my little angels

NHW#5

Setelah minggu kelima Matrikulasi Institute Ibu Profesional, baru kali ini meminta dispensasi pengumpulan Nice Homework. Walaupun Nice Homework sebelumnya tidak bisa dikatakan rampung dengan sempurna, karena setiap kali selesai mengumpulkan, ada revisi di sana-sini. Bunda Fasilitator dengan sabar membimbing dan meladeni pertanyaan-pertanyaan saya seputar Ibu Profesional dan proses matrikulasi ini. Adapun revisi biasanya saya diminta menyimpan kembali dan kemudian dilaksanakan setahap demi setahap. Sebenarnya ada tugas lain selain NHW yang harus saya rampungkan, makanya NHW#5 tertunda (hehe… ini semacam indikasi ngeles). Jadi setelah NHW#4 kita membuat KM milestone pencapaian-pencapaian tahap belajar dan muncul pula istilah akselerasi atau bahkan ketertinggalan, saya mulai menakar diri dan merasa ketertinggalan saya barangkali terlampau jauh. Tapi tetap harus optimis sebagai ibu yang ingin profesional membina buah hati dan juga mewujudkan keluarga yang sesantiasa memberi kontribusi untuk umat. Saya semakin banyak mensugesti diri dan berusaha tetap komit dalam segala tahap walau banyak yang harus dibenahi, jangan pernah menyerah, batin saya. Adapun setelah NHW#4 tugas saya adalah membuat jadwal harian lebih rinci dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dikarenakan jadwal seminggu tidak tetap, ada beberapa hari yang harus disesuaikan, tidak hanya sekedar membuat jadwal satu hari, saya membuat jadwal selama seminggu secara detail. Berikutnya tentu saja berdampak ke Checklist harian yang saya buat di NHW#3, maka panjanglah ceritanya.

Alhamdulillah walau tidak sesempurna yang tertulis di jadwal atupun checklist indikator, hari-hari kian terarah. Tidak sedikit yang melenceng dari jadwal, banyak pula checklist yang tidak dapat diconteng, namun tidak ada lagi yang namanya kocar-kacir dan ngos-ngosan mengatur waktu. Tidak ada lagi yang namanya tak sempat, sibuk berat, bingung bin galau karena kita sudah memberikan skala prioritas terhadap tugas harian, mingguan, dan bulanan. Adapun yang tak terkerjakan atau tertinggal tidak sampai jauh keteteran seperti sebelumnya, saat kita tidak meng-arrange waktu dengan baik. Paling melenceng sedikit dan beberapa jengkal dari target yang telah ditentukan. Bahkan masih bisa merasakan nikmatnya hablumminallah kembali walau tidak seperti saat sebelum menikah dulu barangkali durasinya berbeda. Maka akan kembali bertahap mengejar keinginan seperti dulu lagi beribadah dengan khusuk dengan durasi yang cukup lama. Tidak terpikir anak yang merengek minta ini dan itu, atau menarik pakaian kita, merobek mushaf saat tilawah, terbangun minta minum tengah malam, hingga minta dikelonin kembali. Namun memang sebenarnya kalaupun itu ada, sebagai jihad kita di rumah Allah pun sudah janjikan pahala, asalkan ikhlas dan tulus mengerjakannya.

Barangkali tidak terpancing bisikan galau, ‘ah, saya tidak mau membuat target yang tidak mungkin saya capai, yah … yang mungkin-mungkin saja’. Saya pun membuat di jadwal harian salat malam setiap harinya. Di sana dituliskan hari dimulai dengan qiyamullail dilanjutkan tilawah hingga menjelang fajar dan dilanjutkan dengan subuh sebagai penutupnya. Memang selama dua minggu dijalani, hal tersebut tidak setiap harinya dapat terlaksana. Namun jauh hari sebelumnya ketika target itu tidak dibuat, saya pernah menjalani hari berbulan-bulan dengan melewati sepertiga malam tanpa qiyamullail satu kalipun. Begitu pun dhuha, lalu terlampauilah hari-hari penuh dengan ketergesaan dan rasa sesal. Untuk mengerjakan hal dunia tidak selesai, akhiratpun keteteran. Intinya jadilah saya idividu tidak produktif. Sementara saat ini Alhamdulillah saya lebih percaya diri, secara bertahap akan sampai pada tujuan asalkan saya tetap komitmen mengayuh sepeda kehidupan dan telah mengamati peta perjalanan ke arah tujuan tersebut. Ada persimpangan ataupun tempat singgah dimana saya harus meminyaki rantai, mengganti onderdil yang aus atau bahkan dengan usaha keras saya bisa mendapatkan kendaraan yang lebih kencang dan nyaman, namun tentu saja saya harus memantaskan diri memilikinya. Belajar cara merawat dan menggunakannya, jangan sampai ketika berganti kendaraan yang lajunya lebih cepat, saya justru jatuh ke jurang, salah arah, atau bahkan crash di tengah jalan. Naudzubillah min dzalik, Allah sebaik-baik pelindung.

Menilik NHW#3 mulai dari surat yang saya buat untuk Eun Yud yang berarti di sana tertulis apa yang paling membuat hati kami terpaut, yaitu tentang takad yang kuat untuk terus beringingan belajar segala hal dalam universitas kehidupan ini. Lalu tentang anak-anak dan segala potensi mereka, dimana Akib lebih ke arah audio visual dan imajinatif, Biyya yang ramah Sang Kinestetis, lalu Faza akan dipandu oleh kedua kakaknya, barangkali dari sana kita bisa sama-sama mendesain Metode Pembelajan dan Kurikulum di rumah, untuk kemudian melakukan komunikasi dengan guru-guru mereka di sekolah formal. Bismillairrahmanirrahiim.

Well, NHW#5… Here we go

Design Pembelajaran dan Kurikulum Sekolah Rumah “Taman Kelinci”

Sebenarnya pemilihan nama di atas tidak akan banyak hubungannya dengan design yang dirancang atau bahkan beberapa sudah pernah dilaksankan di rumah kami. Tapi, putri tengah kami memberi nama sekolah rumah kami dengan nama di atas, Sekolah Rumah Taman Kelinci. Ingin sekali duduk bersama untuk merembukkan apa yang baik untuk dijadikan nama, tapi akan memakan lebih banyak waktu dan tentu saja perdebatan antara Akib dan Biyya (Faza belum terlibat dalam hal ini, karena ia baru tahu berdebat dalam rangka berebut gelembung sabun, hehe) sementara Akib tentu saja Bunda sudah tahu, ia akan memberi nama dengan hewan kegemarannya pula, Beruang Emas. Maka bisa-bisa namanya menjadi Goldbear Family HomeSchooling. Biyya akan bergidik ngeri dan jejeritan, maka perdebatan akan dimuali dan berakhir di teras rumah untuk abang beradik itu. Merenung berdua, apakah yang mereka perdebatkan itu cukup pantas dana pa manfaatnya.

Peraturan di Sekolah Taman Kelinci

  1. Perbanyak pelukan
  2. Saling memuji dan mengapresiasi segala pencapaian yang baik, walau sekecil apapun.
  3. Berusaha mengalah dan meninggalkan perdebatan yang tidak penting.
  4. Tidak bersuara tinggi.
  5. Berlomba dalam kebaikan dan kedisipinan (terutama disiplin beribadah).
  6. Memberi teladan yang baik untuk Faza sebagai batita yang paling peniru di rumah untuk saat ini.
  7. Bercerita permasalahan di luar rumah
  8. Berbagi cerita inspiratif di rumah.
  9. Menjaga kebersihan diri dan kamar sendiri.
  10. Menjaga dan merawat benda milik sendiri.
  11. Melaksanakan to do list yang sudah dibuat bersama mulai bangun hingga tidur malam ( list sudah ditempel di Mading rumah dan silakan diconteng sendiri )

 

Desain pembelajaran untuk Akib (Audio Visual)

  • Materi-materi yang sulit dimengerti akan dicarikan gambarnya di internet, kemudian diprint dan ditempel di Mading Pribadi Akib
  • Mencari dan mengunduh video di Youtube mengenai materi yang sulit dimengerti oleh Akib
  • Akib boleh mengakses program Corel Draw, Sketch Up, Smooth Draw, dan Photoshop di Laptop Ayah atau Bunda jika laptop tersebut sedang tidak digunakan untuk kerja.
  • Bunda membacakan kembali materi yang sudah dipelajari di sekolah kemudian berdialog dengan Akib (metode cerita, dilaksanakan bada magrib menjelang isya).
  • Tanya jawab dengan Narsum setelah tausiyah magrib (Materi seputar adab dan ibadah)
  • Bekerjasama dengan guru mentoring jumat dab Bunda mengulang materi yang disampaikan di rumah (Akib boleh memulai cerita atau Bunda bertanya).
  • Hari gawai sabtu-minggu diusahakan menonton satu video tausiyah atau murajaah hafalan sebelum memulai main game dll.
  • Latihan memanah seminggu sekali (belum dimulai, sedang observasi tempat, waktu dan mentor).
  • Buku baru sebulan sekali (dianjurkan meresensi dengan tulisan jika selama ini hanya mengulas secara verbal).
  • Bermain outdoor di akhir pekan. Laut, taman, silaturrahim dengan keluarga.

Metode Pembelajaran Untuk Biyya (Kinestetis)

  • Materi yang sulit dimengerti akan diulang langsung saat pulang sekolah sambil bermain dengan Faza atau saat di Dayah bersama kakak-kakak sambil bermain (Biyya bersekolah half day dan ikut Bunda mengajar setelah pukul 11.00).
  • Menjaga komitmen Biyya yang selama ini sudah tekun dan memiliki tekad kuat untuk lancar mengaji. Tipikal Biyya mudah termotivasi, jadi Bunda harus lebih piawai mencari diksi agar Biyya tetap semangat mengaji.
  • Mengingatkan komitmennya untuk disiplin beribadah (terutama salat 5 waktu), sebisa mungkin diulang perjanjian Bunda dan Biyya, jika Biyya tidak langsung mengambil wudhu dipanggilan kedua, Biyya membolehkan Bunda menyentil telinganya.
  • Meluangkan waktu bersama Biyya untuk membuat donat atau pizza seminggu sekali (hari sabtu pukul 11.30).
  • Membacakan buku, mengajari Biyya storytelling di sela-sela membaca buku.
  • Biyya tidak diberikan pelukan selama satu hari jika mulai malas-malasan untuk mengerjakan to do list-nya (sudah ditempel di Mading ruang tengah).
  • Latihan pencak silat seminggu sekali di Gedung Dakwah Muhammadiyah Nomor 7 (Bunda senantiasa harus mengingatkan diri bahwa Biyya tidak boleh dilarang sepenuhnya dan secara frontal ketika ia mulai melatih gerakan-gerakan pencak silatnya di rumah atau saat kami berjalan-jalan akhir pekan).

Metode Pembelajaran Untuk Faza (Sang Bijaksana belum terlalu jelas cara belajar yang cocok)

  • Memberikan teladan yang baik dalam berkata-kata
  • Banyakkan pelukan, ciuman, dan berbicara dengan lugas dan jelas
  • Perdengarkan murattal lebih sering.
  • Bacakan buku lebih sering.

Barangkali hanya ini untuk permulaan saja, design yang saya buat untuk ketiga buah hati dan seklaigus untuk saya dan suami agar bisa menyesuaikan dengan jadwal anak-anak. Semoga mampu menjalankannya dan bermanfaat, terutama bagi keluarga kami.

 

-Bunda Aini-

Jadwal Harian Bunda

JADWAL HARIAN BUNDA

 

SENIN Time/Period Activity
04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
  05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
SELASA

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
RABU

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Jurnalistik dan Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
KAMIS

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-08.00 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
08.00-09.00 Dhuha/ update blog
09.00-11.30 Kajian rutin
11.30-15.00 Menjemput Biyya/ salat zuhur/ bermain dengan Biyya dan Faza/ Membaca
15-00-16.00 Tidur siang atau evaluasi bacaan quran Biyya
16.00-19.00 Salat asar/persiapan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam/ngobrol santai dengan keluarga/ mengawasi anak-anak menyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar / main dengan Faza kalau dia belum tidur
22.00-04.30 Tidur
JUMAT

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Kelola grup WA PWNA Aceh
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-13.00 Persiapan salat zuhur dan les TOEFL
13.00-17.00 Les TOEFL/ IELTS = perjalanan pulang
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
SABTU

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Tentatif
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-11.30 Memasak Donat atau Pizza dengan Biyya
11.30-17.00 Persiapan ke kantor PWNA/ ke panti asuhan Punge

Diskusi dengan pengurus/ kelas kajian putri/ kajian sabtu sore

17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
MINGGU  04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh / membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.30 Persiapan outdoor dengan anak-anak/ olahraga/ rihlah/ silaturrahim
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ persiapan sekolah anak-anak/ persiapan mengajar
21.00-04.30 Tidur

 

\

 

 

 

 

Adab Menuntut Ilmu

 Sebelum mengeposkan tulisan ini, akan dijelaskan sedikit bahwa ini merupakan catatan kelas matrikulasi Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP Batch #3 Sumut-Aceh). 

 Dengan bismillah, Bunda kembali mengatur waktu, masih dengan debar yang sama saat pertama sekali mempunyai kalian duhai ananda, betapa dirasa beratnya amanah ini. Menjadi Bunda bagi kalian anak-anak yang  telah Allah titipkan. Bunda tahu sebab sangguplah maka Allah berikan, di samping syukur yang terus kami rapalkan, kami pintakan agar selalu dibimbing-Nya mengasuh dan mendidik kalian. Bismillaah Bunda bisa, harus bisa menyiapkan gelas-gelas kosong untuk kerap menimba ilmu, dan entry kali ini adalah materi kuliah bersambung yang disampaikan di IIP Batch 3 dengan sudah seizin fasilitator diposting berseri di blog pribadi dengan harapan bisa mendatangkan manfaat sebanyak-banyaknya untuk yang membacanya, juga sebagai pengingat diri.

 

PROLOG 1

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL

☘☘☘☘
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.
☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Majelis Lukmanul Hakim

Merupakan sebuah kebahagiaan yang tak terperi ketika pasangan kita memiliki kemauan menolong dan bersinergi dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak yang notabene diamanahkan untuk kita berdua, bukan salah satunya, bukan dimanahkan pada ibu saja, bukan pula pada ayah saja. Kali ini fokus pada stigma yang umum terlihat di masyarakat, dimana pengasuhan dan pendidikan anak-anak adalah tugas ibu. Apalagi populernya gaung ‘ibu adalah madrasah pertama bagi anak’, diikuti dengan kalimat ‘tugas utama ayah adalah mencari nafkah’, yang pada akhirnya semakin mengikis peran ayah dalam pendidikan sehari-hari di rumah.
Sebenarnya ini hanyalah sekedar pengantar resume dari pertemuan Majelis Lukmanul Hakim yang digagas oleh komunitas Home Education Aceh pagi tadi 21 Januari 2017 di aula 3 in 1 Coffee, Lampineung. Lalu siapa saya ya, peserta atau anggota komunitas? Hehe… bukan. Saya hanyalah seorang istri yang sedang sumringah, berbunga-bunga dan bahagia karena ‘Partner Segala Hal’ saya dengan semangat yang cukup stabil (saya kurang suka yang menggebu-gebu, jadi kurang seimbang dan terlihat labil) sejak bulan lalu sudah berniat ikut andil dalam pertemuan pertama Majelis Lukmanul Hakim ini yang kemudian sampai hari H, beliau tetap dengan semangat yang sama turut hadir di pertemuan perdana.
Awalnya saya menceritakan buku Ustad Aad (Adriano Rusfi) yang belum saya miliki satu pun (kasihan saya) dan menceritakan pemaparan beliau mengenai pendidikan anak. “Saya melihat/membaca dalam alquran mengenai pendidikan anak. Kemudian saya menemukan satu nama Lukmanul Hakim, dimana nama tersebut pun menjadi salah satu nama surat dalam alquran. Kemudian saya juga menemukan nama Ali Imraan. Membaca lagi bagaimana kisah Ibrahim yang membekali pendidikan Ismail dan masih ada yang lain di dalam alquran. Setelah saya telaah dan teliti lagi, kesemuanya itu jenis kelaminnya laki-laki. Semuanya adalah seorang Ayah. Jadi saya mengambil kesimpulan bahwa pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab seorang Ayah, bukan ibunya. Ibu bertanggung jawab atas pengasuhan anak.”
Tring! Di atas itu adalah intro saya saat pillow talk pada hari saya mengikuti seminar parenting Fitrah Based Education. Saya lanjut memaparkan beberapa hal yang saat itu amat lekat diingatan, karena ada hal-hal yang barangkali lebih detail terlewat oleh saya, sebab sesuatu terjadi saat berlangsungnya seminar yang mengharuskan saya keluar sekitar 40 menit (mungkin lebih) karena mendapat kabar yang mengejutkan, sepupu saya yang sedang dirawat di RS meninggal. Saat kembali ke ruangan fokus saya mulai terpecah dan catatan yang saya buat di note telepon selular tidak tuntas.
Seperti biasa, Eun Yud cukup antusias. Sebagaimana ia selalu memfasilitasi keinginan saya untuk belajar dan turut serta berikhtiar menimba ilmu serta berdoa dalam-dalam agar Allah kerap membimbing kami dalam mendidik dan mengasuh anak-anak. Kita sudah berikrar sejak awal menikah untuk menjadi pribadi pembelajar, bersinergi sepanjang usia, dan berniat bahwa ini upaya kami agar kelak bisa bertemu lagi di Surga-Nya. Karena dalam diskusi panjang kami setiap ada kesempatan, kami sadar apalah kami, bukan seorang alim ulama, bukan pula seorang ahli ibadah. Apa modal kami untuk memiliki anak yang saleh dan saleha? Tentu hanya satu, ikhtiar. Nah, itulah yang kami kerjakan selagi nafas dikandung badan.
Lalu dari sanalah diskusi kami malam ini bermula. Dengan beberapa lembar catatan yang dibawa pulang oleh si ayah. Bunda yang pelupa ini tentu harus mencatat kembali demi mengekalkan ilmu yang bermanfaat tadi. Kami memang sedang berkompetisi siapa yang paling punya kontribusi di dalam keluarga inti dan selanjutnya saling mengapresiasi.
Oh well, ini pengantar yang cukup panjang untuk beberapa poin yang sempat dicatat Sang Kapten kami di Majelis Lukmanul Hakim tadi, semoga bermanfaat terutama untuk kami yang fakir ilmu ini.

Intro
Poin pertama yang disampaikan tentu saja penegasan bahwa Ayah adalah seorang pemimpin, harus memiliki visi dan misi. Seorang Ayah cenderung menggunakan kekuatan finansial untuk mendekatkan dirinya pada anak-anak. Ayah adalah penanggung jawab keluarga yang kemudian akan mentransfer sisi maskulinnya pada anak. Ayah memiliki ego kuat yang mempengaruhi.
Seorang anak selain kuat sosialisasinya, perlu juga dikuatkan individualisasinya, di sinilah pentingnya peran ayah. Ibu biasanya mengajarkan mengenai sosialisasi dan anak yang tidak kuat individualisasinya akan mudah terombang ambing pergaulan, selagi lingkungannya mendukung kebaikan maka ia akan baik dan ketika terpapar pergaulan buruk, ia kan mudah terikut.

Pandangan Islam Tentang Peran Ayah

  • Dalam Alquran ada surat Annisa, tidak ada surat Arrijal, tetapi dalam surat Annisa dikatakan bahwa lelaki adalah pemimpin kaum perempuan.
  • Tugas utama laki-laki adalah menjadi pemimpin. Mencari nafkah adalah penopang kepemimpinan.
  • Setiap turun ayat mengenai perempuan dan anak, maka Rasulullaah mengajarkannya kepada laki-laki.
  • Doa anak akan didapatkan oleh ayahnya jika ayah tersebut mendidik anaknya di waktu kecil. Hal ini sesuai dengan apa yang dilafadzkan dalam doa “Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayaani shaghiraa” sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu aku kecil. Nah, bagaimana kita menyayangi anak kita di waktu kecil?
  • Tugas ayah adalah mendidik anak dan ibu tugasnya mengasuh anak. Melahirkan, menyusui, dan lain-lainnya sudah sangat menguras energi ibu, jika pengasuhan dan pendidikan semuanya dilimpahkan kepada ibu, akhirnya ibu yang kelelahan serta disergap emosi negatif yang memberikan pendidikan untuk anak-anaknya.

Ketika Ayah Lepas Tangan

  • Lahirlah generasi remaja
  • Anak kehilangan ketegasan, tidak berani tampil beda
  • Ibu repot sendiri, frustasi, mudah emosi bahkan bisa jadi depresi.
  • Anak tujuh kali lebih rentan terhadap penyalahgunaan Narkoba.
  • Kurang rasional, tidak mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan.
  • Ayah tidak mendapatkan doa anak.

Percepatan baligh bisa ditekan dengan masalah, ayah perlu memberikan masalah. Dengan memberikan masalah, maka anak akan berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah, tentu saja ayah hanya membimbing tidak mengintervensi setiap tindakan yang dilakukan anak.

Jika Ayah Sibuk

  • Evaluasi kembali sebenarnya kita mencari nafkah untuk apa dan siapa?
  • Jadilah pekerja yang cerdas
  • Jika fisik tak sempat, minimal hati, empati dan perhatian.
  • Gunakan segala sarana komunikasi yang ada.
  • Menangani anak sangat berguna untuk pekerjaan
  • Kenapa kita tidak libatkan saja anak?
  • Jika terpaksa, delegasikan ke ibu.
  • Memberikan permasalahan kepada anak.
    Anak 7 tahun ke atas sudah boleh dberikan permasalahan
    Anak terlebih dahulu sudah dibekali solusi
    Jangan merasa takut membagi permasalahan dengan anak.
  • Jangan lupa tetap memahami dunia anak yang penuh dengan keceriaan
  • Pada dasarnya anak-anak suka dengan permasalahan dan misteri
  • Model pendidikan jangan terlalu mengalah pada zaman dan jangan terlalu mengalah dengan waktu.
  • Pentingnya mematangkan anak.
  • Mastermind dalam sebuah musyawarah diperlukan. (Penjelasannya cukup njlimet ini, intinya keputusan dalam musyawarah harus diayahfikasi terlebih dahulu). Sebuah seni mengarahkan.

Tips Bagi Ayah yang Sibuk

  • Delegasikan kewenangan
  • Keep in touch
  • Konsekuensi learning (Arrum 41)
  • Sebahagian nafkah ke istri (Annisa 34)
    Kesempurnaan terjadi jika ada titik keseimbangan terbentuk. Titik keseimbangan inilah yang harus dicapai.

 

Peran Ayah

  • Man of vission and mission
  • Penanggung jawab keluarga
  • Konsultan pendidikan
  • Sang ego dan individualitas
  • Pembangun sistem berpikir
  • Penegak profesionalisme
  • Supplier maskulinitas
  • ‘The King of Tega’

Pencapaian itu sangat penting, jadi harus ada goal getting dan goal setting bukan sekedar problem solving. Harus ada langkah-langkah menuju tujuan.

Demikian resume pertemuan Para Ayah Hebat pagi tadi. Walau secara pemaparan langsungnya akan sangat menarik, apalagi berkumpulnya para Ayah lengkap dengan cangkir-cangkir kopinya, tadi saat sharing materi ini ke saya terlihat ada binar optimisme dan kebahagiaan di mata Eun Yud. Tentu adanya aura semacam ini karena baru saja mengisi penuh baterai saat berkumpul tadi.  Ada sekitar 50 ayah luar biasa yang berpartisipasi.

Tentu ini amat besar manfaatnya untuk negeri yang pernah terdengar oleh kita kemarin bahwa Indonesia termasuk Fatherless Country karena adanya peningkatan kenakalan remaja, kita dikatakan negeri tak berayah, juga merujuk pada banyaknya single parent wanita. Anak-anak besar tanpa sosok ayah.

Seminar-seminar parenting yang pernah saya datangi menunjukkan fenomena ini masih bertahan, dimana biasanya ayah atau kaum lelaki yang datang hanya segelintir saja, kalau sudah membicarakan pengasuhan dan pendidikan anak, kaum perempuan yang merasa wajib untuk hadir.
Majelis Lukmanul Hakim ini sangat direkomendasikan untuk para ayah ataupun calon ayah. Termasuk untuk para paman yang menjadi wali para ponakannya ketika mereka membutuhkan figur seorang ayah, misalkan ayah mereka menghadap Allah lebih cepat.

 

Akan ada sensasi yang berbeda saat para ayah yang memiliki misi sama, yaitu untuk memulai penguatan dari rumah, duduk semeja. Langkah seperti ini sudah harus dimulai dan gaungnya harus terus ditingkatkan. Hal sekecil apapun itu akan bisa menyelamatkan generasi kita. Bagi saya ini adalah kegiatan yang terlihat kecil tapi berdampak besar seperti yang pernah disebutkan oleh Pak Abdul Mu’ti, jangan pernah remehkan kaderisasi keluarga. Jika keluarga hancur, kehancuran negara tinggal menunggu waktu saja. Ini merupakan strategi longitudinal, yakni mendidik anak-anak sekarang, dimana ke depannya mereka-mereka inilah yang akan menjadi orangtua.

Semoga dimudahkan-Nya. Aamiin ya, Rabb.

 

Waktunya menerapkan apa yang sudah didiskusikan tadi. Semoga para ayah di Majelis Lukmanul Hakim tetap terjaga semangatnya.

Sebab Kita Sedang Berjuang

Kita Sedang Berjuang

Sebab kita, Nak… sedang berjuang. Tidaklah sama kondisi kita dengan yang lain. Barangkali ada sedikit kesal kenapa Ayah dan Bunda turut menarik kalian ke dalam pusaran perjuangan, tapi yakinlah anak-anakku, kita akan memanen apa yang telah kita semai. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tidak pula sama nilainya di mata Yang Maha Kuasa yang berpeluh dan tanpa berjuang mengejar nikmat dan hidayah-Nya. Maka simpanlah seonggok kesal dan uraikanlah dengan segala prasangka baik pada-Nya.

Sebab, Nak, kita ini sedang berjuang. Perpanjanglah sumbu sabar. Ini bukan sebuah lelah tak berujung.

  • Lamteungoh, di tengah kedahsyatan rasa itu. Di tengah perjuangan bak gelontor gemuruh panjang menghantam.

November 30th Funniest Disaster (no.. no more, kiddos!)

Sebenarnya niat menyalakan laptop malam ini tak lain dan tak bukan adalah untuk menyelesaikan sebuah worksheet lagi untuk anak-anak kelas 9. Tapi sampai ke rumah tadi sore lalu disambut dengan senyum Akib dan Biyya plus celoteh mereka berdua pasca dijemput si ayah tadi siang, membuat fokus si bunda ini hilang sekejap mengenai tugas luar. Disimpan, dilipat yang rapi dan disembunyikan di balik karpet ruang tengah untuk sementara waktu. Langsung menyiapkan makan malam sambil melayani celotehan kedua kakak adik itu, sementara Faza sudah tidur.

ab6a0af3a26efc4290478714140d9f66

Ah, Akib Biyya! Akur-akurannya nggak pakai lama. Entah apa asal mulanya, Biyya jadi sebal sama Akib. Akib juga semakin menjadi-jadi menggoda Biyya. Magrib menjelang dan seperti biasa kita salat berjamaah. Biyya masih dengan seonggok kesalnya salat masbu’ satu rakaat. Akib juga ba’da salam masih juga mengomentari Biyya yang arah manik matanya tidak ke tempat sujud. Padahal tadi si bunda sudah bilang, “ayo, Biyya… pergi wudhu terus supaya setannya pergi, marahnya reda.”

Ayah dan Bunda tidak begitu menggubris sengketa yang nggak jelas asal mulanya, sepertinya tadi tidaklah seserius itu, hanya karena salah gambar dan buku Biyya sobek sedikit, Biyya tidak terima, Akib juga ogah minta maaf. Kami juga tidak memaksa salah satunya minta maaf, tapi tetap bilang hal seperti itu jangan dibesar-besarkan Biyya, dan Akib kalau memang tidak sengaja sebaiknya dijelaskan ke Biyya. Nah, bagus kalau ada yang minta maaf dan lainnya mau memaafkan. Tapi keduanya bersikeras tidak ada yang mau mengalah apalagi minta maaf.

Baiklah, usai salat kita ada tausiyah dan sedikit diskusi. Biyya yang masih kesal ikut dengan tertib termasuk mengaji, mengambil buku iqra-nya dan mengulang setengah halaman. Bang Akib justru melendot di samping bunda, mendengarkan bunda baca quran supaya dapat rahmat. Iih, ini ikut ayah atau bunda, ngeles nggak baca nyimak doang. Oke, bangkitlah, Kib, giliran Akib mengaji. Malam ini Akib berhasil mengelak karena sudah waktunya makan malam. Masih dengan berdebat hal yang tidak penting di meja makan, Ayah minta Akib dan Biyya lebih tenang. Acara makan berlangsung lancar dan khidmat. Kecuali Akib yang tidak menghabiskan nasinya sekitar tiga suap. Di meja makan si ayah ada panggilan juga, Tengku Ballah memberi kabar akan bertandang ke rumah sekejap. Oke… sulit melepaskan telepon selular kalau sudah mulai ada panggilan tiba-tiba.

Ayah balik lagi bergabung ke meja makan tapi dengan si seksi tadi, penarik perhatian nomor satu. Si telepon genggam. Mulailah percakapan banjir Singkil tadi terputus. Tema jadinya entah kemana-mana. Sejauh ini situasi under control. Bunda menegur kuku Akib yang mulai panjang. Biyya yang hobi sekali menggunting kuku, berinisiiatif lebih dulu mencari penjepit kuku. Nah, iniah muasal perkara besar malam ini.

Ya, benar kita punya beberapa penjepit kuku dengan berbagai ukuran. Hanya satu yang masih baru, mengkilat, tajam dan jadi favorit. Biyya yang sepertinya sejak tadi masih ‘belum terurai’ perasaannya, mulai lagi membuat Akib kesal. Akib juga sudah mengantri jepit kuku favorit tadi. Selain membuat lama proses pemotongan kuku tangannya, Biyya mulai lebay ingin memendekkan lagi kuku kakinya. Pada dasarnya itu tidak begitu urgen. Bisa dilihat dari kuku kakinya yang masih pendek dan bersih. Ada saja cara Biyya supaya penjepit kuku itu tetap   di tangannya. Ini si abang yang sejak awal juga semakin besar gondoknya dengan si adik. Pecahlah perang suara.

“Sssttt… Dedek Faza bobok sayang, jangan ribut. Ayo kakak adik harus sayang-sayangan…” cara persuasif dilaksanakan, karena kalau larangan jangan berantem akan semakin memantik perselisihan. Mulailah saling mengeluh tidak suka abang yang begini, tidak suka adik yang begitu. Suara naik sekian oktaf. Seperti biasa si bunda minta tolong ke ayah untuk menggondol kakak adik ini ke teras supaya mereka bisa meanjutkan adu mulut dengan adu jotos sekalian tanpa mengganggu kami seisi rumah yang butuh ketenangan.

“Ayah, tolong angkat Akib, Bunda gendong Biyya ke luar!” ini klimaks. Gendongan yang tidak dirindukan keduanya adalah saat ini. Biyya yang fisiknya lebih terlatih dibanding Akib, tentu saja bunda urus duluan. Langsung, deh, dia ngacir sambil bilang kalau mereka sudah akur. Akib demi melihat penjepit kuku yang tergeletak langsung memungut dan mulai memotong kukunya sambil menyalah-nyalahkan Biyya yang memulai keributan ini. Melihat gelagat Akib yang belum bisa berdamai, bunda masih usaha menangkap Biyya yang ternyata cukup licin seperti lele- berhubung bunda belum pernah nangkap belut, baru kaliber ikan lele- sungguh Biyya sulit dicekal. Dia juga mahir mencari tempat yang membuat proses ini beribet. Meja makan. Kami berputar mengitari meja makan. Bunda harus mengeluarkan sedikit jurus Harimau Menepis apalah gitu, untuk bisa mencengkeram gadis yang rutin main pencak silat setiap minggu itu. Lengannya dapat, mulai bunda apit kedua kakinya supaya lebih nyaman. Eh Biyya nya malah meronta jadi kaki satunya lagi terjuntai. Bunda hanya memegangi satu lengan satu kaki. Jarak meja makan ke pintu keluar sekitar sepuluh langkah, supaya Biyya tidak sakit, bunda singkat dengan berlari.

Ayah siaga dengan Akib, tapi lebih cekatan bunda lagi. Penjepit kuku terlepas dari tangan Akib, bunda tarik Akib ke luar. Akib dan Biyya sudah di teras dan pintu bunda kunci. Histeria Akib yang tidak suka dikunci di luar, ia mulai menggedor sampai Faza terganggu tidurnya. Bunda mengurus Faza, Ayah keluar mengurus Akib dan Biyya. Untuk menenangkan Akib ayah berikan satu gertakan di kaki Akib. Ayah juga menantang Biyya dan Akib adu jotos di teras. Dihadapkan berdua. Selesaikan sengketa, habis-habisin kesal. Mereka cuma gagu, menangis keduanya. Ayah mulai pidato Akib masih belum bisa menstabilkan emosinya. Matanya masih menyala, Biyya mulai menyesal dengan apa yang terjadi dan mereka harus berakhir di teras rumah menjelang isya. Ayah melanjutkan pidato sambil nggak mau rugi waktu. Hehe… kasih pakan kelinci dan isi penuh dot mereka semua. Di teras ada tumpukan daun Indigofera, di samping itu Akib dan Biyya duduk bersandar ke dinding. Pidato ayah terus berlanjut. Bunda tidak tahu lagi apa kejadian, tapi dari dalam terdengar suara pidato ayah saja. Hahaha…

Terdengar Akib mengulang hafalan doa iftitah, bergantian dengan Biyya. Di sekolah mereka diajarkan doa iftitah Allaahuakbar kabira… sementara di rumah kita juga menghafal yang lebih singkat Allahumma ba’id… Biyya antusias. Laporan terkini dari ayah, Biyya tadi mencoba tenang, dewasa dan mencairkan suasana. Akib masih dengan amarah membara dan tidak terima. Faza minum dan minta makan, karena memang belum sempat makan malam tadi langsung tidur. Setelah selesai bunda elus punggungnya dan melanjutkan tidur lagi.  Bunda wudhu dan pakai mukena. Beranjak ke teras. Meihat ayah sedang mempreteli daun indigo dari tangkainya. Akib dan Biyya masih bersandar dengan kaki ditekuk. Keduanya memeluk kaki dan bersandar ke dinding. Terenyuh hati bunda menyaksikannya.

“Gimana kalian berdua?” bunda tanya dan Akib langsung menoleh ke bunda dengan mata yang memerah dan kali ini memelas. “Kami udah baikan.” Sekilas bunda bertanya kenapa hanya menatap ayah yang sedang menyiangi pakan kelinci, bukannya ikut membantu. Akhir cerita bunda suruh keduanya masuk, sebeum tidur ambil wudhu dan salat isya. Bada isya Biyya masih dengan hafalan doa iftitah dan meminta buku berisikan doa tersebut. Ia keluar lagi memamerkan buku itu ke ayah. Malah minta menyetor lagi nanti. Biyya … Biyya…

 

ignore-them