… ada yang lupa hari lahir suaminya sendiri.

Siapa?l

Aini!

Hah?

Iya Aini yang ngakunya romantis dan rada melankolis itu.

Hap! Hap! Lompat tinggi-tinggi. Sebenarnyaa hari itu aku nggak ingat tanggal. Ya, taulah hari senin dimana aku full mengisi jam noncurriculum subject di Baitul Arqam, senin biasanya hari paling hectic dalam seminggu. Tapi asli, aku lupa tanggal. Hadeeeuh.

“Bunda, Om hari ini ulang tahun?” Kata Naufal memastikan. Aku sedang bersiap berangkat dan merayu Faza untuk tinggal saja di rumah hari ini. Hujan terus-terusan turun. Faza juga sedang masa sapih jadi harus lebih sehat. Lalu istirahat di dalam rumah dengan cuaca seperti ini adalah pilihan terbaik. Toh Uncu juga tidak ada jam mengajar.

Aku sedikit terhenyak. “Hah, ini tanggal 17, ya? Oktober, ya?” Hahaha… sebentar lagi Eun yud mengantarku ke DPBA, aku belum memberi kode apapun. Memang terlihat sekali aku lupa hari istimewa ini.

Nah sebenarnya it’s all no problemo. Tahu kenapa aku jadi begini? Ya karena Eun yud bukan orang yang suka diingat ulang tahunnya, tapi aku kekeuh dengan kebiasaanku. Mengingat hari yang kuanggp istimewa sebagaimana kebanyakan perempuan-peremuan penyuka drama dan bacaan genre roman lainnya, buahhahahah.

Well, apa yang ingin dibahas lebih dulu? Sudut pandangku atau Eun yud?

Barangkali karena latar belakangku memang dari keluarga sederhana. Umak Abak tidak pernah sekalipun merayakan ulang tahun anak-anaknya. sesuatu yang kurasakan amat unik dan sebenarnya aku bangga juga kalau diingat hingga hari ini. Aku mulai tahu merayakan ultah saat bersama teman-teman SD dulu, atau bersama sepupu-sepupu ku yang ramainya hampir sekampung. Dari tontonan di televisi dan buku atau majalah yang kubaca, dari teman-teman yang keluarganya merayakan ulang tahun. That’s all.

Kesan yang kutangkap adalah menyenangkan, seru, dan terlihat apa ya… seperti sebentuk perhatian yang harus dibalas perhatian kembali. Pengikat batin dan betapa istimewanya itu hanya ada satu hari dalam setahun. Begitulah batinku hingga saat menikah dengan Eun yud yang notabene Mama dan keluarga intinya sangat mementingkan hari lahir. Mama selalu memasak sesuatu yang istimewa di hari lahir kelurga inti. Bahkan Eun yud masih punya foto ultah ke-6 kalau tidak salah. Lengkap dengan topi kerucut, balon-balon dan kue tart yang di atasnya ada lilinnya. Hihihi…

Tapi tetap saja penuh teka teki, Eun yud tidak suka perayaan ultah.

Tahun kedua di pernikahan kami, terjadilah sesuatu.

Jreng… jreng … jreng.

Miskomunikasi saat aku baru jadi Ibu beranak satu, lepas dari segala aktivitas publik dan full mengurusi domestik, then Eun yud tidak ingat hari ultahku tepat di pukul 24.01 21 Maret 2007.

Kalau diingat lagi kami tertawa, terutama aku akan membahas hal ini berjam-jam sambil menowel-nowel hidung Eun yud, mengacak-acak rambutnya dan kembali ia minta maaf. Maafnya itu semakin membuatku tak enak hati.

Saat itu, aku yang muntab, uring-uringan seperti anak TK sedang ngambeg. Memasak makan siang sambil berair mata. Dulu dan sampai hari ini semarah apapun tugas domestik tetap kuselesaikan. Eun yud pulang ke rumah untuk makan siang. Membawa pulang kado yang tidak dibungkus. Dua eksemplar buku, satunya novel Taj Mahal, Kisah Cinta Abadi yang ditulis John Shors. Sebenarnya itu ungkapan tak langsung yang sangat romantis. Tapi aku terlanjur sedih, aku pengennya tepat pukul 24.01 tapi ia malah ingat menjelang siang setelah pagi itu tentu saja Eun yud bingung kenapa istrinya yang paling manis mukanya sejagat menangis dan berubah jadi perempuan jadi-jadian yang matanya bengkak merah sampai ia pergi kerja.

Aku salah apa? Aku kudu piye? Itu barangkali jeritan batinnya. Selama kenal sebelum menikah aku pernah sekali mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi kado topi pancing warna hijau navy untuk Eun yud. Itu sebelumnya aku ingat, Eun yud pernah memberi hadiah pena tinta untukku. Masa perkenalan dan beberapa lembar surat dengan kertas surat bergambar Dragon Ball menceritakan latar belakang keluarganya sedikit detail. Surat itu masih kusimpan sebagai bukti sejarah kalau-kalau di sini ada yang tidak mengakui pernah mengirimiku surat dengan kertas surat Son Go Ku. Buahahhahh # dijitak!

Dari sana barangkali aku berangkat dan menyimpulkan sendiri, membuat asumsi bahwa seorang Yudhi juga merasakan hal yang sama, hari lahir adalah sesuatu yang spesial. Jadi, tanpa penjelasan dan persamaan persepsi, aku ujug-ujug ngambek dan bilang hadiah itu sudah terlalu hambar karena hadir setelah aku menangis. Sontak jiwa mudanya juga bergolak, Eun yud merasa seperti tidak dihargai jerih payahnya. Siang itu ia yang kemudian bermuka muram lalu dengan segala yang ia redam, bertanya perlahan padaku. Sebenarnya apa yang adik inginkan, apa mungkin lupa hari lahir sampai sebegitunya?

Eun yud masih 25 tahun, aku dua tahun di bawahnya. Kami menikah muda sekali dengan kondisi yang jika dijabar di sini amatlah panjang. Tapi sekali lagi, menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa adalah pilihan. Kami berdua akhirnya memilih menjadi dewasa berdua. Sebenarnya cerita ini sudah pernah aku tulis juga dan barangkali sudah diposting di blog lama. Malah barangkali tersimpan di Axioo gamewatch-ku yang sudah rusak dan file-nya tidak lagi terselamatkan.

Eun yud menekankan bahwa kekecewaanku bukan murni karena ia telat ingat hari lahirku, tapi ada banyak sesuatu di balik itu. Sebuah akumulasi kekecewaan bahwa aku harus mengalah sepenuhnya mengemong anak dan berhenti dari segala aktivitas kampus, lalu di organisasi juga off untuk sementara. Pekerjaan domestik dibantu oleh Eun yud tanpa asisten lain, pekerjaan Eun yud yang belum bisa dibilang mapan dengan skripsi S1-nya yang masih keteteran. Apakah aku kecewa dengan semua itu?

Satu sisi aku semakin tersinggung karena berpikir ia sudah meragukan keteguhan hatiku plus meremehkan prinsipku mengenai hari istimewa. Di sisi lain aku juga merasa tertampar oleh sikapku yang begitu kekanakan.

Satu hari yang menjadi titik balik dan sejarah untuk rumah tangga kami, aku melukai Eun yud yang sedang babak belur dihantam gelombang ketidakpastian kuliah dan masa depan kami waktu itu. Sementara aku merengek dengan ego kekanakanku. Amatlah lucu.

Setelah hari itu betapa banyak dialog diantara kami. Aku membaca buku-buku yang dihadiahkannya. Ia tahu aku sukaaa sekali. Nonfiksi bergenre roman adalah favoritku, hiburanku di sela-sela tumpukan buku teks Mikrobiologi dan Farmakologi dulu. Walau mungkin bagi Eun yud itu menggelikan menggandrungi roman. Ia sendiri lebih suka menonton. Eh malah ia menonton film action dan syukurlah kami sama-sama menyukai  japanesse anime. Di antara seribu perbedaan kami, aku hanya mampu mengingat sekitar lima atau enam persamaan kami. Itu sudah cukup membuat kami saling menggilai satu sama lain.

“Adek lupa ya, Abang ulang tahun hari ini, pasti tadi sadarnya pas diingatin sama fesbuk kan?” Godanya sambil menembus rinai gerimis mengantarku ke DPBA.

“Aah nggak! Sueer bukan diingatin fesbuuk. Tapi kok bisa Abang berpikir Adek lupa…” ngeleees. Aku tidak bohong loh, ya. Aku diingatkan ponakan bukan Facebook. Haha

“Selama 10 tahun Adek nggak pernah lupa ngucapin selamat ulang tahun tepat di pukul 12 lewat dikit. Bela-belain nunggu dan bangunin Abang untuk jadi yang orang yang pertama bilang.”  Eun yud mengingatkan betapa ‘haha’-nya Si Bunda ini. Tapi aku takjub juga dia ingat kelakuanku selama ini.

“Nah, terus gimana tuh, kali ini beda?” Aku malah bertanya lagi.

“Yah, gak apa-apa…”

“Betulan gak apa-apa? Eh malah nungguin ya kali ini. Maaf yaa…” pintaku sekali lagi sambil berterus terang kalau aku sebenarnya diingatkan ponakan dan bukan karena lupa hari ulang tahunnya tapi lebih karena aku tidak ingat tanggal.

Berderailah tawa kami berdua. Persis seperti anak SMP kami cekikikan sambil menembus rinai gerimis-Halah kayak apa gitu- Lalu keluarlah gurauan faktor U dan lain sebagainya yang semakin membuat perut teraduk-aduk. Lucunya tingkah Ayah Bunda ini yang qadarullah selama nyaris 12 tahun kami selalu dikumpulkan oleh-Nya. Bahkan nyaris 1×24 jam, kami bekerjasama berbagi porsi peran yang sama besar. Aku sebagai Ibu Rumah Tangga sungguhan yang penuh waktu, ia pun Bapak Rumah Tangga sungguhan penuh waktu. Termasuk mencari penghasilan untuk mengepulkan asap dapur, kita tejtap berbagi peran.

Dulu Eun yud pernah bekerja kantoran beberapa tahun dan resign. Salah satu alasannya biar bisa membantuku mengurus dan mengasuh anak-anak. Kita punya waktu bekerja seumur hidup, anak-anak hanya punya satu kali masa kecil. Hal itu kerap diingatnya dan begitu terus ia dengungkan.

Memang resign-nya hari itu tidaklah murni karena hal yang di atas. Ayah mana pula yang bisa berdiri begitu yakin keluar dari tempat kerja sementara ia adalah tulang punggung rumah tangga? Tapi itu adalah salah satu motivasi terbesarnya dan keyakinan bahwa rejeki tidak akan tertukar itu nyata adanya. Hingga detik ini Allah Sang Maha Pemurah memberikan begitu banyak pertolongan-Nya.

Bersama kami bergandengan tangan, menikmati waktu bersama keluarga inti. Diskusi-diskusi mengenai pernikahan jarak jauh juga ada. Bagaimana kami mengatasinya, kemudian jika salah satu dari kami lebih dulu menghadap-Nya.

“Ya, kita usahakan berkumpul sampai anak-anak usia emasnya. Kalau bisa usia akil balighnya juga, semoga jarak kita masih serangkulan begini. Nah, kalau sekiranya nanti akan ada perubahan. Entah Ayah atau Bunda harus berjarak sementara waktu atau bahkan selamanya, ayo disaat bisa sebebas ini menikmati waktu, kita saling mengeratkan hati. Setiap momen dan detik harus berkualitas. Semoga bisa menjadi amunisi selama tinggal di dunia dan berkumpul lagi di surga-Nya.”
Berkali-kali kurapal “Aamiin”dalam hati.

Eun yud juga mengajar beberapa jam dalam seminggu. Ia mengalokasikan waktunya lebih banyak buat keluarga. Awalnya kita tidak lagi berpikir mengenai piknik kemana. Selain tidak suka perayaan ulang tahun, Ia juga tidak suka main air laut. Hal yang mengherankan juga bagiku dulu. Jadi aku harus ekstra sabar kalau merangkai kata dalam balutan piknik dan menyenangkan anak-anak. Sebenarnya susah, loh, mengajak Eun yud piknik outdoor. Kadang Ia lebih suka kita bikin home teather gitu. Gelut-gelutan di rumah sambil beli makanan segombreng. Ngajakin main arcade game  (Ini yang aku tentang dan akhirnya proposal buku per minggu diloloskan untuk menggantikan game).

Untuk sekarang aku kagum Ia mau berusaha main pasir, basah-basahan dengan anak-anak di pinggir pantai. Cebar-cebur di kolam renang. Kalau sedang ada rejeki melepaskan anak-anaknya ke wahana bermain. Kuliner, jangan tanya… Eun yud dan Akib punya lidah yang sangat fleksibel dengan segala aneka rasa dari seluruh dunia.

Buku-buku dan sarana belajar anak selalu diusahkannya, walau tahu sendiri kondisi finansial orangtua tipe kami ini tidaklah semulus keluarga lain yang pasti uang masuknya setiap bulan.

Untuk sekedar menapakkan jejak ingatan yang baru, akhirnya kami singgah di salah satu cafe sederhana untuk menikmati dua gelas minuman hangat dan dua piring mie seafood. Mengobrolkan banyak hal yang tidak bisa kubahas satu-satu di sini. Tidak lupa mie empat porsi untuk dibawa pulang dengan segera.

Ya, sebenarnya tulisan kali ini hanyalah sekedar napak tilas perjuangan seseorang yang gagah berani menjadi kapten bahtera di usia muda. Yang kemarin menginjakkan kakinya di angka 34 tahun. Ayah tiga orang anak yang semoga saja anak-anak ini kerap menyejukkan matahatimu. Penyeka peluh, pelumat gundahmu yang doanya mengalir seterusnya hingga kita keduanya tiada lagi di dunia.

Selamat ilang tahun Eun yud. Jatah satu tahun sudah menghilang lagi dan lagi setiap tahunnya

20140508_175550

edisi berdua saja. Untuk ayah dan bunda beranak tiga, saat berdua itu sangat berharga. hahaha

aini-n-eun-yud

Gawai di Rumah Kita

Adalah hal yang membuatku terkejut alang kepalang ketika membaca cerita yang ditulis Akib di bukunya dan kemudian dirapikannya di laptop Eun Yud malam itu. Pagi sebelum ke sekolah, Akib sudah menunjukkan buku tulis dan isinya itu, tapi katanya nanti saja Bunda baca sampai habis, karena Akib belum selesai tulis semuanya. Hm, oke baiklah. Kurang lebih begitu saja tanggapanku.

Akib menurutku yang masih begitu ‘ketat’ aturan memakai gawainya bisa terlewat? Ini capture ceritanya

.img20160929172533

Di situ menurutku ada konten kekerasan. Game yang boleh dimainkan Akib hanya minecraft untuk saat ini. Kemudian saat online Akib menggunakan WA berkomunikasi dengan keluarga intinya di grup yang dibuatnya ‘GoldBear Family’. Akib terkadang menonton youtube tutorial minecraft dan tentu saja itu di sabtu minggu alias weekend masing-masing dua jam saja.

Suatu waktu aku dan Eun Yud menemui gurunya untuk berdiskusi dan menanyakan perkembangan Akib. Di sana akhirnya disimpulkan aku terlalu ketat sehingga Akib cenderung berontak. Walas Akib bilang jika kita mendidik anak terlalu banyak aturan, maka ia akan cenderung memberontak. Aku setuju dengan statemen beliau dan sangat berterima kasih atas masukannya. Bukan hal yang mengherankan ketika beliau berkomentar seperti itu karena aku berterus-terang sejak awal, kami tidak memasang channel televisi  setelah memiliki anak (pernah berlangganan TV kabel selama tiga bulan dan sama sekali tidak membantu, seluruh keluarga sepakat mengalihkan budget TV kabel ke buku setiap bulannya).  Mungkin cerita ini sudah berulang kali kuulas dari beberapa postingan termasuk jam main gawai untuk Akib dan game apa saja yang boleh dimainkan.

Baca:http://stanzafilantropi.com/menanam-dan-merawat-benih-milik-sendiri/

Nah, sejurus terlihat aturaaan saja yang ada, apalagi Akib juga tetiba memiliki statemen “Bunda ini banyak kali aturan!” dengan kesalnya ia bisa nyeletuk seperti itu.

Akib bercerita temannya punya telepon genggam pribadi, punya komputer pribadi, dan tablet pribadi. Temannya bisa main kapan saja tidak seperti ia yang hanya dijatah di weekend dan hanya beberapa jam. Oke, aku dan Eun Yud kemudian berdiskusi agak alot dan melonggarkan aturan 2 jam menjadi 5 jam di weekend. Ini disambut dengan amat baik dan memberi dampak buruk karena Akib berpikir ternyata aturan gawai bisa ditawar.

Wajar kalau aku dan Eun Yud dianggap banyak aturan karena dua hal di atas. Padahal Biyya tidak sebegitu keberatannya. Karena kenapa? Biyya mudah bergaul dan suka permainan outdoor, Biyya supel dan gawai bukan kebutuhannya dan teman-temannya di sekolah ataupun teman mainnya saat mengaji. Bahkan tetangga yang sering bermain dengannya tidak memiliki gawai pribadi. Ah, kelihatannya ortu temannya juga tidak begitu peduli dengan gawai. Semua sibuk mengurus sawah berpetak-petak.

Akib dan temannya berbeda. Obrolan di sekolahnya dalah game teranyar dan level tertinggi dari game tersebut. Malah ia bercerita temannya sedang seru-serunya bermain game Pokemon Go. Iyap, tak ada salahnya sih, bagi anak-anak Gen-Z seperti sekarang, aku tak kaget. Tapi prinsip keluarga adalah prinsip. Ia tak boleh dilanggar untuk tetap menjadi anggota keluarga ada aturan baku dan tidak baku tentunya. Walau tak tertulis, kami di rumah memahaminya. Termasuk bagaimana berjuang bersama Eun Yud, ayah mereka sedang mencoba sesuatu yang baru dan membutuhkan seluruh dukungan yang sesuai dengan kapasitas pikir anak tentunya. Akib selama ini dengan kelugasannya adalah Akib yang jujur dan tentu saja tidak dalam kondisi tertekan seperti yang barangkali orang pikirkan.

Aku berdiskusi dengan Kak Wina Risman yang mumpuni dalam hal parenting. Melihat bentuk tulisan Akib memang ia seperti darurat gawai. Gawainya harus dihentikan sebelum dia kecanduan. Eun Yud dan aku siap-siap dan serta merta menginspeksi (tanpa sepengetahuan Akib tentunya) mengenai game yang ia mainkan apakah mengandung konten kekerasan. Buku-buku Insya Allah aman, hampir 100 % buku-buku yang dibaca Akib sudah kubaca. Jadi ada satu buku horor komedi yang judulnya ada ‘nightmare’-nya gitu, aku lupa. Itu  isinya juga bukannya menakutkan malah lucu sekali. Ada sempat ia euforia sekali tentang Night at Freedy, segala istilah yang ia temukan di sana ia tanyakan padaku. Diskusi berlanjut dan aku melihat ada dampak kurang baik dan kami sepakat menghentikan video-video night at freedy tadi.

Tanpa menunggu lama, aku mengajak Akib ngobrol lagi sambil jalan-jalan di akhir pekan, apa sebenarnya yang memantik idenya untuk menuliskan cerita di atas. Ada kata-kata menembak, membunuh di sana. Akhirnya aku tahu bahwa itu semua dari obrolan dan rasa penasarnnya memvisualisasikan cerita teman-temannya. Ia bersemangat menceritakan obrolannya (yang sebenarnya sehari-hari pulang sekolah pun ia ceritakan padaku) kemudain kali ini diulang dan lebih detail. Sampai ia juga nyeletuk menirukan gaya temannya memperagakan salah satu iklan rokok. Ia sangat terkesan dan penasaran. Akib tidak pernah menontonnya tapi temannya yang ekspresif menunjukkannya ke Akib dengan aktingnya yang mengesankan. “Dj*rum Cokl*t ” katanya dengan intonasi iklan. “Apa sih itu, Nda?”

“Oh, dimana Akib lihat atau baca?” tanyaku datar.

“Si A sering tiba-tiba bilang itu.”

“Oooh, itu ya iklan rokok di televisi barangkali,” jawabku sekenanya.

Tiba-tiba Akib terbahak dan katanya dia tidak menyangka itu ditirukan Si A dari iklan rokok. Lalu ia geli sambil membayangkan temannya Si A memperagakn jargon iklan itu.

Setelah meningat-ingat cara Akib bergaul dan dunianya saat ini, aku menemukan titik temu. Cara berbicara yang agak kasar sesama anak-anak tersebut dan wallaahu’alam faktor apakah penyebabnya, itu sangat mempengaruhi tulisan-ulisan Akib. Gawai dan penggunaannya kembali kami setting dengan pengaturan awal seperti yang disarakan Kak Wina Risman. Malah dikurangi lagi. Cukup satu jam satu hari di weekend. Akib juga awalnya protes tapi aku sampaikan sejelas-jelasnya dan sepahaman yang mampu dijangkaunya.

Lalu mengenai aturan, kata Kak Hanna yang juga expert di bidang psikologi bilang, hidup akan ada aturannyan itu perlu. Jadi ada … memang ada hal-hal yang harus diatur dan ada yang harus dionggarkan. Kalau membahayakan  dan berdampak tidak baik ke depan, ya dipakai aturan, beda kalau mau pakai baju warna apa, sendal yang mana dan kemudian kita selaku orangtua yang anaknya belia menjelang remaja tetap bersikeras pada pilihan ortu mengenai hal yang remeh-temeh, baru namanya sok mengatur, banyak aturan dan lain sebagainya sesama jenis yang aku sebutkan tadi. Jadi apakah ketiadaan televisi dan penggunaan jam gawai juga dikatakan banyak aturan?

Kembali membicarakan konten tulisan Akib di atas, apakah itu hanya ungkapan verbal yang sering ia dengar dari teman-teman atau dari game dan totonan? Soalnya apa yang didengar itu juga sangat berpengaruh pada tulisan dan obrolan Akib selama ini. Aku coba berdiskusi dengan para Mahmud di Nasyiatul Aisyiyah yang notabene juga memiliki anak yang seusia dengan Akib. Dari diskusi tadi aku tangkap hanya Akib yang agaknya bermasalah dengan gawai dengan bukti tulisan yang dia buat penuh dengan kode game seperti di atas. Entah, aku tidak ingin meperpanjang lagi dan karena ingin dengan sungguh hati mencari solusi akan permasalahan ini, aku beralih dari ketidakefektifan diskusi di atas dan mulai lagi bergerilya mencari referensi. Referensi utamaku tentu saja Akib sendiri. Bagaimana perasaannya dan menyelami segala cerita-cerita dan harus kupastikan bagaimana ide-ide memantik dari pikiran dan imajinasinya. Bagaimana ia melihat anak-anak seusianya, terutama teman dekatnya bisa mengakses lebih banyak daripada yang ia dapatkan. Memastikan bahwa aku percaya padanya dan ia juga harus percaya pada kami orangtuanya, lalu saling menjaga kepercayaan tersebut. Tidak bebas mengakses game online atau berlama-lama di layar bukanlah akhir segalanya, Kib. Lalu solusi lainnya pun kami tawarkan. Jangan sampai setelah kita di depan deal masih ada rasa yang mengganjal di hati Akib yang kemudian membuatnya harus mencari akses dengan cara backstreet. Jelas ini masalah baru yang harus diantisipasi.

Solusi pertama yang sangat disambut baik oleh Akib adalah buku. Buku sebagai sarana hiburan terutama cergam-cergam yang kemudian aku lebih tingkatkan bobot komiknya dari yang awalnya berkonten sains (komik Why berbagai edisi) menjadi konten sejarah (Komik Muhammad Al-Fatih). Lalu yang sekarang teranyar itu Korel alias Komik Religi walau konten religinya menurutku amat sedikit dan lebih banyak komedinya, tapi insya Allah lebih aman. Kemarin Akib membaca komik si Juki di rumah Tia dan meminjamnya, ada yang bilang itu komik dewasa. Iya, guyonan politiknya juga ada, tapi setelah aku baca juga jauh lebih aman daripada Akib harus bermain gawai.

Solusi kedua yang bisa bersinergi dengan yang pertama adalah, mengobrol lebih banyak dengan Bunda. Bunda janji jadi pendengar yang baik dan budiman. Menjadi orang antusias dengan cerita yang Akib lontarkan, apapun itu. Akib senang dan kita deal.

Solusi ketiga adalah memfasilitasi Akib dengan kertas, pensil dan pulpen. Akses bebas untuk menulis, menggambar dan berapa lembar kertas yang Akib butuhkan, berapa jumlah buku, pena, dan pensil. Mari berkarya nyata.

Sekali lagi, bukan konten gawai yang aku takutkan karena hari ini sudah ada fitur-fitur yang menyaring konten-konten dewasa, tapi efek addict dan cetusan dopamin yang dihasilkan saat berlama-lama dengan gawai itulah yang aku dan Eun Yud khawatirkan.

Ooh, ini anak kami walau pakai gawai kencang tapi pelajaran di sekolahnya diprioritaskan dan hafalan qurannya juga sudah mau khatam 30 juz. Di gawainya semua aplikasi yang mendukung belajar dan buat dia semakin pintar Bahasa Inggris. Ini sebagai hadiah untuk kesuksesan yang dia raih karena pintar dalam segala bidang. Oke, silakan kalau ada orangtua yang berprinsip demikian.

Tapi, Kib… Akib adalah anak Ayah dan Bunda. Pernahkah Bunda menuntut Akib menjadi jawara kelas? Hebat di bidang ini dan itu? Bintang panggung bintang lapangan, bintang sekolah? Berapa kali sudah Bunda tegaskan Akib adalah gemintang yang menyemarakkan hati Ayah dan Bunda. Penerang dan teladan adik-adik, Bunda hanya meminta Akib menjaga salat 5 waktu, lainnya Akib lah dengan diri Akib sendiri. Akib anak Ayah dan Bunda yang tidak akan mungkin kami hadiahi jam pemakaian gawai setiap hari.

Eid Mubarak! Be grateful


Takbir Idul adha segera menggaung, aku sekeluarga sudah menelpon Umak akan pulang kampung. Persiapannya sejauh ini baru menitipkan mobil Mas Dantoro yang sedang pulkam ke Jogja bersama Tia dan anak-anaknya, titipnya ya ke Teh Ucue di Punge selaku tetangga dekat Tia. Hehe.
Sudah senang dalam hati, kemungkinan mobil Tgk. Ballah bisa dipakai selama 4 hari untuk pulang. Salah satu kebahagiaan kami empat tahun belakangan adalah berkumpul selaku keluarga inti dan menghabiskan banyak hari-hari bersama dan dikaruniai bu
ah hati baru yang tidak kalah lucu dari Bang Akib dan Kak Biyya. Jadi, kami memang belum memiliki kendaraan pribadi yang bisa mengangkut kami sekeluarga. Empat tahun lalu kendaraan roda empat yang diamanahkan ke Eun Yud sudah dikembalikan.
Dua hari lagi Pulkam, Akib pulang dari sekolah dengan bintil berdiameter kecil di pipinya. Aku sudah curiga, tapi karena suhu tubuhnya normal dan masih ngajak-ngajakin diskusi plus debat sejak pulang sekolah sampai bangun pukul 04.55, lalu membangunkan aku untuk membantunya mengonsep tausiyahnya untuk hari kamis itu. Aku abaikan bintil tadi, segera mengingatkannya untuk persiapan sekolah.
Sampai di sekolah Bu Khayra masih mengirim kabar mengenai Bang Akib yang tampil untuk tausiyah zuhur ini di Aula. Belum ada keluhan apa-apa. Pulang sekolah Akib kelihatan agak kurang fit. Ia juga bercerita kalau temannya Rasya terserang cacar. Ops, tanpa ba bi bu aku minta Eun Yud mengantar Akib ke klinik terdekat. Pulangnya sudah lengkap dengan Acyrclovir salep dan tablet 200mg. Akib positif cacar air. Kami batal pulang kampung.
Dengan berat hati aku menelpon Umak, Abak yang stand by mengangkat telpon dan membesarkan hatiku. “Jangan sedih, kamu nggak udah sedih karena yang paling penting di dunia ini adalah pulang ke kampung akhirat. Kampung dunia ini tidak ada apa-apanya. Abak juga tidak kecewa, karena dimana pun kamu berada asalkan selalu beramal saleh, Abak pasti dapat imbasnya. Sekali lagi, intinya tetaplah bersiap-siap untuk menuju kampung akhirat.” Masih panjang petuah Abak yang disampaikan dalam bahasa kami tentunya. Aku bela-belain pulang juga karena Umak kemarin spontan berujar kangen. Eun Yud juga bilang, kalau sudah begitu ayo, kita pulang. Tapi Allah punya rencana berbeda. Walhasil hanya keponakan kami Naufal yang berangkat pulang ke kampung dengan angkutan umum. Itu juga kabarnya sedang longsor di seputaran Aceh Besar membuat perjalanannya tertunda beberapa saat.
Well, balik lagi ke Akib yang mulai dibatasi ruang geraknya, ia lebih banyak tiduran di tempat yang sama. Kupikir perlu untuk meminimalisir kontaminannya di seluruh rumah. Kegiatannya membaca ulang komik-komik dan buku kesukaannya seperti Simple Thinking About Blood Type, ini semacam buku yang sering jadi referensi dia kalau ngobrol dengan teman-temannya. Ternyata Akib kurang piawai menggaet teman di awal-awal ia bersekolah. Barangkali saat bayi atau balitanya lebih sering bermain dengan Bundanya ketimbang anak seusianya. Waktunya banyak dengan mainan-mainan. Favoritnya puzzle, lego, video, dan buku-buku yang sering kubacakan sejak bayinya dulu. Akhirnya setelah beberapa tahun penyesuaian di SD, ia kini suka bercerita ha-hal baru, membuat anekdot dan sedikit sok gaul, begitulah. Misalnya, walau dia tidak main seluruh game karena aturan main di rumah kami, tapi ia berhasil menggali info dari teman-temannya mengenai game terbaru dan apa kelebihannya (contoh konkrit: game Pokemon Go). Sampai di rumah akan jadi ajang diskusi dan ujung-ujingnya debat. Tapi sehat lah ya, insya Allah.
Jadi buku-buku akan sangat membantu Akib tetap punya bahan cerita dan menarik perhatian kawan-kawannya yang punya lebih banyak ‘senjata’ seperti acara TV terbaru dan game-game kekinian tadi. Tapi sejauh ini aku senang, ada saja temannya yang cukup bijak atau gurunya yang nimbrung di obrolan mereka untuk menetralisir fenomena-fenomena yang sebagian kontroversial itu. Misal, oh yang seperti itu nggak baik, lho. Ternyata game GTA itu bukan buat anak-anak. Atau, ah banyak juga teman-teman yang tidak main game Pokemon Go.
Oh iya, Akib juga bukan tipikal bintang kelas yang punya nilai akademik cemerlang dan kudu jaim di depan teman-temannya. Target-target capaiannya standar saja, dia tipikal anak yang santai dalam belajar. Depend on teacher juga, beberapa mata pelajaran ia sukai karena gurunya asyik, katanya.
Besok sudah 10 Dzulhijjah dan aku sedang dalam siklus bulanan, tidak salat ied dan akhirnya tidak mendengar khutbah yang hanya setahun sekali itu. Sayang, ya? Tapi Akib tidak mungkin ditinggal ataupun diboyong ke tempat ramai. Bagaimanapun aku rasa tetap ada sisi baiknya, kita di rumah saja ya, Bang Akib. Ayah, Uncu, Biyya, Kak Kiya yang sedang berlebaran di rumah kami, Faza semuanya pergi menjemput daging qurban. Bunda dan Bang Akib menyiapkan segala bumbu di rumah. Alhamdulillaah, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan.
Taqabballaahu minna wa minkum. Kami sekeluarga mengucapkan selamat Idul Adha 1437 H.

Yang sedang sakit cacar

Yang sedang sakit cacar

img20160912113932

Yeay! Baby Traveling

IMG-20160830-WA0050

nursery room di Hang Nadim, Batam

IMG-20160830-WA0051

 

Jadi selama ada Faza yang usianya pun baru 20 bulan beberapa hari ini, sudah dua kali harus boyongan rada jauh. Memang inginnya tahan dulu sampai usia sapihnya, yakni 2 tahun ke atas, baru aku bisa melawat ikut acara ke sana ke mari. Tapi ke Bandung dan Jogja ini agaknya sudah menjadi kewajibanku, mau bilang apa? Memang terbayang bagaimana ribetnya traveling dengan baby, tapi mau tak mau harus dinikmati.

Bukan hanya ke luar Aceh, dengan Faza aku mengelilingi separuh Aceh, pantai Barat Selatan, Tamiang, dan lain-lain. Terima kasih berat buat my partner in everything, Syarifah Mutia Septiyani dan adikku Syarifah Zainab-yang sering sekali jadi selundupan kalau ada acara- mereka yang sering kebagian rempong kalau dalam perjalanan saat aku membawa serta Faza.

 

Jadi yang selama ini akrab bagiku saat perjalanan adalah mencari PW alias ‘posisi weenak’ untuk si baby Faza. Heran juga, banyak yang bawa anak tapi mereka ogah memanfaatkan fasilitas ruang menyusui (nursery room) dan play ground padahal sudah difasilitasi. Aku rasanya kalau harus membayar akan tetap coba memanfaatkannya, hehe.

 

Walau pernah satu kali, aku pakai ruang menyusui yang cukup kotor, panas, dan menyedihkan di salah satu klinik di Banda Aceh, selebihnya alhamdulillah sangat bermanfaat dan memuaskan. Apalagi tidak banyak yang mau menggunakannya, jadilah terkadang aku dan baby-ku saja yang nyantai. Kali ini di Soetta, aku ajak Tia dan krucilnya, plus satu teman lagi yang semalam kurang tidur untuk persiapan berangkat. Yup, Lena menjahit baju seragam kami sampai kurang tidur. Yuk, ah, join dengan baby Faza.

 

2

mungil tapi lengkap

faza at nursery room

nursery room di Soetta terminal 3

7 3 5

Children’s daily report

Waktu bergulir cepat dan akumulasi bulan itu menjadi hitungan satu tahun selang beberapa minggu lagi. Yup, kami berencana punya lima momongan –sebenarnya aku tidak begitu berani menyebutkan rencana ini– tapi katakanlah saat ini si bungsu Faza akan genap setahun. Kemudahan dan perkembangan gemilangnya seperti abang kakaknya dulu, semoga ini ungkapan syukur bukan takabur. Allah memudahkan banyak hal untuk kami terkait anak-anak. Hamil, menyusui, melahirkan, dan menemani tumbuh kembangnya. Paling tidak ini membuatku terlupa akan kesulitan-kesulitan yang kami alami di beberapa hal sebagaimana janji Allah di surat Al-insyirah “Sesungguhnya di setiap kesulitan ada kemudahan” dan aku amat layak menyebutkan sebagai wujud syukur.

Kembali mengenai Faza yang sudah tumbuh gigi, berat badan baik, sudah bisa berdiri dan melangkah satu atau dua langkah. Pintar bermain dengan Akib dan Biyya, juga betapa semaraknya rumah dengan suara sahutannya ketika kami berkata “ciluk” dan Faza berteriak “Baa”. Meminta dibacakan buku dengan cara menyodorkan buku pilihannya sambil berkata “uu.. uu” atau “hm.. hm” memanggil kakak dan abangnya. Mengikuti instruksi Biyya dan Akib saat. Kalau sedang bermain denganku di siang hari, Faza suka sekali bermain ciluk ba, menyembunyikan dan menampakkan wajahnya di balik dinding.

 

19 Agustus 2016

Faza menjelang dua tahun, bicaranya banyak sekali dan kosa katanya semakin kaya. Selain menggemaskan, kini ia bisa jadi pemantik cemburu Biyya bahkan Akib. Overall, they still love him aswell.

Kabar Akib saat ini agaknya semakin banyak menelan kecewa karena perbandingan yang tak sepadan yang ia saksikan di sekitarnya. Seperti keinginan ikut kemah ukhuwah di Sumbar yang tidak bisa kami kabulkan karena kami sudah menabung sedikit untuk keberangkatannya ke Malaysia bulan Januari 2017, kami tidak punya cukup budget mengenai hal-hal yang dikabarkan tiba-tiba. Tanggal 24 Agustus aku juga harus bertolak ke Jogja bersama Faza, ini menambah daftar protesnya. Tapi Akib memang anak yang blak-blakan, ia bisa mengatakan semuanya dengan terang. Walau aku sebagai ibunya agak sedikit kecewa atas ucapan kecewanya yang terlalu lugas, barangkali aku bisa sedikit maklum karena Akib tidak cukup dewasa untuk bisa menyematkan begitu banyak maklum di pundaknya. Singkatnya kami orangtua yang belum berhasil menanamkan sikap dewasa dan pengertian di diri Akib. Sedikit dewasa dan pengertian itu yang masih jadi PR besar kami berdua.

Biyya seperti biasa penuh permakluman dengan syarat dan ketentuan berlaku. Anak yang bisa dibujuk dan lebih dewasa dibanding kakak laki-lakinya. Semoga Allah benar-benar menganugerahkan kebijaksanaan sejak engkau kanak-kanak, ya, Hukma Shabiyya. Aamiin.

Catatan tentang tiga malaikat kami baru sampai di sini malam ini. Aku lupa tanggal tepatnya aku menulis catatan paragraf pertama dan kedua di atas. Barangkali sekitar empat bulan lalu.

FB_IMG_1460037152701

foto doc pribadi