cerita ceriti

Antara kita (Bagian kesekian)

    I don’t have any idea when we are fighting and keep silent during a day except remember all your kindess and whisper how I miss you. The way you tie my hair, the way you look in to my eyes, and the way you laugh.

   Tidak selamanya hubungan pasutri lempang dan manis. Tentu ada bruntul-bruntul, ngambeg sesekali, kesal bin frustasi kalau sudah tidak sesuai dengan rencana.

For example, the simple things are; aku baru saja akan menyeduh kopi paginya, seketika kulihat ia sudah menyeruput habis kopi buatannya sendiri. Hm, what’s the matter?
Sip! Aku lupa memisahkan antara sampah plastik dan organik untuk kesekian kalinya atau lupa menggantung plastik sampah di pohon kayu belakang rumah, sekenanya saja aku taruh di samping pintu dan sukses diobrak-abrik ayam tetangga. Dua kali kerja sementara biasanya yang membuang sampah ke kontainer adalah Eun Yud. Ia harus mengais sampah sebelum membawanya ke kontainer dengan kondisi yang lebih mengenaskan. Bau, bertebaran, dan jorok.

Sekali waktu aku sedang cuti salat, saatnya aku menonton film yang sekian lama aku endapkan di laptop or harddisk, berhubung laptopku rusak, aku harus meminjam laptop Eun Yud. Film itu sukses dihapusnya tanpa ‘babibu’. Yes! Aku kesal setelah ngedumel tentang apa yang aku kesalkan. Tega, padahal kita sudah menahan diri setiap hari untuk seminggu ini selama satu bulan pun dikebiri.

Memasak, membuat kopi dan pekerjaan rumah tangga adalah kerja seluruh anggota keluarga. Aku sudah menjelaskan kenapa mengambil porsi lebih besar dibanding seluruh anggota keluarga karena aku suka, aku senang melakukannya, aku bangga melakukannya dan yang paling praktis itu, kerjaku lebih rapi dan bersih. Expert tepatnya, hahaha.

Banyak sekali lika liku mulai hal kecil ataupun besar yang bisa memicu konflik pasutri. Hal itu harus diakui, walau antara aku dan Eun Yud dalam sebulan belum tentu ada korslet apalagi gegap gempita. Sebagaimana tipikal romantisme kami yang standar dan tiada kentara, begitu juga konflik kami. Aku dan Eun Yud adalah pasangan yang tidak romantis. Nah, percayalah. Kami penganut romantis itu jangan sampai bikin eneg. Begitulah kira-kira. Kecuali ritual menulis surat cinta setiap kali hari jadi, lainnya rasanya semua biasa saja bagi kami. Tak ada kata kata kaulah bulan, kau lah bintang dan sejenisnya. Mengingat kemampuan verbal Eun Yud yang kurang mumpuni, ia hanya memiliki tatapan dan sentuhan yang coba sebelas tahun aku terjemahkan. Hm, sudah ahli juga akhirnya. Sementara cara itu masuk di slot yang aku sediakan, ketimbang rayuan maut atau tingkah lebay yang membuatku ilfeel, cara sederhana dan sesekali itu menjadi amunisi kebahagiaan tersendiri bagi rumah tangga kami.

Seperti sore ini, aku bilang ke Eun Yud hari ini kita berbuka bersama di salah satu tempat yang sudah kusebutkan, aku diundang singkatnya. Saat aku menyampaikan ke Eun Yud, ia sedang pusing karena baru kembali dari pasar dan cuaca di luar cukup menyengat. Setelah salat zuhur ia tidur hingga jam 5 sore. Aku bangunkan untuk salat asar. Setelah salat ia berberes kandang dan aku menonton drama korea (aku mengambil jatah bulananku) sambil membereskan kain.

Kami berbenah dan Eun Yud mbuang sampah lama sekali. Ternyata ia membeli kopi dan kue hingga menjelang buka. Bailkah, aku kesal dan terjadilah episode saling mendiamkan.

“Ayah lupa, kok nggak bilang…”
Jiaah hahaha…

Dengan sabar Eun Yud mengajak Faza bermain setelah ia tilawah magrib tadi. Aku masih kesal dan ingin mengambil jatah drama lagi. Tapi anak-anak belum tidur. Oh well, Faza ketiban per besi saat diajak bermain. Aku protes lagi, harus lebih hati-hati mengajak anak bermain. Seharusnya telaten sebagaimana aku. Hihihi betapa seramnya diriku.

Sambil bermain dengan Biyya dan Faza, kami tidak saling mendiamkan tapi terasa ada bukit es di sisi kiri dan kananku. Suasana beku.

Lalu yang biasanya aku lakukan adalah membaca, menulis, meyibukkan diri dengan pekerjaan rumah jika masih ada. Aku begitu bosan ketika semua pekerjaan selesai. Di kepalaku hanyalah segala kebaikan Eun Yud, senyum hangatnya, tangan besarnya, dan binar matanya.

Ia pergi ke luar, ia berpamitan, ia mencium keningku, masih sempat menggodaku karena drakor yang belum selesai kutonton. Malam ini barangkali terakhir aku cuti salat dan bisa menonton. Ia tahu aku kesal tapi ia harus keluar dan janji akan pulang segera.

Sekarang habislah aku dicekam rindu dan sesal. Alangkah lebih bahagianya aku balas memeluk sebentar tadi. Dasar kekanakan. Habislah aku, beberapa jam serasa beberapa bulan. Segeralah pulang, Eun.

Melepas dengan rela

Ada banyak hal atau kebiasaan yang tidak bisa lagi kita pertahankan ketika kita memutuskan berumahtangga dan memiliki anak. Jangan lakukan atau tinggalkan kebiasaan tersebut dengan terpaksa. Lepaskan dengan hati yang ringan penuh kerelaan karena ini akan erat kaitannya dengan pengasuhan yang akan kita lakukan ke depan bersama pasangan.

Salah satu yang paling pokok itu memutus rantai kemalasan. Bentuk kemalasan beragam dan lawanlah dengan tegar. Mulai dari malas bangun pagi, malas mencari referensi untuk menambah wawasan sebagai ortu, dan banyak lagi.

Satu hal lagi, konsisten dalam peraturan. Seiring dengan rajinnya kita belajar, akan ada pengetahuan-pengetahuan baru yang bisa kita terapkan untuk dapat bisa mencapai tujuan bersama. Konsisten adalah pemegang kunci.

Untuk kali ini, dari sekian banyak hal, biarlah hanya dua dulu yang tercatat sebagai pengingat diri. Semoga Allah memberkati.

fb_img_1464230002332

LACTACYD LIQUID BABY, BUKAN SEKEDAR MEMINIMALISIR ALERGI

lactacyd photo

Aku dan suami punya riwayat alergi, jadi ketiga anak kami juga punya alergi masing-masing. Anak yang ketiga alerginya paling berat. Usia 5 bulan Faza pernah dirawat di RS karena alergi susu sapi dan tongkol yang seringkali aku konsumsi. Padahal saat itu Faza masih menyusu eksklusif. Nah, bayangkan beratnya alergi Faza. Terakhir ke DSA, Faza menunjukkan tanda gelap di bawah mata alias Faza berkantung mata. Faza yang masih berusia 17 bulan saat itu berkantung mata walau tidak terlalu kentara kalau dilihat sekilas.

Bukan hanya di pencernaan, manifestasi alerginya juga ke kulit. Kulit Faza seringkali kering dan ketika digaruk menimbulkan garis putih, terkesan bersisik. Aku sudah sejak lama menjaga makanannya, bahkan makananku sendiri juga. Karena Faza masih sering menyusu. Susu hipoalergenik juga tidak membantu banyak. Permukaan kulit Faza kala disentuh seperti berbintik kecil dan terasa kasar. Jika ditambah dengan cuaca panas, kulit Faza mulai memerah. Seperti itu dari badan hingga ke paha. Iba melihat Faza tidak nyaman tidur dan bermain. Aku mengganti sabunnya dengan beberapa merk yang katanya sudah teruji secara klinis. Tapi barangkali kulit Faza terbilang amat sangat sensitif, walau dikatakan semua kulit bayi itu sensitif.

DSA menyarankan kami ke sub spesialis alergi. Dari skin prick test Faza punya banyak alergi, aku dan suami harus lebih telaten. Kami juga tidak yakin dengan air tanah yang selama ini kami gunakan untuk mandi. Walau hanya Faza yang terlihat bereaksi berlebihan. Kami mendapat info mengenai produk dari teman di medsos. Awalnya tidak berharap banyak, karena kami sudah gonta ganti produk kosmetik baby yang banyak direkomendasikan para orangtua yang berpengalaman. Ternyata LACTACYD LIQUID BABY berbeda, bukan sekedar kosmetik bayi biasa. Kandungan asam laktat menyeimbangkan PH kulit sensitif bayi. Lactoserum membuat kulit bayi yang sangat sensitif sekalipun menjadi lembut. Aromanya yang lembut membuat terapi kebahagiian tersendiri ketika melihat alergi Faza mulai diminimalisir. Bermain, makan, bahkan tidurnya jauh lebih nyenyak dan nyaman.

Seringkali alergi Faza diperparah dengan diapers rash. Kami tidak lagi bingung gonta ganti merk diapers yang awalnya kami sinyalir sebagai penyebab iritasi. Alergi kulitnya sudah berkurang dan diaper rash-nya justru nyaris pulih. LACTACYD LIQUID BABY sudah diformulasikan sedemikian baik dengan cara pemakaian hanya 2-3 sendok penuh dan diteteskan ke wadah mandi bayi.

Beberapa tips untuk merawat kulit sensitif diambil dari berbagai sumber:

  1. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan.
  2. Hindari bergonta-ganti produk perawatan kulit untuk sekedar mencoba-coba
  3. Hindari hal-hal pemicu alergi atau suspect sekalipun, terutama bagi yang orangtuanya memiliki riwayat alergi.
  4. Gunakan kosmetik bayi yang benar-benar dibutuhkan, hindari yang mengandung alkohol karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit sensitif.
  5. Mengonsumsi madu lokal yang dipasteurisasi dapat mengurangi alergi karena menurut peneitian madu bisa memicu sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi.
  6. Ikuti aturan kulit versi sederhana, yaitu: jika basah, keringkan. Jika kering basahi. Jika berwarna hitam dan terlihat mati, buang (jangan melakukannya sendiri, mintalah bantuan dokter).
  7. Gunakan pakaian yang berbahan lembut dan perhatikan cara mencuci, takaran deterjen dan pewangi yang berebihan justru berefek buruk pada kulit.
  8. Pastikan anda membersihkan lipatan selangkangan, di bawah dagu, dan di balik kulup penis anak yang seringkali menjadi tempat pertumbuhan bakteri.
  9. Untuk perawatan dan pengobatan gunakan produk yang direkomendasikan DSA Anda.
  10. Redakan sebagian nyeri akibat ruam terbuka menggunakan kompres dengan kain yang sudah direndam dengan air hangat yang telah ditetesi LACTACYD LIQUID BABY. Jika mandi, usahakan airnya hangat, bukan panas, karena panas dapat memicu pelebaran pembuluh darah dan membuat gatal semakin parah . Lap untuk menyeka dan handuk mungkin terlalu berat sehingga mencegah kelembaban menguap.

 

Demikian 10 tips yang mungkin bisa membantu mengurangi masalah kuit pada bayi. Kulit bagian yang sangat penting, ia membangun ikatan. Sentuhan mempunyai peran penting dalam membangun kasih sayang. Sentuhan kasih sayang menurunkan kadar hormon stres kortisol dan meningkatkan hormon oksitosin. Bahkan ketika kita tidak lagi menyusui, usahakan tetap mendekap dan mengelus anak. Tugas besar ini melibatkan kulit. Jadi, benar sekali kulit memiliki peran yang sangat penting dalam pengasuhan anak.

Meilissa

Adalah Meilissa, gadis 21 tahun yang saat itu menjadi relawan pasca tsunami di Aceh. Lalu aku seorang gadis yang juga 21 tahun di masa itu. Kami dipertemukan Allah oleh suatu sebab dengan dua belah pikir yang amat bertolak belakang.
“I think I’ll not merried with someone at the future.” Bukanya suatu ketika.

Aku dengan segala prinsip yang masih menjejal otak dan segala idealisme anak muda masa itu, tentu sedikit terkejut. Tapi apalah, kita tidak sedang membahas dalam mengenai ranah yang teramat privasi, begitulah kurasa. Hm, tapi aku cukup tertarik dengan pancingannya. Awalnya ia menanyakan apa aku punya seorang pacar, kujawab apa adanya, hingga hari itu aku belum memproklamirkan seorang pria pun untuk merajai tahta hatiku. Walau, ya, pada dasarnya rasa suka itu ada sejak usia kelas dua setingkat sekolah menengah pertama, dimana aku mengalami masa pubertas dan mulai merasakan kecondongan hati pada lawan jenis.
Berikutya bahasan kami mengenai bagaimana Islam mengatur tentang batasan hubungan antara lelaki dan perempuan sebelum ijab qabul. Ia cukup terkejut kalau seharusnya, sebaiknya tidak ada pacaran sebelum pernikahan. Bagaimana mungkin, bagaimana bisa terjadi saling suka jika tidak dimulai dengan penjajakan sejenis pacaran. Aku jelaskan lagi ta’aruf dan andil Tuhan di bab jodoh. Dengan secuil ilmu yang kudapatkan di kajian-kajian dan diskusi panjang dengar guru-guru, termasuk Umak dan Abak, turut memberi andil mengentalkan prinsip tadi.
“Jadi … kamu akan sungguhan menikahi pria yang akan mengajakmu menikah?” begitulah takjubnya saat itu. Lalu kamu akan rela punya bayi dengan segala konsekuensinya? “yap!” jawabku ringan.  Di otak luguku, yang sudah prinsipil jangan ditawar lagi, apapun ke depannya Allah akan mengokohkanku juga.
“Well, Aini, aku tidak sabar melihatmu benar-benar menemukan pasangan jiwa dan kemudian menikah, kalian akan memiliki anak perempuan yang lucu. Beri dia nama Meilissa, okay?” saat itu aku tergelak. Kami tertawa berdua dan sepuluh hari menarik itu akan kami habiskan dengan bahasan yang ‘aneh’ untuk pertemuan yang singkat.

Meilissa melihat tukang bangunan merokok di sela-sela kerjanya membangun TK yang menjadi proyek kami saat itu, ia serta merta merasa berselera pada sigaret itu dan mencobanya nyaris satu batang.
“Di sini, seorang gadis merokok bukanlah tontonan yang wajar.” Kelitku.
“Baiklah, aku akan berhenti dan kau lihat sampahnya? Di sana membuang sampah sembarangan seperti itu bukanlah tindakan yang wajar.” Sengitnya pula padaku. Kami saling tersenyum. Ya. Harusnya kami juga seperti itu, gumamku.
Mereka juga membagiku beberapa potong sandwich dan snack rendah kalori. Aku dengan seksama memeriksa ingredients-nya. “Ayolah Aini, ini makanan halal karena teman muslimku juga memakan ini. Kami tahu mengenai itu.” Ups, baiklah. Mereka sudah tahu sebelum aku menanyakan “Is it halal?”
Jaman dimana gadget tidak sebernas ini, traveling keliling dunia bukan hal yang bisa dilakukan setiap orang, dimana aku begitu masih hijau dan terang. Aku merasa begitu kentara dan lempang.
“Aku tak akan punya anak.” Lanjut Mei setelah mengatakan ia tak akan menikah. Aku kira ia tidak normal karena barangkali tidak menyukai pria pun. Dia tertawa lepas. Tentu saja ia menyukai pria yang menarik hatinya tapi ia akan menjalani hidup tanpa ikatan yang menurutnya mengerikan. Semacam menikah dan kemudian bercerai, menorehkan trauma dan lain sebagainya. Ia tidak suka teriakan anak-anak, ia benci balon apalagi kalau balon itu tiba-tiba meletus dan membuncahi dadanya. Ia rasa ingin lepas jantung dan mati muda.

Kami saling tertawa lagi dan sedikitpun aku tak ingin menertawakannya yang mungkin akan melukai hatinya. Tapi aku turut prihatin dan sedih sekiranya ia memiliki luka batin yang dalam. Tentu ada musabab ia memiliki prinsip yang begitu bertolak belakang dengan milikku. Tapi sekiranya ia beroleh hidayah, tentu akan bisa mengobati segala luka dan traumanya.

Aku hanya mampu merapal doa dalam hati, akhirnya juga mengatakan maaf, belum tepat setahun perpisahanku dengan Mei, aku menemukan soulmate  dan menikah di usia 21 tahun. Setahun kemudian aku memiliki bayi lelaki dan lima tahun kemudian bayi perempuanku hadir ke dunia. Aku tidak menamakannya Meilissa Hee tapi Hukma Shabiyya. Aku berusaha menjaga fitrahnya, tekadku. Aku harus memberikan yang terbaik dan bukan torehan trauma seperti yang entah siapa berikan untuk Mei.

Mungkin sebuah janji itu tak bisa kupenuhi, Mei. Aku belum siap dengan penyematan nama itu yang akhirnya hingga kini aku masih tidak mencari keberadaanmu, dengan kemudahan teknologi hari ini. Aku belum siap menyapamu kembali dengan mengatakan “Maaf, aku batal memberikan nama itu untuk anak perempuanku.” Tapi aku tentu tetap merapal doa yang sama mengenai hidayah dan semoga kamu tetap beroleh bahagia.
E-mail terakhir kita, aku coba menelusurinya di inbox medicus_84@yahoo.com tapi tenggelam begitu jauh. Eh, kamu mengucapkan selamat atas pernikahanku dan mengingatkan tentang anak perempuan itu “jangan lupa beri dia nama Meilissa. Hahaha…”

Just one more thing

da satu hal lagi yang ingin kuguratkan sebelum kantuk tiba menyapa.

Mungkin memang benar usia membuat seseorang semakin banyak menyesap larutan asam garam kehidupan, merasakan berbagai variasi rasa hidup, tapi kurasa kita bisa mempersingkatnya dengan banyak bergaul. Bertemu banyak orang baru dan berbagi itu, paling mudah dilakukan ketika kita melakukan banyak perjalanan. Petualangan.

Agaknya, itulah salah satu yang masih harus kukejar jauh. Seringkali kubahas saat berduaan dengan Eun Yud. Bukan aku tak bahagia dengan yang kuraih kini, sejak kecil begitu penuh minat dengan polygot. Tapi hanya bahasa Inggris yang masih mampu kupahami alakadarnya. Belajar otodidak dan itu semua tentu bukan tak ada apa-apa. Aku masih menyimpan satu asa tentang sebuah petualangan sebelum waktuku habis di dunia.

Kalau sudah membahas tentang ini, animo yang cukup besar sering tersalurkan melalui perjalanan-perjalanan dengan bermain imajinasi saja. Eun Yud yang paling paham dan dengan cepat mengelus kepala atau menggenggam tangan kecilku sambil berujar “suatu saat ketika anak-anak sudah besar dan punya kesibukan sendiri, kita keliling dunia.”

Tak peduli kapan pun itu akan terwujud, ataukah itu benar-benar akan menjadi nyata, hatiku menggelembung besar sekali. Tak mengapa, sandaran kami Allah yang Maha Mendengar akan selalu memeluk mimpi-mimpiku yang kini menjadi mimpi kami.

Jadi, buat saat ini membuka lembaran-lembaran buku apa saja, berpetualang di dalamnya sambil menikmati cemilan kesukaan adalah hal yang paling menyenangkan.

Lalu jurnal-jurnal keseharianku dengan sikecil akan selalu kuusahakan terdokumentasi agar mereka nanti memiliki bonding yang baik, ketika kami berjauhan buat beberapa waktu nanti dan masa-masa emasnya sudah kami tempa dengan baik, insya Allah. Semoga.

image

image

Minat Fiksi di Bulan Ini

Kata-kata tak dibuat, ia berkembang sendiri. Tiba-tiba tulisan itu menggema begitu saja di otakku. Kalimat itu memang kutipan dialog antara Anne dan Phill di buku ketiga seri Anne of Green Gables.

Entah kapan tepatnya, aku semakinaddict dengan novel klasik. Padahal genre metropop yang baru saja kutuntaskan tak kalah menarik. Tapi setelah menamatkan genre metropop tadi, tak ada keinginan kuat untuk mengulasnya, atau paling tidak untuk memikirkan sususan kalimatnya berulang kali, sebagaimana yang kurasakan setelah menuntaskan novel klasik.

Aku tak ingat persis duduk di kelas berapa saat aku tergila-gila pada Tom Sawyer-nya Mark Twain. Buku itu dipinjamkan tetangga sebelah untuk kakak sulungku yang saat itu mengajar di sebuah tsanawiyah swasta yang baru buka. Buku yang sebenarnya milik pustaka sekolah negeri pertama di kampungku itu, masih dalam ejaan lama. Sampulnya menampilkan tiga bocah yang tak terlalu lucu. Salah satunya mengenakan celanaover all dan kemeja putih yang lengannya dilipat hingga siku. Bocah itu memakai topi jerami.

Tentu saja saat itu aku masih imut sekali, belum lagi duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Tapi aku masih bisa mengingat kaver novel terjemahan itu hingga adegan awal pembuka ceritanya. Tom yang sedang mencuri roti selai dan Bibi Polly yang judes dan ingin terkesan tegas. Masih bisa kuingat seperti apa aku membayangkan postur, kerling mata enerjik Tom dan Bibi Polly yang judes tapi sebenarnya sangat menyayangi Tom.

Yang namanya klasik memang tak lekang dimakan usia. Mungkin sebab itu juga yang membuatnya sulit lekang dari ingatanku. Makanya, waktu aku menemukan novel Pollyanna dan sekuelnya, Pollyanna Grows Up, tiba-tiba saja aku merasa masa-masa kecil penuh petualangan kembali terbentang di hadapanku.

Dulu koleksi Sir Arthur Conan Doyle milikku juga lengkap. Satu per satu hilang tak tahu rimbanya. Kubeli lagi saat kuliah. Dua bulan lalu, aku spontan menariknya lagi dari rak toko buku. Novel Sherlock Holmes dengan penerbit berbeda, tapi cerita di dalamnya sama.

Novel detektif lainnya seperti karya-karya Agatha Christie, terkadang sama menggiurkan. Tapi aku hanya berminat membaca sekali dan tidak terlalu tertarik mengoleksinya. Biasanya rental buku bisa mengeyangkan laparku untuk buku-buku Si Ratu Kejahatan ini. Agatha Christie memang produktif semasa hidupnya. Sampai aku tak habis pikir, bisa-bisanya sarafnya masih normal untuk terus-terusan memikirkan demikian banyak kasus dan alibi, cara melakukan kejahatan dengan bersih, cara menyingkapnya dengan mengejutkan, lengkap dengan hipotesis yang tak boleh ada celah.

Aku juga menemukan karya-karya Lucy M. Montgomery yang memesona. Ia menarikku ke zaman Clifton sebelum ia berganti nama menjadi New London. Suasana alam yang asri dengan empat musim yang tak pernah kurasakan di kehidupan nyataku hingga kini. Gaun-gaun satin berhias renda. Puncak bukit dengan barisan pinus, rumah bergaya klasik yang tak terlupakan, taman kecil yang penuh dengan bunga-bunga petunia, krisan, marigold,lemon verbena, dan sebagian lagi tanaman-tanaman yang tak pernah kutemui wujudnya di daerah tropis tempat ku lahir dan besar.

Hal itu sedikit membuatku kerepotan menanyakannya pada ‘Om Gugel’. Tapi semua itu memang sangat indah dan memesona. Gadis-gadis dengan gaun muslin, topi-topi berhiaskan kuntum bunga. Tentu saja kalau masih ada gadis yang memakainya saat ini, pasti sudah dituding tak beres. Tapi, sebagaimana menonton film klasik itu memesona, seperti itulah nikmatnya membaca ceritanya.

Tentu saja membaca daripada menontonnya lebih membebaskan kita berimajinasi. Wajah-wajah tokohnya tidak harus seperti yang sudah disuguhkan di film, walau sama-sama menggunankan indera penglihatan, di novel, kita lebih imajinatif dan bebas.

Walau gaya penceritaannya sama memikat, antara Elannor H. Porter dan Lucy M. Montgomery  tentu berbeda.  Montgomery cukup banyak mengutip puisi-puisi di dialog para tokohnya. Membuat kesan puitis semakin kental, setelah pembaca disuguhinya dengan deskripsi yang sedikit bertele namun terlalu memesona untuk dilewatkan per kata-nya.

Kembali ke pertanyaan awal, kenapa tiba-tiba aku terlalu banyak merindu? Setiap membaca cerita klasik itu, hatiku menghangat dan kecewa ketika sampai di halaman akhirnya. Sebab aku merasa terlalu tergesa menuntaskannya. Bahkan untuk Snow Country-nya Kawabata, walau aku merasa akan mati bosan pada awal bab-nya, aku tetap saja ingin membaca novel itu sekali lagi.

Baiklah, hunting serial Anne of Green Gables tak dapat dihindarkan. Kemarin aku beruntung menemukan buku-buku itu diturunkan dari rak dan diobral di toko buku terbesar di Indonesia,  aku membelinya hanya dengan merogoh kocek dua puluh ribu rupiah per buku. Tapi sayang, aku terlambat dan hanya memperoleh satu eksemplar sekuel terkhirnya. Anne of Green Gables diterjemahkan ke dalam 36 bahasa,  diadaptasi menjadi film dan komik.

cover buku anna

anne-of-green-gables

 

 

Dokter hewan? Kamu?

 

I’m a veterinerian…

Yap, bukannya tidak menyukai profesi ini sampai aku jarang sekali mengenalkan diri dengan profesi dokter hewan. Tapi karena di sumpah dokter hewan itu ada poin yang berbunyi “Saya akan melaksanakan profesi saya dengan seksama dan mulia,” hm… untuk itu aku menaikkan sebelah alis.

Pada bab II Kewajiban Terhadap Profesi ada pula pasal yang menyebutkan “Dokter Hewan wajib selalu mempertajam pengetahuan, keterampilan dan meningkatkan perilakunya dengan cara mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Kedokteran Hewan.” Aku harus melongo dengan menaikkan kedua alisku. Halooo… aku di sebelah mana ya?

Di pasal 11 lagi “Dokter hewan dianjurkan menulis artikel dalam media massa mengenai Kodekteran Hewan dalam rangka kesejahteraan hewan dan pemiliknya.” Dengan segera kubuka file tulisan-tulisanku. Makjleb! rata-rata catatn remeh temeh dan fiksi. Belum lagi track record menang menulis dengan tema yang sama sekali beda. Tepok jidat!

Owkeh! cukup dulu syalalalalah… sebenarnya aku masih cinta profesi ini sedemikian rupa sampai sekarang pun masih bermain dengan hewan piara dan mengulang-ulang beberapa materi yang aku sukai. Merawat kelinci dan kadang mengobrol dengan Darryl si kucing ‘sok teng’ yang mulai luka berebut betina. Sudah kubilang tak usah berurusan dengan betina kampung ini tapi dia tak pernah mau dengar. Begitulah kucing, malu-malu kucing, patuh di depan di belakang membangkang.Loh? hahaha kok malah curcol mengenai Darryl? hahaha…

Tapi sungguhan, lho, aku ini dokter hewan. Insya Allah setelah kelahiran anak ketiga akan benar-benar kembali ke profesi sesungguhnya. Daaaaan, tanpa mengabaikan my lovely children tentunya *sambil peluk semuanya. Because of you I took a break, kiddos

OLYMPUS DIGITAL CAMERA IMG_5355