Self reminder

NHW#6

_NICE HOMEWORK #6_

*BELAJAR MENJADI  MANAJER KELUARGA HANDAL*

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal.

Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya. (more…)

NHW#5

Setelah minggu kelima Matrikulasi Institute Ibu Profesional, baru kali ini meminta dispensasi pengumpulan Nice Homework. Walaupun Nice Homework sebelumnya tidak bisa dikatakan rampung dengan sempurna, karena setiap kali selesai mengumpulkan, ada revisi di sana-sini. Bunda Fasilitator dengan sabar membimbing dan meladeni pertanyaan-pertanyaan saya seputar Ibu Profesional dan proses matrikulasi ini. Adapun revisi biasanya saya diminta menyimpan kembali dan kemudian dilaksanakan setahap demi setahap. Sebenarnya ada tugas lain selain NHW yang harus saya rampungkan, makanya NHW#5 tertunda (hehe… ini semacam indikasi ngeles). Jadi setelah NHW#4 kita membuat KM milestone pencapaian-pencapaian tahap belajar dan muncul pula istilah akselerasi atau bahkan ketertinggalan, saya mulai menakar diri dan merasa ketertinggalan saya barangkali terlampau jauh. Tapi tetap harus optimis sebagai ibu yang ingin profesional membina buah hati dan juga mewujudkan keluarga yang sesantiasa memberi kontribusi untuk umat. Saya semakin banyak mensugesti diri dan berusaha tetap komit dalam segala tahap walau banyak yang harus dibenahi, jangan pernah menyerah, batin saya. Adapun setelah NHW#4 tugas saya adalah membuat jadwal harian lebih rinci dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dikarenakan jadwal seminggu tidak tetap, ada beberapa hari yang harus disesuaikan, tidak hanya sekedar membuat jadwal satu hari, saya membuat jadwal selama seminggu secara detail. Berikutnya tentu saja berdampak ke Checklist harian yang saya buat di NHW#3, maka panjanglah ceritanya.

Alhamdulillah walau tidak sesempurna yang tertulis di jadwal atupun checklist indikator, hari-hari kian terarah. Tidak sedikit yang melenceng dari jadwal, banyak pula checklist yang tidak dapat diconteng, namun tidak ada lagi yang namanya kocar-kacir dan ngos-ngosan mengatur waktu. Tidak ada lagi yang namanya tak sempat, sibuk berat, bingung bin galau karena kita sudah memberikan skala prioritas terhadap tugas harian, mingguan, dan bulanan. Adapun yang tak terkerjakan atau tertinggal tidak sampai jauh keteteran seperti sebelumnya, saat kita tidak meng-arrange waktu dengan baik. Paling melenceng sedikit dan beberapa jengkal dari target yang telah ditentukan. Bahkan masih bisa merasakan nikmatnya hablumminallah kembali walau tidak seperti saat sebelum menikah dulu barangkali durasinya berbeda. Maka akan kembali bertahap mengejar keinginan seperti dulu lagi beribadah dengan khusuk dengan durasi yang cukup lama. Tidak terpikir anak yang merengek minta ini dan itu, atau menarik pakaian kita, merobek mushaf saat tilawah, terbangun minta minum tengah malam, hingga minta dikelonin kembali. Namun memang sebenarnya kalaupun itu ada, sebagai jihad kita di rumah Allah pun sudah janjikan pahala, asalkan ikhlas dan tulus mengerjakannya.

Barangkali tidak terpancing bisikan galau, ‘ah, saya tidak mau membuat target yang tidak mungkin saya capai, yah … yang mungkin-mungkin saja’. Saya pun membuat di jadwal harian salat malam setiap harinya. Di sana dituliskan hari dimulai dengan qiyamullail dilanjutkan tilawah hingga menjelang fajar dan dilanjutkan dengan subuh sebagai penutupnya. Memang selama dua minggu dijalani, hal tersebut tidak setiap harinya dapat terlaksana. Namun jauh hari sebelumnya ketika target itu tidak dibuat, saya pernah menjalani hari berbulan-bulan dengan melewati sepertiga malam tanpa qiyamullail satu kalipun. Begitu pun dhuha, lalu terlampauilah hari-hari penuh dengan ketergesaan dan rasa sesal. Untuk mengerjakan hal dunia tidak selesai, akhiratpun keteteran. Intinya jadilah saya idividu tidak produktif. Sementara saat ini Alhamdulillah saya lebih percaya diri, secara bertahap akan sampai pada tujuan asalkan saya tetap komitmen mengayuh sepeda kehidupan dan telah mengamati peta perjalanan ke arah tujuan tersebut. Ada persimpangan ataupun tempat singgah dimana saya harus meminyaki rantai, mengganti onderdil yang aus atau bahkan dengan usaha keras saya bisa mendapatkan kendaraan yang lebih kencang dan nyaman, namun tentu saja saya harus memantaskan diri memilikinya. Belajar cara merawat dan menggunakannya, jangan sampai ketika berganti kendaraan yang lajunya lebih cepat, saya justru jatuh ke jurang, salah arah, atau bahkan crash di tengah jalan. Naudzubillah min dzalik, Allah sebaik-baik pelindung.

Menilik NHW#3 mulai dari surat yang saya buat untuk Eun Yud yang berarti di sana tertulis apa yang paling membuat hati kami terpaut, yaitu tentang takad yang kuat untuk terus beringingan belajar segala hal dalam universitas kehidupan ini. Lalu tentang anak-anak dan segala potensi mereka, dimana Akib lebih ke arah audio visual dan imajinatif, Biyya yang ramah Sang Kinestetis, lalu Faza akan dipandu oleh kedua kakaknya, barangkali dari sana kita bisa sama-sama mendesain Metode Pembelajan dan Kurikulum di rumah, untuk kemudian melakukan komunikasi dengan guru-guru mereka di sekolah formal. Bismillairrahmanirrahiim.

Well, NHW#5… Here we go

Design Pembelajaran dan Kurikulum Sekolah Rumah “Taman Kelinci”

Sebenarnya pemilihan nama di atas tidak akan banyak hubungannya dengan design yang dirancang atau bahkan beberapa sudah pernah dilaksankan di rumah kami. Tapi, putri tengah kami memberi nama sekolah rumah kami dengan nama di atas, Sekolah Rumah Taman Kelinci. Ingin sekali duduk bersama untuk merembukkan apa yang baik untuk dijadikan nama, tapi akan memakan lebih banyak waktu dan tentu saja perdebatan antara Akib dan Biyya (Faza belum terlibat dalam hal ini, karena ia baru tahu berdebat dalam rangka berebut gelembung sabun, hehe) sementara Akib tentu saja Bunda sudah tahu, ia akan memberi nama dengan hewan kegemarannya pula, Beruang Emas. Maka bisa-bisa namanya menjadi Goldbear Family HomeSchooling. Biyya akan bergidik ngeri dan jejeritan, maka perdebatan akan dimuali dan berakhir di teras rumah untuk abang beradik itu. Merenung berdua, apakah yang mereka perdebatkan itu cukup pantas dana pa manfaatnya.

Peraturan di Sekolah Taman Kelinci

  1. Perbanyak pelukan
  2. Saling memuji dan mengapresiasi segala pencapaian yang baik, walau sekecil apapun.
  3. Berusaha mengalah dan meninggalkan perdebatan yang tidak penting.
  4. Tidak bersuara tinggi.
  5. Berlomba dalam kebaikan dan kedisipinan (terutama disiplin beribadah).
  6. Memberi teladan yang baik untuk Faza sebagai batita yang paling peniru di rumah untuk saat ini.
  7. Bercerita permasalahan di luar rumah
  8. Berbagi cerita inspiratif di rumah.
  9. Menjaga kebersihan diri dan kamar sendiri.
  10. Menjaga dan merawat benda milik sendiri.
  11. Melaksanakan to do list yang sudah dibuat bersama mulai bangun hingga tidur malam ( list sudah ditempel di Mading rumah dan silakan diconteng sendiri )

 

Desain pembelajaran untuk Akib (Audio Visual)

  • Materi-materi yang sulit dimengerti akan dicarikan gambarnya di internet, kemudian diprint dan ditempel di Mading Pribadi Akib
  • Mencari dan mengunduh video di Youtube mengenai materi yang sulit dimengerti oleh Akib
  • Akib boleh mengakses program Corel Draw, Sketch Up, Smooth Draw, dan Photoshop di Laptop Ayah atau Bunda jika laptop tersebut sedang tidak digunakan untuk kerja.
  • Bunda membacakan kembali materi yang sudah dipelajari di sekolah kemudian berdialog dengan Akib (metode cerita, dilaksanakan bada magrib menjelang isya).
  • Tanya jawab dengan Narsum setelah tausiyah magrib (Materi seputar adab dan ibadah)
  • Bekerjasama dengan guru mentoring jumat dab Bunda mengulang materi yang disampaikan di rumah (Akib boleh memulai cerita atau Bunda bertanya).
  • Hari gawai sabtu-minggu diusahakan menonton satu video tausiyah atau murajaah hafalan sebelum memulai main game dll.
  • Latihan memanah seminggu sekali (belum dimulai, sedang observasi tempat, waktu dan mentor).
  • Buku baru sebulan sekali (dianjurkan meresensi dengan tulisan jika selama ini hanya mengulas secara verbal).
  • Bermain outdoor di akhir pekan. Laut, taman, silaturrahim dengan keluarga.

Metode Pembelajaran Untuk Biyya (Kinestetis)

  • Materi yang sulit dimengerti akan diulang langsung saat pulang sekolah sambil bermain dengan Faza atau saat di Dayah bersama kakak-kakak sambil bermain (Biyya bersekolah half day dan ikut Bunda mengajar setelah pukul 11.00).
  • Menjaga komitmen Biyya yang selama ini sudah tekun dan memiliki tekad kuat untuk lancar mengaji. Tipikal Biyya mudah termotivasi, jadi Bunda harus lebih piawai mencari diksi agar Biyya tetap semangat mengaji.
  • Mengingatkan komitmennya untuk disiplin beribadah (terutama salat 5 waktu), sebisa mungkin diulang perjanjian Bunda dan Biyya, jika Biyya tidak langsung mengambil wudhu dipanggilan kedua, Biyya membolehkan Bunda menyentil telinganya.
  • Meluangkan waktu bersama Biyya untuk membuat donat atau pizza seminggu sekali (hari sabtu pukul 11.30).
  • Membacakan buku, mengajari Biyya storytelling di sela-sela membaca buku.
  • Biyya tidak diberikan pelukan selama satu hari jika mulai malas-malasan untuk mengerjakan to do list-nya (sudah ditempel di Mading ruang tengah).
  • Latihan pencak silat seminggu sekali di Gedung Dakwah Muhammadiyah Nomor 7 (Bunda senantiasa harus mengingatkan diri bahwa Biyya tidak boleh dilarang sepenuhnya dan secara frontal ketika ia mulai melatih gerakan-gerakan pencak silatnya di rumah atau saat kami berjalan-jalan akhir pekan).

Metode Pembelajaran Untuk Faza (Sang Bijaksana belum terlalu jelas cara belajar yang cocok)

  • Memberikan teladan yang baik dalam berkata-kata
  • Banyakkan pelukan, ciuman, dan berbicara dengan lugas dan jelas
  • Perdengarkan murattal lebih sering.
  • Bacakan buku lebih sering.

Barangkali hanya ini untuk permulaan saja, design yang saya buat untuk ketiga buah hati dan seklaigus untuk saya dan suami agar bisa menyesuaikan dengan jadwal anak-anak. Semoga mampu menjalankannya dan bermanfaat, terutama bagi keluarga kami.

 

-Bunda Aini-

PROFESIONALISME

PEKAN KEEMPAT MENJALANI MATRIKULASI Institute Ibu Profesional membuatku kembali mengambil waktu dan merenungkan perjalanan awalku untuk mengambil keputusan menikah, menjadi istri dan kemudian menjadi ibu. Siapapun ia, kupikir, yang sudah seusiaku dan kemudian memulai milestone sekian KM untuk memulai menjadi ibu profesional akan mengatakan usia pernikahan nyaris 12 tahun kemudian usia kini adalah 33 tahun menjadi begitu terlambat mengikuti kuliah ini. Kita tak boleh nerandai-andai karena sebuah hadits mengatakan itu merupakan pintu masuk setan. Adalah demikian elok saat sebelum kita menikah, membekali diri untuk menjadi istri dan ibu, tepat seperti tahapan-tahapan di kelas IIP ini. Lalu menikahlah muda. Itu idealnya kan? Tapi segala yang termaktub sudah ada di sana. Sang Maha Tahu telah mengatur jodoh, pertemuan, dan maut. Sebenarnya selalu tak  ada kata terlambat kan? Tapi bolehkah kukatakan aku telah keluar dari jalur ideal ketika memulai memasuki tahapan-tahapan seperti yang Bu Septi lakukan, tentang segala yang ia jabarkan di materi-materi IIP.

Kabar baiknya aku menikah di usia ideal 21 tahun, kabar lainnya harusnya 12 tahun aku bisa mencapai 4 KM seperti yang dilakukan Bu Septi tapi aku telah membuat celah dan cela terlampau besar. Memaafkan diri ini dan kemudian membenahi, itulah yang harus kulakukan.

Tahapan awal menguasai materi Bunda Sayang baru bisa kulakukan sekarang. Kabar baiknya lagi sebelum menikah aku suka membaca buku parenting dan rumah tangga. Karena aku memang menargetkan diri menikah dini. Tapi itu sama sekali tidak cukup sehingga tahapan awal menjadi bunda tidak maksimal.

Usia 22 tahun kami mulai dianugrahi buah hati, saat itu aku tersus giat belajar mengenai pengasuhan anak secara otodidak dari buku-buku dan diskusi parenting. Bisa saja saat itu aku terkena tsunami informasi, wallahu’alam. Itu berlangsung di tahun kedua menjadi istri, tahun 2006. Karena masih harus duduk di bangku kuliah, aku menyelesaikan studi dan begitu juga suamiku dengan prinsip pengasuhan berbagi tugas dengan suami. Tidak jarang aku harus membawa Akib ke kampus, melibatkannya dengan segala aktivitas kuliahku. Bisa saja saat itu walaupun aku membersamainya, aku belum mengaplikasikan ilmu Bunda Sayang. Walau kami membersamainya tapi apakah itu maksimal atau aku antara ada dan tiada baginya.

Pengasuhan besar tidak aku delegasikan ke siapapun kecuali ayahnya. Penitipan anak beberapa jam dalam seminggu dan makanan yang kuusahakan dibuat sendiri dengan apa yang bisa aku pelajari dari berbagai sarana. Ketika akan hamil Biyya, aku kembali menata waktu dan mendedikasikan diri di rumah. Sebagaimana teori-teori parenting yang berlompatan tanpa tahapan yang runut-aku berdoa pada Allah semoga selalu dibimbing dalam mengasuh dan mendidik anak-anak- akupun melaksanakannya dengan apa adanya, alakadar saja. Hingga hari ini ku merasa itu sangat minim.

Banyak kesempatan berkarir di luar rumah yang aku coba abaikan saat aku mulai menggenggam kertas-kertas berharga bernama ijazah. Dalam hati aku terus menunggu saat yang tepat. Bagiku memang harus ada yang dikorbankan dan itu bukan anak-anak. Bukan waktu bersama keluarga inti. Sejak dulu ada hal semacam itu tertanam di pikiran.

Selanjutnya aku menanamkan bahwa anak-anak bukan penghalang bagiku untuk menjadi produktif dan terus mengembangkan diri, sehingga aku bisa tetap tinggal di rumah dengan bahagia. Tapi saat aku merenung sekarang, apakah tahapan Bunda Sayang telah sukses kulalui? Tidak sama sekali, aku yakin betapa banyak yang kobong, bolong di sana-sini.

 

Sebenarnya pikiran ini muncul ketika Nice Homework ke-4 selesai kukerjakan. Bagaimana mendidik anak beradasarkan fitrahnya. Lalu menelaah Nice Homework ke-1 hingga ke-3. Aku tertinggal ribuan mil sementara tentu saja Bunda-Bunda lain begitu masih sangat muda dan bisa memulai tahapan dengan baik. Ribuan mil ketertinggalanku memang harus dikejar dengan runtut. Tidak terburu-buru. Akupun dengan sabar memulai KM 0 dengan usiaku yang ke-33 tahun. Namun aku memulainya dengan berbeda. Bunda Fasilitator berkata, aku yang paling memahami diri sendiri. Aku dan suami yang paling tahu bagaimana keluarga kecil ini mengayuh sampan di bahtera kali ini. Bulan Juli ini akan 12 tahun usia pernikahan kami.

Sinkronkah semua Nice Homework-ku sejak awal? Setelah berdikusi dengan Bunda Yessy, aku akhirnya harus meluangkan lebih banyak waktu untuk merevisi beberapanya. Lalu harus membuat jadwal lebih detail mengenai daily routine, bangun hingga tidur malam kembali. Untuk bisa merevisi segala planning yang kubuat.

2009 aku menyelesaikan studi profesiku sebagai dokter hewan dan kini 2017. Sekitar 8 tahun aku menahan diri agar tidak tertarik untuk memulai kembali menekuni dunia kedokteran hewan dan penelitian. Lebih fokus kepada pengasuhan dan ilmu tumbuh kembang anak-anak sampai akhirnya Akib yang berusia 10 tahun kerap berdiskusi tajam dengan Bundanya. Semakin hari ia semakin kritis. Terkadang tantangannya agar aku bisa berkarya di luar rumah tidak begitu kugubris. Lain dengan Biyya yang terlihat sangat luwes dan legowo dengan keseharianku. Baginya walau Bunda banyak terlihat lebih berantakan rambutnya ketimbang berjas rapi  dan bersepatu hak tinggi lalu keluar menyetir atau mengendarai motor tapi Bunda tetap hebat membuat guyonan, membuat telur dadar, dan mengajari kakak-kakak panti menulis dan Bahasa Inggris. Biyya bahkan bercita-cita menjadi Bunda nantinya ketika dewasa.

Sementara Akib terus keheranan Bunda berkutat dengan centong, kuali, hanya terkadang mengamati Bunda di depan layar laptop atau membaca buku fiksi, ikut membacanya juga, kemudian dia bertanya lagi sebenarnya Bunda ini siapa, sih? Bukannya Bunda mengaku seorang Dokter Hewan? Masa Bunda tidak bisa begini dan begitu? Mengendarai motor pun Bunda tak bisa. Bunda yang ketika Akib minta sesuatu selalu harus berdiskusi dulu dengan Ayah hanya karena  Bunda tidak bekerja dan tidak menghasilkan lembaran uang. Akib sering kesal Bunda hanya disibukkan dengan adik bayi Faza yang kini berusia 2 tahun.

Aku tidak pernah terpikirkan kecuali ya, mengira-ngira barangkali apa hobinya membaca atau diskusinya dengan teman seusianya membuat Akib begitu terasa ‘lain’. Ketika dia amat mengeluhkan kenapa, sih, Bundaku hanya seorang IRT? Kenapa ibu orang lain terlihat sangat keren sementara Bunda selalu ditempeli adik-adik. Mulai Dik Biyya sampai Dik Faza.

Aku berdiskusi dengan suami tapi jawabannya hari ini barangkali tahapan Bunda Cekatan akan lebih menjawab. Aku bahkan intropeksi diri, malah di sinilah tahapan Bunda sayang yang bolong itu , sehingga sulung kami merasa Bundanya kurang keren.

Ketika membuat Nice Homework ke-3 aku berdiskusi lebih dalam dengan Akib. Ia masih teguh dengan pendirian awalnya bahwa Bunda yang diinginkannya adalah Bunda yang bekerja di luar rumah sesuai dengan bidang yang ditekuninya saat sekolah dulu. Aku berdiskusi dengan Bunda Fasilitator dan mengaitkan dengan pola pikir matrealistis, tapi astaghfirullaah. Alangkah tak baiknya aku ini sebagai Bunda. Bunda Fasilitator mengatakan aku harus hari-hati melabeli Akib. Lalu merenung lagi, aku punya jawaban juga yang menyebabkan Akib memiliki pikiran seperti itu. Hal ini tidak aku tuliskan mungkin barangkali akan ada mudharatnya daripada mendulang manfaat dengan pernyataan tersebut. Jadilah  itu hanya diskusi internal aku, suami, dan Bunda Fasilitator saja.

Walau malam berikutnya aku masih penasaran dan berdiskusi lebih dalam dengan sulung kami itu. Memberinya pandangan-pandangan jika sekiranya Bunda dan Ayah bekerja di luar rumah sekaligus, lalu mencoba menyelami keinginannya lebih dalam. Bahwa apa yang ia andaikan itu tak selalu indah jika dijadikan realita. Entah nalarnya belum sampai, entah memang ia tetap tidak terima, setidaknya aku telah memberinya pandangan betapa beruntungnya ia bisa ditemani Bunda lebih sering.

Baiklah, NHW#4 sudah disetorkan, revisi checklist dan tugas lainnya menanti, terutama pelaksanaan untuk semua planning. Semoga Allah mudahkan dan mohon bantuan semua teman-teman satu angkatan IIP ataupun kakak tingkat di IIP. Semoga menjadi amal bagi teman semuanya, terutama Bu Septi dan seluruh Fasilitator IIP, jazakumullahu khairan katsira.

 

Pengantar NHW#4 yang cukup panjang dari Bunda Aini

Dear Eun Yud

Assalamu’alaikum Eun Yud.
Tema Nice Homework dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional hari ini adalah membuat surat cinta untuk suami. Hah? Surat cinta kenapa prolognya seperti ini? Yap! Tak mengapa kan, ya? Ada beberapa alasan kenapa Aini segamblang ini, Eun Yud. Satu, karena mengikuti kelas matrikulasi ini adalah keinginan Aini yang didukung oleh suami. Suami Aini… kamu, ya Eun Yud. Jadi walaupun Aini akan buka dengan cara seromantis apapun, seformal apapun, yang terbaik adalah terbuka untuk saat ini. Aini sama sekali tidak berpura-pura melankolis kali ini dan kemudain menulis surat untuk kamu. Walau pada akhirnya nanti seiring tuts kibor ini terus diketuk, perasaan ini akan kembali tiba. Hari dimana Aini rutin menulis surat seperti minum obat. Bisa lebih tiga kali sehari. Temali itulah yang mengaitkan komunikasi kita yang terindikasi memiliki ketidakluwesan secara verbal, Eun Yud. Ya… kita memang begitu kan saat itu? Seiring waktu dan saling mengenal secara keseluruhan, menajamkan insting dan indra, menjadi pribadi pembelajar saat nafas masih dikandung badan, kemudian ini membuat kita lebih luwes satu sama lain secara verbal.
Baiklah Eun Yud… here we are. Sejak bergulirnya waktu dan kita pertama sekali diamanahkan Akib, ia gemar dan teramat ahli melipat waktu. Kini si sulung melewati satu dekade. Di tahun pertamanya kita belajar saling menyapa “Ayah-Bunda” untuk membiasakan diri dan sebagai self reminder juga bahwa kita bukan lagi anak-anak melainkan orangtuanya anak-anak, hal ini terkait dengan pembenahan diri yang harusnya makin kita tingkatkan. Walau sehari-hari Aini memanggil Eun Yud ‘Ayah’ saat ini, berteriak dari luar kamar mandi “Yah, sudahkah? Bunda kebelet, nih!” tapi menyapamu ‘Ayah ’ saat berduaan ataupun di surat adalah hal yang canggung bagi Aini. Tapi, ya sudahlah, akan disesuaikan dengan suasana saat lajunya aksara ini membentuk kata-kata selain untuk meyegarkan rumah tangga kita, juga ajang menempa diri Aini menjadi Bunda yang sama-sama kita idamkan, Ibu yang professional.
Setelah alasan pertama tadi, tentu ada alasan keduanya kenapa surat ini sebegitu gamblangnya. Karena ini bukan pertama sekali membuat surat untuk Eun Yud. Membuat surat adalah hobi Aini yang selalu tersalurkan selama ini. Sejak pertama sekali mengenal Eun Yud, kan? Jadi tersenyum sendiri mengingat bahwa hadiah rutin pada ulang tahun pernikahan kita adalah tulisan Aini. Jadi surat kali ini tidak romantis karena biasanya Eun Yud juga sering menerima surat semacam itu minimal setahun sekali. Aini bahagia karena Eun Yud tidak pernah memaksakan kepribadian Aini. Aini bisa jadi diri sendiri di depan Eun Yud, tetap boleh melakukan yang Aini sukai asal tidak melanggar syari’ah dan saat itu Aini selalu merasa penuh dan lengkap di samping Eun Yud. Satu dari sejuta alasan terkuat membersamai kamu. Lalu… sejak sebelum kita disatukan dalam pernikahan, dimana masa perkenalan saat itu Aini kerap melihat Eun Yud adalah pembelajar sejati yang membuat Aini bulat hati mendampingi. Benar tak ada manusia yang sempurna, tapi seorang pembelajar sejati selalu bisa memperbaiki diri kea rah yang jauh lebih baik dan lebih berarti bagi setiap orang di sisinya. Termasuk Aini dan anak-anak adalah yang beruntung telah disatukan di dunia bersama sosok pembelajar sejati. Aini kerap berdoa agar nanti kita disatukan kembali di surge-Nya. Aamiin.
Barangkali masih ada alasan ketiga kenapa surat ini tidak mengharu biru dan berbeda dari surat-surat sebelumnya yang dipenuhi dengan panggilan cinta di setiap awal paragrafnya. Berapa kosa kata panggilan sayang buat ayah anak-anak Aini ini? Sayangnya tidak didokumentasikan dengan seksama sehingga kita tidak pernah tahu ada berapa lembar ianya ketika dibuatkan dalam satu buku. Oh well, Eun Yud, barangkali karena di sini ada unsur tugas jadi barangkali aka nada yang membaca selain Eun Yud. Tapi sebenarnya masih bisa diatur kok, apakah satu orang saja yang membaca atau lebih dari satu orang. Yang pasti tidak banyak. Surat ini untuk Eun Yud, diperuntukkan tetap buat Eun Yud seorang. Tentu kamu yang paling betah membacanya. Sebagaimana betahnya membersamai hari-hari Aini. Terima kasih, ya. Hal itu belum Aini temukan sebuah kata untuk ungkapkan betapa Aini kerap rasakan bahagia saat kita bersama.

Your wife
Aini

Jadwal Harian Bunda

JADWAL HARIAN BUNDA

 

SENIN Time/Period Activity
04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
  05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
SELASA

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
RABU

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Jurnalistik dan Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
KAMIS

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-08.00 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
08.00-09.00 Dhuha/ update blog
09.00-11.30 Kajian rutin
11.30-15.00 Menjemput Biyya/ salat zuhur/ bermain dengan Biyya dan Faza/ Membaca
15-00-16.00 Tidur siang atau evaluasi bacaan quran Biyya
16.00-19.00 Salat asar/persiapan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam/ngobrol santai dengan keluarga/ mengawasi anak-anak menyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar / main dengan Faza kalau dia belum tidur
22.00-04.30 Tidur
JUMAT

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Kelola grup WA PWNA Aceh
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-13.00 Persiapan salat zuhur dan les TOEFL
13.00-17.00 Les TOEFL/ IELTS = perjalanan pulang
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
SABTU

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Tentatif
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-11.30 Memasak Donat atau Pizza dengan Biyya
11.30-17.00 Persiapan ke kantor PWNA/ ke panti asuhan Punge

Diskusi dengan pengurus/ kelas kajian putri/ kajian sabtu sore

17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
MINGGU  04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh / membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.30 Persiapan outdoor dengan anak-anak/ olahraga/ rihlah/ silaturrahim
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ persiapan sekolah anak-anak/ persiapan mengajar
21.00-04.30 Tidur

 

\