Self reminder

Catatan Senggang

Masih dalam perjalanan ke Gedung Dakwah Muhammadiyah. Rapat dengan teman-teman dan kajian. Ibu negara yang biasanya dikawal hari ini harus blusukan dengan angkutan umum. Eun Yud dan Uncu masih dikarantina. Si Abang Naufal masih ada kelas. Jadi Bunda sudah di jalan menuju ke lokasi dengan labi-labi jurusan favorit. Agak canggung tanpa Faza, jadi tidak ada bahan bacaan juga, melirik ke penumpang lainnya yang macho dan rada garang, di sini barangkali sudah dikategorikan kota ya, walau bagi Bunda ini mah, masih di seputaran Gampong, kita masih boleh saling sapa dan menghalau tabiat individualistik karena toh tidak sehectic di kota-kota besar.

Kepala berbenturan ide dan bising sendiri bercakap-cakap. Kalau ada Faza tentu lain ceritanya.

Pemuda di depan Bunda merokok, tapi tangan kanannya terkulai sepertinya bukan cacat bawaan tapi patah. Dari kesal karena rokoknya yang masih mengepul, Bunda ingin mendoakan semoga diberi hidayah agar tidak lagi merokok di tempat umum, tapi paling tidak ada usaha juga menunjukkan Bunda tidak suka asapnya dengan menutup hidung dan terbatuk.

Mengingat anak-anak dan Eun Yud yang sedang sakit, sejak beberapa hari sedih saja, mau sedang main atau bekerja, air mata ngalir sendiri. Berdoa lekas waktu berlari dan obat-obatan atau suplemen yang dikonsumsi lekas bekerja, semua sembuh seperti sediakala.

Nah, sediakala… sementara pemuda di depan Bunda seolah tak lagi dapat berdoa hal yang sama. Patah tulang atau semacam apalah itu, akan membuat cacat permanen di tangan kanannya. Bunda bersyukur ternyata masih bisa berdoa dan berharap kesembuhan yang sesungguhnya.

Melepas pandang ke luar jendela labi-labi dan menemukan salah satu titik proyek fly over Kota Banda Aceh masih dalam pengerjaan dan memaksa labi-labi berbelok mencari jalan alternatif. Membatin kapan ini akan selesai dan warga bisa bepergian keliling dengan nyaman lagi. Ruko-ruko bisa kembali menggeliat menarik pembeli tanpa harus disesaki bisingnya proyek dan debu polusi. Lagi-lagi waktu yang mengambil porsi peran paling besar. Mencintai proses tiba-tiba saja harus menjadi keharusan.

Tepat pukul 13.28 Bunda sampai di lokasi pertemuan. Panas yang tadi menyerigai garang agaknya sedikit meredup.

Saatnya menutup gadget yang sedari tadi Bunda pakai untuk mencatat apa saja aksara yang berkata-kata dalam kepala. Kembali ke dunia nyata dan menyapa Pak Wan security di Gedung Dakwah Muhammadiyah.

Rekam jejak 24 sept 2016♥0

Ketika Aku Berada di Atas Angin

Ketika aku berada di atas angin

Ketika aku berada di atas angin
Adakah satu dua orang yang berucap ingatkan aku untuk kembali menepaki tanah

Ketika aku berada di atas angin
Adakah sepasang tangan yang rela merangkulku dengan setulus hati lalu menuntunku untuk kembali ke bawah

Ketika aku berada di atas angin
Adakah benang merah tetap mengait mesra pada kucuran nadiku dengan penuh cinta atau mereka jengah karenaku kerap tengadah

Ketika aku berada di atas angin
Melampaui batas diriku
Dari atas tampak oleh pandanganku betapa semua mengecil

Adakah lambaian tangan yang sayup memanggilku pulang
Atau sepasang tangan penuh cinta lembut melambai menggumamkan “Nak…”

Atau sepasang tangan yang dimiliki jiwa lapang tersebut hanya tersenyum dari bawah

Mengernyit melihat silaunya apa yang kudapatkan
Walau hati tak pernah ragu mereka turut bahagia
Saat aku berada di atas angin
Sepasang binar cinta memandangiku bangga tapi lambaian tangannya tak menyuruhku turun

Ketika aku berada di atas angin
Dielukan dipuji-pujikan
Dipenuhi kenangan sebuah perjuangan tentang betapa sulitnya terbang
Mozaik-mozaik perjuangan dengan lembaran-lembaran tangan dan wajah
Sebagian wajah memudar hilang
Sebagian lagi tampak terang

Ketika aku berada di atas angin
Mengoyak batas angan
Menyemburat euforia
Melupakan siapa sebab kuhadir ke dunia
Cukup tahu saja untuk siapa aku ada

Ketika saat itu…
Kukerat kata agar tak lupa