Latest Posts

NHW#6

_NICE HOMEWORK #6_

*BELAJAR MENJADI  MANAJER KELUARGA HANDAL*

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal.

Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya. (more…)

NHW#5

Setelah minggu kelima Matrikulasi Institute Ibu Profesional, baru kali ini meminta dispensasi pengumpulan Nice Homework. Walaupun Nice Homework sebelumnya tidak bisa dikatakan rampung dengan sempurna, karena setiap kali selesai mengumpulkan, ada revisi di sana-sini. Bunda Fasilitator dengan sabar membimbing dan meladeni pertanyaan-pertanyaan saya seputar Ibu Profesional dan proses matrikulasi ini. Adapun revisi biasanya saya diminta menyimpan kembali dan kemudian dilaksanakan setahap demi setahap. Sebenarnya ada tugas lain selain NHW yang harus saya rampungkan, makanya NHW#5 tertunda (hehe… ini semacam indikasi ngeles). Jadi setelah NHW#4 kita membuat KM milestone pencapaian-pencapaian tahap belajar dan muncul pula istilah akselerasi atau bahkan ketertinggalan, saya mulai menakar diri dan merasa ketertinggalan saya barangkali terlampau jauh. Tapi tetap harus optimis sebagai ibu yang ingin profesional membina buah hati dan juga mewujudkan keluarga yang sesantiasa memberi kontribusi untuk umat. Saya semakin banyak mensugesti diri dan berusaha tetap komit dalam segala tahap walau banyak yang harus dibenahi, jangan pernah menyerah, batin saya. Adapun setelah NHW#4 tugas saya adalah membuat jadwal harian lebih rinci dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dikarenakan jadwal seminggu tidak tetap, ada beberapa hari yang harus disesuaikan, tidak hanya sekedar membuat jadwal satu hari, saya membuat jadwal selama seminggu secara detail. Berikutnya tentu saja berdampak ke Checklist harian yang saya buat di NHW#3, maka panjanglah ceritanya.

Alhamdulillah walau tidak sesempurna yang tertulis di jadwal atupun checklist indikator, hari-hari kian terarah. Tidak sedikit yang melenceng dari jadwal, banyak pula checklist yang tidak dapat diconteng, namun tidak ada lagi yang namanya kocar-kacir dan ngos-ngosan mengatur waktu. Tidak ada lagi yang namanya tak sempat, sibuk berat, bingung bin galau karena kita sudah memberikan skala prioritas terhadap tugas harian, mingguan, dan bulanan. Adapun yang tak terkerjakan atau tertinggal tidak sampai jauh keteteran seperti sebelumnya, saat kita tidak meng-arrange waktu dengan baik. Paling melenceng sedikit dan beberapa jengkal dari target yang telah ditentukan. Bahkan masih bisa merasakan nikmatnya hablumminallah kembali walau tidak seperti saat sebelum menikah dulu barangkali durasinya berbeda. Maka akan kembali bertahap mengejar keinginan seperti dulu lagi beribadah dengan khusuk dengan durasi yang cukup lama. Tidak terpikir anak yang merengek minta ini dan itu, atau menarik pakaian kita, merobek mushaf saat tilawah, terbangun minta minum tengah malam, hingga minta dikelonin kembali. Namun memang sebenarnya kalaupun itu ada, sebagai jihad kita di rumah Allah pun sudah janjikan pahala, asalkan ikhlas dan tulus mengerjakannya.

Barangkali tidak terpancing bisikan galau, ‘ah, saya tidak mau membuat target yang tidak mungkin saya capai, yah … yang mungkin-mungkin saja’. Saya pun membuat di jadwal harian salat malam setiap harinya. Di sana dituliskan hari dimulai dengan qiyamullail dilanjutkan tilawah hingga menjelang fajar dan dilanjutkan dengan subuh sebagai penutupnya. Memang selama dua minggu dijalani, hal tersebut tidak setiap harinya dapat terlaksana. Namun jauh hari sebelumnya ketika target itu tidak dibuat, saya pernah menjalani hari berbulan-bulan dengan melewati sepertiga malam tanpa qiyamullail satu kalipun. Begitu pun dhuha, lalu terlampauilah hari-hari penuh dengan ketergesaan dan rasa sesal. Untuk mengerjakan hal dunia tidak selesai, akhiratpun keteteran. Intinya jadilah saya idividu tidak produktif. Sementara saat ini Alhamdulillah saya lebih percaya diri, secara bertahap akan sampai pada tujuan asalkan saya tetap komitmen mengayuh sepeda kehidupan dan telah mengamati peta perjalanan ke arah tujuan tersebut. Ada persimpangan ataupun tempat singgah dimana saya harus meminyaki rantai, mengganti onderdil yang aus atau bahkan dengan usaha keras saya bisa mendapatkan kendaraan yang lebih kencang dan nyaman, namun tentu saja saya harus memantaskan diri memilikinya. Belajar cara merawat dan menggunakannya, jangan sampai ketika berganti kendaraan yang lajunya lebih cepat, saya justru jatuh ke jurang, salah arah, atau bahkan crash di tengah jalan. Naudzubillah min dzalik, Allah sebaik-baik pelindung.

Menilik NHW#3 mulai dari surat yang saya buat untuk Eun Yud yang berarti di sana tertulis apa yang paling membuat hati kami terpaut, yaitu tentang takad yang kuat untuk terus beringingan belajar segala hal dalam universitas kehidupan ini. Lalu tentang anak-anak dan segala potensi mereka, dimana Akib lebih ke arah audio visual dan imajinatif, Biyya yang ramah Sang Kinestetis, lalu Faza akan dipandu oleh kedua kakaknya, barangkali dari sana kita bisa sama-sama mendesain Metode Pembelajan dan Kurikulum di rumah, untuk kemudian melakukan komunikasi dengan guru-guru mereka di sekolah formal. Bismillairrahmanirrahiim.

Well, NHW#5… Here we go

Design Pembelajaran dan Kurikulum Sekolah Rumah “Taman Kelinci”

Sebenarnya pemilihan nama di atas tidak akan banyak hubungannya dengan design yang dirancang atau bahkan beberapa sudah pernah dilaksankan di rumah kami. Tapi, putri tengah kami memberi nama sekolah rumah kami dengan nama di atas, Sekolah Rumah Taman Kelinci. Ingin sekali duduk bersama untuk merembukkan apa yang baik untuk dijadikan nama, tapi akan memakan lebih banyak waktu dan tentu saja perdebatan antara Akib dan Biyya (Faza belum terlibat dalam hal ini, karena ia baru tahu berdebat dalam rangka berebut gelembung sabun, hehe) sementara Akib tentu saja Bunda sudah tahu, ia akan memberi nama dengan hewan kegemarannya pula, Beruang Emas. Maka bisa-bisa namanya menjadi Goldbear Family HomeSchooling. Biyya akan bergidik ngeri dan jejeritan, maka perdebatan akan dimuali dan berakhir di teras rumah untuk abang beradik itu. Merenung berdua, apakah yang mereka perdebatkan itu cukup pantas dana pa manfaatnya.

Peraturan di Sekolah Taman Kelinci

  1. Perbanyak pelukan
  2. Saling memuji dan mengapresiasi segala pencapaian yang baik, walau sekecil apapun.
  3. Berusaha mengalah dan meninggalkan perdebatan yang tidak penting.
  4. Tidak bersuara tinggi.
  5. Berlomba dalam kebaikan dan kedisipinan (terutama disiplin beribadah).
  6. Memberi teladan yang baik untuk Faza sebagai batita yang paling peniru di rumah untuk saat ini.
  7. Bercerita permasalahan di luar rumah
  8. Berbagi cerita inspiratif di rumah.
  9. Menjaga kebersihan diri dan kamar sendiri.
  10. Menjaga dan merawat benda milik sendiri.
  11. Melaksanakan to do list yang sudah dibuat bersama mulai bangun hingga tidur malam ( list sudah ditempel di Mading rumah dan silakan diconteng sendiri )

 

Desain pembelajaran untuk Akib (Audio Visual)

  • Materi-materi yang sulit dimengerti akan dicarikan gambarnya di internet, kemudian diprint dan ditempel di Mading Pribadi Akib
  • Mencari dan mengunduh video di Youtube mengenai materi yang sulit dimengerti oleh Akib
  • Akib boleh mengakses program Corel Draw, Sketch Up, Smooth Draw, dan Photoshop di Laptop Ayah atau Bunda jika laptop tersebut sedang tidak digunakan untuk kerja.
  • Bunda membacakan kembali materi yang sudah dipelajari di sekolah kemudian berdialog dengan Akib (metode cerita, dilaksanakan bada magrib menjelang isya).
  • Tanya jawab dengan Narsum setelah tausiyah magrib (Materi seputar adab dan ibadah)
  • Bekerjasama dengan guru mentoring jumat dab Bunda mengulang materi yang disampaikan di rumah (Akib boleh memulai cerita atau Bunda bertanya).
  • Hari gawai sabtu-minggu diusahakan menonton satu video tausiyah atau murajaah hafalan sebelum memulai main game dll.
  • Latihan memanah seminggu sekali (belum dimulai, sedang observasi tempat, waktu dan mentor).
  • Buku baru sebulan sekali (dianjurkan meresensi dengan tulisan jika selama ini hanya mengulas secara verbal).
  • Bermain outdoor di akhir pekan. Laut, taman, silaturrahim dengan keluarga.

Metode Pembelajaran Untuk Biyya (Kinestetis)

  • Materi yang sulit dimengerti akan diulang langsung saat pulang sekolah sambil bermain dengan Faza atau saat di Dayah bersama kakak-kakak sambil bermain (Biyya bersekolah half day dan ikut Bunda mengajar setelah pukul 11.00).
  • Menjaga komitmen Biyya yang selama ini sudah tekun dan memiliki tekad kuat untuk lancar mengaji. Tipikal Biyya mudah termotivasi, jadi Bunda harus lebih piawai mencari diksi agar Biyya tetap semangat mengaji.
  • Mengingatkan komitmennya untuk disiplin beribadah (terutama salat 5 waktu), sebisa mungkin diulang perjanjian Bunda dan Biyya, jika Biyya tidak langsung mengambil wudhu dipanggilan kedua, Biyya membolehkan Bunda menyentil telinganya.
  • Meluangkan waktu bersama Biyya untuk membuat donat atau pizza seminggu sekali (hari sabtu pukul 11.30).
  • Membacakan buku, mengajari Biyya storytelling di sela-sela membaca buku.
  • Biyya tidak diberikan pelukan selama satu hari jika mulai malas-malasan untuk mengerjakan to do list-nya (sudah ditempel di Mading ruang tengah).
  • Latihan pencak silat seminggu sekali di Gedung Dakwah Muhammadiyah Nomor 7 (Bunda senantiasa harus mengingatkan diri bahwa Biyya tidak boleh dilarang sepenuhnya dan secara frontal ketika ia mulai melatih gerakan-gerakan pencak silatnya di rumah atau saat kami berjalan-jalan akhir pekan).

Metode Pembelajaran Untuk Faza (Sang Bijaksana belum terlalu jelas cara belajar yang cocok)

  • Memberikan teladan yang baik dalam berkata-kata
  • Banyakkan pelukan, ciuman, dan berbicara dengan lugas dan jelas
  • Perdengarkan murattal lebih sering.
  • Bacakan buku lebih sering.

Barangkali hanya ini untuk permulaan saja, design yang saya buat untuk ketiga buah hati dan seklaigus untuk saya dan suami agar bisa menyesuaikan dengan jadwal anak-anak. Semoga mampu menjalankannya dan bermanfaat, terutama bagi keluarga kami.

 

-Bunda Aini-

PROFESIONALISME

PEKAN KEEMPAT MENJALANI MATRIKULASI Institute Ibu Profesional membuatku kembali mengambil waktu dan merenungkan perjalanan awalku untuk mengambil keputusan menikah, menjadi istri dan kemudian menjadi ibu. Siapapun ia, kupikir, yang sudah seusiaku dan kemudian memulai milestone sekian KM untuk memulai menjadi ibu profesional akan mengatakan usia pernikahan nyaris 12 tahun kemudian usia kini adalah 33 tahun menjadi begitu terlambat mengikuti kuliah ini. Kita tak boleh nerandai-andai karena sebuah hadits mengatakan itu merupakan pintu masuk setan. Adalah demikian elok saat sebelum kita menikah, membekali diri untuk menjadi istri dan ibu, tepat seperti tahapan-tahapan di kelas IIP ini. Lalu menikahlah muda. Itu idealnya kan? Tapi segala yang termaktub sudah ada di sana. Sang Maha Tahu telah mengatur jodoh, pertemuan, dan maut. Sebenarnya selalu tak  ada kata terlambat kan? Tapi bolehkah kukatakan aku telah keluar dari jalur ideal ketika memulai memasuki tahapan-tahapan seperti yang Bu Septi lakukan, tentang segala yang ia jabarkan di materi-materi IIP.

Kabar baiknya aku menikah di usia ideal 21 tahun, kabar lainnya harusnya 12 tahun aku bisa mencapai 4 KM seperti yang dilakukan Bu Septi tapi aku telah membuat celah dan cela terlampau besar. Memaafkan diri ini dan kemudian membenahi, itulah yang harus kulakukan.

Tahapan awal menguasai materi Bunda Sayang baru bisa kulakukan sekarang. Kabar baiknya lagi sebelum menikah aku suka membaca buku parenting dan rumah tangga. Karena aku memang menargetkan diri menikah dini. Tapi itu sama sekali tidak cukup sehingga tahapan awal menjadi bunda tidak maksimal.

Usia 22 tahun kami mulai dianugrahi buah hati, saat itu aku tersus giat belajar mengenai pengasuhan anak secara otodidak dari buku-buku dan diskusi parenting. Bisa saja saat itu aku terkena tsunami informasi, wallahu’alam. Itu berlangsung di tahun kedua menjadi istri, tahun 2006. Karena masih harus duduk di bangku kuliah, aku menyelesaikan studi dan begitu juga suamiku dengan prinsip pengasuhan berbagi tugas dengan suami. Tidak jarang aku harus membawa Akib ke kampus, melibatkannya dengan segala aktivitas kuliahku. Bisa saja saat itu walaupun aku membersamainya, aku belum mengaplikasikan ilmu Bunda Sayang. Walau kami membersamainya tapi apakah itu maksimal atau aku antara ada dan tiada baginya.

Pengasuhan besar tidak aku delegasikan ke siapapun kecuali ayahnya. Penitipan anak beberapa jam dalam seminggu dan makanan yang kuusahakan dibuat sendiri dengan apa yang bisa aku pelajari dari berbagai sarana. Ketika akan hamil Biyya, aku kembali menata waktu dan mendedikasikan diri di rumah. Sebagaimana teori-teori parenting yang berlompatan tanpa tahapan yang runut-aku berdoa pada Allah semoga selalu dibimbing dalam mengasuh dan mendidik anak-anak- akupun melaksanakannya dengan apa adanya, alakadar saja. Hingga hari ini ku merasa itu sangat minim.

Banyak kesempatan berkarir di luar rumah yang aku coba abaikan saat aku mulai menggenggam kertas-kertas berharga bernama ijazah. Dalam hati aku terus menunggu saat yang tepat. Bagiku memang harus ada yang dikorbankan dan itu bukan anak-anak. Bukan waktu bersama keluarga inti. Sejak dulu ada hal semacam itu tertanam di pikiran.

Selanjutnya aku menanamkan bahwa anak-anak bukan penghalang bagiku untuk menjadi produktif dan terus mengembangkan diri, sehingga aku bisa tetap tinggal di rumah dengan bahagia. Tapi saat aku merenung sekarang, apakah tahapan Bunda Sayang telah sukses kulalui? Tidak sama sekali, aku yakin betapa banyak yang kobong, bolong di sana-sini.

 

Sebenarnya pikiran ini muncul ketika Nice Homework ke-4 selesai kukerjakan. Bagaimana mendidik anak beradasarkan fitrahnya. Lalu menelaah Nice Homework ke-1 hingga ke-3. Aku tertinggal ribuan mil sementara tentu saja Bunda-Bunda lain begitu masih sangat muda dan bisa memulai tahapan dengan baik. Ribuan mil ketertinggalanku memang harus dikejar dengan runtut. Tidak terburu-buru. Akupun dengan sabar memulai KM 0 dengan usiaku yang ke-33 tahun. Namun aku memulainya dengan berbeda. Bunda Fasilitator berkata, aku yang paling memahami diri sendiri. Aku dan suami yang paling tahu bagaimana keluarga kecil ini mengayuh sampan di bahtera kali ini. Bulan Juli ini akan 12 tahun usia pernikahan kami.

Sinkronkah semua Nice Homework-ku sejak awal? Setelah berdikusi dengan Bunda Yessy, aku akhirnya harus meluangkan lebih banyak waktu untuk merevisi beberapanya. Lalu harus membuat jadwal lebih detail mengenai daily routine, bangun hingga tidur malam kembali. Untuk bisa merevisi segala planning yang kubuat.

2009 aku menyelesaikan studi profesiku sebagai dokter hewan dan kini 2017. Sekitar 8 tahun aku menahan diri agar tidak tertarik untuk memulai kembali menekuni dunia kedokteran hewan dan penelitian. Lebih fokus kepada pengasuhan dan ilmu tumbuh kembang anak-anak sampai akhirnya Akib yang berusia 10 tahun kerap berdiskusi tajam dengan Bundanya. Semakin hari ia semakin kritis. Terkadang tantangannya agar aku bisa berkarya di luar rumah tidak begitu kugubris. Lain dengan Biyya yang terlihat sangat luwes dan legowo dengan keseharianku. Baginya walau Bunda banyak terlihat lebih berantakan rambutnya ketimbang berjas rapi  dan bersepatu hak tinggi lalu keluar menyetir atau mengendarai motor tapi Bunda tetap hebat membuat guyonan, membuat telur dadar, dan mengajari kakak-kakak panti menulis dan Bahasa Inggris. Biyya bahkan bercita-cita menjadi Bunda nantinya ketika dewasa.

Sementara Akib terus keheranan Bunda berkutat dengan centong, kuali, hanya terkadang mengamati Bunda di depan layar laptop atau membaca buku fiksi, ikut membacanya juga, kemudian dia bertanya lagi sebenarnya Bunda ini siapa, sih? Bukannya Bunda mengaku seorang Dokter Hewan? Masa Bunda tidak bisa begini dan begitu? Mengendarai motor pun Bunda tak bisa. Bunda yang ketika Akib minta sesuatu selalu harus berdiskusi dulu dengan Ayah hanya karena  Bunda tidak bekerja dan tidak menghasilkan lembaran uang. Akib sering kesal Bunda hanya disibukkan dengan adik bayi Faza yang kini berusia 2 tahun.

Aku tidak pernah terpikirkan kecuali ya, mengira-ngira barangkali apa hobinya membaca atau diskusinya dengan teman seusianya membuat Akib begitu terasa ‘lain’. Ketika dia amat mengeluhkan kenapa, sih, Bundaku hanya seorang IRT? Kenapa ibu orang lain terlihat sangat keren sementara Bunda selalu ditempeli adik-adik. Mulai Dik Biyya sampai Dik Faza.

Aku berdiskusi dengan suami tapi jawabannya hari ini barangkali tahapan Bunda Cekatan akan lebih menjawab. Aku bahkan intropeksi diri, malah di sinilah tahapan Bunda sayang yang bolong itu , sehingga sulung kami merasa Bundanya kurang keren.

Ketika membuat Nice Homework ke-3 aku berdiskusi lebih dalam dengan Akib. Ia masih teguh dengan pendirian awalnya bahwa Bunda yang diinginkannya adalah Bunda yang bekerja di luar rumah sesuai dengan bidang yang ditekuninya saat sekolah dulu. Aku berdiskusi dengan Bunda Fasilitator dan mengaitkan dengan pola pikir matrealistis, tapi astaghfirullaah. Alangkah tak baiknya aku ini sebagai Bunda. Bunda Fasilitator mengatakan aku harus hari-hati melabeli Akib. Lalu merenung lagi, aku punya jawaban juga yang menyebabkan Akib memiliki pikiran seperti itu. Hal ini tidak aku tuliskan mungkin barangkali akan ada mudharatnya daripada mendulang manfaat dengan pernyataan tersebut. Jadilah  itu hanya diskusi internal aku, suami, dan Bunda Fasilitator saja.

Walau malam berikutnya aku masih penasaran dan berdiskusi lebih dalam dengan sulung kami itu. Memberinya pandangan-pandangan jika sekiranya Bunda dan Ayah bekerja di luar rumah sekaligus, lalu mencoba menyelami keinginannya lebih dalam. Bahwa apa yang ia andaikan itu tak selalu indah jika dijadikan realita. Entah nalarnya belum sampai, entah memang ia tetap tidak terima, setidaknya aku telah memberinya pandangan betapa beruntungnya ia bisa ditemani Bunda lebih sering.

Baiklah, NHW#4 sudah disetorkan, revisi checklist dan tugas lainnya menanti, terutama pelaksanaan untuk semua planning. Semoga Allah mudahkan dan mohon bantuan semua teman-teman satu angkatan IIP ataupun kakak tingkat di IIP. Semoga menjadi amal bagi teman semuanya, terutama Bu Septi dan seluruh Fasilitator IIP, jazakumullahu khairan katsira.

 

Pengantar NHW#4 yang cukup panjang dari Bunda Aini

NHW #3 Matrikulasi IIP Batch#3

NICE HOMEWORK #3

📚MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH 📚

Bunda, setelah kita belajar tentang “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah” maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.

🙋
👨‍👩‍👦‍👦Nikah

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

10 Februari 2017
Assalamu’alaikum

Dear Eun Yud, ayah anak-anakku.
Masih segar diingatan Juli lalu kamu mengirimkan sebuah foto ke WA-ku, “Still having a hoot after 11 years” happy anniversary.

Prinsipku selama ini, perlakukan suami sebagaimana kamu ingin diperlakukan dipertegas kembali oleh beberapa motivator Pernikahan. Dulu masih ingat di awal-awal pernikahan aku masih sering membaca buku-buku Faudhil Adzhim dan membacakan beberapa paragraf disaat menjelang tidur. Membuat surat berlembar-lembar dan menyaksikan binar mata dan kulum senyummu.

Maafkan jika berganti hari aku tak lagi semeriah itu merayakan cinta. Barangkali bersebab aku sedikit lelah dengan pikiranku sendiri tentang bagaimana ananda kita bisa bertumbuh dengan baik. Mohon tetap yakinkan hatimu bahwa cintaku sedikitpun tak bergeser dari tempatnya, cintaku tak dibagi sama sekali dengan kehadiran anak-anak kita, justru akan kukali berlipat-lipat, terutama ketika memandang wajah si bungsu hari ini. Faza… gen dominanmu dan seluruh perkodean yang berhasil dicopy-nya dari fisikmu, semakin menggemaskan dan membuat cintaku semakin bertambah padamu.

Dulu gumamku sebelum tidur adalah,I still can’t believe it’s true, that you’re there beside me. I really can touch you not only imagine about you. Can shake your hand, can hold your arms. Still like a drems. Tapi beberapa tahun malam-malam kurasakan kantuk menyerang teramat dahsyat, aku tidak menyalahkan pekerjaan rumah dan anak-anak. Tapi barangkali aku yang tidak piawai mengatur waktu. Maafkan namun sebenarnya setiap malam aku masih memikirkan hal yang sama. Sulit dipercaya aku benar-benar perempuan yang dipilih oleh-Nya bisa tidur di sampingmu.

Eun Yud, sekali lagi kukatakan untuk kesekian kalinya betapa tabiatmu yang melekat tentang belajar dan menimba ilmu amat sangat menguatkanku di sisimu. Kutemukan kamu dalam detik-detik belajar dalam universitas kehidupanku. Pikiranmu yang terbuka dan tidak pantang dikritik asalkan dengan cara yang baik dan dibarengi dengan niat tulus, membuatku kagum hingga detik ini. Ego yang katanya menjadi jargon pada seorang Ayah ada padamu dalam hal yang positif, ego negatif? Masya Allaah… malaikatpun insya Allah mencatat bagaimana kamu punya usaha keras meninggalkan kesukaan lamamu bermain game dan merokok ketika pertama sekali kita melangkah ke jenjang munakahat. Aku menjadi saksi betapa sulit itu kamu tetap melaluinya. Kamu masih dan tetap segalanya dalam hal ini. Lalu ketika ingin marah, kau redam hingga ke tanah terbawah. Allah mohon catatkan ini untuk ia, Eun Yud suami yang penyabar. Aku mencintaimu seluruhnya, sepenuh hatiku. Sekiranya ada tempat lain yang bisa kujadikan jaminan bahwa cinta ini melebihi apa yang pernah terucap, maka biar Allah saksinya. Maafkan segala salah dan khilaf selama Aini menjadi istrimu.

Your lovely wife
Your supportive partner in life

Aini

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

1. Alfi Kawakib
Alfi panggilan kecilnya, tapi ketika usianya 2 tahun dan mulai bisa menyebut dirinya sendiri, panggilannya menjadi Akib, singkatan dari keseluruhan namanya. Sejak kecil Akib mungil tergolong tak bisa diam, suka bercerita dan bergerak. Bunda menuliskan catatan mengenai tumbuh kembang Akib dinsebuah blog bertajuk Inspiring Moment tahun 2008 di blogspot (stanza-filantropi.blogspot.com), tapi seiring waktu blog itu tidak lagi dikelola dengan baik dan sekarang campur aduk, tidak fokus pada perkembangan Akib. Dari sana Bunda mencatat bahwa kelebihan Akib
a) memiliki kemampuan imajinasi yang tinggi, hingga sejak kecil Bunda memanggilnya dengan Sang Imajinator Adiluhung.
b) kritis seperti anak usia 7-11 tahun pada umumnya.
c) berani tampil di depan umum
d) mudah bergaul dengan teman segala usia, walau tidak bisa mengemong adiknya dengan baik.
e) bisa menggambar
f) piawai merakit lego
g) bisa menggunakan program aplikasi seperto coral draw, smooth draw, dan sketch up versi lama.
h) penyuka aktivitas indoor ini sangat lahap membaca buku segala genre.

2. Hukma Shabiyya
a) kritis dan atraktif. Karena anak tengah, dia punya seni sendiri menarik perhatian kami kedua ortunya.
B) ramah, mudah bergaul dengan siapa saja, maka kami gelari ia dengan Si Rumeh Biyya alias Biyya Yang Ramah.
C) kemampuan kognitif lebih baik dibanding abangnya (bukan mau mbandingkan tapi ditulis seperti itu untuk sekedar menggambarkan kemampuannya), tulisan lebih rapi, tekun, selaras dan tidak ceroboh.
D) menyukai karate dan olahraga fisik membuat badannya lebih luwes
E) walau mengidap ashtma tapi daya tahan tubuh lebih bagus di antara kami sekeluarga.
F) penyuka aktivitas outdoor dan sangat ekspresif dengan segala perasaannya baik emosi positif maupun emosi negatif.

3. Muttaqiy Mafaza
A) usianya baru dua tahun tapi bisa mengikuti beberapa nada dan sangat responsif. Selera makan stabil dan karena belum teridentifikasi sekali keahliannya kami hanya membantu ia menemukan minat dan bakatnya dengan tidak lupa berdoa, kami memberinya gelar Sang Bijaksana

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

Kekuatan potensi diri saya barangkali lebih sabar menghadapi perbedaan sifat anak-anak. Saya sering melihat anak-anak yang bisa disuruh duduk diam dan mudah sekali dibujuk dan dihentikan, bisa dikendalikan walau tidak mungkin sepenuhnya. Sementara anak-anak saya sejak kecil tergolong super aktif dan tahap mulai merangkak hingga berjalan adalah saat-saat yang lebih melelahkan jika saya perhatikan dengan teman-teman yang memiliki anak sebaya dengan saya. Begitu juga dengan kondisi ketika hamil, Allah sangat memudahkan segala prosesnya, walau tidak mungkin tak lelah susah dan payah, tapi teman-teman sering heran melihat saya hamil masih sanggup menghandel segala urusan domestik dan tetap bisa berorganisasi. Saya sangat menikmati segala keringanan yang diberikan-Nya, mencatat hal ini baik-baik agar syukur kerap terpatri dalam diri.

Potensi lainnya saya bisa menggambar dengan cukup baik. Saya melihat Akib dan Biyya senang sekali punya Bunda yang bisa menggambar walau tidak alakadarnya saja.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Mengenai lingkungan tetap, agaknya masih belum bisa kami petakan. Tapi sejauh ini lingkungan tempat kami beraktivitas selama ini adalah wadah tempat kami bisa menabung amal akhirat jika kami manfaatkan dengan baik. Tiga tahun tinggal di lingkungan panti asuhan, keluar dari sana masih beraktivitas mengajar anak-anak pesantren dengan mata pelajaran non kurikulum. Sekiranya masih diijinkan Allah, hingga anak-anak besar kami tetap ingin menjalin silaturrahim dengan lingkungan yang lama ini.

Saya belum tahu mengapa Allaah memberikan lingkungan ini untuk kami, kenapa kami harus hadir di sana. Barangkali untuk menguji kesungguhan kami beramal dan benarkah kami ini sudah memiliki kesalihan sosial seperti yang dulu kami idamkan sebelum menikah ataukah hanya ujian kesempatan yang hanya akan tersia-siakan oleh kelalaian kami.

 

Demikian NHW #3 kali ini semoga bisa membangun peradaban dari dalam rumah dan tetap terjaga motivasi semacam ini. Terima kasih atas kesempatannya saya haturkan kepada Bunda Fasilitator dan Bunda Korming di kelas Matrikulasi IIP Batch #3