Self reminder

PROFESIONALISME

PEKAN KEEMPAT MENJALANI MATRIKULASI Institute Ibu Profesional membuatku kembali mengambil waktu dan merenungkan perjalanan awalku untuk mengambil keputusan menikah, menjadi istri dan kemudian menjadi ibu. Siapapun ia, kupikir, yang sudah seusiaku dan kemudian memulai milestone sekian KM untuk memulai menjadi ibu profesional akan mengatakan usia pernikahan nyaris 12 tahun kemudian usia kini adalah 33 tahun menjadi begitu terlambat mengikuti kuliah ini. Kita tak boleh nerandai-andai karena sebuah hadits mengatakan itu merupakan pintu masuk setan. Adalah demikian elok saat sebelum kita menikah, membekali diri untuk menjadi istri dan ibu, tepat seperti tahapan-tahapan di kelas IIP ini. Lalu menikahlah muda. Itu idealnya kan? Tapi segala yang termaktub sudah ada di sana. Sang Maha Tahu telah mengatur jodoh, pertemuan, dan maut. Sebenarnya selalu tak  ada kata terlambat kan? Tapi bolehkah kukatakan aku telah keluar dari jalur ideal ketika memulai memasuki tahapan-tahapan seperti yang Bu Septi lakukan, tentang segala yang ia jabarkan di materi-materi IIP.

Kabar baiknya aku menikah di usia ideal 21 tahun, kabar lainnya harusnya 12 tahun aku bisa mencapai 4 KM seperti yang dilakukan Bu Septi tapi aku telah membuat celah dan cela terlampau besar. Memaafkan diri ini dan kemudian membenahi, itulah yang harus kulakukan.

Tahapan awal menguasai materi Bunda Sayang baru bisa kulakukan sekarang. Kabar baiknya lagi sebelum menikah aku suka membaca buku parenting dan rumah tangga. Karena aku memang menargetkan diri menikah dini. Tapi itu sama sekali tidak cukup sehingga tahapan awal menjadi bunda tidak maksimal.

Usia 22 tahun kami mulai dianugrahi buah hati, saat itu aku tersus giat belajar mengenai pengasuhan anak secara otodidak dari buku-buku dan diskusi parenting. Bisa saja saat itu aku terkena tsunami informasi, wallahu’alam. Itu berlangsung di tahun kedua menjadi istri, tahun 2006. Karena masih harus duduk di bangku kuliah, aku menyelesaikan studi dan begitu juga suamiku dengan prinsip pengasuhan berbagi tugas dengan suami. Tidak jarang aku harus membawa Akib ke kampus, melibatkannya dengan segala aktivitas kuliahku. Bisa saja saat itu walaupun aku membersamainya, aku belum mengaplikasikan ilmu Bunda Sayang. Walau kami membersamainya tapi apakah itu maksimal atau aku antara ada dan tiada baginya.

Pengasuhan besar tidak aku delegasikan ke siapapun kecuali ayahnya. Penitipan anak beberapa jam dalam seminggu dan makanan yang kuusahakan dibuat sendiri dengan apa yang bisa aku pelajari dari berbagai sarana. Ketika akan hamil Biyya, aku kembali menata waktu dan mendedikasikan diri di rumah. Sebagaimana teori-teori parenting yang berlompatan tanpa tahapan yang runut-aku berdoa pada Allah semoga selalu dibimbing dalam mengasuh dan mendidik anak-anak- akupun melaksanakannya dengan apa adanya, alakadar saja. Hingga hari ini ku merasa itu sangat minim.

Banyak kesempatan berkarir di luar rumah yang aku coba abaikan saat aku mulai menggenggam kertas-kertas berharga bernama ijazah. Dalam hati aku terus menunggu saat yang tepat. Bagiku memang harus ada yang dikorbankan dan itu bukan anak-anak. Bukan waktu bersama keluarga inti. Sejak dulu ada hal semacam itu tertanam di pikiran.

Selanjutnya aku menanamkan bahwa anak-anak bukan penghalang bagiku untuk menjadi produktif dan terus mengembangkan diri, sehingga aku bisa tetap tinggal di rumah dengan bahagia. Tapi saat aku merenung sekarang, apakah tahapan Bunda Sayang telah sukses kulalui? Tidak sama sekali, aku yakin betapa banyak yang kobong, bolong di sana-sini.

 

Sebenarnya pikiran ini muncul ketika Nice Homework ke-4 selesai kukerjakan. Bagaimana mendidik anak beradasarkan fitrahnya. Lalu menelaah Nice Homework ke-1 hingga ke-3. Aku tertinggal ribuan mil sementara tentu saja Bunda-Bunda lain begitu masih sangat muda dan bisa memulai tahapan dengan baik. Ribuan mil ketertinggalanku memang harus dikejar dengan runtut. Tidak terburu-buru. Akupun dengan sabar memulai KM 0 dengan usiaku yang ke-33 tahun. Namun aku memulainya dengan berbeda. Bunda Fasilitator berkata, aku yang paling memahami diri sendiri. Aku dan suami yang paling tahu bagaimana keluarga kecil ini mengayuh sampan di bahtera kali ini. Bulan Juli ini akan 12 tahun usia pernikahan kami.

Sinkronkah semua Nice Homework-ku sejak awal? Setelah berdikusi dengan Bunda Yessy, aku akhirnya harus meluangkan lebih banyak waktu untuk merevisi beberapanya. Lalu harus membuat jadwal lebih detail mengenai daily routine, bangun hingga tidur malam kembali. Untuk bisa merevisi segala planning yang kubuat.

2009 aku menyelesaikan studi profesiku sebagai dokter hewan dan kini 2017. Sekitar 8 tahun aku menahan diri agar tidak tertarik untuk memulai kembali menekuni dunia kedokteran hewan dan penelitian. Lebih fokus kepada pengasuhan dan ilmu tumbuh kembang anak-anak sampai akhirnya Akib yang berusia 10 tahun kerap berdiskusi tajam dengan Bundanya. Semakin hari ia semakin kritis. Terkadang tantangannya agar aku bisa berkarya di luar rumah tidak begitu kugubris. Lain dengan Biyya yang terlihat sangat luwes dan legowo dengan keseharianku. Baginya walau Bunda banyak terlihat lebih berantakan rambutnya ketimbang berjas rapi  dan bersepatu hak tinggi lalu keluar menyetir atau mengendarai motor tapi Bunda tetap hebat membuat guyonan, membuat telur dadar, dan mengajari kakak-kakak panti menulis dan Bahasa Inggris. Biyya bahkan bercita-cita menjadi Bunda nantinya ketika dewasa.

Sementara Akib terus keheranan Bunda berkutat dengan centong, kuali, hanya terkadang mengamati Bunda di depan layar laptop atau membaca buku fiksi, ikut membacanya juga, kemudian dia bertanya lagi sebenarnya Bunda ini siapa, sih? Bukannya Bunda mengaku seorang Dokter Hewan? Masa Bunda tidak bisa begini dan begitu? Mengendarai motor pun Bunda tak bisa. Bunda yang ketika Akib minta sesuatu selalu harus berdiskusi dulu dengan Ayah hanya karena  Bunda tidak bekerja dan tidak menghasilkan lembaran uang. Akib sering kesal Bunda hanya disibukkan dengan adik bayi Faza yang kini berusia 2 tahun.

Aku tidak pernah terpikirkan kecuali ya, mengira-ngira barangkali apa hobinya membaca atau diskusinya dengan teman seusianya membuat Akib begitu terasa ‘lain’. Ketika dia amat mengeluhkan kenapa, sih, Bundaku hanya seorang IRT? Kenapa ibu orang lain terlihat sangat keren sementara Bunda selalu ditempeli adik-adik. Mulai Dik Biyya sampai Dik Faza.

Aku berdiskusi dengan suami tapi jawabannya hari ini barangkali tahapan Bunda Cekatan akan lebih menjawab. Aku bahkan intropeksi diri, malah di sinilah tahapan Bunda sayang yang bolong itu , sehingga sulung kami merasa Bundanya kurang keren.

Ketika membuat Nice Homework ke-3 aku berdiskusi lebih dalam dengan Akib. Ia masih teguh dengan pendirian awalnya bahwa Bunda yang diinginkannya adalah Bunda yang bekerja di luar rumah sesuai dengan bidang yang ditekuninya saat sekolah dulu. Aku berdiskusi dengan Bunda Fasilitator dan mengaitkan dengan pola pikir matrealistis, tapi astaghfirullaah. Alangkah tak baiknya aku ini sebagai Bunda. Bunda Fasilitator mengatakan aku harus hari-hati melabeli Akib. Lalu merenung lagi, aku punya jawaban juga yang menyebabkan Akib memiliki pikiran seperti itu. Hal ini tidak aku tuliskan mungkin barangkali akan ada mudharatnya daripada mendulang manfaat dengan pernyataan tersebut. Jadilah  itu hanya diskusi internal aku, suami, dan Bunda Fasilitator saja.

Walau malam berikutnya aku masih penasaran dan berdiskusi lebih dalam dengan sulung kami itu. Memberinya pandangan-pandangan jika sekiranya Bunda dan Ayah bekerja di luar rumah sekaligus, lalu mencoba menyelami keinginannya lebih dalam. Bahwa apa yang ia andaikan itu tak selalu indah jika dijadikan realita. Entah nalarnya belum sampai, entah memang ia tetap tidak terima, setidaknya aku telah memberinya pandangan betapa beruntungnya ia bisa ditemani Bunda lebih sering.

Baiklah, NHW#4 sudah disetorkan, revisi checklist dan tugas lainnya menanti, terutama pelaksanaan untuk semua planning. Semoga Allah mudahkan dan mohon bantuan semua teman-teman satu angkatan IIP ataupun kakak tingkat di IIP. Semoga menjadi amal bagi teman semuanya, terutama Bu Septi dan seluruh Fasilitator IIP, jazakumullahu khairan katsira.

 

Pengantar NHW#4 yang cukup panjang dari Bunda Aini

Dear Eun Yud

Assalamu’alaikum Eun Yud.
Tema Nice Homework dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional hari ini adalah membuat surat cinta untuk suami. Hah? Surat cinta kenapa prolognya seperti ini? Yap! Tak mengapa kan, ya? Ada beberapa alasan kenapa Aini segamblang ini, Eun Yud. Satu, karena mengikuti kelas matrikulasi ini adalah keinginan Aini yang didukung oleh suami. Suami Aini… kamu, ya Eun Yud. Jadi walaupun Aini akan buka dengan cara seromantis apapun, seformal apapun, yang terbaik adalah terbuka untuk saat ini. Aini sama sekali tidak berpura-pura melankolis kali ini dan kemudain menulis surat untuk kamu. Walau pada akhirnya nanti seiring tuts kibor ini terus diketuk, perasaan ini akan kembali tiba. Hari dimana Aini rutin menulis surat seperti minum obat. Bisa lebih tiga kali sehari. Temali itulah yang mengaitkan komunikasi kita yang terindikasi memiliki ketidakluwesan secara verbal, Eun Yud. Ya… kita memang begitu kan saat itu? Seiring waktu dan saling mengenal secara keseluruhan, menajamkan insting dan indra, menjadi pribadi pembelajar saat nafas masih dikandung badan, kemudian ini membuat kita lebih luwes satu sama lain secara verbal.
Baiklah Eun Yud… here we are. Sejak bergulirnya waktu dan kita pertama sekali diamanahkan Akib, ia gemar dan teramat ahli melipat waktu. Kini si sulung melewati satu dekade. Di tahun pertamanya kita belajar saling menyapa “Ayah-Bunda” untuk membiasakan diri dan sebagai self reminder juga bahwa kita bukan lagi anak-anak melainkan orangtuanya anak-anak, hal ini terkait dengan pembenahan diri yang harusnya makin kita tingkatkan. Walau sehari-hari Aini memanggil Eun Yud ‘Ayah’ saat ini, berteriak dari luar kamar mandi “Yah, sudahkah? Bunda kebelet, nih!” tapi menyapamu ‘Ayah ’ saat berduaan ataupun di surat adalah hal yang canggung bagi Aini. Tapi, ya sudahlah, akan disesuaikan dengan suasana saat lajunya aksara ini membentuk kata-kata selain untuk meyegarkan rumah tangga kita, juga ajang menempa diri Aini menjadi Bunda yang sama-sama kita idamkan, Ibu yang professional.
Setelah alasan pertama tadi, tentu ada alasan keduanya kenapa surat ini sebegitu gamblangnya. Karena ini bukan pertama sekali membuat surat untuk Eun Yud. Membuat surat adalah hobi Aini yang selalu tersalurkan selama ini. Sejak pertama sekali mengenal Eun Yud, kan? Jadi tersenyum sendiri mengingat bahwa hadiah rutin pada ulang tahun pernikahan kita adalah tulisan Aini. Jadi surat kali ini tidak romantis karena biasanya Eun Yud juga sering menerima surat semacam itu minimal setahun sekali. Aini bahagia karena Eun Yud tidak pernah memaksakan kepribadian Aini. Aini bisa jadi diri sendiri di depan Eun Yud, tetap boleh melakukan yang Aini sukai asal tidak melanggar syari’ah dan saat itu Aini selalu merasa penuh dan lengkap di samping Eun Yud. Satu dari sejuta alasan terkuat membersamai kamu. Lalu… sejak sebelum kita disatukan dalam pernikahan, dimana masa perkenalan saat itu Aini kerap melihat Eun Yud adalah pembelajar sejati yang membuat Aini bulat hati mendampingi. Benar tak ada manusia yang sempurna, tapi seorang pembelajar sejati selalu bisa memperbaiki diri kea rah yang jauh lebih baik dan lebih berarti bagi setiap orang di sisinya. Termasuk Aini dan anak-anak adalah yang beruntung telah disatukan di dunia bersama sosok pembelajar sejati. Aini kerap berdoa agar nanti kita disatukan kembali di surge-Nya. Aamiin.
Barangkali masih ada alasan ketiga kenapa surat ini tidak mengharu biru dan berbeda dari surat-surat sebelumnya yang dipenuhi dengan panggilan cinta di setiap awal paragrafnya. Berapa kosa kata panggilan sayang buat ayah anak-anak Aini ini? Sayangnya tidak didokumentasikan dengan seksama sehingga kita tidak pernah tahu ada berapa lembar ianya ketika dibuatkan dalam satu buku. Oh well, Eun Yud, barangkali karena di sini ada unsur tugas jadi barangkali aka nada yang membaca selain Eun Yud. Tapi sebenarnya masih bisa diatur kok, apakah satu orang saja yang membaca atau lebih dari satu orang. Yang pasti tidak banyak. Surat ini untuk Eun Yud, diperuntukkan tetap buat Eun Yud seorang. Tentu kamu yang paling betah membacanya. Sebagaimana betahnya membersamai hari-hari Aini. Terima kasih, ya. Hal itu belum Aini temukan sebuah kata untuk ungkapkan betapa Aini kerap rasakan bahagia saat kita bersama.

Your wife
Aini

Jadwal Harian Bunda

JADWAL HARIAN BUNDA

 

SENIN Time/Period Activity
04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
  05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
SELASA

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
RABU

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Jurnalistik dan Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
KAMIS

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-08.00 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
08.00-09.00 Dhuha/ update blog
09.00-11.30 Kajian rutin
11.30-15.00 Menjemput Biyya/ salat zuhur/ bermain dengan Biyya dan Faza/ Membaca
15-00-16.00 Tidur siang atau evaluasi bacaan quran Biyya
16.00-19.00 Salat asar/persiapan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam/ngobrol santai dengan keluarga/ mengawasi anak-anak menyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar / main dengan Faza kalau dia belum tidur
22.00-04.30 Tidur
JUMAT

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Kelola grup WA PWNA Aceh
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-13.00 Persiapan salat zuhur dan les TOEFL
13.00-17.00 Les TOEFL/ IELTS = perjalanan pulang
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
SABTU

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Tentatif
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-11.30 Memasak Donat atau Pizza dengan Biyya
11.30-17.00 Persiapan ke kantor PWNA/ ke panti asuhan Punge

Diskusi dengan pengurus/ kelas kajian putri/ kajian sabtu sore

17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
MINGGU  04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh / membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.30 Persiapan outdoor dengan anak-anak/ olahraga/ rihlah/ silaturrahim
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ persiapan sekolah anak-anak/ persiapan mengajar
21.00-04.30 Tidur

 

\

 

 

 

 

Adab Menuntut Ilmu

 Sebelum mengeposkan tulisan ini, akan dijelaskan sedikit bahwa ini merupakan catatan kelas matrikulasi Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP Batch #3 Sumut-Aceh). 

 Dengan bismillah, Bunda kembali mengatur waktu, masih dengan debar yang sama saat pertama sekali mempunyai kalian duhai ananda, betapa dirasa beratnya amanah ini. Menjadi Bunda bagi kalian anak-anak yang  telah Allah titipkan. Bunda tahu sebab sangguplah maka Allah berikan, di samping syukur yang terus kami rapalkan, kami pintakan agar selalu dibimbing-Nya mengasuh dan mendidik kalian. Bismillaah Bunda bisa, harus bisa menyiapkan gelas-gelas kosong untuk kerap menimba ilmu, dan entry kali ini adalah materi kuliah bersambung yang disampaikan di IIP Batch 3 dengan sudah seizin fasilitator diposting berseri di blog pribadi dengan harapan bisa mendatangkan manfaat sebanyak-banyaknya untuk yang membacanya, juga sebagai pengingat diri.

 

PROLOG 1

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL

☘☘☘☘
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.
☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Majelis Lukmanul Hakim

Merupakan sebuah kebahagiaan yang tak terperi ketika pasangan kita memiliki kemauan menolong dan bersinergi dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak yang notabene diamanahkan untuk kita berdua, bukan salah satunya, bukan dimanahkan pada ibu saja, bukan pula pada ayah saja. Kali ini fokus pada stigma yang umum terlihat di masyarakat, dimana pengasuhan dan pendidikan anak-anak adalah tugas ibu. Apalagi populernya gaung ‘ibu adalah madrasah pertama bagi anak’, diikuti dengan kalimat ‘tugas utama ayah adalah mencari nafkah’, yang pada akhirnya semakin mengikis peran ayah dalam pendidikan sehari-hari di rumah.
Sebenarnya ini hanyalah sekedar pengantar resume dari pertemuan Majelis Lukmanul Hakim yang digagas oleh komunitas Home Education Aceh pagi tadi 21 Januari 2017 di aula 3 in 1 Coffee, Lampineung. Lalu siapa saya ya, peserta atau anggota komunitas? Hehe… bukan. Saya hanyalah seorang istri yang sedang sumringah, berbunga-bunga dan bahagia karena ‘Partner Segala Hal’ saya dengan semangat yang cukup stabil (saya kurang suka yang menggebu-gebu, jadi kurang seimbang dan terlihat labil) sejak bulan lalu sudah berniat ikut andil dalam pertemuan pertama Majelis Lukmanul Hakim ini yang kemudian sampai hari H, beliau tetap dengan semangat yang sama turut hadir di pertemuan perdana.
Awalnya saya menceritakan buku Ustad Aad (Adriano Rusfi) yang belum saya miliki satu pun (kasihan saya) dan menceritakan pemaparan beliau mengenai pendidikan anak. “Saya melihat/membaca dalam alquran mengenai pendidikan anak. Kemudian saya menemukan satu nama Lukmanul Hakim, dimana nama tersebut pun menjadi salah satu nama surat dalam alquran. Kemudian saya juga menemukan nama Ali Imraan. Membaca lagi bagaimana kisah Ibrahim yang membekali pendidikan Ismail dan masih ada yang lain di dalam alquran. Setelah saya telaah dan teliti lagi, kesemuanya itu jenis kelaminnya laki-laki. Semuanya adalah seorang Ayah. Jadi saya mengambil kesimpulan bahwa pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab seorang Ayah, bukan ibunya. Ibu bertanggung jawab atas pengasuhan anak.”
Tring! Di atas itu adalah intro saya saat pillow talk pada hari saya mengikuti seminar parenting Fitrah Based Education. Saya lanjut memaparkan beberapa hal yang saat itu amat lekat diingatan, karena ada hal-hal yang barangkali lebih detail terlewat oleh saya, sebab sesuatu terjadi saat berlangsungnya seminar yang mengharuskan saya keluar sekitar 40 menit (mungkin lebih) karena mendapat kabar yang mengejutkan, sepupu saya yang sedang dirawat di RS meninggal. Saat kembali ke ruangan fokus saya mulai terpecah dan catatan yang saya buat di note telepon selular tidak tuntas.
Seperti biasa, Eun Yud cukup antusias. Sebagaimana ia selalu memfasilitasi keinginan saya untuk belajar dan turut serta berikhtiar menimba ilmu serta berdoa dalam-dalam agar Allah kerap membimbing kami dalam mendidik dan mengasuh anak-anak. Kita sudah berikrar sejak awal menikah untuk menjadi pribadi pembelajar, bersinergi sepanjang usia, dan berniat bahwa ini upaya kami agar kelak bisa bertemu lagi di Surga-Nya. Karena dalam diskusi panjang kami setiap ada kesempatan, kami sadar apalah kami, bukan seorang alim ulama, bukan pula seorang ahli ibadah. Apa modal kami untuk memiliki anak yang saleh dan saleha? Tentu hanya satu, ikhtiar. Nah, itulah yang kami kerjakan selagi nafas dikandung badan.
Lalu dari sanalah diskusi kami malam ini bermula. Dengan beberapa lembar catatan yang dibawa pulang oleh si ayah. Bunda yang pelupa ini tentu harus mencatat kembali demi mengekalkan ilmu yang bermanfaat tadi. Kami memang sedang berkompetisi siapa yang paling punya kontribusi di dalam keluarga inti dan selanjutnya saling mengapresiasi.
Oh well, ini pengantar yang cukup panjang untuk beberapa poin yang sempat dicatat Sang Kapten kami di Majelis Lukmanul Hakim tadi, semoga bermanfaat terutama untuk kami yang fakir ilmu ini.

Intro
Poin pertama yang disampaikan tentu saja penegasan bahwa Ayah adalah seorang pemimpin, harus memiliki visi dan misi. Seorang Ayah cenderung menggunakan kekuatan finansial untuk mendekatkan dirinya pada anak-anak. Ayah adalah penanggung jawab keluarga yang kemudian akan mentransfer sisi maskulinnya pada anak. Ayah memiliki ego kuat yang mempengaruhi.
Seorang anak selain kuat sosialisasinya, perlu juga dikuatkan individualisasinya, di sinilah pentingnya peran ayah. Ibu biasanya mengajarkan mengenai sosialisasi dan anak yang tidak kuat individualisasinya akan mudah terombang ambing pergaulan, selagi lingkungannya mendukung kebaikan maka ia akan baik dan ketika terpapar pergaulan buruk, ia kan mudah terikut.

Pandangan Islam Tentang Peran Ayah

  • Dalam Alquran ada surat Annisa, tidak ada surat Arrijal, tetapi dalam surat Annisa dikatakan bahwa lelaki adalah pemimpin kaum perempuan.
  • Tugas utama laki-laki adalah menjadi pemimpin. Mencari nafkah adalah penopang kepemimpinan.
  • Setiap turun ayat mengenai perempuan dan anak, maka Rasulullaah mengajarkannya kepada laki-laki.
  • Doa anak akan didapatkan oleh ayahnya jika ayah tersebut mendidik anaknya di waktu kecil. Hal ini sesuai dengan apa yang dilafadzkan dalam doa “Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayaani shaghiraa” sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu aku kecil. Nah, bagaimana kita menyayangi anak kita di waktu kecil?
  • Tugas ayah adalah mendidik anak dan ibu tugasnya mengasuh anak. Melahirkan, menyusui, dan lain-lainnya sudah sangat menguras energi ibu, jika pengasuhan dan pendidikan semuanya dilimpahkan kepada ibu, akhirnya ibu yang kelelahan serta disergap emosi negatif yang memberikan pendidikan untuk anak-anaknya.

Ketika Ayah Lepas Tangan

  • Lahirlah generasi remaja
  • Anak kehilangan ketegasan, tidak berani tampil beda
  • Ibu repot sendiri, frustasi, mudah emosi bahkan bisa jadi depresi.
  • Anak tujuh kali lebih rentan terhadap penyalahgunaan Narkoba.
  • Kurang rasional, tidak mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan.
  • Ayah tidak mendapatkan doa anak.

Percepatan baligh bisa ditekan dengan masalah, ayah perlu memberikan masalah. Dengan memberikan masalah, maka anak akan berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah, tentu saja ayah hanya membimbing tidak mengintervensi setiap tindakan yang dilakukan anak.

Jika Ayah Sibuk

  • Evaluasi kembali sebenarnya kita mencari nafkah untuk apa dan siapa?
  • Jadilah pekerja yang cerdas
  • Jika fisik tak sempat, minimal hati, empati dan perhatian.
  • Gunakan segala sarana komunikasi yang ada.
  • Menangani anak sangat berguna untuk pekerjaan
  • Kenapa kita tidak libatkan saja anak?
  • Jika terpaksa, delegasikan ke ibu.
  • Memberikan permasalahan kepada anak.
    Anak 7 tahun ke atas sudah boleh dberikan permasalahan
    Anak terlebih dahulu sudah dibekali solusi
    Jangan merasa takut membagi permasalahan dengan anak.
  • Jangan lupa tetap memahami dunia anak yang penuh dengan keceriaan
  • Pada dasarnya anak-anak suka dengan permasalahan dan misteri
  • Model pendidikan jangan terlalu mengalah pada zaman dan jangan terlalu mengalah dengan waktu.
  • Pentingnya mematangkan anak.
  • Mastermind dalam sebuah musyawarah diperlukan. (Penjelasannya cukup njlimet ini, intinya keputusan dalam musyawarah harus diayahfikasi terlebih dahulu). Sebuah seni mengarahkan.

Tips Bagi Ayah yang Sibuk

  • Delegasikan kewenangan
  • Keep in touch
  • Konsekuensi learning (Arrum 41)
  • Sebahagian nafkah ke istri (Annisa 34)
    Kesempurnaan terjadi jika ada titik keseimbangan terbentuk. Titik keseimbangan inilah yang harus dicapai.

 

Peran Ayah

  • Man of vission and mission
  • Penanggung jawab keluarga
  • Konsultan pendidikan
  • Sang ego dan individualitas
  • Pembangun sistem berpikir
  • Penegak profesionalisme
  • Supplier maskulinitas
  • ‘The King of Tega’

Pencapaian itu sangat penting, jadi harus ada goal getting dan goal setting bukan sekedar problem solving. Harus ada langkah-langkah menuju tujuan.

Demikian resume pertemuan Para Ayah Hebat pagi tadi. Walau secara pemaparan langsungnya akan sangat menarik, apalagi berkumpulnya para Ayah lengkap dengan cangkir-cangkir kopinya, tadi saat sharing materi ini ke saya terlihat ada binar optimisme dan kebahagiaan di mata Eun Yud. Tentu adanya aura semacam ini karena baru saja mengisi penuh baterai saat berkumpul tadi.  Ada sekitar 50 ayah luar biasa yang berpartisipasi.

Tentu ini amat besar manfaatnya untuk negeri yang pernah terdengar oleh kita kemarin bahwa Indonesia termasuk Fatherless Country karena adanya peningkatan kenakalan remaja, kita dikatakan negeri tak berayah, juga merujuk pada banyaknya single parent wanita. Anak-anak besar tanpa sosok ayah.

Seminar-seminar parenting yang pernah saya datangi menunjukkan fenomena ini masih bertahan, dimana biasanya ayah atau kaum lelaki yang datang hanya segelintir saja, kalau sudah membicarakan pengasuhan dan pendidikan anak, kaum perempuan yang merasa wajib untuk hadir.
Majelis Lukmanul Hakim ini sangat direkomendasikan untuk para ayah ataupun calon ayah. Termasuk untuk para paman yang menjadi wali para ponakannya ketika mereka membutuhkan figur seorang ayah, misalkan ayah mereka menghadap Allah lebih cepat.

 

Akan ada sensasi yang berbeda saat para ayah yang memiliki misi sama, yaitu untuk memulai penguatan dari rumah, duduk semeja. Langkah seperti ini sudah harus dimulai dan gaungnya harus terus ditingkatkan. Hal sekecil apapun itu akan bisa menyelamatkan generasi kita. Bagi saya ini adalah kegiatan yang terlihat kecil tapi berdampak besar seperti yang pernah disebutkan oleh Pak Abdul Mu’ti, jangan pernah remehkan kaderisasi keluarga. Jika keluarga hancur, kehancuran negara tinggal menunggu waktu saja. Ini merupakan strategi longitudinal, yakni mendidik anak-anak sekarang, dimana ke depannya mereka-mereka inilah yang akan menjadi orangtua.

Semoga dimudahkan-Nya. Aamiin ya, Rabb.

 

Waktunya menerapkan apa yang sudah didiskusikan tadi. Semoga para ayah di Majelis Lukmanul Hakim tetap terjaga semangatnya.