Emak Bertanya, Mbak Adi Berbagi (2)

  • Anak saya pernah mengadu kepada saya, bahwa ia diejek oleh temannya. Saya pernah menjawab begini, “ya sudah, biarkan saja dia. Adek tahu tidak, kalau pahala orang yang mengejek itu akan berpindah ke Adek? Jadi Adek yang sabar, ya.” Apakah tepat cara saya menjawab seperti itu?

Jawaban Mbak Adi:

Bully adalah lingkaran setan yang harus diputuskan. Ia seperti siklus yang tak ada putusnya. Jangan biarkan diri menjadi victim. Penting sekali untuk bersikap asertif. Tegas bukan berarti galak. Ada dua kemungkinan anak mem-bully;

  1. Ia kemungkinan memiliki jiwa leadership yang tinggi. Anak serupa ini terkadang tidak ada niat mem-bully namun karena potensi memimpinnya sangat tinggi dan ia dominan dari anak lainnya, jadi terlihat seperti gemar sekali mem-bully. Gayanya memang sedikit nge-bossy. Misal, ada anak yang badannya lebih besar daripada anak lainnya. Ia melihat temannya sedang makan sesuatu, lalu A berkata “Eh, apaan, tuh? Kayaknya enak. Bagi, dong!” karena anak B merasa takut, ia pun berbagi padahal hatinya berat. Ketika kita coba klarifikasi kepada anak A, ia menjelaskan tak ada bermaksud jahat. “Aku, kan pengen. Salahku apa?” Akhirnya kita mencoba menjelaskan kepada B kalau si A tidak bermaksud jahat dan memberi saran pada B “ya, sebaiknya kamu nggak usah minta-minta lah.” Anak yang seperti ini hanya perlu diarahkan dan bisa menjadi pemimpin yang baik.
  2. Anak korban bullying yang kemudian membalas kepada orang lain. Ini adalah tindakan pengecut. Hal ini tidak bisa dibiarkan.

Anak harus kita ajarkan bersikap asertif terhadap hal ini. Ajarkan anak berkata berani berkata tidak. Bukan berarti membalas, ya. Tapi ajarkan ia berkata “Stop. Aku nggak suka digituin.” Kalau masih berlanjut apalagi sudah nyerempet ke fisik, ajarkan anak menangkis. Kita tidak mengajarkan anak membalas dan memukul balik. Tapi pada saat proses ia membela diri dan ternyata ia menyerang balik, anak tidak salah. Karena ia sama sekali tak memulainya.

 

  • Saya memiliki anak usia 12 tahun. Sejak usia 8 tahun kami sudah membawa ke dokter yang khusus menangani anak disleksia. Ia masih belum lancar membaca dan mungkin ini sekalian sharing dengan ibu yang memiliki anak disleksia juga. Anak kami sudah baligh. Alhamdulillah, hari itu memang saya sedang bersama beliau. Sebelum sarapan, saya perhatikan celananya agak basah sedikit, kemudian saya bertanya itu basah kenapa, apa Abang ngompol? Ternyata setelah salat subuh tadi beliau golek-golek sebentar dan tertidur kemudian bermimpi. Saya menjelaskan tentang baligh dan bagaimana seharusnya yang ia lakukan jika sudah mimpi basah. Saya tuntun ia mandi dari luar kamar mandi karena ayah sedang tidak ada.

Jawaban Mbak Adi:

Saran saya agar anak dibawa kembali untuk check up jika masih ada kesulitan membaca. Karena Spesifik Learning Disabilities memang khasnya beragam termasuk disleksia ini, namun karena yang saya dengar tadi sejak usia 8 tahun didiagnosanya, perlu dicek kembali, ya. Karena anak, kan berkembang terus, barangkali bisa jadi nanti diagnosanya sudah berbeda. Untuk anak yang  tahap perkembangan membacanya terhambat, tetap diajarkan namun utamakan yang fungsionalnya saja. Yang paling penting mampu membaca untuk keperluan saja, tidak dipaksakan membaca buku tebal, intinya membaca untuk fungsional saja. Ada trik khusus mengajarinya, tapi bukan dengan flash card, ya.

  • Saya punya murid yang terlihat sangat baik, anaknya ganteng, pendiam, tapi semacam kasar dan kejam begitu, karena tega menjedutkan kepala temannya ke dinding saat dia marah. Pertanyaan kedua saya, bagaimana tahapan untuk membuat sekolah yang ramah anak, bebas dari bullying.

Jawaban Mbak Adi:

Anak tadi yang agak sadis tadi itu, perlu dilihat dulu riwayat dan sebabnya dia bersikap seperti itu. Biasanya itu bisa ditanyakan kepada orangtuanya. Kita di sekolah tidak sesering orangtuanya berinteraksi. Kita memang sebagai guru harus punya mata elang, ya. Pantauan yang menyeluruh kepada anak. Kalau memang ia melakukan hal itu cukup sering, misal seminggu ada dua korban atau lebih, catat  tanggal kejadiannya dan lakukan dialog dengan orangtuanya. Dari sana baru bisa kita ketahui kenapa sang anak bersikap seperti itu.

Kalau sekolah yang bebas bullying dan steril sama sekali itu tidak ada. Lagipula tindakan steril tidak selamanya menjadi solusi. Kalau anak yang suka membully itu lalu kita keluarkan dari sekolah, lantas dia justru akan menjadi masalah sosial. Sekolah kita aman dan kemudian lingkungan lainnya yang mendapat bahaya. Tindakan menegeluarkan anak yang kerap melakukan bully tanpa konseling, bukan tindakan yang tepat.

Kalau pengalaman kami sendiri di sekolah, meminimalisir bullying dengan cara mengajak seluruh komponen, baik guru maupun orangtua, termasuk anak-anak untuk mencegahnya. Adakan setiap semester edukasi atau kelas parenting mengenai tema ini. Nanti akan ada orangtua yang aktif dan punya inisistif, serta peduli dengan persoalan ini, dukung terus untuk bekerjasama mewujudkan lingkungan ramah anak dan bebas dari bullying. Karena tanpa dukungan dan kepedulian orangtua ini akan sulit. Nah, kalau sudah ada korban bullying nanti kita akan tangani dengan tahap berbeda. Ada seminar untuk anak berbeda level. Missal yang masuknya ke sekolah kita itu tingkat menengah dan atas yang baru, maka kelas edukasinya berbeda. Sementara yang level pemahamannya sudah baik, ada pula kelas edukasinya. Jadi ini bertahap dan konsisten, juga butuh dukungan semua pihak.

 

  • Teman-teman yang baik, akhirnya saya sudah tidak bisa fokus lagi karena naik turun tangga, mengejar si bungsu. Hehe… jujur saya tidak menyimak pertanyaan lagi, sebagian bertanya tanpa menggunakan pelantang suara, hanya suara Mbak Adi yang masih bisa saya simak. Ada yang menanyakan tentang bullying lagi, hingga sibling rivalry, dan anak usia 11 tahun yang terkadang masih mengeksplorasi atau memainkan alat kelaminnya. Secara random dan singkat ada beberapa pernyataan Mbak Adi yang sangat berguna dan mencerahkan

 

Ajarkan kepada anak untuk jangan membiarkan tindakan bully terjadi di depan matanya. Membiarkan orang lain dibully sama buruknya dengan melakukan bully. Katakan kamu punya pilihan, apa membiarkan atau membela. Kamu punya pilihan untuk menghentikan peristiwa tersebut. Ajarkan anak berani untuk menegakkan kebenaran, tidak takut mengatakan yang haq.

 

Dalam generasi millennial ada yang miss dalam proses komunikasi. Kalau orang dahulu mau membully saja pakai proses. Mau malakin orang semua pakai tahap, harus tatap muka. Bahkan mau kirim surat kaleng pun kan, harus nulis lagi, kemudian menunggu waktu untuk menyisipkan surat dan beberapa proses lainnya. Namun sekarang, melalui chat room saja sudah bisa membully.

Contohnya mengancam via WA “Nanti gue tonjok, loe!” saat ditanyakan ke anak, dia tidak paham kalau itu termasuk bullying. “Saya WA doang, Bu. Saya nggak ngomong langsung.” Padahal yang membaca sudah takut duluan. Sudah menolak ke sekolah dan sebagainya.

 

Seringkali anak tidak tahu cara menjawab atau mengatasi bullying. Jadi mengajarkan anak secara detail cara mengatakan “saya tidak suka itu. Hentikan!” jika anak stand up, bullier otomatis akan berhenti melakukan bully. Ajarkan anak punya wibawa dan berani berkata ‘tidak’.

 

Demikian sebahagian resume. Masih sangat diharapkan koreksinya dan mohon diperbanyak maaf, ya. Yang belum membaca resume di awal, sila ke link sebelumnya.Emak Bertanya, Mbak Adi Berbagi (1)

Foto diambil dari FB tuan rumah, Bu Dian Rubiaty,

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *