Menemukan Legenda Pribadi Sang Dyslexic

Tahun ini memasuki usia 12 tahun pernikahan kami. Sudah diamanahkan tiga buah hati yang baik, sesempurna bentuk, cerdas, dan insya Allah saleh dan saleha. Sebab perkataan adalah doa, begitu juga yang kutulis saat ini adalah derai-derai doa untuk mereka.

Putra pertama kami Akib adalah anugerah di tahun kedua pernikahan. Tentang kelahiran dan cerita-cerita tumbuh kembangnya banyak kucatat di buku harian, blog lama, KMS Akib dan ada pula yang tercecer di kertas-kertas. Namun alhamdulillah hingga menjelang usia ke-11 ini, kami masih diberi rejeki oleh Allah membersamainya penuh-penuh, bukan paruh waktu.

Setiap anak dilahirkan istimewa. Setiap anak unik dan banyak lagi ribuan kata bijak yang menenangkan orangtua ketika diamanahkan anak-anak bagi mereka. Ketika anak kita tidak serupa dengan teman-temannya, ketika anak kita sedikit unik, atau bahkan kita yang sudah dewasa saja, ketika kita berpikiran out of the box, walaupun itu positif atau tidak ada pengaruhnya pada orang lain akan ada kalanya menuai sebuah kontroversi. Begitu juga keunikan Akib sulung kami.

Karena ia suka berimajinasi, kami memanggilnya Sang Imajinator Adi Luhung. Dalam catatan-catatanku saat membersamainya, ia tentu cerdas dan imajinatif. Ia bahkan menggambar pesawat dengan cukup jelas saat usianya masih 2 tahun di dinding rumah kami, sayangnya saat itu zaman kamera tidak semudah ini, walau sudah punya kamera digital, tidak sempat difoto dan dinding sudah dicat ulang.

Bagaimana reaksi orang di sekitarku? Tidak sedikit yang melihat bahwa Akib sedikit berbeda dan aneh, bahkan keluarga dekat sekalipun. Kakak kedua mengatakan beliau punya tiga anak lelaki tetapi tidak ada yang serupa dengan Akib. Tentu tak mungkin serupa. Ada juga yang geleng-geleng kepala ketika melihat sulitnya Akib diatur atau bahkan men-judge ia pemalas, cuek, tidak pedulian, mau enaknya sendiri, terakhir tentu saja ratusan kali aku mesti menuai “Ini Bundanya, niiih.” “Bundanya gimana ini?” “Tidak pernah diajari sama Bundanya, ya?” Tak jarang pula ayahnya juga disentil.

Bagaimanapun, akan ada yang mengagumi sisi kelebihannya. Sejak dulu aku sudah membaca referensi bahwa setiap anak itu unik. Begitu pula orang-orang yang berkomentar (yang harusnya aku tidak terlalu menggubris, sih. Tapi kalau keseringan kadang it makes me bapering, haha), aku ta hu mereka juga mengerti setiap anak unik tapi tetap saja tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar, atau mengganti komentarnya dengan sebuah motivasi. “Waah, apa itu. Lucu ya. Akib bisa ceritakan ini kenapa?” Atau “oh telat bangun dan batal ke sekolah, besok pasti bangun sebelum subuh ya. Sudah pasti nggak telat lagi. Akib kan, anak hebat. Tuh kelihatan dari matanya.”

Tapi lagi-lagi siapa sih yang mau berepot-repot punya komentar begitu. Lebih memilih ngomong ceplas ceplos atau diam kalau sudah melihat keganjilan dan pilih nanti berkomentar di belakang. Opsi lainnya berkomentar belakangan saat yang tepat. “Oh Akib itu seperti itu ya, kasihan Bundanya. Capek sekali Bundanya ya?” “Sabar sekali jadi Ayah dan Bunda Akib ya?”

Hello … actually, what kind of words is it?

Sebenarnya sudah sejak dulu aku tahu, begitu juga orangtua atau katakanlah orang yang berpendidikan tahu bahwa anak terlahir unik. Saat usia Akib menjelang 4 tahun aku juga menonton sebuah film India mengenai anak dyslexia, Tare Zameen Par judulnya. Film lama yang sangat direkomendasikan terutama untuk para orangtua dan guru. Lalu apakah cerita ini akan menggiring semua pembaca menyimpulkan Akib seperti tokoh anak dalam film tersebut. Tidak. Sekali lagi setiap anak unik. Begitu juga Akib tidak sama seperti Ishaan, tokoh anak dalam film tetsebut. Walaupun ada kesamaan dari symptom yang dialami oleh Akib sejak usia dininya hingga sekarang menjelang aqil baligh, diagnosa hampir ditegakkan bahwa Akib juga mengalami dyscalculia. 1 dari 10 individu diantaranya adalah individu yang mengalami dyslexia dengan tipe beragam. Menurut penelitian para ahli begitu.

Kasus kesulitan belajar yang dialami anak-anak kita bisa jadi merupakan dyslexia. Salah satu referensi menjelaskan Dyslexia adalah istilah yang menunjukkan adanya kesulitan belajar pada seorang individu yang CERDAS, yang khususnya berupa kesulitan di area berbahasa, yaitu: kesulitan berbahasa lisan, kesulitan belajar membaca dan memahami bacaan, kesulitan mengeja kata-kata yang mudah sekalipun, kesulitan memahami intruksi, kesulitan menulis sesuai kaidah dan juga sebagian mereka cukup kesulitan memahani soal cerita dan perhitungan dalam matematika. Dyslexia tidak disebabkan karena kebodohan, melainkan karena faktor genetik. Dyslexia disandang seumur hidup namun jika dikenali dini dan diintervensi dini, maka kelak menjadi individu yang berhasil

Harus ada akomodasi bagi murid-murid yang dyslexia di kelas;

– Berikan waktu lebih disaat anak mengerjakan tugas
– Berikan jeda di setiap memberikan intruksi
– Ajarkan anak dengan cara menggunakan banyak gambar, tulisan besar dan bercerita
– Jangan menyuruh anak membaca dengan suara keras di kelas secara tiba-tiba.
– Jangan menghakimi jika ia tak mampu mengeja.
– Berikan kesempatan untuk memperlihatkan bidang yang disukai dan diunggulkannya.
– Berikan sedikit pekerjaan rumah.
– Jangan menghukum anak jika dia tidak mampu menyelesaikan tugasnya
Open book saat ujian
– Jangan menggunakan pulpen bertinta merah dalam menilai hasil kerja anak.
(Dyslexia Awarness for All, Asosiasi Disleksi Indonesia cabang Aceh).

Banyak kisah inspiratif mengenai dyslexia dan kita kenal list nama tokoh-tokoh hebat yang menyandang dyslexia, atau disebut dengan dyslexic, diantaranya Albert Einstein, John F Kennedy, Walt Disney, Steven Spielberg, Agatha Christie, Tom Cruise, Johnny Depp, Mohammad Ali, Thomas Alfa Edison, dan sederetan nama lainnya yang aku sendiri tak perlu menjelaskan siapa mereka.

Dari mini seminar kesulitan belajar spesifik yang aku ikuti tanggal 11 maret 2017 di Putik Meulu Building, Lambhuk Banda Aceh, mengenai dyscalculia, dr. Munadia Sp FKR, seorang dokter ahli terapi medik yang concern terhadap dyslexia menceritakan pengalamannya mengenai kasus-kasus anak dyslexia, yang disebutkan olehnya generasi emas yang terabaikan, kesalahan atau keterlambatan penanganan para dyslexic akan berdampak buruk sekali pada generasi emas bangsa. Terutama generasi Aceh karena beliau merupakan bagian dari ADI (Assosiasi Disleksia Indonesia) cabang Aceh.

Diceritakan seorang anak yang mengalami dyslexia berat dan memiliki IQ 132 saat pertama sekali dibawa konsultasi dan kemudian tidak dilakukan intervensi lanjutan, anak datang kembali setelah mengalami kejadian buruk bahkan mungkin traumatis dan ketika dites IQ kembali sudah merosot ke angka 50. Masuk dalam kategorik border line dan tidak bisa ditolong lagi. Ke depan akan menjadi sia-sia, paling hanya bisa meyelamatkan agar IQnya kembali normal ke 80 atau sekitar itu. Kepercayaan dirinya telah jatuh ke tingkat terendah. Padahal ia adalah generasi emas, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison-nya Aceh di masa depan. Masih banyak di sekitar kita Einstein-Einstein lainnya, bahkan mungkin di dalam rumah kita sendiri. Karena ketidaktahuan, ketiadaan ilmu kita tentang keadaan mereka, tidak adanya akomodasi yang tepat bagi anak-anak CERDAS tersebut. Apa jadinya masa depan mereka yang notabene generasi bangsa?

At least but not last, perjalanan Akib dan Bunda akan semakin panjang dan tentu terjal berliku. Pepatah Afrika mengatakan need a country to rise a child, ini berarti kepedulian kita semua dibutuhkan. Sebenarnya membantu itu bukan butuh cost besar, fasilitas hebat ataupun jabatan tinggi. Kepedulian. Sekali lagi siapapun dari kita mesti peduli, harus punya emphaty. Seorang perempuan inspiratif founder Institute Ibu Profesional, Ibu Septi Peni Wulandari berprinsip dalam membersamai tumbuh kembang buah hati dengan slogan “Meninggikan gunung, bukan meratakan lembah”. Apa yang sudah tampak menjadi potensi dan kelebihan buah hati kita, harus lebih diasah dan ditingkatkan, bukan dengan serta merta sibuk menutupi kekurangan yang dimiliki buah hati hingga abai akan kekuatannya.

Catatan bagi diriku sendiri dan suami, bahwa memutuskan menjadi orangtua berarti rela belajar tanpa jeda dan jangan lelah untuk terus menjadi sosok terbaik bagi anak-anak. Terus memperbaiki diri, membuka matahati dengan kerap belajar dan belajar, serta berserah diri pada Sang Pemilik jiwa dan raga.

Satu hal lagi yang aku dan suami camkan, karena kami berdua adalah tipikal dua makhluk moody dan sebenarnya terbilang masih usia suka-sukanya menggali hobi saat menjelang pernikahan dulu, demanding hobbies that you used to fill your time and something that will relax you are no longer your priority once you become a parent. Damn it’s true!

Sebagai penutup catatan kali ini, aku ingin menuliskan sebuah kutipan anonim, “once you become a parent, you have to responsible for your kids even if you’re no longer able to do something what you like”

#ditulis saat menjelang janji konsultasi dengan dr. Muna.

Comments (6)

  1. Liza

    Kak aini, menarin sekali tulisannya. Tetap swmangat ya bunda aini dan abang akib. Btw ada sedikit typo kak di tanggal seminarnya. 2007 harusnya 2017 kan?

    Reply
    1. aini (Post author)

      Waah iya ya. Terima kasih, Liza :*

      Reply
  2. Nur Rasyidah

    Keren… Ijin share ya bunda…

    Reply
    1. aini (Post author)

      silakan Bun, my pleasure. Terima kasih sudah mampir ya…

      Reply
  3. Imaniar

    Kaaaak…super sekaliii..
    Bahkan bikin baper.
    Fighting yaa kakakkk , untuk bang akib jugaaa

    Reply
    1. aini (Post author)

      Doanya ya, Niar semoga kakak semangat terus. Terima kasih, Niar.

      Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *