Latest Posts

Serendipiti!

“Sudah selesai hectic-nya?” Tanya Arju sambil meletakkan ponselnya di meja.

Dia memang suka datang tiba-tiba dan bertanya seperti tadi. Aku tak kaget lagi, tetap khidmat menyelesaikan bacaanku setengah halaman, kemudian berganti menatap sosoknya dengan selarik senyum.

“Hm, alhamdulillah sudah.” Jawabku sambil menutup The Chemist Stephanie Meyer yang sejak tadi menyita perhatianku.

“Malam ini ada event seru yang nggak bisa dilewatkan, aku sudah minta ijin Ibu kost kalian untuk keluar dengand Muhar sekalian, tapi kamu sendiri belum membalas pesanku.” Arju mulai duduk dan memberikan kode pada pramusaji, memesan secangkir kopi kesukaannya.

“Oh, itu… Iya maaf. Terlalu banyak pesan yang masuk. Haha… Oiya, mana Muhar?”

“Tidak ikut. Kusuruh nanti sore saja sekalian berkumpul jelang berangkat. Ini aku mau bertemu berdua dulu sama kamu.” Kata Arju sambil mengamati mataku dan mereka-reka apa yang sedang kupikirkan.

Ia tak akan pernah bisa menebakku kalau aku tidak bersuara. Air mukaku sudah begini sejak lahir, kata orang-orang jutek. Memang. Hanya Arju saat ini yang masih punya nyali berdekatan, mengobrol panjang, dan melakukan pekerjaan yang membutuhkan kerja tim bersamaku.

Seringkali aku tidak ingin diganggu kalau punya pekerjaan yang membutuhkan ketenangan dan karena aku bekerja sungguh-sungguh, jarang orang bisa mentolerir sikapku yang mengabaikan panggilan telpon, ajakan bertemu, dan semacam itu kalau sudah dikejar deadline. Orang yang tidak maklum barangkali tidak pernah merasakan hidup seperti aku. Arju mungkin juga tidak, tapi ia cukup kuat untuk terus bertahan.

“Silakan kalau ada yang mau dibilang, lagi pula sekarang kalau penting dan mendesak, kamu bisa telpon karena aku udah nggak begitu sibuk lagi.” Kataku menyilakan Arju dengan sungguh-sungguh.

“Hm, aku nggak tahu ini waktu yang tepat atau tidak, tapi jelas aku akan kehilangan kesempatan kalau tidak mengutarakannya saat ini.”

“Oh ya? Aku cukup fleksibel kok, silakan.” Aku terbiasa dengan kejutan dan apa pun kemungkinan-kemungkinan baru yang harus kuhadapi dalam hidup.

Aku kerap mengalami serendipiti dalam banyak hal. Terutama pelajaran-pelajaran hidup. Maka aku keras bukan karena aku merencanakan hidup seperti ini, tapi keadaan menempaku.

“Kamu tahu aku dan Muhar akan menikah. Bagaimana perasaanmu?”

“Perasaanku? Pardon, aku belum menangkap maksudmu…”

“Maksudku begini… Aku memang baru mengenalmu sejak kuliah. Kamu orang yang…hm, pintar. Ah, barangkali jenius. Kamu juga sudah dewasa dan terbilang berumur. Terus terang, kamu cantik. Maaf, aku … Aku heran dengan usiamu kini, kenapa kamu tidak menikah saja dulu dan jeda dari fokus pada pekerjaanmu? Aku melihat kamu terlalu cuek dengan sekitarmu. Mungkin kamu bisa jadi orang yang lebih terbuka, mungkin…atau jadi pribadi yang lebih luwes.” Pertanyaan yang penuh perhatian dari Arju.

“Arju yang baik, kau mengusik urusan Tuhan dan mengait-ngaitkannya dengan sikapku. Kalau aku boleh bertanya, apa yang kamu tahu tentang aku yang sudah dalam keadaan seperti ini? Apa menurutmu jodohku belum datang karena aku begini dan begitu.” Jawabku penuh senyum. Kali ini entah pun berkali-kali aku tak pernah marah dengan pertanyaan sejenis ini.

Arju terdiam. Angin siang ini berembus agak gerah karena terbawa suasana yang terik.

“Kenapa memilih kopi di hari sepanas ini? Tanyaku memecah kebekuan yang sejenak tadi hadir.

“Yah, aku belum ngopi seharian ini. Rasanya agak kurang sreg.” Jawab Arju sedikit ragu dengan jawabannya.

“Kamu… Suka kopi pahit?” Tanyaku lagi.

“Yah, kadang…”

“Ooh…”
“Kenapa?” Tanya Arju balik bertanya.

“Bukan apa-apa, aku juga suka.” Kataku sambil menyesap segelas jus jambu biji.

“Kita punya banyak kesamaan…” Kata Arju menggantung.

“Jadi karena itu kamu tertarik padaku.” Sambungkan yakin.

“Oke, aku salut akan kelugasanmu.” Muka Arju sedikit tidak nyaman seperti salah tingkah.

“Hahaha…maafkan aku. Toh, beberapa bulan lagi kamu akan menikah dengan Muhar. Maafkan kelancanganku.”

“Tidak. Kamu benar. Tapi aku …”

“Kamu tidak perlu merasa nggak enak begitu. Terima kasih obrolannya ya. Lalu, cuma itu yang ingin disampaikan?”

Arju menatapku sekali lagi, lalu ia membuang pandangannya ke jalanan.

“Iya, hanya itu.” Jawab Arju setelah beberapa menit berlalu. Kulihat ia menelan ludah bersama segumpal ucapannya yang lain. Aku bisa melihat jakunnya yang naik kemudian turun. Jelas banyak yang urung ia ungkapkan.

Sepotong Maaf

“Kenapa tak mencoba menghubungiku?”

Hm, kenapa ya? Entah…kurasa waktuku sudah tiba. Menanggalkan segala asa dan rasa padamu. Aku sudah lama menunggu saat seperti itu, di mana aku bisa lupa suaramu, senyum, dan segala hal tentangmu.

Aku tinggalkan kau tergugu sendiri di meja itu. Bersama secangkir kopi yang mulai terasa basi. Bagaimana mungkin aku sekonyol ini? Berkeliaran dengan santai di lokasi tempat kau biasa menghabiskan sore.

Namun aku jadi lega, bukankah berarti aku tak lagi terikat fobia tentang bagaimana nanti sekiranya bersobok denganmu secara tiba-tiba? Ya, aku jauh lebih merdeka beberapa hari ini, walaupun tidak untuk beberapa hari ke depan. Setelah sosokmu kembali terekam lensa mataku.

“Kupikir, aku tak akan pernah lagi bertemu denganmu. Mereka bilang kau sudah berangkat sebulan lalu. Ah, syukurlah masih sekadar pembekalan. Jadi aku masih punya kesempatan bertemu. Kau mengganti nomor kontak?”

Kamu benar-benar bersyukur di atas bencana yang kualami. Bertemu denganmu adalah hal yang harus disyukuri, tapi tidak untuk pertemuan kembali setelah semua ini terjadi. Seberapa kuat hati ini, mengingat lara yang kau lepohkan tempo hari.

Bagaimana setelah malam itu aku kembali ke kamar kost-ku dan menyasar fotomu di meja mungil kesayanganku. Memutuskan bersamamu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Jadi kuenyahkan fotomu di dalam folder-folder laptop dan ponselku.

Hari-hariku kemudian tak pernah semenderita itu. Mengenyahkan semua jejak tentangmu.

Loving can hurt, loving can hurt sometimes But it’s the only thing that I know When it gets hard, you know it can get hard sometimes It is the only thing makes us feel alive. We keep this love in a photograph. We made these memories for ourselves. Where our eyes are never closing. Hearts are never broken And time’s forever frozen still. So you can keep me Inside the pocket of your ripped jeans. Holding me closer ’til our eyes meet You won’t ever be alone, wait for me to come home. Loving can heal, loving can mend your soul And it’s the only thing that I know, know I swear it will get easier. Remember that with every piece of you . Hm, and it’s the only thing we take with us when we die. Hm, we keep this love in this photograph. We made these memories for ourselves. Where our eyes are never closing
Hearts were never broken
Times forever frozen still.

Bait-bait lirik Photograph Ed Sheeran membuat kepalaku berputar. Loving can hurt…loving can hurt sometimes…

Berkali-kali aku menyalahkan diriku sendiri, bukankah sebaiknya aku tak perlu terbawa seperti ini. Aku sendiri yang menciptakan rasa lara ini.

Aku tidak mengerti sama sekali. Aku hanya tahu sedang merasa terganggu. Lekas kuganti nomor kontakku selagi bisa. Tapi sebelum itu, aku membuka pesan di ponselku. Sebuah pesan suara masuk, aku mengunduhnya.

If you’re lost you can look and you will find me
Time after time
If you fall I will catch you, I’ll be waiting
Time after time

If you’re lost you can look and you will find me
Time after time
If you fall I will catch you, I’ll be waiting

Time after time
Time after time
Time after time
Time after time
Time after time
Time after time
Time after time
Time after

Siapa lagi yang gemar mengirim pesan suara yang berisikan lirik-lirik seperti ini.

“Hanna, maaf. Andai waktu bisa diputar kembali, kalau pun tidak, lalu kenapa kita tidak mencoba memulai dari awal?”

Namun sepotong maaf tidak mungkin hadir begitu saja.

Lyric source

The Man O’ Mine

“Sedihnya sudah? Kalau sudah, ke sinikan tanganmu.” Ia menarik pelan tanganku dan kami melangkah beriringan, ada cercah cahaya di balik celah. Aku belum paham betul maksudnya, tapi aku tahu, sesuatu yang jauh lebih baik akan kujelang sesaat lagi.

Menatap matahari terbit di Pulau Balai (foto: dokumen pribadi)

Ia lelaki bermata api yang saat pertama kutemui melindap dalam sekali tatap.

“Aku menyukaimu, bolehkah bersebab itu aku menyegel seluruh kesumat dan membiarkannya lumat bagai melekut.”

“Tapi siapa aku? Kau jangan coba menduga hingga pada akhirnya hanya mengisi gantang pesuk!”

“Tidak! Tidak! Aku tidak akan melakukan itu. Ini bukan hanya perkara suka yang menggelontor begitu saja dari bibirku. Telah lama asa menggelantang terbiarkan. Aku bukan penyuka kesia-siaan, tak pula aku sudi menyanduk kuah dalam pengat!” Tegasmu lagi.

Aku diam satu jenak, tak lama. “Tapi bagaimana nanti jika ternyata semua terlampau jauh dari segala yang kau pernah kira?” Sambungku pula.

“Aku akan serahkan pada-Nya.” Tatapmu mantap.

Lalu gamang datang membuatku geming. Geligi tubuh bukan separuh. Sudah keseluruhannya galau. “Baiklah, tapi aku belum tahu apa cara kita sama dalam hal menanggapi rasa serupa ini.”

“Apa? Bagaimana caramu? Bukankah dua kutub pun tak mungkin mampu bersatu jika keduanya sama persis. Kita butuh berbeda, lalu inilah yang akan membuat kita serupa.”

“Jelas tak serupa denganmu!”

Lalu geletar hatimu tampak ke permukaan. Kau tak siap dengan kelugasanku, sebenarnya.

“Coba jelaskan padaku.” Pintamu mulai ragu. Aku khawatir manik matamu tak lagi mampu menatapku.

“Aku terikat, dikekang oleh sebuah prinsip yang kupilin sekian lama. Maka tak heran ia telah kokoh hari ini.” Aku memulai dengan sebuah intro yang lambat.

Mata apimu tak lagi lindap. Ah, kau tak siap dengan penolakan. Inilah yang kusebut maturasi yang belum lengkap. Bagaimana mungkin kau siap menghadapi mozaik hidup bersamaku. Sementara aku…aku hampir tak pernah semudah itu kau tebak.

“Sebuah ungkapan suka dan cinta, harus terikrar dalam ikatan berat, di mana runtuhnya ia akan mengguncang arsy Tuhan.”

“Yang kau sebut itu…adalah sebuah ikatan suci?”

“Benar.”

Mata apimu membelalak.

“Lalu siapa pula aku yang berikutnya dengan tiba-tiba kau dapuk menjadi pemimpin bagimu?”

“Kenapa kau ini? Bukankah kau yang memulai dengan segala pikir yang naik menjadi kata. Pengungkapan telah sampai maknanya padaku, tinggal kau harus mempertanggung jawabkannya?”

Lelaki mata api, seberapa lama itu kau redam. Lalu kau terbakar.

“Kau…kau sungguh tak mengerti keadaanku.” Erangmu mulai panas terbakar. “Seberat itu sebuah konsekuensi kata? Apa salahnya kita jalani anak tangga pertama?”

“Anak tangga? Kau hanya ingin bermain denganku. Enyahlah mulai sekarang.” Kataku getir. Aku pun merasa tertolak. Aku terluka mata apimu. Sekujur hatiku panas.

“Kenapa kau buat gunung es sedemikian tinggi dan membuat seluruh hatimu membeku?” Tanyamu lagi.

“Kau bodoh,” gumamku hampir tak terdengar. “Saat ini sebenarnya gunung es telah luruh dibakar api simpati. Sekarang semuanya runtuh, rasa telah membanjiri keseluruhan diriku.”

Lalu kita berpaling, tak saling berkata. Semua aksara lesat dalam deru pikiran.

“Biarkan aku berpikir.” Suara paraumu terdengar pahit.

“Lalu selama kau berpikir, menjauhlah. Ambillah sebuah jarak yang tak mungkin kulampaui.”

“Kau sekejam itu…” Mata apimu memelas.

Aku pejamkan mataku menahan pedih. Rasa menjalar di seluruh tubuh.

Kita membuat sebuah kotak dimensi. Kau dengan dimensimu sendiri dan aku boyak oleh prinsipku sendiri. Rasa itu telah kukurung dalam kerangkeng, dalam sebuah dimensi yang berbeda pula darimu.

Tapi kita memang dua kutub yang saling tarik menarik. Rasa itu ibarat metafil yang tak berhenti berkembang. Laksana benalu jiwa di mana seluruh energi untuk hidup telah terserap ke sana.

Saat makan, tidur, beraktivitas, bahkan aku lupa bagaimana caranya menangis sedih dan tertawa bahagia.

Ah, apa bedanya menarik nervus fasialisku melengkungkan sebuah garis senyuman atau tangisan? Toh segala gurat wajah yang tercipta tak mampu mengoyak dimensi yang kita buat. Ia bahkan meruyak menjauhkan kamu dariku. Aku pun dengan langkah gontai dan seringkali terseok untuk menjauh darimu.

Mata apimu berpijar setiap waktu. Sebuah kesumat yang katamu ingin kau lumat. Ah, aku justru membuatnya semakin tersemat gagah di matamu.

“Apa aku tak pantas bahagia?” Tanyamu kali itu yang berhasil melewati dimensi ruang dan waktuku, terbawa oleh angin tanpa sengaja.

Tanya yang menghentak dan nyaris memutus pilinan tali prinsipku.

“Bahagia pun butuh cara yang benar.” Lirihku mulai merasa amat berdosa.

“Aku sungguh belum siap…”

“Aku pun mungkin sama, buat sajalah diri kita setengah siap. Itu sudah cukup. Lalu masing-masing kita menyerahkan setengah itu pada Tuhan. Separuh tambah separuh, maka ia akan menjadi utuh.” Kataku kemudian.

Lalu lelaki mata api, kau selesaikan setengah bagianmu, lalu aku sudah siap dengan setengah milikku. Hari itu satu Juli. El Nino dan La Nina sedang menggejala di negeri kita. Kemudian semburan air laut tumpah seperti rasa kita berdua.

“Aku akan bahagia dengan cara yang benar.” Ucapmu. Disaksikan oleh penduduk bumi dan langit. Kita telah mengucapkan perjanjian berat itu. Menggenapkan yang separuh.

“Sedihnya sudah?” Tanyamu mengusik lamunanku. Mata apimu sudah lindap. Aku memadamkannya. Ah, rupanya semudah itu. Namun sekarang kita kembali dihadapkan badai baru, bukan lagi persoalan rasa semacam itu.

“Iya.” Jawabku.

“Kau masih boleh sedih, tapi tak boleh lama-lama. Sejak hari itu kita berjanji bahagia.” Bujukmu lagi.

Mataku mengerjap untuk membuang paksa sesuatu yang bening dari sudut mataku. Kau bantu menyeka.

“Kemarikan tanganmu.” Helanya lagi dengan pelan. Kami berjalan lagi beriringan. Lalu cahaya itu kian benderang.

“Kau sudah siap?” Tanyanya lagi sambil menatapku lekat-lekat.

Dengan sisa air mata dan hidung memerah karena berkali-kali diseka, aku mengangguk dan mengikuti lengkung senyum di bibirmu.

 

Foto: dokumen pribadi

Komplek BuAs 23 Juli 2018

Hai, Eun Yud. Kau sepertinya punya berpeti-peti harta karun yang tak pernah berhenti memproduksi harta benda berharga untuk menghibur dan mengembalikan senyumku. Walau tak pernah ada cukup-cukupnya, aku selalu ingin ucapkan terima kasih, terima kasih, terima kasih! Alhamdulillah.

Terima Kasih untuk Semua Kebersamaan (Aliran Rasa Game Level 7)

-If you brave enough to say goodbye and life will reward you with a new hello- Paulo Coelho . Aku tak ingat persis kapan dan di mana pertama sekali aku mendengar kutipan ini, tapi aku cukup terkesan dan mulai sering melepaskan sesuatu dengan rela, mencoba tidak terlalu ngoyo dalam hidup ini merupakan salah satu cara agar aku bisa mengobati kecewa dan menjaga kestabilan jiwa.

Quote Source

Bagaimana aku sudah memilih untuk mengikuti kelas Institute Ibu Profesional sekitar setahun yang lalu dan berkomitmen mengikutinya sampai selesai. Namun di kelas Bunsay aku terseok-seok dan sempat tiga kali berturut-turut tidak mendapatkan badge tanda lulus. Rentang waktu yang diberikan cukup lama, dengan kesempatan berkali-kali. Aku memang sedikit riweuh dan perfeksionis membuat laporan dalam bentuk narasi. Karena bagiku tulisan yang baru saja keluar dari ‘pemanggangan’ sering kali tak layak konsumsi. Aku harus melakukan swasunting paling tidak dua kali.

Laporan-laporan setiap tantangan biasa kubuatkan premis dalam Word atau Polaris, aku sering lalai menyetor ke Google form yang membuat aku selalu tertinggal. Ketika kita menunda satu pekerjaan, maka ia akan beranak-pinak dengan sendirinya dan  tidak mudah menyelesaikan segala hal yang tercecer tersebut.

Kekuranganku dalam mengorganisir diri, disiplin, dan menentukan skala prioritas, seringkali membuat aku kecewa bertubi-tubi. Namun dari sana aku merasa siap untuk memulai hal baru dan mengambil banyak ibrah dan mencoba tidak mengulangi hal serupa. Walau ini berat, tapi aku berusaha dan sering mengingatkan suami untuk ikut menegur kebiasaanku yang suka menunda tugas-tugas online, termasuk editan naskah yang selalu kalah pamor dibandingkan dengan pekerjaan domestik. Maka kukatakan sekali lagi, sulit memang mengikatku dalam sebuah kontrak dan menjajari tenggat waktu atau deadline, tapi kalau tidak dilatih, mau sampai kapan begini terus?

Kelas IIP membantuku berlatih banyak hal, bukan hanya bagaimana menjadi ibu cekatan dan profesional, kuat, dan siap dengan segala kemungkinan yang harus kutanggung sebagai ibu yang diamanahkan anak berkebutuhan khusus. Seperti hari ini, sebenarnya hati sedang sangat remuk, teman-teman banyak menguatkanku beberapa minggu ini, terutama teman satu tim menulis, Ayu, kemudian adik bungsuku yang kerap kudapuk sebagai konselor pendidikan anak, dan tentu saja dokter Muna yang tahu persis bagaimana sulung kami.

Meninggalkan kelas Bunda Sayang IIP Batch#3 Sumatra 1 dengan langkah berat, tapi aku harus berani bertanggung jawab atas kelalaianku. Kelas ini sangat istimewa, di sini aku bertemu guru yang luar biasa. Fasilitator kelas yang mengesankan. Mbak Rahma atau yang biasa kami sapa dengan Mbak Amma, beliau memiliki passion di bidang menulis dan blogging juga. Aku bahagia bertemu dengannya. Lalu teman-teman yang hangat dan sangat welcome. Ada Mbak Felicia yang mahir di bidang investasi, Mbak Atik, Kak Cut Intan, Teteh Dhian yang selalu tersenyum dan dengan senang hati menyambut kami ke rumahnya untuk belajar baking. Terima kasih ya, Teh. Entah kapan lagi.

Mbak Intan Sari yang selalu menyemangati kami. Tak bisa kusebutkan satu per satu teman sepenanggungan di kelas ini, betapa aku bersyukur pernah mengenal kalian semua. Semoga suatu hari kita dipertemukan secara langsung. Ditambah lagi dengan kehadiran Fasilitator baru yang tak kalah hangat dan menyenangkan. Mbak Ika langsung benar menyebut nama sulung kami saat mewapri-ku. Aku terharu dan harusnya malu kenapa bisa terdepak dari kelas istimewa ini. Sungguh aku teralu, ya. Maafkan muridmu yang tidak disiplin ini. Andai masa rotan masih berjaya, aku siap menerima hukuman semacam itu untuk keteledoranku tidak menyetor empat laporan lagi. Di mana sebenarnya empat laporan itu sudah nagkring di file-ku dan tinggal kukirimkan ke blog lalu input di Google Form. Jadi, setelah salam perpisahan ini, aku tetap akan mengepos laporan tersebut hingga hari kesepuluh, karena pada kenyataannya game tantangan Cerdas Finansial ini tetap kami lanjutkan sekeluarga hingga hari ini.

Begitu juga dengan Pohon Literasi yang masih kami coba rimbunkan dedaunannya, semoga niatan kami jadi keluarga pembelajar terus dimudahkan oleh-Nya. Terima kasih buat seluruh fasilitator yang sudah mengorbankan banyak waktu dan pikirannya untuk kelas ini, untuk keluarga kami. Semoga menjadi amal jariyah. Aamiiin.

Baiklah, dengan membacakan bismillah saya siap mengundurkan diri dari kelas Bunsay IIP Batch#3 Sumatra 1, semoga bisa bertemu di lain waktu. Tetap semangat buat teman-teman yang sedang melanjutkan game tantangan berikutnya.

Game Cerdas Finansial yang sempat aku ikuti  hingga hari ini.

 

How to Manage Child with Dyslexia

I am not blame on teachers but my boy is so special, maybe no one knows how to manage him. If they can not understand how to manage my child then I have to take my child back on my hand. I will teach him by my self and learn together. Transfer the knowledge as a homeschooler and spend time together with him like Thomas Alfa’s mom did for her child.

Teach a dyslexic never easy but once you find the exact way, all his speciality will quenquer all his weakness. He will become a different person. Teach a dyslexic need more knowledge, patience, extra time, and a courage.

Yes, you do not have to say he has bad hand writing, he knew already. You do not have to say he is lazy because he never mean to be lazy. You do not have to say he is slowly because he already felt like no one besides him, everyone is in front of him. He is alone and lonely.

A dyslexic can not work under pressure, because they already pressured by their dyslexia barrier all whole life. They survive hardly how to make something perfectly like other people did and said. They have their own way to make it, but not everyone understand how they work hardly. People only see they are lazy. Laziness make them fail to follow the instruction. People missunderstood.

 

Ini akan terjadi lagi dan lagi, di mana pun seorang individu disleksia (disleksik) ditempatkan. Selama ia tak mampu membuat coping strategy untuk dirinya sendiri, atau orang di sekelilingnya tidak acceptible, kejadian seperti ini akan terus berlanjut.

Anak disleksia akan merasa tertekan, lalu lingkungannya pun tak ada yang mendukungnya. Sebab semua berkelindan dalam sebuah kesalahpahaman. Kedua pihak tak ada yang salah, baik lingkungan dan orang di sekitarnya, atau pun individu disleksia itu sendiri.

Bagaimana jika kita selaku seorang guru menyaksikan siswa yang tidak pernah mau mengikuti instruksi, sering terlambat, tidak mengerjakan tugas, berantakan, tulisan tangannya cakar ayam, dan suka menggambar dan mengkhayal di dalam kelas? Ditambah lagi jika ia ke sekolah berpenampilan berbeda. Apakah tak mampu memakai kaos kaki karena sungguh ia merasa risih bukan main, lalu ia mengenakan jaket saat ke sekolah panas terik, sebab itu membuatnya lebih nyaman dan berhasil menetralisir anxiety yang kerap muncul di hari-harinya.

Lingkungan yang tak mampu memahami individu disleksia–terlebih jika komorbid disleksik ini banyak, seperti penyandang diskalkulia sekaligus disgrafia, dispraksia pula–entah berapa kali dia jadi sasaran kesal guru atau pun guru BK.

Anak disleksia tak pernah bermaksud malas atau tak taat aturan. Jika dikatakan tulisan kamu jelek sekali, sudah cukup tanpa dikatakan jelek maka ia sudah paham sejak dulu bahwa tulisan tangannya buruk. Gantilah dengan “wah, unik sekali tulisan kamu, gimana kalau kita sesuaikan dulu dengan yang lain. Berusahalah kamu pasti bisa. Ini nggak sulit karena kamu anak yang lekas belajar apa saja. Kamu bisa!” Ketika ia gagal jangan lekas marah, menjauhlah atau bersabarlah. Hargai setiap usahanya walaupun kecil. Kamu akan terkejut melihat lompatan kemajuan dalam dirinya ketika bersabar.

Yang paling dihindari adalah perkataan menjatuhkan. Sebagai seorang disleksik dewasa, aku sudah merasakan asam garam terkena risakan, penghakiman, dan hal yang menekan self esteem jatuh ke jurang paling terjal.

Suicide or to commit suicide adalah hal yang lazim terpikir pada individu disleksia. Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan kurangnya ilmu agama dan tebal tipisnya iman. Hentikan menghakimi karena kita bukan tuhan. Apalagi jika kita tak punya ilmu mengenai how to manage a dyslexic.

Saya penyandang disleksia dengan coping strategy yang cukup baik, terus terang saja juga pernah membenci diri sendiri. Self healing bahkan bantuan ahli tidak akan banyak bekerja ketika lingkungan dan keluarga tidak memberikan dukungan.

Seorang disleksik bekerja siang malam mereparasi dirinya, this is never ending stories and struggling with your self it is not that easy as you think!

Pada tingkat yang parah, bisa saja disleksik membutuhkan obat kimia yang dapat menetralisir efek semburan dopamin otak yang kerap membuatnya distraksi. Jadi, lingkungan keluarga dan sekolah, tempat di mana anak disleksia banyak menghabiskan waktunya, adalah awal untuk kesejahteraan dan melejitnya potensi diri seorang individu disleksia.

Jika satu saja timpang, akan menggoyang tempat berdirinya dan ia akan jatuh ke kubangan rasa tak diterima. Hal ini akan membuat ia mencari-cari tempat di mana ia bisa diterima dengan baik. Alhamdulillah jika tempat yang ditujunya positif, tapi di jaman milenial di mana aktivitas seringkali bisa dilakukan secara virtual, sajian-sajian tidak sehat begitu mudah diakses, bisnis-bisnis judi dan pornografi menjadi ladang tempat hidup manusia setengah iblis, akan jadi pelarian yang mengerikan. Nauzubillah min dzalik!

Inilah bagaimana Asosiasi Disleksia Indonesia terus mengampanyekan perlunya deteksi dini atau pun pengetahuan yang cukup bagi orang tua atau pun tenaga pengajar mengenai disleksia bersama komorbidnya. Bagaimana menangani individu yang unik dan biasanya memiliki IQ normal hingga gifted ini. Demi kehidupan masyarakat yang jauh lebih baik, demi masa depan generasi emas yang jangan sampai digerus kealpaan kita mengenali potensinya.

Teriring rasa takzim yang dalam dan apresiasi tinggi pada guru dan tenaga pengajar yang selama ini sudah dengan sabar memahami diri kami, lalu sekarang anak-anak kami. Sebagai individu penyandang disleksia seumur hidup, banyak yang mengira bahwa kami mengada-ada dan berlebihan dalam menanggapi keunikan kami, tapi tak akan ada yang persis sama memahami sampai diri sendiri mengalami atau dianugerahkan seorang disleksik dalam keluarganya.

Ya, be extraordinary, be a dyslexic. Kami bagian dari masyarakat, bagian dari lingkungan yang bukan tidak mungkin, mampu memberikan kontribusi lebih di masyarakat dan umat asalkan diterima dengan tangan terbuka. Kami memiliki potensi besar yang belum tentu dimiliki setiap individu.

Benar tiap-tiap individu adalah unik dan diberikan Allah kelebihan sepaket dengan kekurangannya. Kata Abah Rama Royani setiap kita adalah ABK alias Anak Berkebutuhan Khusus. Kami menerima dengan tangan terbuka bahwa otak orang normal amat mengagumkan, bahkan jika ia dianugerahi kejeniusan oleh Allah, tapi pada manusia tidak ada produk cacat karena semua Allah ciptakan dengan ahsanul khaliqin atau sebaik-baik penciptaan.

Mohon berhentilah mengatakan hal negatif untuk anak disleksia, bahwa ia buruk, ia malas dan sebagainya. Memang benar ia tampak demikian, langkah awal, gantilah perkataan negatif itu dengan apresiasi. Insyaallah bernilai pahala memberikan nafas panjang bagi potensinya. Mengubah kebiasaan jelek anak disleksia bukan dengan menyasar kekurangannya, cukup katakan apa yang harus dilakukan dengan senyuman dan penerimaan. Berikan jeda waktu. Waktu yang dibutuhkannya adalah kuadrat dari waktu anak normal. Jika anak normal butuh dua jam, maka waktu yang dibutuhkan anak disleksia adalah empat jam. Ajak anak lain menghargai usahanya.

“Wah, hampir bisa. Mau coba lagi? Ayo coba lagi ya. Ibu tahu kamu bisa!”

Ketika ia tetap tak bisa dan merasa tertekan. Bersabar dan biarkan ia bertarung dengan kemelut hatinya sejenak. Biasanya jika tingkat kesulitan levelnya semakin tinggi, ia akan tantrum atau menangis. Insyaallah tidak terjadi jika suasana hatinya baik atau kalau pada orang dewasa sudah mampu mengendalikan dengan latihan bertahun-tahun. Inilah yang disebut coping strategy.

Jika tak mampu, kami selaku orang tua siap menerima anak kami dikembalikan kepada kami. Kami sudah mengalami banyak penolakan, penerimaan yang kami bangun dalam diri sendiri, keluarga, dan lingkungan secara bertahap amat sangat membantu kami selaku ibu dengan anak istimewa.

Dibelenggu Hasrat

Angin kencang menampar dedaunan dan ranting, hujan seminggu ini kerap menemaniku pulang. Aku berlari kecil ke teras setelah mengucapkan terima kasih pada Andy. Belum lagi kuketuk, Karin sudah membukakan pintu untukku.

“Masuk, Bah. Umah kira nunggu reda baru pulang.” Sambutnya dengan gurat lega di wajah.

“Iya, rencana awal begitu. Tapi Andy menawari Abah naik ke mobilnya.” (more…)

Menatap Binar Mata Sang Pembelajar (Cerdas Finansial Hari ke-7)

Lihatlah Biyya, betapa ia berjuang untuk belajar dan bisa. Terkadang aku malu pada anak kecil yang mau berjuang lebih keras dan merasa kalau ternyata aku masih sering dikalahkan oleh rasa malas untuk belajar.

Dengan adanya tantangan kali ini, aku juga punya diskusi harian dengan Akib dan Biyya mengenai apa yang mereka beli hari ini. Terkadang jadi malah bercerita momen-momen penting atau suka duka mereka di sekolah hari ini.

Oiya, Akib sendiri tidak terlalu kupaksakan karena sebagai disleksik, aku bisa merasakan betapa sulitnya beradaptasi di lingkungan barunya itu, Akib harus berjuang keras dengan teman, guru, dan staf di sekolah yang menurutnya tidak lebih bagus dari sekolahnya yang dulu. Ia cenderung membandingkan segala hal, kadang-kadang sampai tak masuk akal.  Yah, sudah lumrah seperti ituditambah dengan kepribadiannya yang unik.

Faza sendiri mulai belajar hal kecil, mana yang bisa dibeli sekarang atau nanti. Ia berkeliling mencari siku besi dengan ayahnya. Singgah ke salah satu supermarket dan ia sumringah melihat banyak sekali mainan menarik. Ia hanya pulang membawa susu kotak karena haus, lainnya ia berkata pada ayahnya “nanti aja kita beli mainan mobilan, ya.” Sampai di rumah ia bercerita kalau melihat banyak mainan bagus. Ada robot dan ada mobil, lalu setelah bercerita ia juga bilang, “nanti aja beli mainan kayak gitu ya, Nda.”

“Iya, karena Adek masih punya banyak di rumah. Belum perlu lagi, kan?” tambahku dengan senyum-senyum gemas.

Faza yang masih tiga tahun juga belajar menunda keinginan dan ia tahu untuk membeli sesuatu menggunakan uang. Sampai di situ saja materi belajar Faza. Ketika kami tahu ia memahaminya, jadi merasa gemas dan lucu. Dengan wajah dan mata berbinar ia ikut belajar bersama kami. Lihat, Faza pun mau belajar, lalu kenapa aku masih ogah? Hehe…

Kami tidak berniat mengajarkan mereka pelit, walau terkadang tidak sanggup melihat matanya yang menginginkan sesuatu, tapi menjadi orang tua adalah sebuah pilihan dengan konsekuensi tinggi dan mestilah tega(s). Tegas? Kami bukan pribadi yang sempurna atau pun mendekati, masih jauuh dari kata itu, maka dengan kesadaran penuh kami ingin belajar bersama.

Yakinlah anak kita tidak akan menjadi orang yang pelit. Bukankah di awal kita tanamkan rezeki itu dari Allah. Minta apa saja dari Allah, jangan ujug-ujug minta sama ayah dan bunda. Lalu tentang rezeki mana yang abadi, yaitu yang kita tabung untuk akhirat kelak. Hingga mengingatkan bahwa di setiap rezeki yang kita dapat, ada hak orang lain di sana. Menikmati rezeki dari Allah harus bijaksana dan penuh syukur. Orang yang bersyukur akan ditambahkan rezekinya oleh Allah.

#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Belajar Adalah Sebuah Proses (Cerdas Finansial Hari ke-6)

Alhamdulillah di hari keenam proses mencatat masih berlanjut. Mencatat apa? Barangkali ada pembaca yang belum mengikuti laporan-laporan Tantangan 10 hari Cerdas Finansial yang kutulis sebelumnya, silakan bagi yang ingin turut termotivasi mengelola keuangan sendiri di day 1, 2, 3, 4, 5. Silakan memodifikasi dengan ritme keluarga inti. Sebenarnya game tantangan seperti ini adalah untuk mengasah kekompakan keluarga juga. Jika ingin berubah, mulailah dari hal kecil dan mulailah dari diri sendiri dan keluarga.

image credit

Selama ini tanpa bantuanku, suami sudah memulai mengelola keuangan dengan mencatat nya di buku-buku kas ini. Termasuk dulu usaha budidaya kelinci yang dirintisnya. Karena satu dan lain hal kami off untuk sementara waktu, bisnis budidaya kelinci ini kami hentikan untuk waktu yang belum ditentukan.

Biasanya buku kas ini dicek setiap pagi sebelum keluar rumah.

Sementara itu Kak Biyya sudah mulai berusaha mencoba membuat mini budget, belum ada alokasi untuk yang lainnya selain keperluan sekolah dan keinginannya membeli jajan seperti teman lainnya, namanya juga berproses jadi pelan-pelan saja.

sisa jajan Biyya yang bekum sampai seminggu

Bang Akib masih dibantu ayah mengelola uang bulanannya. Begitu kami sampaikan nominal jajannya jika dikalkulasikan dalam sebulan, Akib ternyata sudah membuat planning yang belum tepat dan ia bersungguh-sungguh akan melakukannya persis seperti saat dia keukeh membelanjakan lebih dari separuh angpaunya untuk membeli keinginan sesaatnya.

“Akib mau beli Tamiya.”

“Tapi mobil remote control yang Akib beli dari uang angpau lebaran kemarin belum bisa Akib rawat dengan baik.”

Terjadi diskusi alot dan ia pun legawa kami bantu mengatur uang jajannya sebulan dengan catatan ia tidak boleh cuek, harus ada progress dari hari ke hari.

Musim Tamiya hanya terjadi kurang lebih dua minggu di kompleks, setelah itu Akib tidak lagi terlalu berminat membeli Tamiya. Ia sibuk membuat es kepal hampir setiap pulang dari sekolah Akib dan kawan-kawan meminta ijin  memakai peralatan dapur untuk membuat Es Kepal Milo. Membeli bahan-bahannya sendiri ke kedai terdekat.

Saat kami sampaikan jajannya tinggal sekian, Akib menyimak dan mulai mengira-ngira. Di sekolah barunya juga tidak banyak jajanan yang bisa dibeli, hanya kantin di dalam sekolahnya yang kelasnya masih berupa Ruko. Akib menghabiskan  Rp10.000 per hari, terkadang tidak sampai sejumlah itu.

Progress keluarga kami memang tidak cepat, tapi di sini kami juga bisa belajar menikmati dan mencintai sebuah proses, terutama bagi Kak Biyya yang selalu antusias dengan game tantangan di Kelas Bunsay Batch#3 Sumatra 1.

Mencatat Pengeluaran Hanya Dikerjakan Orang Pelit (Cerdas Finansial Hari ke-4)

Kenapa repot-repot, kekayaan tidak dibawa mati.

Ah, benarkah harta tidak dibawa mati? Bukankah dalam Alquran juga dikatakan ke mana kita belanjakan harta kita kelak akan dipertanyakan. Lalu harta yang kita belanjakan di jalan Allah akan menjadi pemberat timbangan amal kita di akhirat. Nah, lo, ternyata uang juga dibawa mati!

Mencatat pengeluaran secara rinci itu hanya dilakukan orang yang perhitungan, orang perhitungan itu adalah orang yang pelit, orang pelit itu… isi sendiri, kali yaa. (more…)