Tantangan Game level 2 hari ke 4

Tantangan Game level 2 hari ke
#MelatihKemandirian

Memasuki hari keempat. Kesempatan untuk melihat langsung kemandirian Bunda juga belum jelas. Walau hari ini terlihat super dengan ketiga tepatnya keempat anak beserta kak Sari, anak asuh kami yang menginap di rumah, semuanya kuboyong ke kantor NA untuk rapat persiapan pelantikan pengurus. Karena akun Gojek Ayahnya yang punya deposit, akhirnya beliau yang memesankan Go-Car (Naaah, dalam hati, yah mau gimana?) intinya seperti pillow talk kami saat mau memulai game ini,

“Eun Yud, selama ini kan Aini nggak mandiri, ya.”

“Hm, nggak mandiri kayak gimana ya?”

“Banyak mintolnya dari A sampai Z.” Jawabku.

“Definisi mandiri itu sendiri apa? Perlu kita samakan dulu. Minta tolongnya Bunda selama ini masih batas wajar dan selagi Ayah ada dan bisa membantu, apa salahnya.” clap! Begini ini sering dan klasik, bukan salah suami juga sepenuhnya. Tapi aku yang merasa keasyikan di zona nyaman plus aman sentosa.

Memang seperti bahasan di kelas. Kenapa merasa tidak mandiri saat dibantu suami? Wajar suami membantu pekerjaan RT. Semua juga seperti itu dan tidak merasa manja sama sekali.

Benar… Saat mulai diskusi tema ini aku sendiri sudah punya persepsi berbeda dengan teman sekelas, mungkin titik beratnya kurang pas saat diungkapkan dengan diksi sekedar “dibantu dalam hal pekerjaan RT”. Tidak lagi berani naik motor sendiri, mengangkat galon, belanja, setrikaan ataupun kain kotor ke binatu sebahagian besar, belanja bulanan atau dapur tinggal buat list, beberapa jam berikut seperti disulap semua sudah ada di ruang tengah. Semua anak diantar dan dijemput ayahnya. Pekerjaan dalam ‘negeri’ rumah kami sendiri adalah first priority bagi suami. Kalau ada teman kantornya yang menelpon, aku sering mendengar “Nanti ya, aku antar Aini dulu rapat.” “Sebentar aku susul, jemput Biyya dulu dari sekolah.”

Istri beruntung? Sangat! Jangan terburu mengatakan aku show up lagi. Di pillow talk ataupun family forum, tema ini akan diangkat dan betapa aku sebagai ibu menjadi teladan yang tidak baik karena nyaris 95% aktivitas dibantu. Suami merasa tidak keberatan, apa pasal? Pekerjaan suami tidak terganggu. Kok situ baper sendiri?

Terkadang terpikir, sampai kapan seperti ini? Semua yang di atas pernah dilakukan seluruh suami baik di muka bumi. Tapi mau sampai kapan dan betulkah caranya serutin itu? Di sanalah letak ‘gugatan’ kemandirian bunda harus dibangkitkan. Paling tidak kesadarannya muncul sedikit saat kelas ini, syukur jika nanti mengambil kontribusi dalam hal transportasi dan mobilisasi. Biarlah finansial belum, aku melatih finansial anak-anak saja agar bisa produktif di usia baligh. Tidak lagi tergantung nafkahnya dari orang lain. Bunda mandiri finansial jika di ‘negeri’ rumah kami isu ini belum dihembuskan. Walau sebenarnya aku belum pernah putus mengajar lebih dari setahun dalam rentang usia pernikahan kami. Tapi bentuk bekerjanya lebih ke volunteer alias sukarela. Jadi jarang sekali bisa dimasukkan dalam kas keluarga. Mengajar hanya bentuk kesenangan agar otak tetap refresh dan menurut suami ini membuatku jauh terlihat bahagia. Maka dengan riang ia pun mengantar jemput, atau membiarkanku berangkat mengajar sambil membawa anak bungsu kami. Dulu sekali Biyya dan sekarang Faza yang selalu membuntutiku saat mengajar.

Jadi, di situlah letak salahnya. Dibantu pekerjaan RT sangat baik meningkatkan kasih sayang dan bonding suami istri. Mengemong anak bersama dan terlibat langsung mengasuh mereka, toh ada waktu dan kesempatan. Kapan lagi kalau tidak di usia anak seperti ini dan ya, harusnya aku juga berpikir, kapan lagi kalau bukan sekarang saat semua pekerjaan suami tidak menuntut ia terlalu banyak? Ia juga tipikal bapak rumahan yang hangat dan menyenangkan.

Sering kusuruh main futsal, nonton bola, main raket, gowes, atau malah ngopi sama teman-teman sekedar ngobrol saja. Terus terang, boleh ditanyakan pada teman suami, aku bisa dikatakan sering mengontak mereka, “Abang sedang dimana? Sibuk sekarang? Kapan ngopi sama Eun Yud?” baru sadar dan aku tertawa sendiri mengingatnya. Betapa ajaib dan uniknya tiap pribadi dan Allah minta kita untuk menghargai. Masya Allaah.

Menulis ini menetes air mata haru. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kelapangan dalam setiap urusanmu. Aamiin.

Lalu kesimpulannya? Aku akan kembali membuat daftar resolusi mengenai kemandirian diri sendiri dan berusaha mencapainya dengan rentang waktu yang ditentukan di kelas Bunsay ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *