Parenting

PROFESIONALISME

PEKAN KEEMPAT MENJALANI MATRIKULASI Institute Ibu Profesional membuatku kembali mengambil waktu dan merenungkan perjalanan awalku untuk mengambil keputusan menikah, menjadi istri dan kemudian menjadi ibu. Siapapun ia, kupikir, yang sudah seusiaku dan kemudian memulai milestone sekian KM untuk memulai menjadi ibu profesional akan mengatakan usia pernikahan nyaris 12 tahun kemudian usia kini adalah 33 tahun menjadi begitu terlambat mengikuti kuliah ini. Kita tak boleh nerandai-andai karena sebuah hadits mengatakan itu merupakan pintu masuk setan. Adalah demikian elok saat sebelum kita menikah, membekali diri untuk menjadi istri dan ibu, tepat seperti tahapan-tahapan di kelas IIP ini. Lalu menikahlah muda. Itu idealnya kan? Tapi segala yang termaktub sudah ada di sana. Sang Maha Tahu telah mengatur jodoh, pertemuan, dan maut. Sebenarnya selalu tak  ada kata terlambat kan? Tapi bolehkah kukatakan aku telah keluar dari jalur ideal ketika memulai memasuki tahapan-tahapan seperti yang Bu Septi lakukan, tentang segala yang ia jabarkan di materi-materi IIP.

Kabar baiknya aku menikah di usia ideal 21 tahun, kabar lainnya harusnya 12 tahun aku bisa mencapai 4 KM seperti yang dilakukan Bu Septi tapi aku telah membuat celah dan cela terlampau besar. Memaafkan diri ini dan kemudian membenahi, itulah yang harus kulakukan.

Tahapan awal menguasai materi Bunda Sayang baru bisa kulakukan sekarang. Kabar baiknya lagi sebelum menikah aku suka membaca buku parenting dan rumah tangga. Karena aku memang menargetkan diri menikah dini. Tapi itu sama sekali tidak cukup sehingga tahapan awal menjadi bunda tidak maksimal.

Usia 22 tahun kami mulai dianugrahi buah hati, saat itu aku tersus giat belajar mengenai pengasuhan anak secara otodidak dari buku-buku dan diskusi parenting. Bisa saja saat itu aku terkena tsunami informasi, wallahu’alam. Itu berlangsung di tahun kedua menjadi istri, tahun 2006. Karena masih harus duduk di bangku kuliah, aku menyelesaikan studi dan begitu juga suamiku dengan prinsip pengasuhan berbagi tugas dengan suami. Tidak jarang aku harus membawa Akib ke kampus, melibatkannya dengan segala aktivitas kuliahku. Bisa saja saat itu walaupun aku membersamainya, aku belum mengaplikasikan ilmu Bunda Sayang. Walau kami membersamainya tapi apakah itu maksimal atau aku antara ada dan tiada baginya.

Pengasuhan besar tidak aku delegasikan ke siapapun kecuali ayahnya. Penitipan anak beberapa jam dalam seminggu dan makanan yang kuusahakan dibuat sendiri dengan apa yang bisa aku pelajari dari berbagai sarana. Ketika akan hamil Biyya, aku kembali menata waktu dan mendedikasikan diri di rumah. Sebagaimana teori-teori parenting yang berlompatan tanpa tahapan yang runut-aku berdoa pada Allah semoga selalu dibimbing dalam mengasuh dan mendidik anak-anak- akupun melaksanakannya dengan apa adanya, alakadar saja. Hingga hari ini ku merasa itu sangat minim.

Banyak kesempatan berkarir di luar rumah yang aku coba abaikan saat aku mulai menggenggam kertas-kertas berharga bernama ijazah. Dalam hati aku terus menunggu saat yang tepat. Bagiku memang harus ada yang dikorbankan dan itu bukan anak-anak. Bukan waktu bersama keluarga inti. Sejak dulu ada hal semacam itu tertanam di pikiran.

Selanjutnya aku menanamkan bahwa anak-anak bukan penghalang bagiku untuk menjadi produktif dan terus mengembangkan diri, sehingga aku bisa tetap tinggal di rumah dengan bahagia. Tapi saat aku merenung sekarang, apakah tahapan Bunda Sayang telah sukses kulalui? Tidak sama sekali, aku yakin betapa banyak yang kobong, bolong di sana-sini.

 

Sebenarnya pikiran ini muncul ketika Nice Homework ke-4 selesai kukerjakan. Bagaimana mendidik anak beradasarkan fitrahnya. Lalu menelaah Nice Homework ke-1 hingga ke-3. Aku tertinggal ribuan mil sementara tentu saja Bunda-Bunda lain begitu masih sangat muda dan bisa memulai tahapan dengan baik. Ribuan mil ketertinggalanku memang harus dikejar dengan runtut. Tidak terburu-buru. Akupun dengan sabar memulai KM 0 dengan usiaku yang ke-33 tahun. Namun aku memulainya dengan berbeda. Bunda Fasilitator berkata, aku yang paling memahami diri sendiri. Aku dan suami yang paling tahu bagaimana keluarga kecil ini mengayuh sampan di bahtera kali ini. Bulan Juli ini akan 12 tahun usia pernikahan kami.

Sinkronkah semua Nice Homework-ku sejak awal? Setelah berdikusi dengan Bunda Yessy, aku akhirnya harus meluangkan lebih banyak waktu untuk merevisi beberapanya. Lalu harus membuat jadwal lebih detail mengenai daily routine, bangun hingga tidur malam kembali. Untuk bisa merevisi segala planning yang kubuat.

2009 aku menyelesaikan studi profesiku sebagai dokter hewan dan kini 2017. Sekitar 8 tahun aku menahan diri agar tidak tertarik untuk memulai kembali menekuni dunia kedokteran hewan dan penelitian. Lebih fokus kepada pengasuhan dan ilmu tumbuh kembang anak-anak sampai akhirnya Akib yang berusia 10 tahun kerap berdiskusi tajam dengan Bundanya. Semakin hari ia semakin kritis. Terkadang tantangannya agar aku bisa berkarya di luar rumah tidak begitu kugubris. Lain dengan Biyya yang terlihat sangat luwes dan legowo dengan keseharianku. Baginya walau Bunda banyak terlihat lebih berantakan rambutnya ketimbang berjas rapi  dan bersepatu hak tinggi lalu keluar menyetir atau mengendarai motor tapi Bunda tetap hebat membuat guyonan, membuat telur dadar, dan mengajari kakak-kakak panti menulis dan Bahasa Inggris. Biyya bahkan bercita-cita menjadi Bunda nantinya ketika dewasa.

Sementara Akib terus keheranan Bunda berkutat dengan centong, kuali, hanya terkadang mengamati Bunda di depan layar laptop atau membaca buku fiksi, ikut membacanya juga, kemudian dia bertanya lagi sebenarnya Bunda ini siapa, sih? Bukannya Bunda mengaku seorang Dokter Hewan? Masa Bunda tidak bisa begini dan begitu? Mengendarai motor pun Bunda tak bisa. Bunda yang ketika Akib minta sesuatu selalu harus berdiskusi dulu dengan Ayah hanya karena  Bunda tidak bekerja dan tidak menghasilkan lembaran uang. Akib sering kesal Bunda hanya disibukkan dengan adik bayi Faza yang kini berusia 2 tahun.

Aku tidak pernah terpikirkan kecuali ya, mengira-ngira barangkali apa hobinya membaca atau diskusinya dengan teman seusianya membuat Akib begitu terasa ‘lain’. Ketika dia amat mengeluhkan kenapa, sih, Bundaku hanya seorang IRT? Kenapa ibu orang lain terlihat sangat keren sementara Bunda selalu ditempeli adik-adik. Mulai Dik Biyya sampai Dik Faza.

Aku berdiskusi dengan suami tapi jawabannya hari ini barangkali tahapan Bunda Cekatan akan lebih menjawab. Aku bahkan intropeksi diri, malah di sinilah tahapan Bunda sayang yang bolong itu , sehingga sulung kami merasa Bundanya kurang keren.

Ketika membuat Nice Homework ke-3 aku berdiskusi lebih dalam dengan Akib. Ia masih teguh dengan pendirian awalnya bahwa Bunda yang diinginkannya adalah Bunda yang bekerja di luar rumah sesuai dengan bidang yang ditekuninya saat sekolah dulu. Aku berdiskusi dengan Bunda Fasilitator dan mengaitkan dengan pola pikir matrealistis, tapi astaghfirullaah. Alangkah tak baiknya aku ini sebagai Bunda. Bunda Fasilitator mengatakan aku harus hari-hati melabeli Akib. Lalu merenung lagi, aku punya jawaban juga yang menyebabkan Akib memiliki pikiran seperti itu. Hal ini tidak aku tuliskan mungkin barangkali akan ada mudharatnya daripada mendulang manfaat dengan pernyataan tersebut. Jadilah  itu hanya diskusi internal aku, suami, dan Bunda Fasilitator saja.

Walau malam berikutnya aku masih penasaran dan berdiskusi lebih dalam dengan sulung kami itu. Memberinya pandangan-pandangan jika sekiranya Bunda dan Ayah bekerja di luar rumah sekaligus, lalu mencoba menyelami keinginannya lebih dalam. Bahwa apa yang ia andaikan itu tak selalu indah jika dijadikan realita. Entah nalarnya belum sampai, entah memang ia tetap tidak terima, setidaknya aku telah memberinya pandangan betapa beruntungnya ia bisa ditemani Bunda lebih sering.

Baiklah, NHW#4 sudah disetorkan, revisi checklist dan tugas lainnya menanti, terutama pelaksanaan untuk semua planning. Semoga Allah mudahkan dan mohon bantuan semua teman-teman satu angkatan IIP ataupun kakak tingkat di IIP. Semoga menjadi amal bagi teman semuanya, terutama Bu Septi dan seluruh Fasilitator IIP, jazakumullahu khairan katsira.

 

Pengantar NHW#4 yang cukup panjang dari Bunda Aini

Jadwal Harian Bunda

JADWAL HARIAN BUNDA

 

SENIN Time/Period Activity
04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
  05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
SELASA

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
RABU

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Jurnalistik dan Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
KAMIS

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-08.00 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
08.00-09.00 Dhuha/ update blog
09.00-11.30 Kajian rutin
11.30-15.00 Menjemput Biyya/ salat zuhur/ bermain dengan Biyya dan Faza/ Membaca
15-00-16.00 Tidur siang atau evaluasi bacaan quran Biyya
16.00-19.00 Salat asar/persiapan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam/ngobrol santai dengan keluarga/ mengawasi anak-anak menyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar / main dengan Faza kalau dia belum tidur
22.00-04.30 Tidur
JUMAT

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Kelola grup WA PWNA Aceh
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-13.00 Persiapan salat zuhur dan les TOEFL
13.00-17.00 Les TOEFL/ IELTS = perjalanan pulang
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
SABTU

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Tentatif
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-11.30 Memasak Donat atau Pizza dengan Biyya
11.30-17.00 Persiapan ke kantor PWNA/ ke panti asuhan Punge

Diskusi dengan pengurus/ kelas kajian putri/ kajian sabtu sore

17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
MINGGU  04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh / membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.30 Persiapan outdoor dengan anak-anak/ olahraga/ rihlah/ silaturrahim
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ persiapan sekolah anak-anak/ persiapan mengajar
21.00-04.30 Tidur

 

\

 

 

 

 

Adab Menuntut Ilmu

 Sebelum mengeposkan tulisan ini, akan dijelaskan sedikit bahwa ini merupakan catatan kelas matrikulasi Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP Batch #3 Sumut-Aceh). 

 Dengan bismillah, Bunda kembali mengatur waktu, masih dengan debar yang sama saat pertama sekali mempunyai kalian duhai ananda, betapa dirasa beratnya amanah ini. Menjadi Bunda bagi kalian anak-anak yang  telah Allah titipkan. Bunda tahu sebab sangguplah maka Allah berikan, di samping syukur yang terus kami rapalkan, kami pintakan agar selalu dibimbing-Nya mengasuh dan mendidik kalian. Bismillaah Bunda bisa, harus bisa menyiapkan gelas-gelas kosong untuk kerap menimba ilmu, dan entry kali ini adalah materi kuliah bersambung yang disampaikan di IIP Batch 3 dengan sudah seizin fasilitator diposting berseri di blog pribadi dengan harapan bisa mendatangkan manfaat sebanyak-banyaknya untuk yang membacanya, juga sebagai pengingat diri.

 

PROLOG 1

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL

☘☘☘☘
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.
☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015