Self reminder

Aliran Rasa Game Level 2

Andrea Hirata menuliskan dalam sebuh bukunya, mengenai filosofi orang-orang berdasarkan kesukaannya pada kopi. Penyuka kopi pahit memiliki pengalaman hidup keras dan pahit selayak kopi yang disukainya. Narasi akhir ia tuliskan mengenai orang yang tidak suka kopi adalah orang penyia-nyia hidup ini. Haha. Jangan pada protes, it’s not that serious if you had enough sense of humor. (more…)

Tantangan Game level 2 hari ke 4

Tantangan Game level 2 hari ke
#MelatihKemandirian

Memasuki hari keempat. Kesempatan untuk melihat langsung kemandirian Bunda juga belum jelas. Walau hari ini terlihat super dengan ketiga tepatnya keempat anak beserta kak Sari, anak asuh kami yang menginap di rumah, semuanya kuboyong ke kantor NA untuk rapat persiapan pelantikan pengurus. Karena akun Gojek Ayahnya yang punya deposit, akhirnya beliau yang memesankan Go-Car (Naaah, dalam hati, yah mau gimana?) intinya seperti pillow talk kami saat mau memulai game ini, (more…)

Mengurai Kesemrawutan Komunikasi

Aliran Rasa (Game Level 1#Komunikasi Produktif)

Sepuluh hari mencatat bagaimana aku berkomunikasi dengan Sang Imajinator Adiluhung kami. Kemudian hari berikutnya mencoba mengikuti pola berdasarkan sepuluh hari tercatat. Cukup? Tentu saja tidak. Banyak tambal sulam yang mesti aku dan suami lakukan, tapi sedemikian bahagia rasa hati sudah bisa menjalani hal ini. Artinya satu tantangan yang lebih rumit levelnya dibanding batch sebelumnya dimana aku memilih Biyya yang Rumeh dan memiliki celah untuk menjadi penurut sebagai game partner  level 1. (more…)

Tantangan hari#7 Komunikasi Produktif

Tantangan hari#7

Rabu.
Pagi alhamdulillah lancar. Aku belum bisa mengajak Akib turut membantu, minimal menyapu atau membuka jendela. FYI jendela rumah baru kami ini tidak support untuk melatih anak-anak kami membantu. Ganjalannya sudah pada patah, dan ada beberapa yang kacanya akan runtuh ke bawah. So.. So fragile! Wastafel cuci piring juga belum dibuat. Jadi aku minta Akib menggulung kabel obat nyamuk elektrik saja setiap pagi dan sore menyalakannya. Memasukkan sepeda ke rumah sudah tidak lagi kami wajibkan kerena ruang tengah kami dipakai untuk salat. Biasanya cukup digembok bersama motor di luar. Intinya belum jelas jobdes untuk anak-anak sejak kami menghuni rumah baru. Forum keluarga juga masih seadanya. (more…)