Sebuah kekuatan bernama ibu

“Kak, pengajian Nasyiatul Aisyiyah hari apa aja? Saya mau datang  karena si kecil udah bisa dibawa keluar. ” tanya seorang adik pada saya suatu siang via WA. Komunikasi kami pun berlanjut dan sisi hati saya menjadi begitu bahagia, semakin banyak yang meramaikan dakwah ini tentu semakin menggembirakan. Pernah kita dengar akan datang suatu masa dimana orang-orang mulai malas mengajak kepada kebaikan dengan berbagai dalih, semakin banyak orang yang tak peduli dengan sekitarnya dan hanya sibuk dengan urusannya sendiri.

Baiklah, sebenarnya ini tentang pengaruh seorang ibu terhadap anak-anaknya. Tapi sungguh ini bukan berarti mengerdilkan peran seorang Ayah, sama sekali bukan. Acapkali saya perhatikan, peran ibu dalam mempengaruhi jiwa, sikap, dan semangat anak-anaknya amatlah besar. Saya melihat begitu banyak ayah yang memiliki aura seorang tokoh besar dan panutan, seorang pengemban amanah dakwah ataupun seseorang yang penting bagi ummat tapi tidak semua anak-anaknya bisa melanjutkan estafet dakwah. Tapi ibu yang aktif membina ummat dan terus berkiprah secara aktif di ranah publik dengan tidak mengabaikan tugas domestiknya, bisa secara otomatis mengalihkan estafet dakwah ke anak-anaknya. Sekali lagi ini bukan tentang mengerdilkan arti ibu yang hanya menjamahi ranah domestik. Pun ia teramat mulia, sebagaimana ibu saya. Beliau adalah yang paling sempurna di hati saya, beliau lah pijar inspirasi yang tak pernah meredup yang membuat saya terus bangkit dan tulisan-tulisan saya bahkan seringkali  tentang beliau.

Tapi sekali lagi ini adalah sebuah tulisan yang menceritakan sebuah kekuatan bernama ibu. Dimana ia dimulai dari seorang gadis kecil, kemudian wanita dan terakhir menjadi seorang ibu. Jika ia dianugrahi anak-anak dari rahimnya ataupun bukan,  ia akan tetap memiliki sisi keibuan yang mengalirkan kekuatan mempengaruhi jiwa sesiapa yang ada di sisinya. Salah satu jawaban kenapa wanita harus cerdas dan pintar, harus terus mengasah diri dan belajar selagi nafas dikandung badan. Cinta kasih yang mengalir di darah dan jiwanya bisa terus dibina dengan kehausannya akan ilmu, belajar dari yang tersurat dan tersirat adalah  tugas penting bagi seorang wanita. Ia akan menjadi sumber bagi sekitarnya, sebagaimana orang di sekitarnya pun harus sesantiasa menjaga fitrah kebaikan seorang wanita untuk kelak ia akan menjadi teladan keluhuran budi generasi.

Ibu adalah model yang akan dicontoh langsung oleh anak-anaknya, terutama sikap dan akhlaknya, bahkan ritme kesehariannya. Saya sendiri menjadikan anak-anak saya cerminan memperbaiki diri. Meneropong diri sendiri jika saya lihat sudah begitu jauh sikap anak dari keluhuran budi. Ketika anak saya yang berusia 6 tahun berbicara kurang elok kepada temannya, saya mengajaknya berdialog dan kemudian intropeksi diri. Tidak jarang saya mengajak suami mengevaluasi hal ini. Walau dikatakan usia 6 tahun adalah masa dimana ke’aku’an seorang anak sedang menonjol, egosentris istilahnya, dimana anak-anak merasa ia adalah pusat semesta, tapi setiap jenjangnya juga merupakan anugerah bagi diri saya sebagai ibu karena kerap diingatkan olehnya.

Sebuah kekuatan juga bagi seorang ibu untuk lebih dalam meneropong dirinya, harap apa sebenarnya yang ia sematkan pada anak-anak dan orang-orang di sekitarnya. Karena itu menjadi ibu harus memiki prinsip dan kepribadian. Ritme keseharian yang juga akan menulari orang di sekitarnya kemudian menjadi teramat penting bagi seorang ibu demi mengantar sukses anggota keluarganya.

Saya mengenal banyak wanita, istri dan ibu yang menginspirasi setiap kali menjejakkan kaki di suatu tempat dan komunitas yang baru. Salah satunya yang anandanya kemudian mengirimkan pesan WA di prolog tulisan ini. Beiau adalah seorang ibu penuh waktu yang memiliki 7 orang anak lelaki dan perempuan. Salah satunya malah berkebutuhan khusus. Beliau mengajar, berorganisasi, bahkan pernah menjadi garda terdepan atau pimpinan. Saat ini bisa dikatakan sukses mendampingi suami dan anak-anaknya. Di masa-masa tenang pensiunnya pun diisi dengan hal bermanfaat untuk tetap berkontribusi bagi umat. Caranya menjadi penasehat organisasi dan terus terlibat di kegiatan-kegiatan rutin atau insidentil saat kondisi beliau fit.

Jadi jangan sedikitpun ragu melangkah untuk terus mengemban amanah menyelesaikan urusan domestik tetapi tetap semarak di ranah publik berbagi ilmu dan keahlian apa saja untuk umat yang lebih baik dan berkemajuan.

20140925_092759

berkumpul untuk kebajikan dan taqwa

IMG-20151016-WA0000 (194)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *