Deteksi Dini Disleksia

Salah satu sebab perlunya deteksi dini pada penyandang disleksia adalah, agar bisa dengan cepat dilakukan intervensi. Orangtua yang tidak memahami, lingkungan yang tidak mendukung, dan beberapa momen gagal, perundungan (bullying) pada penyandang disleksia menyebabkan self esteem atau kepercayan dirinya terjun bebas. Anak yang notabene ber-IQ normal hingga gifted ini bisa kehilangan masa depan gemilang yang harusnya ada di gengamannya.

Tidak banyak yang peduli dan merasa intervensi untuk penyandang disleksia perlu dilakukan. Sebabnya banyak, beberapa saja yang mungkin familiar adalah, dulu orangtuanya memiliki pengalaman yang sama ketika sekolah, namun seiring waktu mampu melewati masa-masa sulitnya dan ia merasa baik-baik saja ketika dewasa.

Padahal ketika kesulitan belajar spesifik anak dapat diketahui, kita dapat merancang proses pembelajaran yang sesuai. Mendeteksi secara dini dan melakukan intervensi yang tepat adalah bagian dari ikhtiar kita sebagai orangtua.

Pembiaran dan kelalaian kita sebagai orangtua pada akhirnya bisa menjadi bumerang nantinya. Ketika anak yang kita sayangi dan kita harapkan akan membanggakan kita berubah menjadi seperti orang lain dan mulai berperilaku tak baik. Anak-anak yang sudah kenyang dengan pengalaman gagal, korban perundungan, tidak diberikan tempat dan kesempatan untuk mengasah minat dan bakatnya, dan pada akhirnya akan menjadi beban di keluarga dan masyarakat. Keterlembatan intervensi akan berakhir pada gangguan sosial dan emosial anak.

Ketika ia sudah mulai bisa berbicara, sering melakukan kesalahan dalam urutan dan melafazkan kata, memang terasa amat lucu dan menggemaskan. Ketika kesulitannya berlanjut hingga usia tidak lagi sesuai dengan milestone atau tahap perkembangannya, sudah sepantasnya orangtua aware. Bukan mengatakan harus paranoid, tapi ada baiknya sejak dini kita pantau milestone perkembangan buah hati.

Dr. Kristiantini Dewi, SpA., ketua Assosiasi Disleksia Indonesia, dalam pemaparannya menyatakan disleksia merupakan kelainan dengan dasar neurologis, bersifat familial, yang berhubungan dengan kemampuan penguasaan dan pemrosesan bahasa. Manifestasinya dapat dilihat sebagai kesulitan berkomunikasi atau berbahasa ekspresif-reseptif, membaca, menulis, mengeja, dan kadang matematika.

Disleksia tidak disebabkan karena kurangnya motivasi ataupun gangguan pada area sensoris, intruksi yang tidak tepat atau keterbatasan, namun dapat terjadi bersamaan dengan kondisi-kondisi tersebut. Satu hal lagi, disleksia disandang seumur hidup, namun jangan khawatir, dengan intervensi yang tepat, akan menghasilkan respon yang baik. Perlu diingat bahwa disleksia bukan disebabkan oleh kebodohan, latar belakang sosial ekonomi yang buruk, tidak ada motivasi belajar, gangguan penglihatan dan pendengaran, atau gangguan kontrol motorik.

Disleksia 44-70% bersifat herediter atau diturunkan. Orangtua yang disleksia, 50% anaknya juga akan menyandang disleksia dan salah satu anak penyandang disleksia 50% berpotensi memiliki saudara kandung yang juga disleksia. Selamat! Sebagian besar penghuni rumah bisa saja memiliki persentase disleksik yang lebih tinggi dibanding normal.

to be continued

 

Bersama para expert, dr. Muna, dr. Purboyo, dan dr. Tian di event ASWoLD 3. Putik Meulu Building, Lambhuk. Banda Aceh

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *