Latest Posts

Cara Akib Mengulas Buku (Mindful Parenting 1)

Siapa nyana gambar di atas adalah sebuah Book Review alias Resensi Buku yang dibaca Bang Akib pekan lalu. Kalau tidak paham dia buat apa, bisa-bisa kertas seperti ini terlihat tidak berguna dan dibuang ke tempat sampah.

Belum lagi yang tidak paham tentang ‘doodle art’, jadi sering ada yang bilang gambar Akib jel*k, enggak jelas, dan lain-lain.

Pernah tidak berpikir jika kita berada di posisi Akib? Setiap hari ada saja ejekan yang mampir, tidak dihargai, disepelekan. Lama-lama self esteem terjun bebas dan berdampak pada mood belajarnya. Bukan sekadar kasihan, hati-hati…kita sedang mematikan satu kreativitas yang kemungkinan besar kelak dibutuhkan. Di masa depan, zaman berubah, banyak inovasi dakwah yang kita butuhkan. Perang pemikiran kian gencar. Kita membutuhkan satu sama lain, kita harus sinergi dalam segala hal dan melihat peluang dan potensi yang mungkin berdampak besar di masa yang akan datang. Untuk masa depan dunia, hargailah semua kemampuan yang dimiliki anak.

Ada sebuah teori mindful parenting, kami sendiri awalnya tidak tahu namanya, hanya saja aku dan suami biasa mengevaluasi apa yang kami lakukan untuk anak kami hari ini. Sudah positifkah? Apakah kami cukup apresiatif atau malah banyak menyudutkan dan menyebut hal-hal negatif tentang Akib, Biya, dan Faza?

Walau amat disayangkan, kami masih terlalu sering terpeleset, tapi ketika ada waktu mengevaluasi berdua, di sana tidak ada kata terlambat bagi kami berbenah.

Mindful parenting adalah pola asuh orang tua dengan kesadaran penuh dalam memberikan perhatian dan tidak memberikan penilaian negatif terhadap apa yang anak lakukan. (Baru menemukan teori yang sesuai dengan yang ingin kami lakukan selama ini, hehehe).

Paling penting dalam hal ini bagi kami adalah, mindful parenting dilakukan saat interaksi dengan anak-anak, bukan pada orang lain yang turut serta membina anak kita. Artinya, jangan sampai kita mengatakan hal-hal positif dan tidak mau menerima masukan rang lain, kita puja-puji anak sendiri di depan orang lain, sementara di depan anak, kita abaikan dia dan kita ungkapkan kekesalan kita yang sering kali tak berdasar. Kami sendiri menghindari pujian orang yang dikatakan pada kami mengenai anak-anak kami sendiri. Teringat petuah zaman dahulu, janganlah suka disanjung-sanjung, ingatlah diri tahu diuntung. Itu benar adanya, mengapresiasi tidak sama dengan menyanjung-nyanjung. Cukuplah saat bersama anak kami ungkapkan, kami bangga memiliki mereka dengan beragam ekspresi agar mereka merasa ada dan diakui. Bukan terus berimprovisasi agar anak dihujani pujian dari orang-orang. Semoga Allah membantu usaha kami. Hadanallahu waiyyakum.

Ternyata gambar acakadut di atas, inilah isinya:

BOOK REVIEW

Judul Buku: Jejak Orang Bati
Penulis: Agung
KKPK Mizan
.

When: saat Rico dan ayahnya pergi ke Pulau Seram.

Where: seting cerita -Pulau Seram -Maluku-Medan-Jakarta- dan Bandara.

Who: Tokoh-tokoh yang ada dalam cerita: Riko, Ayah, Mr. Martindi, si Plontos, si Doe, si Jambang, orang-orang Bati.

What: cerita ini tentang sebuah pulau yang bernama Pulau Seram, di sana ada legenda menyeramkan, namanya Legenda Orang Bati.

Why and How:
Mereka kena sekap karena mereka mengganggu populasi kakak tua Maluku yang sudah terancam punah.

Hikmah cerita/Nilai Moral:

Sebelum berkata, cari tahu dulu atau tabayyun.
(Mau foto bukunya, tapi sudah enggak ada lagi di rak. Nanti dicari lagi, deh).

Begitu isi resensi bukunya, walau tidak begitu runtut dan koheren dalam membahas per itemnya, tapi kami jadi tahu ia sudah berusaha. Terima kasih, Akib!

Disleksik yang Impresif? Tentu Bisa

 

 

Ya Allah…mudahkan, jangan dipersulit.

Dalam teori-teori parenting, hal yang paling penting saat pengasuhan adalah rasa percaya diri orang tua dan merasa sanggup diamanahkan dan mengasuh anaknya dengan baik. Walau dipaksakan bagaimana pun, sebagai seorang disleksik yang juga dianugerahi anak sama istimewa, teori itu amat sangat tidak mudah diterapkan.

 

Ada kegamangan yang nyata dan harus kuakui mengajari Akib dengan jemariku sendiri. Alur pikir dan pemahamannya yang ajib dan penuh lompatan, tingkat pemahaman di satu sisi amat rendah dan sisi lain terlampau tinggi, lalu tidak ada kurikulum yang tepat hingga saat ini untuk keunikan kinerja otaknya. Yang kutahu jika psikosomatisnya sudah mulai muncul, ada yang salah dengan metode mengajarnya. Aku harus siap berimprovisasi sekuat tenaga. Meminta bantuan suami dan menyiapkan metode dari nol lagi.

 

Hari ini jadwal mengajarku siang. Akib yang sedang tidak bisa sekolah biasanya harus kuberikan kesibukan agar terarah. Belajar mandiri di rumah adalah salah satu solusinya. Bersyukur sekali saat ini jam kerjaku cukup fleksibel.

Saat sarapan pagi, aku mencoba muraja’ah surat terakhir Al-Baqarah dan doa-doa harian. Pukul 8.00 WIB aku sudah siapkan meja kecil di ruang depan. Akib memilih menggambar dan mengerjakan English worksheet yang memang sudah kusiapkan untuk waktu-waktu seperti ini, saat Akib menolak ke sekolah formalnya dan meminta belajar mandiri.

 

 

Selagi Akib mandi dan bersiap, aku memanggil ayahnya dan kami duduk lagi bertiga untuk mengevaluasi beberapa hal, terutama untuk hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin saat belajar mandiri. Kemarin Akib memilih pelajaran IPS tapi satu tema dikerjakan dari pukul 08.00 WIB hingga Zuhur. Ia menyambi main Lego. Jadi berharap hari ini tidak lagi mubazir waktu seperti tempo hari.

 

Dalam kontemplasi yang kulakukan sendiri, kesalahan yang kerap sulit kuperbaiki adalah, memberikan pengertian dengan bahasaku sendiri. Cara menjejali kepala, cara bagaimana selama ini aku terbata memahami makna. Barangkali aku belum selesai dengan diriku sendiri, bahwa aku belum sepenuhnya membuat diriku paham semua pelajaran yang telah diberikan Sang Guru bernama Kehidupan.

 

Learning by teaching terkadang membuatku menyambi membuat formula dari berbagai bahan. Oleh sebab itu tidak pernah ada satu hasil memuaskan yang terlihat. Jatuh…kemudian jatuh…bangkit sejenak, jatuh lagi dalam mendidik anak-anakku sendiri.

 

Modal kuat yang kumiliki saat memberanikan diri mengajar anak-anak adalah ‘keistimewaanku’ sebagai individu disleksik. Misal keterampilanku menggambar, kecerobohan dan kegilaanku yang membuat Biyya terkesan hebat dan superior di antara kami. Kegigihanku belajar dan mencoba hal baru sangat membantu proses belajar kami sekeluarga. Namun hal ini belum terjangkau pikiran anak-anak. Bahwa aku berjuang keras dan susah payah membuat coping strategy selama mencoba menjadi terlihat begitu normal ketika AD (anxiety disorder) menyerangku.

Bagaimana aku melampaui kesulitan menggapai prestasi akademik dengan kinerja otak yang empat kali lebih keras dari orang lain, belum lagi ketika aku mencoba menyiasati kemampuan akademik lain untuk menutupi kekuranganku di ranah berikutnya. Jika ditanya untuk apa? Ternyata sekarang aku bisa menjawabnya; untuk membersamai buah hati selain menemukan legenda pribadi.

 

Semua butuh ketekunan dan hasil tak pernah mengkhianati usaha itu berlaku untukku di sekolah hingga menyelesaikan profesi. Di mana ketika dari 40 kandidat dokter hewan aku bisa mendapatkan predikat sangat memuaskan sendiri. Ya, sendiri saja.

 

Sebenarnya aku ingin Akib dan Biya tahu itu, tapi tak bisa diceritakan dengan mudah karena ketekunan harus kita lakukan sendiri. Mungkin aku akan terus mencoba mencari formula yang tepat. Salah satu anugerah yang menguntungkan adalah stok sabar pendamping di sebelahku yang terlihat tidak pernah habis.

 

Ada satu penawar yang kupakai berlebihan. Aku khawatir sekarang efek adiksinya sudah merambat ke nadiku. Ia bernama air mata. Ketika aku terjerembab jatuh, aku selalu menangis sebelum bisa kembali mencari dan menemukan formula lainnya. Namun ini kupakai berlebihan bahkan terkadang di depan anak-anakku sendiri. Ini sedikit menyusahkan memang.

 

Apa pun itu, belajar memang sebuah proses, terlebih lagi bagi individu disleksik yang mudah sekali terdistraksi. Aku sangat berharap catatan-catatanku kelak bermanfaat untuk anak-anakku khususnya dan individu diskesik lainnya yang tentu saja mengalami banyak rintangan dan badai untuk tetap tampil impresif di depan anak-anak dan tampil sebagaimana oarng lain di depan umum. Insyaallah kalian bisa. Untuk berhasil sepuluh kali lipat dari individu normal saja bisa!

Tentang Standardisasi Itu…

Setelah nyaris seminggu berjibaku dengan dokumen-dokumen akreditasi sekolah, akhirnya aku sempat rehat dengan cara kesukaanku, yaitu menulis! Tepat empat hari lalu sempat menulis sesuatu dan menerbitkan ke publik melalui Steemit seperti biasa.

Entah apa yang harus kuceritakan lebih dulu, sebab sebenarnya semua kisah sudah pula mampet dan memadati otakku beberapa hari ini. Sempat menulis di ‘catatan monyet’ tapi tak pernah berhasil mencuri waktu untuk merapikannya, apatah lagi mempublikasikan! (more…)

Sepotong Maaf

“Kenapa tak mencoba menghubungiku?”

Hm, kenapa ya? Entah…kurasa waktuku sudah tiba. Menanggalkan segala asa dan rasa padamu. Aku sudah lama menunggu saat seperti itu, di mana aku bisa lupa suaramu, senyum, dan segala hal tentangmu. (more…)