Self reminder

Tantangan hari#7 Komunikasi Produktif

Tantangan hari#7

Rabu.
Pagi alhamdulillah lancar. Aku belum bisa mengajak Akib turut membantu, minimal menyapu atau membuka jendela. FYI jendela rumah baru kami ini tidak support untuk melatih anak-anak kami membantu. Ganjalannya sudah pada patah, dan ada beberapa yang kacanya akan runtuh ke bawah. So.. So fragile! Wastafel cuci piring juga belum dibuat. Jadi aku minta Akib menggulung kabel obat nyamuk elektrik saja setiap pagi dan sore menyalakannya. Memasukkan sepeda ke rumah sudah tidak lagi kami wajibkan kerena ruang tengah kami dipakai untuk salat. Biasanya cukup digembok bersama motor di luar. Intinya belum jelas jobdes untuk anak-anak sejak kami menghuni rumah baru. Forum keluarga juga masih seadanya. (more…)

Tantangan hari#3 Komunikasi Produktif

Tantangan Hari#3

Tidak banyak yang bisa kutuliskan hari ini. Sabtu pagi yang dibuka dengan kehebohan anak tengah kami, Biyya. Entah sampai hari keberapa untuk semua kembali normal dan terkendali. Aku tahu pindahan bukan sepenuhnya menyusahkan, toh inilah salah satu cara memotivasi hari-hari ke depan. Memupuk optimisme dan segala macam impian kerap dibangun pada setiap sesuatu yang baru. Semangat! (more…)

Tantangan Hari#1 Komunikasi Produktif

Dikaruniai anak istimewa adalah anugerah tersendiri. Terasa amat disayang, semakin ingin berdekatan penuh keluh kesah dan bertong-tong air mata ingin ditumpahkan, mengadu kepada-Nya. Kalau di tantangan yang lalu aku mencoba komunikasi produktif dengan putri keduaku, Biyya, di tantangan kali ini aku ingin mencatat komunikasiku dengan Sang Imajinator Adiluhung, Akib, sulung kami yang disleksik. (more…)

Makan, tuh, Baik!

 

Suatu ketika aku pernah juga berempati kepada seseorang yang dekat denganku dan Allah berikan pula cobaan melalui suaminya yang sedikit bermasalah. Saat itu ia mengatakan “beruntung kamu, punya suami baik sekali.” karena orang dekat, maka ia sangat kenal dengan suamiku, bukan karena aku suka mengumbar detail apa saja kebaikan suami kepadanya. Aku kemudian berujar pelan dan dalam “Baik kali pun, Kak. Mungkin Allah malah kasih yang baiik sekali, sangking baik dan penyayangnya ya, begitulah. Mungkin Allah benar-benar mengabulkan doa saat Aini meminta suami yang baik, ya?” mengambang? Iya benar. Saat itu berujar pasrah karena sedang diuji kesabaran dari hal lain. (more…)