Perjalanan Ke Pulau Banyak (Part 2)

 

Pulau Rangik Kecil yang kami singgahi tidak luas seperti Palambak. Walau pesona pantai pasir putihnya sama eksotis seperti di Palambak dan gugusan pulau lainnya. Ini foto hasil jepretan keponakanku Naufal yang dua hari berikutnya ke Pulau Rangik.

Pulau Rangik yang ditandai dengan menara mercusuar

 

Semua basah dan kubuka tas sandang kecil Eun Yud dimana kami mengumpulkan seluruh telepon selular di sana, tidak kuyup tapi basah. Telepon selular Eun Yud yang paling basah bagian atasnya, aku tak berani menyentuh milikku karena tetasan air masih mengalir di baju dan tangan. Faza bangun dan Biyya tidak sepucat tadi. Aku megganti pakaian Faza dengan yang kering. Walau tidak terlalu kering lagi, tapi lumayanlah. Kuolesi perutnya dengan minyak  telon dan mengeringkan badannya sebisaku.

Kami beres tapi masih cemas dengan perahu kecil tempat Akib dan anak gadis Mande, Ira, Iwan, Uncu, Ayus, Puja masih belum ada kabar. Eun Yud mencoba menghubungi tapi tiba-tiba telpon dari Rimo Gunung Lagan yang berdering menanyakan situasi.

Dusta putih dimainkan, “Kami di Pulau Rangik sedng istirahat makan. Yang lain di Pulau Palambak sebentar lagi menyusul.”

Menit berikutnya jam menunjukkan waktu zuhur, Ibu-ibu dan Mande mencari tempat salat. Di atas sampai tangga keberapa pun di menara mercusuar itu sangat kotor, akhirnya mereka memutuskan salat di bawah pohon setelah makan siang usai. Aku masih belum salat dengan Bu Maryam dan Hani. Tak lama sampai perahu lain yang kelihatannya juga dari Pulau Palambak. Aku datang memastikan rombongan kedua aman di Palambak. Alhamdulillah memang mereka di sana dan sudah mulai mengarahkan perahu ke Rangik.

Rombongan kedua sampai disambut tawa bahagia dan lega. Sauh diangkat kembali sambil bercerita bahwa mereka bersenang-senang selama badai di Pulau Palambak. Menyaksikan langit bergelayut kelam dan rintik hujan sambil berenang di tepiannya. Mencari umang-umang (sejenis kepiting laut kecil yang bersembunyi di berbagai cangkang kerang). Katanya Akib saja yang kedinginan sedikit gemetar dan Sang Kapten perahu sangat cekatan membuatnya hangat kembali dengan balutan-balutan terpal di badannya. Ayus malah tertidur pulas selama perjalanan ke Rangik karena kelelahan berenang. Ya Allaaahhhh…. Grhhhh… mereka tertawa riang dan seolah tak ada satu hal ‘mengerikan’ terjadi beberapa menit yang lalu.

Puja menghampiriku sedikit sedih, kataya saat badai tadi masih ada beberapa rombongan di Pulau Palambak, mereka membuka bekal nasi bungkus yang kelihatan enak, kami lapar dan yang ada cuma sekotak roti manis. Sambil menatap mereka yang lahap makan, kami nelan-nelan liur saja membayangkan sambal dan gulai daun ubi yang ternyata semuanya diangkut oleh perahu kami. Hahaha… ah sudahlah! Aku lelah antara cemas dan geli dengan cerita Puja yang membuat kami akhirnya terbahak.

Puja kesayangan kami semua, makin cinta makin dibully. haha

Pelajaran moralnya: bersenang-senangsaja di Pulau selama badai dan lanjut lagi menyeberang ketika reda. Jangan termakan ucapan Kapten yang suka tantangan badai kecil-kecilan bagi dia, bagi kita? Wurrrrrrr…

Perahu buat emak-emak lebih besar dari perahu satunya lagi

Mesin perahu kembali dinyalakan setelah obrolan mencairkan suasana dan sampai ke Pulau Panjang yang tak kalah menawan. Di sini kami sempat memotret beberapa view dan salat asar, ada yang tadi belum zuhur menjamak takhrir di Pulau Panjang. Di sini juga banyak penghuninya. Pohon kelapa kurus menjulang ke langit, tertiup angin pantai. Berenang sepuasnya dan snorkeling melihat biota laut yang masya Allaah indahnya. Mengumpulkan rumah kerang dan terumbu karang mati di pinggiran pantai. Pasir putih bak hamparan karpet berwarna krem halus lembut. Gradasi warna air laut mulai hijau, hijau tosca, hijau agak biru, biru muda, hingga biru lebih pekat pun ada. Tangkapan kamera kami tak mampu menyimpan segala bentuk gradasi warnanya, karena itu aku memandang lekat-lekat dan coba merekamnya di memori otak, nikmat-Nya yang mana lagi yang aku pungkiri?

Duo kapten duduk di hamparan pasir putih, puas menaklukkan badai siang ini dan berhasil membawa kami ke tiga gugusan Pulau Banyak. Pulau Palambak, Pulau Rangik, dan Pulau Panjang. Katanya tadi kami melewati Pulau Malelo yang hanya tinggal pantainya. Di Rangik Gadang dan Rangik Kecil juga indah tapi tidak direkomendasikan berenang dan snorkle di sana. Waktu juga tidak memadai untuk ke Pulau Tailana, yang katanya jarum nyemplung ke dasarpun masih bisa dilihat sangking jernih dan indahnya pinggiran pantai Pulau Tailana.

kelelahan, tepar setelah isya

yang berdua ini.. isyanya lewaattt…

Esoknya hari Minggu dan kami ke Pelabuhan Pulau Balai sebelum zuhur, membeli tiket ferry dan kembali ke Pelabuhan Singkil. Oh, no! kami terseret arus baliik. Ferry penuuh…

Pulau Balai sebelum mengucapkan “till we meet again Many Island”

Alhamdulillah sudah naik sebelum ramai jadi dapat cobles tempat duduk untuk sekeluarga. Aku sempat ‘baku tatap’ dengan beberapa Bapak yang merokok di padatnya ferry. Salah satu Bapak aku dekati dan dengan dongkol aku minta berhenti merokok karena posisi duduknya tepat di bawah kipas angina. Dia merokok kami yang menikmati racunnya. Sayang sekali Allah belum memberinya hidayah, setelah aku datangi dia menyulut beberapa batang lebih kencang lagi. Hehe.. pasti dia sakit kepala setelah itu karena memaksakan diri. Ya sudah. Kami sampai pukul 18.30 di Pelabuhan Singkil setelah tadi telat berangkat dari Pulau Balai, sekitar pukul 15.05.

Sebagai Anak Rimo yang sudah berusia 33 tahun dan 19 tahun menginjak tepat di tanah Aceh Singkil tanpa ke Pulau Banyak adalah… menderita. Ahahaha. Tapi berhubung sudah menikah dengan Eun Yud dan lahir dari Umak dan Abak yang hebat, aku nggak pernah menyesali apapun. Hehehe.

Alhamdulillaah satu lagi tunai di ulang tahun pernikahan kedua belas ini, dan suratnya mana? Tulisan ini sajalah ya. Karena Eun Yud pernah menantangku “Yaah, apalah sudah hampir dua belas tahun kita, ke Pulau Banyak pun nggak pernah diajak. Ke Padang juga belum.” Nah, yang satu sudah ya. 1 Juli lalu disambut 3 Juli hari lahir Akib. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, yak.

Semoga Allah meridhai setiap langkah kaki kita sekeluarga. Aamiin.

epilog:

Kok nggak kayak tulisan blog ala-ala traveling gitu, banyak dramanya ketimbang promo wisatanya. Haha. Maafkan yaaa. Emak siaga sama anak, jepretan pun alakadarnya. Nanti akan dibuat lebih serius dengan spot-spot bagus, angle tepat, dan info lengkap ya, guys! Yuk, ah Ke Pulau Banyak. Jadi orang Indonesia belum pernah ke Palambak? Alamakjaang! Rugi!

Comments (5)

  1. Sally Fauzi

    Alamak…bikin iri cerita kakak. Apalagi lihat foto salat di pinggir pantai. Aih mak, indahnya….

    Salam kenal kak, …

    Reply
    1. aini (Post author)

      Waah senangnyaa dibaca sampai part 2 ya. Terima kasih Mbak Sally, salam kenal kembali. Yuk, ke Pulau Banyak! ☺☺

      Reply
  2. Pingback: Perjalanan ke Pulau Banyak (part 1) | Aini's Daily Journal

  3. Septia

    MasyaAllah.. indah banget Mba pulaunya. Selalu seruu ya kalo main ke pulau, apalagi rami anak-anak. Semoga suatu hari bisa main juga ke Sanaa

    Reply
    1. aini (Post author)

      Soo pasti mbak Septia. Kapan ke sana boleh transit di rumah Aini. Hehe

      Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *