my little angels

Yeay! Baby Traveling

IMG-20160830-WA0050

nursery room di Hang Nadim, Batam

IMG-20160830-WA0051

 

Jadi selama ada Faza yang usianya pun baru 20 bulan beberapa hari ini, sudah dua kali harus boyongan rada jauh. Memang inginnya tahan dulu sampai usia sapihnya, yakni 2 tahun ke atas, baru aku bisa melawat ikut acara ke sana ke mari. Tapi ke Bandung dan Jogja ini agaknya sudah menjadi kewajibanku, mau bilang apa? Memang terbayang bagaimana ribetnya traveling dengan baby, tapi mau tak mau harus dinikmati.

Bukan hanya ke luar Aceh, dengan Faza aku mengelilingi separuh Aceh, pantai Barat Selatan, Tamiang, dan lain-lain. Terima kasih berat buat my partner in everything, Syarifah Mutia Septiyani dan adikku Syarifah Zainab-yang sering sekali jadi selundupan kalau ada acara- mereka yang sering kebagian rempong kalau dalam perjalanan saat aku membawa serta Faza.

 

Jadi yang selama ini akrab bagiku saat perjalanan adalah mencari PW alias ‘posisi weenak’ untuk si baby Faza. Heran juga, banyak yang bawa anak tapi mereka ogah memanfaatkan fasilitas ruang menyusui (nursery room) dan play ground padahal sudah difasilitasi. Aku rasanya kalau harus membayar akan tetap coba memanfaatkannya, hehe.

 

Walau pernah satu kali, aku pakai ruang menyusui yang cukup kotor, panas, dan menyedihkan di salah satu klinik di Banda Aceh, selebihnya alhamdulillah sangat bermanfaat dan memuaskan. Apalagi tidak banyak yang mau menggunakannya, jadilah terkadang aku dan baby-ku saja yang nyantai. Kali ini di Soetta, aku ajak Tia dan krucilnya, plus satu teman lagi yang semalam kurang tidur untuk persiapan berangkat. Yup, Lena menjahit baju seragam kami sampai kurang tidur. Yuk, ah, join dengan baby Faza.

 

2

mungil tapi lengkap

faza at nursery room

nursery room di Soetta terminal 3

7 3 5

Children’s daily report

Waktu bergulir cepat dan akumulasi bulan itu menjadi hitungan satu tahun selang beberapa minggu lagi. Yup, kami berencana punya lima momongan –sebenarnya aku tidak begitu berani menyebutkan rencana ini– tapi katakanlah saat ini si bungsu Faza akan genap setahun. Kemudahan dan perkembangan gemilangnya seperti abang kakaknya dulu, semoga ini ungkapan syukur bukan takabur. Allah memudahkan banyak hal untuk kami terkait anak-anak. Hamil, menyusui, melahirkan, dan menemani tumbuh kembangnya. Paling tidak ini membuatku terlupa akan kesulitan-kesulitan yang kami alami di beberapa hal sebagaimana janji Allah di surat Al-insyirah “Sesungguhnya di setiap kesulitan ada kemudahan” dan aku amat layak menyebutkan sebagai wujud syukur.

Kembali mengenai Faza yang sudah tumbuh gigi, berat badan baik, sudah bisa berdiri dan melangkah satu atau dua langkah. Pintar bermain dengan Akib dan Biyya, juga betapa semaraknya rumah dengan suara sahutannya ketika kami berkata “ciluk” dan Faza berteriak “Baa”. Meminta dibacakan buku dengan cara menyodorkan buku pilihannya sambil berkata “uu.. uu” atau “hm.. hm” memanggil kakak dan abangnya. Mengikuti instruksi Biyya dan Akib saat. Kalau sedang bermain denganku di siang hari, Faza suka sekali bermain ciluk ba, menyembunyikan dan menampakkan wajahnya di balik dinding.

 

19 Agustus 2016

Faza menjelang dua tahun, bicaranya banyak sekali dan kosa katanya semakin kaya. Selain menggemaskan, kini ia bisa jadi pemantik cemburu Biyya bahkan Akib. Overall, they still love him aswell.

Kabar Akib saat ini agaknya semakin banyak menelan kecewa karena perbandingan yang tak sepadan yang ia saksikan di sekitarnya. Seperti keinginan ikut kemah ukhuwah di Sumbar yang tidak bisa kami kabulkan karena kami sudah menabung sedikit untuk keberangkatannya ke Malaysia bulan Januari 2017, kami tidak punya cukup budget mengenai hal-hal yang dikabarkan tiba-tiba. Tanggal 24 Agustus aku juga harus bertolak ke Jogja bersama Faza, ini menambah daftar protesnya. Tapi Akib memang anak yang blak-blakan, ia bisa mengatakan semuanya dengan terang. Walau aku sebagai ibunya agak sedikit kecewa atas ucapan kecewanya yang terlalu lugas, barangkali aku bisa sedikit maklum karena Akib tidak cukup dewasa untuk bisa menyematkan begitu banyak maklum di pundaknya. Singkatnya kami orangtua yang belum berhasil menanamkan sikap dewasa dan pengertian di diri Akib. Sedikit dewasa dan pengertian itu yang masih jadi PR besar kami berdua.

Biyya seperti biasa penuh permakluman dengan syarat dan ketentuan berlaku. Anak yang bisa dibujuk dan lebih dewasa dibanding kakak laki-lakinya. Semoga Allah benar-benar menganugerahkan kebijaksanaan sejak engkau kanak-kanak, ya, Hukma Shabiyya. Aamiin.

Catatan tentang tiga malaikat kami baru sampai di sini malam ini. Aku lupa tanggal tepatnya aku menulis catatan paragraf pertama dan kedua di atas. Barangkali sekitar empat bulan lalu.

FB_IMG_1460037152701

foto doc pribadi

Faza dan renungan hari ini

Jam menunjukkan pukul 15.45. Faza sudah makan siang, sudah minum susu dan tiduran di lantai. Tiduran itu hanya sekedar golek, menempelkan pipi chubby-nya ke lantai, menikmati sensasi dingin ubin ruang tengah.Kartun Paw Patroli menyala di DVD sejak pagi tadi, Akib, Biyya, dan Faza seharian ini di rumah.

Oh, Akib baru saja keluar diajak Ayah belanja bulanan. Biyya mulai kedatangan tamu-tamu kecil, Zahra dan Alwi. Mereka mulai menggambar dan mewarnai di teras rumah.

Tinggal aku berdua dengan Faza di depan TV. Video Paw Patroli kubiarkan menyala sambil melanjutkan buku Tamim Ansary. Bahasan mengenai Khalifah Ustman sangat menarik minatku, saat SMA aku pernah membaca biografi Ustman bin Affan dan sosok yang sangat menyihirku. Kini dengan bahasan yang tidak sebegitu detail, sosok Ustman tetap menawanku. Semoga Allah senantiasa meridhai sosok lembut dan filantropis ini.

Aku kaget ketika menoleh ke kiri, Faza setengah terpejam menikmati semilir angin dari kipas angin di sudut ruangan. Wah, aku terpana lagi. Sungguh nikmat waktu dan kemudahan yang Allah berikan tak mampu dipungkiri. Tapi iman ini tidak cukup baik, apatah lagi jika dibandingkan dengan shahabiyah. Sungguh bukan sebuah kepantasan bagi hamba dhaif sepertiku.

Menatap wajah tidur Faza dan mulai menulis postingan sederhana ini. Kelak ketika aku terlupa dan diuji, lalu aku mulai menginterogasi-Nya. Kenapa, duhai Allah? Mengapa? Dua awalan yang tidak pantas digunakan hamba yang dihujani milyaran nikmat. Semoga ini benar-benar menjadi pengingat.

Suguhan 13 Agustus 2016

Melepas dengan rela

Ada banyak hal atau kebiasaan yang tidak bisa lagi kita pertahankan ketika kita memutuskan berumahtangga dan memiliki anak. Jangan lakukan atau tinggalkan kebiasaan tersebut dengan terpaksa. Lepaskan dengan hati yang ringan penuh kerelaan karena ini akan erat kaitannya dengan pengasuhan yang akan kita lakukan ke depan bersama pasangan.

Salah satu yang paling pokok itu memutus rantai kemalasan. Bentuk kemalasan beragam dan lawanlah dengan tegar. Mulai dari malas bangun pagi, malas mencari referensi untuk menambah wawasan sebagai ortu, dan banyak lagi.

Satu hal lagi, konsisten dalam peraturan. Seiring dengan rajinnya kita belajar, akan ada pengetahuan-pengetahuan baru yang bisa kita terapkan untuk dapat bisa mencapai tujuan bersama. Konsisten adalah pemegang kunci.

Untuk kali ini, dari sekian banyak hal, biarlah hanya dua dulu yang tercatat sebagai pengingat diri. Semoga Allah memberkati.

fb_img_1464230002332