Tantangan hari#9 Komunikasi Produktif

Jumat berkah.

Pagi ini kami terlambat bangun semuanya. 20 menit setelah salat subuh baru terjaga. Aku langsung membangunkan suami yang ikut kaget juga. Kami salat lebih dulu baru setelahnya membangunkan anak-anak.

Akib tidak perlu ditarik, cukup dipanggil tiga kali dan kuelus pipinya. Biyya menyusul setelahnya. Sejauh ini baik-baik saja sampai Akib mencari tab ingin melanjutkan mencoba aplikasi semacam launcpad di tablet kami.

No no, Akib! Kita berberes diri dulu, kalau masih ada waktu setelah sarapan, boleh pegang tab!”

Ini payah sekali. Biasany hanya ada sabtu minggu untuk tab dan game Minecraft. Tapi sejak dia dapat orderan desain dan ada saran menambah jam latihannya untuk kombinasi warna dan font, jadi sepulang sekolah, tepatnya setelah magrib, forum keluarga dan makan malam, ia boleh latihan sebentar barang satu atau dua jam. Salat isya dan tidur. Tapi Akib memang unpredictable, keinginannya mencoba-coba launchpad dan minatnya pada dunia DJ kadang membuat dia penasaran banyak hal.

“Akib kan, kalau ada uang mau lah beli launchpad,” katanya seringkali.

No. Bunda rasa itu sekadar keinginan. Bukan kebutuhan.” jawabku lekas sekali mementahkan.

“Iyaa, Akib tau Bunda ga akan kasih, tapi kalau lewat depan sekret Bunda, ada toko yang jualan speaker, CD itu, kita bolehlah lihat-lihat ya.”

“Maaf ya, Nak. Nggak bisa.” ini sudah pernah jadi obrolan jelang tidur juga. Melihat antusiasnya tentang Alan Walker yang membuat Bunda harus kepoin mengenai DJ muda yang katanya berbakat itu. Ikut mendengar beberapa genre musiknya. Kehidupan pribadinya yang terpublikasi dan lain-lain.

Kadang aku menarik nafas dalam, “Ingin anak saleh? Sudah cukup saleh kah kita sebagai orang tua?” hati ini jadi mengkeret. Ciut. Ciut sekali. Tapi harus positif. Harus optimis. Paling tidak, ada usaha ke arah sana. Menjadi pribadi yang salih meneladani Rasul sebagai panutan.

Jadi bagaimanapun sulitnya, sembari mencoba tazkiyatunnafs, terus memperbaiki diri dan mendidik anak-anak sebaik usaha yang kupunya. Akib akhirnya berangkat ke sekolah setelah tadi dongkol. Aura yang kurang menyegarkan pagi. Aku berusaha agar pagi hati kami tetap benderang, tapi seringkali pagi jadi semrawut dan kelabu.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *