Oh Grup Whatsapp Part 1

Gegara kemaren kak Eqi bercerita tentang ide postingan di blog yg biasanya terinspirasi dari tulisan orang lain bahkan chat di grup WA, jadilah sekarang saya juga rasanya gatel pengen nulis postingan berkenaan dengan chat di grup WA.

Ada banyak grup yang saya nggak tau total jumlahnya berapa, tapi memang hanya tiga saja saya tidak sekedar menjadi SR alias silent reader yah karena beberapa faktor kali, ya. Salah satunya sudah dekat dengan anggota grupnya atau memang merasa homey di sana walau belum pernah ketemu sama semua anggota grup.

Baiklah, sebenarnya saya tidak begitu menyimak tentang obrolan menjelang asar hari itu. Tapi tetiba teman kuliah saya yang jarang nongol di grup alumni memulai sebuah chat setelah jeda beberapa saat. Sebelumnya chat diwarnai oleh kabar duka dan rerata pada janjian mau takziah ke rumah duka. Nah, terus chat itu masuk begini:

“Dijual jazz 2012 45 jt n kbtlan orangnya butuh banget. Mngkn ada yg berminat …”

Bersamaan dgn foto mobilnya:

Berikutnya datang komentar, “serius ini harganya segitu?” Ada juga yang komen, “itu body-nya doang tanpa mesin yak?” Dan beberapa komen lainnya tidak yakin dengan tawaran mustahil tersebut. Tapi ada pula yang kepo dengan komentar begini. “Serius? Aku lihat sore ini ya. Aku bayar panjarnya.”

Nah, saya pikir inilah komentar yang bikin kebakaran jenggot bagi kami yang usia pernikahannya sedang pada hunting mobil tapi dana masih minim. Maklum anak kecil-kecil banyak ‘printilan’ dan lain sebagainya. Faktor keamanan dan kenyamanan usia kami-kami sedang pada butuh booil, cuy! Tapi ya finansial banyak yang belum support termasuk keluarga kecil kami lah, yaaa…

Ditawari begitu walau awalny, aaah pasti becanda tapi kalau serius alamakjang sudah diambil pula sama si teman tadi yg mau datang sore dan kasih panjar. Yang lain pun ikut menego dan ‘kepengen’ lah ceritanya.
Berikutnya si kawan ini mengirim foto kembali,

“Jangan serius kali kalian. Kabooor…” katanya diiringi emoticon  orang berlari.
Wkwkwkwkwkwkkw…

Hebohlah satu grup WA dan keluar emoticon marah dan berasap.
Buahahaha….

“Belum habis saya kasih fotonya udah pada nego,” katanya pula.

Sang kawan yang bikin heboh tadi pun ngeles “Sorry, Bro. Sayapun tadi korban di grup sebelah.”

Saya yang menyimak belakangan tapi tadi sempat seru juga rasanya, jadi ikut terkekeh juga dan memperlihatkan chat itu ke suami. Suami ikut ketawa walau dia terlambat tapi lumayan juga buat lelucon sore hari. Saya sebagai korban pun mencari mangsa lain di grup sebelah selagi sempat. Hanya satu orang yang bereaksi berlebihan dan langsung bolak-balik nelpon saya. Duuuh, nggak tega terus saya wapri dia menunjukkan foto berikutnya sambil menulis kalimat. “Jangaaan maraaah, becandaaa” ia pun kemudian send emoticon  Smiley yang sedang terbahak-bahak!

Payah ya, saya orangnya nggak tegaan. Belum sempat klimaks lagi kan ya? Hihihihi….

Naseeeeeb.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *