Telor Dadar #savetheday

 

Masih edisi curhat-curhat manjah –pinjam istilah Bang Ubai- kalau udah siayah sibuk 12 jam atau lebih, kerempongan sibunda pun dimulai. Antar jemput anak-anak; siayah, belanja dapur; siayah. Sesuatu yang belum sibunda handel selama 12 tahun ini. Ingat dulu tetangga nyamperin sibunda sore-sore di teras rumah cuma buat lapor, “Aini, tadi ibu lihat Yudhi sedang belanja, lah. Sedang pilih-pilih bawang. Pintar kali dia,” ibu itu sumringah, beliau benar-benar salut sama Bang Udi, sapaanku untuk Eun yud kalau di depan kawan-kawan.

Nah, terlepas dari kenapa siayah Eun yud yang selalu belanja dan antar jemput anak-anak, hari ini pun setelah anak-anak sampai ke rumah, diantar oleh Uncu dan sepupunya, Bang Opal, satu hal lagi bikin galau, kulkas pun kosong. Toweengg… lengkaplah penderitaan sibunda. Tidak sempat belanja minggu ini tapi biasa siayah masih dengan penuh tanggung jawab membeli makanan jadi. Hari ini istimewa karena ia masih di luar kota. Kami dibekali sepapan telur dan amunisi ini yang kupakai seharian ini. Sarapan pagi sampai makan malam telur dadar menemani kami. Herannya ini anak-anak makin doyan makannya… terutama sore.

Tampaknya Faza yang tadi siang makan sedikit, Biyya yang merasa kenyang makan roti tadi siang, dan Akib yang telat dijemput, benar-benar kelaparan sore ini. Kubuat dadar telur lima butir, kentang dan teri goreng ditambah sambal, dengan lahap ketiganya makan malam lebih cepat.

OOT sedikit, aku seharian ini berberes lemari. Sortir barang-barang yang harus dipacking, ada juga yang dikumpulkan berbundel-bundel untuk diantar ke container sampah. Buku-buku yang bisa disumbangkan dan mana yang harus masuk ke kardus untuk diangkut nanti.

Yup, selesai ya, curhat sibunda.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *