my world

Makna Sahabat

image credit

Kembali menemukan kontak adik sepupu sekaligus teman sekamar saat kost itu, berarti mengembalikan kegilaan lama dan segala kekonyolan yang belum lekang dari ingatan.

Sebenarnya aku masih ingat bagaimana bersalahnya aku saat mematahkan kipas angin barunya yang sepuluh menit yang lalu masih dalam kotaknya, kemudian aku kembali tenggelam dengan segala tugas kuliah dan lupa memperbaikinya. Uniq dengan legawa berinisiatif memperbaiki kembali tanpa marah dan komplain kepadaku.

Bagaimana aku sering meninggalkannya tidur sendiri karena hampir tiap kali akhir pekan aku mengunjungi rumah abang kandungku di tempat yang berbeda.

Aku juga tidak pintar memasak, dengan itu sukses menobatkannya sebagai kakak yang tak baik.

Barangkali kalau kamu pernah sekamar dengan seseorang atau sekost-an dengan siapalah itu, merasakan saat-saat berselisih adalah hal yang lumrah, tapi tidak bagi kami. Seingatku, tak sekali pun kami berselisih selama kurang lebih tiga tahun kami bersama. Orang lain silih berganti bertukar roommate dan kami masih dengan formasi awal hingga aku meninggalkan kost-kostan karena menikah.

Oh ya, aku sendiri sejak awal kuliah hanya sekali pindah tempat tinggal, itu juga karena ibu–induk semangku–pindah ke Medan, maka aku memutuskan untuk mencari kamar kost di seputaran kampus.

Banyak sekali kejadian yang mengesankan dan lucu, jika diingat-ingat aku masih bisa terbahak hingga keluar air mata.

Suatu kali, aku pernah mengigau malam memanggil-manggil nama lelaki. “Farhan…Farhan.” Paginya kost-kostan heboh. Uniq sudah senyum-senyum nakal, hal ini mengundang penasaran teman di kamar sebelah. Saat antre ke kamar mandi mulailah beredar isu terkait kebiasaanku tidur sambil mengoceh.

“Ecieee…Farhan.”
Aku tidak berdetak sama sekali, malah bergeming seperti tak ada yang salah. Selain nama ini belum pernah kusebut sebelumnya, ia juga tak populer dalam cerita-cerita malam menjelang tidur kami sekost-an.

Siapo Farhan tu, Kak?”

“Hah? Farhan? Entah.”

Mulailah aku dituduh mangkir tak mau mengakui. Padahal dalam ingatanku sendiri, Farhan yang kukenal hanya anak tetangga kami di kampung, itu pun usianya masih dua atau tiga tahun kala itu. Lainnya aku tak punya kenalan bernama Farhan.

Setelah semua heboh dan aku pun mulai berpikir keras. Benarkah aku menyebut-nyebut nama Farhan ketika tidur?

Sesaat aku merunut aktivitas dua hari itu. Oh iya, aku memang menemukan perangko Farhan Hamid, salah satu tokoh publik yang kala itu mewakili Aceh di kancah politik Indonesia. Di kantor IPM ada yang mengirimi kartu lebaran  menggunakan perangko Farhan Hamid. Aku ingin mengambilnya untuk koleksi, tapi aku lupa!

Aku pun menjelaskan pada Uniq dan teman lainnya yang hanya dibalas dengan “ah masaaaa?” Hahahaha

“Terserah, cari aja yang namanya Farhan, mau di kantor, mau di kampus, mau di mana kek, emang nggak punya tuh, teman yang namanya Farhan.”

Dasaarrrr, anak kost-san D-12 memang tidak pernah kehabisan bahan merisak.

Pernah lagi suatu pagi, kami dihebohkan kembali dengan cerita igauanku yang menggunakan bahasa Inggris. Ya ampyuuun!

Aku ingat seminggu itu aku menemani relawan Singapura berkeliling Banda Aceh dan melaksanakan tugas-tugas mereka membantu kegiatan rehab-rekon di Banda Aceh pasca tsunami 24 Desember 2004.

Aimak, ala lain pulo caro mengigau Kakak. Pakai bahasa Inggris!”

Sepupuku ini seunik namanya, sebagaimana keluarga besar kami yang lain, aku mengenalnya sebagai pribadi yang humble dan humoris. Di dekatnya level bahagia kita berlipat puluhan kali. Sekemelut apa pun hari dan persoalan kampus yang datang, selalu terbang sesudah sampai di kamar kost.

Kami berdua hampir tak pernah serius, tapi kami saling pengertian. Se-‘kepo’ apa pun kami kala itu, kami tak pernah melanggar privasi masing-masing. Tidak pernah sampai menelusup hingga ke dasar privasi masing-masing. Kami sekamar dan saling paham. Sampai saat aku penelitian dan menghabiskan hari-hari berat di laboratorium dan bimbingan, aku sering kali seperti depresi dan ingin menangis. Uniq tak pernah menggangguku dengan penuh maklum ia memberikan waktu buatku yang tidak ingin diganggu, ada pula waktu di mana aku ingin bercerita, ia mendengarkan dengan saksama walau pada akhirnya solusi yang kucari bukanlah itu, tapi aku bisa mengusir galau dengan tertawa lepas.

Begitu juga aku tak pernah menelisik Uniq sampai ke detail-detailnya. Aku tahu ia memiliki hubungan spesial jarak jauh dengan lelaki yang kini jadi suaminya. Ia selalu nyaman berkomunikasi di depanku dengan sopan. Aku juga tak pernah kepo bagaimana hubungan mereka. Kalau Uniq bercerita, maka aku dengarkan, kalau ia sedang suka menyimpan suatu hal sendiri, aku tak mau mengusik.

Mengingat Uniq, aku jadi teringat lirik lagu Demi Lovato yang berjudul The Gift of Friend

The world comes to life
And everything’s bright
From beginning to end
When you have a friend
By your side
That helps you to find
The beauty you are
When you open your heart
And believe in
The gift of a friend

When your hope crashes down
Shattering to the ground
You, you feel all alone
When you don’t know which way to go
There’s no signs leading you home
You’re not alone

The world comes to life
And everything’s bright
From beginning to end
When you have a friend
By your side
That helps you to find
The beauty you are
When you open your heart
And believe in
When you believe in

Lyric source

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *