Game Tantangan Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi Hari#9

Game Tantangan Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi Hari#

Lalai saat pagi akhirnya membuat Akib terlambat ke sekolah. Memang ada rasa dongkol dan ingin menpertanyakan hal yang sama “Kenapa bisa kejadian lagi, Kib?” muka kesal pun akhirnya tak mampu kusembunyikan. Padahal tidak ada lagi piket menggulung anti nyamuk elektrik, walau semalam dia tidur di kamar Biyya. Piket menggulung anti nyamuk elektrik tidak lagi dijalankan karena ia sudah pindah ke pondoknya di sebelah rumah. Sekarang beralih ke mengurus pakaian sendiri, tapi belum juga dimulai.

Setelah berpakaian lengkap dan bersepatu, Akib ke luar dan ia lupa mengambil tas. Lupa kuga dimana ia taruh tasnya. Aku jadi tahu kalau semalam ia tidak menyiapkan perlengkapan sekolah. Aku urung memerdulikannya walau ia sudah minta tolong.

“Maaf ya, nggak bisa bantu kalau pagi-pagi gini, karena sibuk sekali Bunda. Malam Akib ngapain aja sampai memebereskan buku juga nggak sempat.” Akihirnya aku ‘berpantun-ria’ juga, hal yang kujanjikan dalam hati tidak ingin lagi kulakukan pagi.

Sebab menasihati pagi lebih cenderung ke arah repetan tak tepat sasaran. Namun apa daya, kurasakan hari ini kembali hal-hal kecil yang kita latih bertahun-tahun seperti hendak dimentahkan kembali. Paling kesal memang hal-hal remeh seperti ini tidak mampu dijalankan dengan konsisten. Membereskan buku, tempat tidur, dan pakaian sekolah. Hal ini benar-benar klasik dan basic.

Akib yang juga terpancing emosi negatif masuk kembali ke rumah dan kamar lengkap dengan sepatu untuk menunjukkan protesnya. Aku sangat ingin marah dan hanya bisa melihat ke arah sepatunya.

Sesaat akan berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepedanya, aku sampaikan sikapnya tadi sangat tidak baik dan jatah gawai sabtunya ditarik. Dengan amarahnya dia meminta aku mencabut pernyataan tersebut, tapi aku keukeh dan kurasa impas dengan semua peristiwa pagi ini. Bagi Akib itu tidak adil.

Akib kembali ke rumah siang hari, ia ijin sebentar untuk mengambil uang beli botol air minum yang sudah lama diidamkannya. Karena ia punya uang 50 ribu sebagai fee-nya membuat pamflet, aku jadi tidak bisa menghalanginya membelanjakan sebagian fee-nya tersebut. Lagipula sudah lama ua tidak beli botol minum yang baru, selama ini ia pakai yang sudah lama sekali walau masih bagus. Mungkin dia sudah ingin sekali dan insya Allah berguna untuknya. Maka kami minta ia ke sekolah menanyakan kembali ke temannya apa botol minuman itu masih ada. Kalau masih, ia boleg kembali ke rumah untuk mengambil uangnya. Karena tempo hari ia membawa uang untuk membeli botol tersebut tapi terpakai untuk jajan. Kemudian alasannya 5ribu hilang entah kemana. Ini sungguh PR besar bagiku dan suami untuk lebih bijak antara tegas dan sesuai kemampuan nalar Akib. Adalah hal yang sangat mengerikan jika anak mulai berdusta karena sikap kita yang menegakkan kedisiplinan tanpa diberikan pemahaman.

Uang botol minum sudah diambil, ia berbalik arah ke sekolah untuk salat Jum’at dan Pramuka.

Sepulang sekolah ia sudah legawa dengan keputusan esok hari. Tidak banyak protes yang diajukannya, aku sempat dengar ia malah bicara pada temannya kalau besok tidak ada gawai untuknya. “Aku besok nggak boleh main HP.” Ujarnya dengan intonasi mengeluh dan berharap temannya memahami dia sehingga mereka bisa mencari permainan lain.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *