my little angels

Jadwal Harian Bunda

JADWAL HARIAN BUNDA

 

SENIN Time/Period Activity
04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
  05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
SELASA

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
RABU

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Jurnalistik dan Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
KAMIS

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-08.00 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
08.00-09.00 Dhuha/ update blog
09.00-11.30 Kajian rutin
11.30-15.00 Menjemput Biyya/ salat zuhur/ bermain dengan Biyya dan Faza/ Membaca
15-00-16.00 Tidur siang atau evaluasi bacaan quran Biyya
16.00-19.00 Salat asar/persiapan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam/ngobrol santai dengan keluarga/ mengawasi anak-anak menyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar / main dengan Faza kalau dia belum tidur
22.00-04.30 Tidur
JUMAT

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Kelola grup WA PWNA Aceh
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-13.00 Persiapan salat zuhur dan les TOEFL
13.00-17.00 Les TOEFL/ IELTS = perjalanan pulang
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
SABTU

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Tentatif
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-11.30 Memasak Donat atau Pizza dengan Biyya
11.30-17.00 Persiapan ke kantor PWNA/ ke panti asuhan Punge

Diskusi dengan pengurus/ kelas kajian putri/ kajian sabtu sore

17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
MINGGU  04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh / membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.30 Persiapan outdoor dengan anak-anak/ olahraga/ rihlah/ silaturrahim
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ persiapan sekolah anak-anak/ persiapan mengajar
21.00-04.30 Tidur

 

\

 

 

 

 

Adab Menuntut Ilmu

 Sebelum mengeposkan tulisan ini, akan dijelaskan sedikit bahwa ini merupakan catatan kelas matrikulasi Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP Batch #3 Sumut-Aceh). 

 Dengan bismillah, Bunda kembali mengatur waktu, masih dengan debar yang sama saat pertama sekali mempunyai kalian duhai ananda, betapa dirasa beratnya amanah ini. Menjadi Bunda bagi kalian anak-anak yang  telah Allah titipkan. Bunda tahu sebab sangguplah maka Allah berikan, di samping syukur yang terus kami rapalkan, kami pintakan agar selalu dibimbing-Nya mengasuh dan mendidik kalian. Bismillaah Bunda bisa, harus bisa menyiapkan gelas-gelas kosong untuk kerap menimba ilmu, dan entry kali ini adalah materi kuliah bersambung yang disampaikan di IIP Batch 3 dengan sudah seizin fasilitator diposting berseri di blog pribadi dengan harapan bisa mendatangkan manfaat sebanyak-banyaknya untuk yang membacanya, juga sebagai pengingat diri.

 

PROLOG 1

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL

☘☘☘☘
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.
☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Majelis Lukmanul Hakim

Merupakan sebuah kebahagiaan yang tak terperi ketika pasangan kita memiliki kemauan menolong dan bersinergi dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak yang notabene diamanahkan untuk kita berdua, bukan salah satunya, bukan dimanahkan pada ibu saja, bukan pula pada ayah saja. Kali ini fokus pada stigma yang umum terlihat di masyarakat, dimana pengasuhan dan pendidikan anak-anak adalah tugas ibu. Apalagi populernya gaung ‘ibu adalah madrasah pertama bagi anak’, diikuti dengan kalimat ‘tugas utama ayah adalah mencari nafkah’, yang pada akhirnya semakin mengikis peran ayah dalam pendidikan sehari-hari di rumah.
Sebenarnya ini hanyalah sekedar pengantar resume dari pertemuan Majelis Lukmanul Hakim yang digagas oleh komunitas Home Education Aceh pagi tadi 21 Januari 2017 di aula 3 in 1 Coffee, Lampineung. Lalu siapa saya ya, peserta atau anggota komunitas? Hehe… bukan. Saya hanyalah seorang istri yang sedang sumringah, berbunga-bunga dan bahagia karena ‘Partner Segala Hal’ saya dengan semangat yang cukup stabil (saya kurang suka yang menggebu-gebu, jadi kurang seimbang dan terlihat labil) sejak bulan lalu sudah berniat ikut andil dalam pertemuan pertama Majelis Lukmanul Hakim ini yang kemudian sampai hari H, beliau tetap dengan semangat yang sama turut hadir di pertemuan perdana.
Awalnya saya menceritakan buku Ustad Aad (Adriano Rusfi) yang belum saya miliki satu pun (kasihan saya) dan menceritakan pemaparan beliau mengenai pendidikan anak. “Saya melihat/membaca dalam alquran mengenai pendidikan anak. Kemudian saya menemukan satu nama Lukmanul Hakim, dimana nama tersebut pun menjadi salah satu nama surat dalam alquran. Kemudian saya juga menemukan nama Ali Imraan. Membaca lagi bagaimana kisah Ibrahim yang membekali pendidikan Ismail dan masih ada yang lain di dalam alquran. Setelah saya telaah dan teliti lagi, kesemuanya itu jenis kelaminnya laki-laki. Semuanya adalah seorang Ayah. Jadi saya mengambil kesimpulan bahwa pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab seorang Ayah, bukan ibunya. Ibu bertanggung jawab atas pengasuhan anak.”
Tring! Di atas itu adalah intro saya saat pillow talk pada hari saya mengikuti seminar parenting Fitrah Based Education. Saya lanjut memaparkan beberapa hal yang saat itu amat lekat diingatan, karena ada hal-hal yang barangkali lebih detail terlewat oleh saya, sebab sesuatu terjadi saat berlangsungnya seminar yang mengharuskan saya keluar sekitar 40 menit (mungkin lebih) karena mendapat kabar yang mengejutkan, sepupu saya yang sedang dirawat di RS meninggal. Saat kembali ke ruangan fokus saya mulai terpecah dan catatan yang saya buat di note telepon selular tidak tuntas.
Seperti biasa, Eun Yud cukup antusias. Sebagaimana ia selalu memfasilitasi keinginan saya untuk belajar dan turut serta berikhtiar menimba ilmu serta berdoa dalam-dalam agar Allah kerap membimbing kami dalam mendidik dan mengasuh anak-anak. Kita sudah berikrar sejak awal menikah untuk menjadi pribadi pembelajar, bersinergi sepanjang usia, dan berniat bahwa ini upaya kami agar kelak bisa bertemu lagi di Surga-Nya. Karena dalam diskusi panjang kami setiap ada kesempatan, kami sadar apalah kami, bukan seorang alim ulama, bukan pula seorang ahli ibadah. Apa modal kami untuk memiliki anak yang saleh dan saleha? Tentu hanya satu, ikhtiar. Nah, itulah yang kami kerjakan selagi nafas dikandung badan.
Lalu dari sanalah diskusi kami malam ini bermula. Dengan beberapa lembar catatan yang dibawa pulang oleh si ayah. Bunda yang pelupa ini tentu harus mencatat kembali demi mengekalkan ilmu yang bermanfaat tadi. Kami memang sedang berkompetisi siapa yang paling punya kontribusi di dalam keluarga inti dan selanjutnya saling mengapresiasi.
Oh well, ini pengantar yang cukup panjang untuk beberapa poin yang sempat dicatat Sang Kapten kami di Majelis Lukmanul Hakim tadi, semoga bermanfaat terutama untuk kami yang fakir ilmu ini.

Intro
Poin pertama yang disampaikan tentu saja penegasan bahwa Ayah adalah seorang pemimpin, harus memiliki visi dan misi. Seorang Ayah cenderung menggunakan kekuatan finansial untuk mendekatkan dirinya pada anak-anak. Ayah adalah penanggung jawab keluarga yang kemudian akan mentransfer sisi maskulinnya pada anak. Ayah memiliki ego kuat yang mempengaruhi.
Seorang anak selain kuat sosialisasinya, perlu juga dikuatkan individualisasinya, di sinilah pentingnya peran ayah. Ibu biasanya mengajarkan mengenai sosialisasi dan anak yang tidak kuat individualisasinya akan mudah terombang ambing pergaulan, selagi lingkungannya mendukung kebaikan maka ia akan baik dan ketika terpapar pergaulan buruk, ia kan mudah terikut.

Pandangan Islam Tentang Peran Ayah

  • Dalam Alquran ada surat Annisa, tidak ada surat Arrijal, tetapi dalam surat Annisa dikatakan bahwa lelaki adalah pemimpin kaum perempuan.
  • Tugas utama laki-laki adalah menjadi pemimpin. Mencari nafkah adalah penopang kepemimpinan.
  • Setiap turun ayat mengenai perempuan dan anak, maka Rasulullaah mengajarkannya kepada laki-laki.
  • Doa anak akan didapatkan oleh ayahnya jika ayah tersebut mendidik anaknya di waktu kecil. Hal ini sesuai dengan apa yang dilafadzkan dalam doa “Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayaani shaghiraa” sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu aku kecil. Nah, bagaimana kita menyayangi anak kita di waktu kecil?
  • Tugas ayah adalah mendidik anak dan ibu tugasnya mengasuh anak. Melahirkan, menyusui, dan lain-lainnya sudah sangat menguras energi ibu, jika pengasuhan dan pendidikan semuanya dilimpahkan kepada ibu, akhirnya ibu yang kelelahan serta disergap emosi negatif yang memberikan pendidikan untuk anak-anaknya.

Ketika Ayah Lepas Tangan

  • Lahirlah generasi remaja
  • Anak kehilangan ketegasan, tidak berani tampil beda
  • Ibu repot sendiri, frustasi, mudah emosi bahkan bisa jadi depresi.
  • Anak tujuh kali lebih rentan terhadap penyalahgunaan Narkoba.
  • Kurang rasional, tidak mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan.
  • Ayah tidak mendapatkan doa anak.

Percepatan baligh bisa ditekan dengan masalah, ayah perlu memberikan masalah. Dengan memberikan masalah, maka anak akan berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah, tentu saja ayah hanya membimbing tidak mengintervensi setiap tindakan yang dilakukan anak.

Jika Ayah Sibuk

  • Evaluasi kembali sebenarnya kita mencari nafkah untuk apa dan siapa?
  • Jadilah pekerja yang cerdas
  • Jika fisik tak sempat, minimal hati, empati dan perhatian.
  • Gunakan segala sarana komunikasi yang ada.
  • Menangani anak sangat berguna untuk pekerjaan
  • Kenapa kita tidak libatkan saja anak?
  • Jika terpaksa, delegasikan ke ibu.
  • Memberikan permasalahan kepada anak.
    Anak 7 tahun ke atas sudah boleh dberikan permasalahan
    Anak terlebih dahulu sudah dibekali solusi
    Jangan merasa takut membagi permasalahan dengan anak.
  • Jangan lupa tetap memahami dunia anak yang penuh dengan keceriaan
  • Pada dasarnya anak-anak suka dengan permasalahan dan misteri
  • Model pendidikan jangan terlalu mengalah pada zaman dan jangan terlalu mengalah dengan waktu.
  • Pentingnya mematangkan anak.
  • Mastermind dalam sebuah musyawarah diperlukan. (Penjelasannya cukup njlimet ini, intinya keputusan dalam musyawarah harus diayahfikasi terlebih dahulu). Sebuah seni mengarahkan.

Tips Bagi Ayah yang Sibuk

  • Delegasikan kewenangan
  • Keep in touch
  • Konsekuensi learning (Arrum 41)
  • Sebahagian nafkah ke istri (Annisa 34)
    Kesempurnaan terjadi jika ada titik keseimbangan terbentuk. Titik keseimbangan inilah yang harus dicapai.

 

Peran Ayah

  • Man of vission and mission
  • Penanggung jawab keluarga
  • Konsultan pendidikan
  • Sang ego dan individualitas
  • Pembangun sistem berpikir
  • Penegak profesionalisme
  • Supplier maskulinitas
  • ‘The King of Tega’

Pencapaian itu sangat penting, jadi harus ada goal getting dan goal setting bukan sekedar problem solving. Harus ada langkah-langkah menuju tujuan.

Demikian resume pertemuan Para Ayah Hebat pagi tadi. Walau secara pemaparan langsungnya akan sangat menarik, apalagi berkumpulnya para Ayah lengkap dengan cangkir-cangkir kopinya, tadi saat sharing materi ini ke saya terlihat ada binar optimisme dan kebahagiaan di mata Eun Yud. Tentu adanya aura semacam ini karena baru saja mengisi penuh baterai saat berkumpul tadi.  Ada sekitar 50 ayah luar biasa yang berpartisipasi.

Tentu ini amat besar manfaatnya untuk negeri yang pernah terdengar oleh kita kemarin bahwa Indonesia termasuk Fatherless Country karena adanya peningkatan kenakalan remaja, kita dikatakan negeri tak berayah, juga merujuk pada banyaknya single parent wanita. Anak-anak besar tanpa sosok ayah.

Seminar-seminar parenting yang pernah saya datangi menunjukkan fenomena ini masih bertahan, dimana biasanya ayah atau kaum lelaki yang datang hanya segelintir saja, kalau sudah membicarakan pengasuhan dan pendidikan anak, kaum perempuan yang merasa wajib untuk hadir.
Majelis Lukmanul Hakim ini sangat direkomendasikan untuk para ayah ataupun calon ayah. Termasuk untuk para paman yang menjadi wali para ponakannya ketika mereka membutuhkan figur seorang ayah, misalkan ayah mereka menghadap Allah lebih cepat.

 

Akan ada sensasi yang berbeda saat para ayah yang memiliki misi sama, yaitu untuk memulai penguatan dari rumah, duduk semeja. Langkah seperti ini sudah harus dimulai dan gaungnya harus terus ditingkatkan. Hal sekecil apapun itu akan bisa menyelamatkan generasi kita. Bagi saya ini adalah kegiatan yang terlihat kecil tapi berdampak besar seperti yang pernah disebutkan oleh Pak Abdul Mu’ti, jangan pernah remehkan kaderisasi keluarga. Jika keluarga hancur, kehancuran negara tinggal menunggu waktu saja. Ini merupakan strategi longitudinal, yakni mendidik anak-anak sekarang, dimana ke depannya mereka-mereka inilah yang akan menjadi orangtua.

Semoga dimudahkan-Nya. Aamiin ya, Rabb.

 

Waktunya menerapkan apa yang sudah didiskusikan tadi. Semoga para ayah di Majelis Lukmanul Hakim tetap terjaga semangatnya.

Sebab Kita Sedang Berjuang

Kita Sedang Berjuang

Sebab kita, Nak… sedang berjuang. Tidaklah sama kondisi kita dengan yang lain. Barangkali ada sedikit kesal kenapa Ayah dan Bunda turut menarik kalian ke dalam pusaran perjuangan, tapi yakinlah anak-anakku, kita akan memanen apa yang telah kita semai. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tidak pula sama nilainya di mata Yang Maha Kuasa yang berpeluh dan tanpa berjuang mengejar nikmat dan hidayah-Nya. Maka simpanlah seonggok kesal dan uraikanlah dengan segala prasangka baik pada-Nya.

Sebab, Nak, kita ini sedang berjuang. Perpanjanglah sumbu sabar. Ini bukan sebuah lelah tak berujung.

  • Lamteungoh, di tengah kedahsyatan rasa itu. Di tengah perjuangan bak gelontor gemuruh panjang menghantam.

November 30th Funniest Disaster (no.. no more, kiddos!)

Sebenarnya niat menyalakan laptop malam ini tak lain dan tak bukan adalah untuk menyelesaikan sebuah worksheet lagi untuk anak-anak kelas 9. Tapi sampai ke rumah tadi sore lalu disambut dengan senyum Akib dan Biyya plus celoteh mereka berdua pasca dijemput si ayah tadi siang, membuat fokus si bunda ini hilang sekejap mengenai tugas luar. Disimpan, dilipat yang rapi dan disembunyikan di balik karpet ruang tengah untuk sementara waktu. Langsung menyiapkan makan malam sambil melayani celotehan kedua kakak adik itu, sementara Faza sudah tidur.

ab6a0af3a26efc4290478714140d9f66

Ah, Akib Biyya! Akur-akurannya nggak pakai lama. Entah apa asal mulanya, Biyya jadi sebal sama Akib. Akib juga semakin menjadi-jadi menggoda Biyya. Magrib menjelang dan seperti biasa kita salat berjamaah. Biyya masih dengan seonggok kesalnya salat masbu’ satu rakaat. Akib juga ba’da salam masih juga mengomentari Biyya yang arah manik matanya tidak ke tempat sujud. Padahal tadi si bunda sudah bilang, “ayo, Biyya… pergi wudhu terus supaya setannya pergi, marahnya reda.”

Ayah dan Bunda tidak begitu menggubris sengketa yang nggak jelas asal mulanya, sepertinya tadi tidaklah seserius itu, hanya karena salah gambar dan buku Biyya sobek sedikit, Biyya tidak terima, Akib juga ogah minta maaf. Kami juga tidak memaksa salah satunya minta maaf, tapi tetap bilang hal seperti itu jangan dibesar-besarkan Biyya, dan Akib kalau memang tidak sengaja sebaiknya dijelaskan ke Biyya. Nah, bagus kalau ada yang minta maaf dan lainnya mau memaafkan. Tapi keduanya bersikeras tidak ada yang mau mengalah apalagi minta maaf.

Baiklah, usai salat kita ada tausiyah dan sedikit diskusi. Biyya yang masih kesal ikut dengan tertib termasuk mengaji, mengambil buku iqra-nya dan mengulang setengah halaman. Bang Akib justru melendot di samping bunda, mendengarkan bunda baca quran supaya dapat rahmat. Iih, ini ikut ayah atau bunda, ngeles nggak baca nyimak doang. Oke, bangkitlah, Kib, giliran Akib mengaji. Malam ini Akib berhasil mengelak karena sudah waktunya makan malam. Masih dengan berdebat hal yang tidak penting di meja makan, Ayah minta Akib dan Biyya lebih tenang. Acara makan berlangsung lancar dan khidmat. Kecuali Akib yang tidak menghabiskan nasinya sekitar tiga suap. Di meja makan si ayah ada panggilan juga, Tengku Ballah memberi kabar akan bertandang ke rumah sekejap. Oke… sulit melepaskan telepon selular kalau sudah mulai ada panggilan tiba-tiba.

Ayah balik lagi bergabung ke meja makan tapi dengan si seksi tadi, penarik perhatian nomor satu. Si telepon genggam. Mulailah percakapan banjir Singkil tadi terputus. Tema jadinya entah kemana-mana. Sejauh ini situasi under control. Bunda menegur kuku Akib yang mulai panjang. Biyya yang hobi sekali menggunting kuku, berinisiiatif lebih dulu mencari penjepit kuku. Nah, iniah muasal perkara besar malam ini.

Ya, benar kita punya beberapa penjepit kuku dengan berbagai ukuran. Hanya satu yang masih baru, mengkilat, tajam dan jadi favorit. Biyya yang sepertinya sejak tadi masih ‘belum terurai’ perasaannya, mulai lagi membuat Akib kesal. Akib juga sudah mengantri jepit kuku favorit tadi. Selain membuat lama proses pemotongan kuku tangannya, Biyya mulai lebay ingin memendekkan lagi kuku kakinya. Pada dasarnya itu tidak begitu urgen. Bisa dilihat dari kuku kakinya yang masih pendek dan bersih. Ada saja cara Biyya supaya penjepit kuku itu tetap   di tangannya. Ini si abang yang sejak awal juga semakin besar gondoknya dengan si adik. Pecahlah perang suara.

“Sssttt… Dedek Faza bobok sayang, jangan ribut. Ayo kakak adik harus sayang-sayangan…” cara persuasif dilaksanakan, karena kalau larangan jangan berantem akan semakin memantik perselisihan. Mulailah saling mengeluh tidak suka abang yang begini, tidak suka adik yang begitu. Suara naik sekian oktaf. Seperti biasa si bunda minta tolong ke ayah untuk menggondol kakak adik ini ke teras supaya mereka bisa meanjutkan adu mulut dengan adu jotos sekalian tanpa mengganggu kami seisi rumah yang butuh ketenangan.

“Ayah, tolong angkat Akib, Bunda gendong Biyya ke luar!” ini klimaks. Gendongan yang tidak dirindukan keduanya adalah saat ini. Biyya yang fisiknya lebih terlatih dibanding Akib, tentu saja bunda urus duluan. Langsung, deh, dia ngacir sambil bilang kalau mereka sudah akur. Akib demi melihat penjepit kuku yang tergeletak langsung memungut dan mulai memotong kukunya sambil menyalah-nyalahkan Biyya yang memulai keributan ini. Melihat gelagat Akib yang belum bisa berdamai, bunda masih usaha menangkap Biyya yang ternyata cukup licin seperti lele- berhubung bunda belum pernah nangkap belut, baru kaliber ikan lele- sungguh Biyya sulit dicekal. Dia juga mahir mencari tempat yang membuat proses ini beribet. Meja makan. Kami berputar mengitari meja makan. Bunda harus mengeluarkan sedikit jurus Harimau Menepis apalah gitu, untuk bisa mencengkeram gadis yang rutin main pencak silat setiap minggu itu. Lengannya dapat, mulai bunda apit kedua kakinya supaya lebih nyaman. Eh Biyya nya malah meronta jadi kaki satunya lagi terjuntai. Bunda hanya memegangi satu lengan satu kaki. Jarak meja makan ke pintu keluar sekitar sepuluh langkah, supaya Biyya tidak sakit, bunda singkat dengan berlari.

Ayah siaga dengan Akib, tapi lebih cekatan bunda lagi. Penjepit kuku terlepas dari tangan Akib, bunda tarik Akib ke luar. Akib dan Biyya sudah di teras dan pintu bunda kunci. Histeria Akib yang tidak suka dikunci di luar, ia mulai menggedor sampai Faza terganggu tidurnya. Bunda mengurus Faza, Ayah keluar mengurus Akib dan Biyya. Untuk menenangkan Akib ayah berikan satu gertakan di kaki Akib. Ayah juga menantang Biyya dan Akib adu jotos di teras. Dihadapkan berdua. Selesaikan sengketa, habis-habisin kesal. Mereka cuma gagu, menangis keduanya. Ayah mulai pidato Akib masih belum bisa menstabilkan emosinya. Matanya masih menyala, Biyya mulai menyesal dengan apa yang terjadi dan mereka harus berakhir di teras rumah menjelang isya. Ayah melanjutkan pidato sambil nggak mau rugi waktu. Hehe… kasih pakan kelinci dan isi penuh dot mereka semua. Di teras ada tumpukan daun Indigofera, di samping itu Akib dan Biyya duduk bersandar ke dinding. Pidato ayah terus berlanjut. Bunda tidak tahu lagi apa kejadian, tapi dari dalam terdengar suara pidato ayah saja. Hahaha…

Terdengar Akib mengulang hafalan doa iftitah, bergantian dengan Biyya. Di sekolah mereka diajarkan doa iftitah Allaahuakbar kabira… sementara di rumah kita juga menghafal yang lebih singkat Allahumma ba’id… Biyya antusias. Laporan terkini dari ayah, Biyya tadi mencoba tenang, dewasa dan mencairkan suasana. Akib masih dengan amarah membara dan tidak terima. Faza minum dan minta makan, karena memang belum sempat makan malam tadi langsung tidur. Setelah selesai bunda elus punggungnya dan melanjutkan tidur lagi.  Bunda wudhu dan pakai mukena. Beranjak ke teras. Meihat ayah sedang mempreteli daun indigo dari tangkainya. Akib dan Biyya masih bersandar dengan kaki ditekuk. Keduanya memeluk kaki dan bersandar ke dinding. Terenyuh hati bunda menyaksikannya.

“Gimana kalian berdua?” bunda tanya dan Akib langsung menoleh ke bunda dengan mata yang memerah dan kali ini memelas. “Kami udah baikan.” Sekilas bunda bertanya kenapa hanya menatap ayah yang sedang menyiangi pakan kelinci, bukannya ikut membantu. Akhir cerita bunda suruh keduanya masuk, sebeum tidur ambil wudhu dan salat isya. Bada isya Biyya masih dengan hafalan doa iftitah dan meminta buku berisikan doa tersebut. Ia keluar lagi memamerkan buku itu ke ayah. Malah minta menyetor lagi nanti. Biyya … Biyya…

 

ignore-them

Menyapih (Faza) Dengan Cinta -WWL versi Bunda dan Faza-

15 november lalu, Faza genap berusia 2 tahun. Sudah sekitar 4 bulan sebelumnya kami sounding tentang sapih. Awalnya reaksi Faza lucu sekali, tapi apapun itu memang namanya baby kerap menggemaskan.

“Faza, sebentar lagi disapih ya…” kata si ayah mengingatkan. Terburu-buru ia menuju kotak mainan dan mengambil mainan sapinya. Menunjukkan ke si ayah sambil bergumam “mooooo! Sapi, sapi!” Meledak tawa kami seluruhnya. Kak Biyya dengan lengkingan khas dan memamerkan gusi depannya yang masih ompong.

Menjelang setengah bulan akan disapih sungguhan, aku pergi menghadiri Musda NA di Nagan, Aceh Jaya. Malam itulah pertama sekali Faza tidak disusukan menjelang tidurnya. Kalau tidur siang memang sudah pernah beberapa kali dinina bobokan Uncu. Hanya berbekal elusan di punggung, air putih, susu formula, teh, buku-buku, mainan atau malah video.

Aktivitas favorit. Pelototin gambar di buku.

Aktivitas favorit., pelototin gambar di buku.

Malam kedua aku sudah sampai ke rumah, Faza memang sudah tidur. Aku menghampiri dan memindahkannya ke kamar kami. Agaknya ia sadar Bundanya sudah pulang dan bergumam “blah… blah” selain kata nenen, blah itu maksudnya sebelah lagi, ya. Hahaha… maafkanlah spontanitas yang kemudian menjadi habit itu. Akhirnya karena rindu iya, mammae juga sudah penuh karena nyaris dua hari tidak menyusukan Faza, aku berikan lagi ASI. Toh belum genap dua tahun pun, pikirku.

Nah, itu proses weaning yang awal. Berikutnya siang aku coba tidak memberikan ASI lagi, jadi hanya menjelang tidur malam. Cuaca november tidak begitu bagus, pancaroba. Faza demam dan rewel, ia kerap minta disusui. Aku kembali ke frekuensi biasa dengan durasi menyusui yang cukup pendek. Tapi ya, kapan dia minta harus dikasih lagi. Begitu sudah ada tanda-tanda selera makan kembali membaik, aku menguragi pemberian ASI dengan lebih kentara. Malah malam kalau cukup dengan dibacakan buku dan dielus punggungnya, aku tidak lagi memberi ASI. Eh, tapi ia baru saja sembuh. Rewel dan manjanya masih terbawa pasca demam. Jadilah Uncu bilang, “kasih aja dulu, napa? Kan belum pun dua tahun penuh” demi mendengar Faza menangis tengah malam.

Tahap kedua masih belum sukses, malah Faza semakin lengket dengan ASI. Sebelum kelewatan, aku mulai mengelurkan beberapa amunisi ala-ala si ayah. Kalau ingat nen, aku perlihatkan video di tablet. Bisa dibilang saat proses penyapihan Faza mulai-mulai terpapar gawai lebih sering dari biasanya. Tapi jangan keterusan, dong. Bahaya!

Buku-buku masih terus menarik minatnya dalam proses ini. Hingga akhirnya tanggal 15 tertera di kalender rumah kami. Yup, Faza is 2 years old. Alhamdulillaah.

 

img20161119190309

buku-buku yang siap sedia menemani Faza menjelang tidur. His fave!

Besoknya walau sapih tetap disampaikan, aku masih menyusui menjelang tidurnya. Tapi Faza sudah tahu kalau susu dari dot lebih kencang dan banyak. Terkadang ia lelah tapi tidak puas dan akhirnya menyerah minta susu. Sufor juga tidak menjadi sesuatu yang wajib untuk bayi yang disapih, ditambah Faza agak ribet memilihkan susunya. Ia alergian. Hanya satu hari satu malam aku hentikan memberi ASI dengan total. Alhamdulillaah tidak ada drama dan histeria di hari keduanya. Ini sudah seminggu tidak menyusu sama sekali, begitu Faza ngantuk dan meminta ASI, aku hanya tinggal bilang Faza sudah disapih. Lalu Faza akan memilih opsi lain, susu atau teh. Sekedar baca buku pun boleh. Juga tidak ada bunda yang demam karena payudara yang bengkak kepenuhan ASI.

Oh iya, Faza suka sekali susu kambing organik. Dia bisa menghabiskan 150 ml dalam beberapa menit. Karena ada riwayat alergi susu sapi dulu ketika masih ASI ekslusif, saat aku sok rajin minum susu ibu menyusui. Hehe… akhirnya aku tidak berani mencoba memberi susu sapi organik. Sedangkan susu formula itu bisa membuatnya mulas, konon lagi susu segar, pikirku.

Dulu sepertinya menyapih tanpa digantikan susu formula serasa menjadi momok tersendiri. Apalagi banyak suara-suara, eh nanti digantikan pakai apa ASI-nya. Ya, makanan sehari-hari dan buah itu jauh lebih menggantikan ketimbang susu formula ternyata. Apalagi jargon empat sehat lima sempurna tidak ada lagi, digantikan dengan makanan gizi seimbang.

Yah akhirnya … barakallaah, Faza sayang. Happy graduation! Sudah lulus ASI 2 tahun dengan ending WWL. Semoga menjadi anak yang salih. Aamiin.

Gawai di Rumah Kita

Adalah hal yang membuatku terkejut alang kepalang ketika membaca cerita yang ditulis Akib di bukunya dan kemudian dirapikannya di laptop Eun Yud malam itu. Pagi sebelum ke sekolah, Akib sudah menunjukkan buku tulis dan isinya itu, tapi katanya nanti saja Bunda baca sampai habis, karena Akib belum selesai tulis semuanya. Hm, oke baiklah. Kurang lebih begitu saja tanggapanku.

Akib menurutku yang masih begitu ‘ketat’ aturan memakai gawainya bisa terlewat? Ini capture ceritanya

.img20160929172533

Di situ menurutku ada konten kekerasan. Game yang boleh dimainkan Akib hanya minecraft untuk saat ini. Kemudian saat online Akib menggunakan WA berkomunikasi dengan keluarga intinya di grup yang dibuatnya ‘GoldBear Family’. Akib terkadang menonton youtube tutorial minecraft dan tentu saja itu di sabtu minggu alias weekend masing-masing dua jam saja.

Suatu waktu aku dan Eun Yud menemui gurunya untuk berdiskusi dan menanyakan perkembangan Akib. Di sana akhirnya disimpulkan aku terlalu ketat sehingga Akib cenderung berontak. Walas Akib bilang jika kita mendidik anak terlalu banyak aturan, maka ia akan cenderung memberontak. Aku setuju dengan statemen beliau dan sangat berterima kasih atas masukannya. Bukan hal yang mengherankan ketika beliau berkomentar seperti itu karena aku berterus-terang sejak awal, kami tidak memasang channel televisi  setelah memiliki anak (pernah berlangganan TV kabel selama tiga bulan dan sama sekali tidak membantu, seluruh keluarga sepakat mengalihkan budget TV kabel ke buku setiap bulannya).  Mungkin cerita ini sudah berulang kali kuulas dari beberapa postingan termasuk jam main gawai untuk Akib dan game apa saja yang boleh dimainkan.

Baca:http://stanzafilantropi.com/menanam-dan-merawat-benih-milik-sendiri/

Nah, sejurus terlihat aturaaan saja yang ada, apalagi Akib juga tetiba memiliki statemen “Bunda ini banyak kali aturan!” dengan kesalnya ia bisa nyeletuk seperti itu.

Akib bercerita temannya punya telepon genggam pribadi, punya komputer pribadi, dan tablet pribadi. Temannya bisa main kapan saja tidak seperti ia yang hanya dijatah di weekend dan hanya beberapa jam. Oke, aku dan Eun Yud kemudian berdiskusi agak alot dan melonggarkan aturan 2 jam menjadi 5 jam di weekend. Ini disambut dengan amat baik dan memberi dampak buruk karena Akib berpikir ternyata aturan gawai bisa ditawar.

Wajar kalau aku dan Eun Yud dianggap banyak aturan karena dua hal di atas. Padahal Biyya tidak sebegitu keberatannya. Karena kenapa? Biyya mudah bergaul dan suka permainan outdoor, Biyya supel dan gawai bukan kebutuhannya dan teman-temannya di sekolah ataupun teman mainnya saat mengaji. Bahkan tetangga yang sering bermain dengannya tidak memiliki gawai pribadi. Ah, kelihatannya ortu temannya juga tidak begitu peduli dengan gawai. Semua sibuk mengurus sawah berpetak-petak.

Akib dan temannya berbeda. Obrolan di sekolahnya dalah game teranyar dan level tertinggi dari game tersebut. Malah ia bercerita temannya sedang seru-serunya bermain game Pokemon Go. Iyap, tak ada salahnya sih, bagi anak-anak Gen-Z seperti sekarang, aku tak kaget. Tapi prinsip keluarga adalah prinsip. Ia tak boleh dilanggar untuk tetap menjadi anggota keluarga ada aturan baku dan tidak baku tentunya. Walau tak tertulis, kami di rumah memahaminya. Termasuk bagaimana berjuang bersama Eun Yud, ayah mereka sedang mencoba sesuatu yang baru dan membutuhkan seluruh dukungan yang sesuai dengan kapasitas pikir anak tentunya. Akib selama ini dengan kelugasannya adalah Akib yang jujur dan tentu saja tidak dalam kondisi tertekan seperti yang barangkali orang pikirkan.

Aku berdiskusi dengan Kak Wina Risman yang mumpuni dalam hal parenting. Melihat bentuk tulisan Akib memang ia seperti darurat gawai. Gawainya harus dihentikan sebelum dia kecanduan. Eun Yud dan aku siap-siap dan serta merta menginspeksi (tanpa sepengetahuan Akib tentunya) mengenai game yang ia mainkan apakah mengandung konten kekerasan. Buku-buku Insya Allah aman, hampir 100 % buku-buku yang dibaca Akib sudah kubaca. Jadi ada satu buku horor komedi yang judulnya ada ‘nightmare’-nya gitu, aku lupa. Itu  isinya juga bukannya menakutkan malah lucu sekali. Ada sempat ia euforia sekali tentang Night at Freedy, segala istilah yang ia temukan di sana ia tanyakan padaku. Diskusi berlanjut dan aku melihat ada dampak kurang baik dan kami sepakat menghentikan video-video night at freedy tadi.

Tanpa menunggu lama, aku mengajak Akib ngobrol lagi sambil jalan-jalan di akhir pekan, apa sebenarnya yang memantik idenya untuk menuliskan cerita di atas. Ada kata-kata menembak, membunuh di sana. Akhirnya aku tahu bahwa itu semua dari obrolan dan rasa penasarnnya memvisualisasikan cerita teman-temannya. Ia bersemangat menceritakan obrolannya (yang sebenarnya sehari-hari pulang sekolah pun ia ceritakan padaku) kemudain kali ini diulang dan lebih detail. Sampai ia juga nyeletuk menirukan gaya temannya memperagakan salah satu iklan rokok. Ia sangat terkesan dan penasaran. Akib tidak pernah menontonnya tapi temannya yang ekspresif menunjukkannya ke Akib dengan aktingnya yang mengesankan. “Dj*rum Cokl*t ” katanya dengan intonasi iklan. “Apa sih itu, Nda?”

“Oh, dimana Akib lihat atau baca?” tanyaku datar.

“Si A sering tiba-tiba bilang itu.”

“Oooh, itu ya iklan rokok di televisi barangkali,” jawabku sekenanya.

Tiba-tiba Akib terbahak dan katanya dia tidak menyangka itu ditirukan Si A dari iklan rokok. Lalu ia geli sambil membayangkan temannya Si A memperagakn jargon iklan itu.

Setelah meningat-ingat cara Akib bergaul dan dunianya saat ini, aku menemukan titik temu. Cara berbicara yang agak kasar sesama anak-anak tersebut dan wallaahu’alam faktor apakah penyebabnya, itu sangat mempengaruhi tulisan-ulisan Akib. Gawai dan penggunaannya kembali kami setting dengan pengaturan awal seperti yang disarakan Kak Wina Risman. Malah dikurangi lagi. Cukup satu jam satu hari di weekend. Akib juga awalnya protes tapi aku sampaikan sejelas-jelasnya dan sepahaman yang mampu dijangkaunya.

Lalu mengenai aturan, kata Kak Hanna yang juga expert di bidang psikologi bilang, hidup akan ada aturannyan itu perlu. Jadi ada … memang ada hal-hal yang harus diatur dan ada yang harus dionggarkan. Kalau membahayakan  dan berdampak tidak baik ke depan, ya dipakai aturan, beda kalau mau pakai baju warna apa, sendal yang mana dan kemudian kita selaku orangtua yang anaknya belia menjelang remaja tetap bersikeras pada pilihan ortu mengenai hal yang remeh-temeh, baru namanya sok mengatur, banyak aturan dan lain sebagainya sesama jenis yang aku sebutkan tadi. Jadi apakah ketiadaan televisi dan penggunaan jam gawai juga dikatakan banyak aturan?

Kembali membicarakan konten tulisan Akib di atas, apakah itu hanya ungkapan verbal yang sering ia dengar dari teman-teman atau dari game dan totonan? Soalnya apa yang didengar itu juga sangat berpengaruh pada tulisan dan obrolan Akib selama ini. Aku coba berdiskusi dengan para Mahmud di Nasyiatul Aisyiyah yang notabene juga memiliki anak yang seusia dengan Akib. Dari diskusi tadi aku tangkap hanya Akib yang agaknya bermasalah dengan gawai dengan bukti tulisan yang dia buat penuh dengan kode game seperti di atas. Entah, aku tidak ingin meperpanjang lagi dan karena ingin dengan sungguh hati mencari solusi akan permasalahan ini, aku beralih dari ketidakefektifan diskusi di atas dan mulai lagi bergerilya mencari referensi. Referensi utamaku tentu saja Akib sendiri. Bagaimana perasaannya dan menyelami segala cerita-cerita dan harus kupastikan bagaimana ide-ide memantik dari pikiran dan imajinasinya. Bagaimana ia melihat anak-anak seusianya, terutama teman dekatnya bisa mengakses lebih banyak daripada yang ia dapatkan. Memastikan bahwa aku percaya padanya dan ia juga harus percaya pada kami orangtuanya, lalu saling menjaga kepercayaan tersebut. Tidak bebas mengakses game online atau berlama-lama di layar bukanlah akhir segalanya, Kib. Lalu solusi lainnya pun kami tawarkan. Jangan sampai setelah kita di depan deal masih ada rasa yang mengganjal di hati Akib yang kemudian membuatnya harus mencari akses dengan cara backstreet. Jelas ini masalah baru yang harus diantisipasi.

Solusi pertama yang sangat disambut baik oleh Akib adalah buku. Buku sebagai sarana hiburan terutama cergam-cergam yang kemudian aku lebih tingkatkan bobot komiknya dari yang awalnya berkonten sains (komik Why berbagai edisi) menjadi konten sejarah (Komik Muhammad Al-Fatih). Lalu yang sekarang teranyar itu Korel alias Komik Religi walau konten religinya menurutku amat sedikit dan lebih banyak komedinya, tapi insya Allah lebih aman. Kemarin Akib membaca komik si Juki di rumah Tia dan meminjamnya, ada yang bilang itu komik dewasa. Iya, guyonan politiknya juga ada, tapi setelah aku baca juga jauh lebih aman daripada Akib harus bermain gawai.

Solusi kedua yang bisa bersinergi dengan yang pertama adalah, mengobrol lebih banyak dengan Bunda. Bunda janji jadi pendengar yang baik dan budiman. Menjadi orang antusias dengan cerita yang Akib lontarkan, apapun itu. Akib senang dan kita deal.

Solusi ketiga adalah memfasilitasi Akib dengan kertas, pensil dan pulpen. Akses bebas untuk menulis, menggambar dan berapa lembar kertas yang Akib butuhkan, berapa jumlah buku, pena, dan pensil. Mari berkarya nyata.

Sekali lagi, bukan konten gawai yang aku takutkan karena hari ini sudah ada fitur-fitur yang menyaring konten-konten dewasa, tapi efek addict dan cetusan dopamin yang dihasilkan saat berlama-lama dengan gawai itulah yang aku dan Eun Yud khawatirkan.

Ooh, ini anak kami walau pakai gawai kencang tapi pelajaran di sekolahnya diprioritaskan dan hafalan qurannya juga sudah mau khatam 30 juz. Di gawainya semua aplikasi yang mendukung belajar dan buat dia semakin pintar Bahasa Inggris. Ini sebagai hadiah untuk kesuksesan yang dia raih karena pintar dalam segala bidang. Oke, silakan kalau ada orangtua yang berprinsip demikian.

Tapi, Kib… Akib adalah anak Ayah dan Bunda. Pernahkah Bunda menuntut Akib menjadi jawara kelas? Hebat di bidang ini dan itu? Bintang panggung bintang lapangan, bintang sekolah? Berapa kali sudah Bunda tegaskan Akib adalah gemintang yang menyemarakkan hati Ayah dan Bunda. Penerang dan teladan adik-adik, Bunda hanya meminta Akib menjaga salat 5 waktu, lainnya Akib lah dengan diri Akib sendiri. Akib anak Ayah dan Bunda yang tidak akan mungkin kami hadiahi jam pemakaian gawai setiap hari.

Eid Mubarak! Be grateful


Takbir Idul adha segera menggaung, aku sekeluarga sudah menelpon Umak akan pulang kampung. Persiapannya sejauh ini baru menitipkan mobil Mas Dantoro yang sedang pulkam ke Jogja bersama Tia dan anak-anaknya, titipnya ya ke Teh Ucue di Punge selaku tetangga dekat Tia. Hehe.
Sudah senang dalam hati, kemungkinan mobil Tgk. Ballah bisa dipakai selama 4 hari untuk pulang. Salah satu kebahagiaan kami empat tahun belakangan adalah berkumpul selaku keluarga inti dan menghabiskan banyak hari-hari bersama dan dikaruniai bu
ah hati baru yang tidak kalah lucu dari Bang Akib dan Kak Biyya. Jadi, kami memang belum memiliki kendaraan pribadi yang bisa mengangkut kami sekeluarga. Empat tahun lalu kendaraan roda empat yang diamanahkan ke Eun Yud sudah dikembalikan.
Dua hari lagi Pulkam, Akib pulang dari sekolah dengan bintil berdiameter kecil di pipinya. Aku sudah curiga, tapi karena suhu tubuhnya normal dan masih ngajak-ngajakin diskusi plus debat sejak pulang sekolah sampai bangun pukul 04.55, lalu membangunkan aku untuk membantunya mengonsep tausiyahnya untuk hari kamis itu. Aku abaikan bintil tadi, segera mengingatkannya untuk persiapan sekolah.
Sampai di sekolah Bu Khayra masih mengirim kabar mengenai Bang Akib yang tampil untuk tausiyah zuhur ini di Aula. Belum ada keluhan apa-apa. Pulang sekolah Akib kelihatan agak kurang fit. Ia juga bercerita kalau temannya Rasya terserang cacar. Ops, tanpa ba bi bu aku minta Eun Yud mengantar Akib ke klinik terdekat. Pulangnya sudah lengkap dengan Acyrclovir salep dan tablet 200mg. Akib positif cacar air. Kami batal pulang kampung.
Dengan berat hati aku menelpon Umak, Abak yang stand by mengangkat telpon dan membesarkan hatiku. “Jangan sedih, kamu nggak udah sedih karena yang paling penting di dunia ini adalah pulang ke kampung akhirat. Kampung dunia ini tidak ada apa-apanya. Abak juga tidak kecewa, karena dimana pun kamu berada asalkan selalu beramal saleh, Abak pasti dapat imbasnya. Sekali lagi, intinya tetaplah bersiap-siap untuk menuju kampung akhirat.” Masih panjang petuah Abak yang disampaikan dalam bahasa kami tentunya. Aku bela-belain pulang juga karena Umak kemarin spontan berujar kangen. Eun Yud juga bilang, kalau sudah begitu ayo, kita pulang. Tapi Allah punya rencana berbeda. Walhasil hanya keponakan kami Naufal yang berangkat pulang ke kampung dengan angkutan umum. Itu juga kabarnya sedang longsor di seputaran Aceh Besar membuat perjalanannya tertunda beberapa saat.
Well, balik lagi ke Akib yang mulai dibatasi ruang geraknya, ia lebih banyak tiduran di tempat yang sama. Kupikir perlu untuk meminimalisir kontaminannya di seluruh rumah. Kegiatannya membaca ulang komik-komik dan buku kesukaannya seperti Simple Thinking About Blood Type, ini semacam buku yang sering jadi referensi dia kalau ngobrol dengan teman-temannya. Ternyata Akib kurang piawai menggaet teman di awal-awal ia bersekolah. Barangkali saat bayi atau balitanya lebih sering bermain dengan Bundanya ketimbang anak seusianya. Waktunya banyak dengan mainan-mainan. Favoritnya puzzle, lego, video, dan buku-buku yang sering kubacakan sejak bayinya dulu. Akhirnya setelah beberapa tahun penyesuaian di SD, ia kini suka bercerita ha-hal baru, membuat anekdot dan sedikit sok gaul, begitulah. Misalnya, walau dia tidak main seluruh game karena aturan main di rumah kami, tapi ia berhasil menggali info dari teman-temannya mengenai game terbaru dan apa kelebihannya (contoh konkrit: game Pokemon Go). Sampai di rumah akan jadi ajang diskusi dan ujung-ujingnya debat. Tapi sehat lah ya, insya Allah.
Jadi buku-buku akan sangat membantu Akib tetap punya bahan cerita dan menarik perhatian kawan-kawannya yang punya lebih banyak ‘senjata’ seperti acara TV terbaru dan game-game kekinian tadi. Tapi sejauh ini aku senang, ada saja temannya yang cukup bijak atau gurunya yang nimbrung di obrolan mereka untuk menetralisir fenomena-fenomena yang sebagian kontroversial itu. Misal, oh yang seperti itu nggak baik, lho. Ternyata game GTA itu bukan buat anak-anak. Atau, ah banyak juga teman-teman yang tidak main game Pokemon Go.
Oh iya, Akib juga bukan tipikal bintang kelas yang punya nilai akademik cemerlang dan kudu jaim di depan teman-temannya. Target-target capaiannya standar saja, dia tipikal anak yang santai dalam belajar. Depend on teacher juga, beberapa mata pelajaran ia sukai karena gurunya asyik, katanya.
Besok sudah 10 Dzulhijjah dan aku sedang dalam siklus bulanan, tidak salat ied dan akhirnya tidak mendengar khutbah yang hanya setahun sekali itu. Sayang, ya? Tapi Akib tidak mungkin ditinggal ataupun diboyong ke tempat ramai. Bagaimanapun aku rasa tetap ada sisi baiknya, kita di rumah saja ya, Bang Akib. Ayah, Uncu, Biyya, Kak Kiya yang sedang berlebaran di rumah kami, Faza semuanya pergi menjemput daging qurban. Bunda dan Bang Akib menyiapkan segala bumbu di rumah. Alhamdulillaah, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan.
Taqabballaahu minna wa minkum. Kami sekeluarga mengucapkan selamat Idul Adha 1437 H.

Yang sedang sakit cacar

Yang sedang sakit cacar

img20160912113932

Yeay! Baby Traveling

IMG-20160830-WA0050

nursery room di Hang Nadim, Batam

IMG-20160830-WA0051

 

Jadi selama ada Faza yang usianya pun baru 20 bulan beberapa hari ini, sudah dua kali harus boyongan rada jauh. Memang inginnya tahan dulu sampai usia sapihnya, yakni 2 tahun ke atas, baru aku bisa melawat ikut acara ke sana ke mari. Tapi ke Bandung dan Jogja ini agaknya sudah menjadi kewajibanku, mau bilang apa? Memang terbayang bagaimana ribetnya traveling dengan baby, tapi mau tak mau harus dinikmati.

Bukan hanya ke luar Aceh, dengan Faza aku mengelilingi separuh Aceh, pantai Barat Selatan, Tamiang, dan lain-lain. Terima kasih berat buat my partner in everything, Syarifah Mutia Septiyani dan adikku Syarifah Zainab-yang sering sekali jadi selundupan kalau ada acara- mereka yang sering kebagian rempong kalau dalam perjalanan saat aku membawa serta Faza.

 

Jadi yang selama ini akrab bagiku saat perjalanan adalah mencari PW alias ‘posisi weenak’ untuk si baby Faza. Heran juga, banyak yang bawa anak tapi mereka ogah memanfaatkan fasilitas ruang menyusui (nursery room) dan play ground padahal sudah difasilitasi. Aku rasanya kalau harus membayar akan tetap coba memanfaatkannya, hehe.

 

Walau pernah satu kali, aku pakai ruang menyusui yang cukup kotor, panas, dan menyedihkan di salah satu klinik di Banda Aceh, selebihnya alhamdulillah sangat bermanfaat dan memuaskan. Apalagi tidak banyak yang mau menggunakannya, jadilah terkadang aku dan baby-ku saja yang nyantai. Kali ini di Soetta, aku ajak Tia dan krucilnya, plus satu teman lagi yang semalam kurang tidur untuk persiapan berangkat. Yup, Lena menjahit baju seragam kami sampai kurang tidur. Yuk, ah, join dengan baby Faza.

 

2

mungil tapi lengkap

faza at nursery room

nursery room di Soetta terminal 3

7 3 5