Sebuah Awal

 

Kelas matrikulasi sudah berakhir, namun ini bukan berarti sebuah akhir melainkan alarm untuk memulai. Beberapa Nice Homework yang dicetak dan di tempel terus meminta komitmen saya. Sementara yang masih tertinggal di catatan dan beberapa butuh revisi terus menerus, terutama berkaitan dengan anak-anak yang cenderung dinamis dan beberapa kegiatan masih belum stabil, masih banyak penyesuaian.

Sebuah pernyataan yang membuat kami merenung mengenai membersamai buah hati. Walau kami mencurahkan waktu sepenuhnya bersama anak, belum tentu membersamai mereka. Hal itu terus terngiang dan menjadi pengingat bagi saya dan suami, saat ada di sebelah anak-anak ataupun ketika melepas mereka setengah hari di sekolah. Adalah sulung kami yang seorang dyslexic yang menuntut banyak kepiawaian parenting dan kesabaran, dan ia juga menjadi pengingat kami berdua dalam membersamai. Bagai alarm emergensi yang terkadang menguji adrenalin.

Saya mencatatnya di sini
cerita tentang Akib

Dengan bangga kami sampaikan walau nanti akan banyak pelukan dan barisan simpatisan menyemangati kami bahkan wajah nan iba sekaligus kasihan, saya dan suami hanya bisa tersenyum.

Makin memasuki kelas matrikulasi semakin banyak ilmu yang saya dapatkan untuk merapatkan kepalan tangan dan terus melangkah maju memeluk serta buah hati kami.

Menikah dalam kondisi belum mapan seperti yang dikatan Ustadz Adriano Rusfi, benarlah adanya, insya Allah akan membuat anak-anak menjadi pejuang tangguh dan mengerti hidup adalah perjuangan. Pemahaman Akib secara bertahap bertambah walau masih banyak sekali persepsi hanya keluar dari sudut pandangnya saja. Contoh kecil ketika membaca di jadwal malam sabtu adalah saatnya menonton movie, Akib akan protes keras dan dengan kekritisan verbalnya seperti biasa berkata “Bagusnya ini dicabut aja, kita nggak ada nonton malam minggu ini!”

Padahal perkara kecepatan memilih film setiap minggu bukanlah mudah ketika film yang sudah ada di-list sudah tidak lagi menarik. Ada proses yang harus dijalani dimana ia menolak untuk mengerti.

Penjelasan serupa itu tidak cukup buatnya dan banyak lagi yang dikritisinya. Di sana saya makin merasa diuji atau sebaiknya saya katakan saya tertantang untuk bisa lebih baik. Qadarullaah diberikan anak-anak yang aktif dan super duper kritis. Ketika dengan izin Allah akhirnya bisa masuk ke dalam lingkaran IIP, saya merasa sangat bersyukur setelah sekian lama, dulu saat memiliki anak pertama saya sering membaca berita-berita dan artikel-artikel mengenai Bu Septi dan keluarganya. Hanya itu.

Selama kelas matrikulasi rasa yang campur aduk hadir termasuk rasa kehilangan saat jam-jam belajar bada magrib di kelas daring di grup Matrikulasi IIP batch#3 yang kemudian dilanjutkan dengan Nice Home Work, saya merasa ada yang kurang dalam hampir dua minggu ini. Namun ada rasa yang paling tertinggal, betapa hingga hari ini saya tidak memiliki apapun, tidak cukup segala ilmu yang ada saat ini untuk membesamai buah hati. Jadi ada tangisan pilu dan tanya yang besar, masih mampukah saya menjadi Ibu yang profesional?

Namun dengan segala proses yang saya jalani, melihat empati para ibu lainnya yang juga ‘professional wannabe’ membuat saya merasa dalam pelukan yang hangat dan bersahabat. Betapa semesta cinta telah terbuka untuk menyeka air mata gundah saya.

Terima kasih Bunda Fasilitator dan Koordinator Mingguan di IIP. Terima kasih teman-teman IIP. Terima kasih ya, Bu Septi dan Pak Dodik yang menginspirasi.

Comments (2)

  1. malahayati

    Wow.. like it !!! “Kenak” banget bunda aini… 🙂 keren.. #3jempol…. 🙂

    Reply
    1. aini (Post author)

      Terima kasih Bunda Mala sudah mampir dan meninggalkan jejak.

      Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *