cerita ceriti,  my little angels,  my world,  Self reminder

Di Antara Kepantasan dan Jiwa Filantropis Biyya

Di antara keunikan anak-anak yang polos adalah, ia belum bisa menakar kadar materi dengan jelas atau apalah namanya dalam kondisi yang selanjutnya kuceritakan di bawah ini;

“Sepatu sandal Biyya ini udah sempit, kenapa nggak kita kasih ke Aira aja, Nda? Boleh, ya? Boleh, ya? Biyya kasih Aira?” Pintanya sedikit memaksa.

Satu waktu pernah juga ia membuat masakan sederhana yang rasanya agak tak karuan dan ia ingin membagikan kepada teman baiknya juga, dia memanggil mereka dan ‘memaksa’ makan dengan niat setulus-tulusnya, sementara tiga teman lainnya tipikal pemilih makanan bukan karena apa-apa, tapi aku ingat betul kalau kata orang tuanya, mereka memang tipe pemilih makanan.

Biya memang selalu menyentil hatiku dengan kepolosan dan kelugasannya  sekaligus. Ceplas-ceplos kayak ember bocor, kadang dia begitu. Ia memang sering menerima lungsuran baju dan sepatu dari sepupunya dan menganggap hal itu biasa saja. Kalau sandal atau pakaian yang dia punya sudah kecil, ia boleh memberikan ke siapa saja yang dia mau. Entah si penerima butuh dan mau, itu tidak masuk dalam pertimbangannya.

Di sini, di tempat tinggal kami sekarang, bisa dikatakan kami sekeluarga adalah termasuk golongan elit alias ekonomi sulit dibanding dengan lainnya, hehehe… Tak ada maksud mengeluh, hanya ingin menyampaikan secara gamblang agar tujuan cerita ini sampai. Walau, ya, di atas langit ada langit, begitu juga di bawah tanah, ada tanah lagi, sesulit-sulitnnya kami tentu ada banyak celah untuk bersyukur.

Pakaian atau pun sandal yang ia ingin sekali Biyya berikan pada sahabatnya tadi membuatku salah tingkah menjelaskan. Anak tadi memang kelihatan sumringah, tapi aku sangat tak enak pada keluarganya, memberi barang bekas yang menurut Biyya mungkin layak tapi tidak sesuai standar orang lain. Jadi, dengan sedikit gelagapan kukatakan sepertinya temannya belum perlu sandal itu. “Kayaknya, hm…masih kebesaran untuk Aira, Biyya. Nanti kita bungkus,  masukkan  ke dalam kardus, dan ditaruh lagi di tempat kemarin, ya.”

Jadi, biasanya barang yang kami pakai memang sampai habis usia layaknya. Aku segan sekali membagikan untuk orang lain bukan karena pelit, tapi biasanya yang kulakukan adalah mengepak semuanya dengan rapi, lalu menaruhnya di sebelah kontainer sampah dan menuliskan masih ada yang bisa dipakai. Karena setiap kali aku dan suami membuang sampah ke kontainer tersebut, sering kami bertemu orang yang mengais sampah atau memulung untuk didaur ulang atau lainnya.

Dulu saat kami ramai di rumah dengan adik angkat dan anak asuh, ada banyak sepatu 30-an ribu yang sering mereka beli. Maklum anak gadis. Sepatu-sepatu itu masih bisa dipakai tapi karena cukup banyak dan saat satu-satu pindah, tidak ada lagi yang menjemputnya ke rumah. Jadi aku kirimi pesan singkat untuk minta izin agar sepatu-sepatu dan tas tersebut aku bereskan dan buang ke kontainer. Lalu beberapa alat dapur yang masih bisa diperbaiki tapi tak sempat lagi. Mainan-mainan anak-anakku yang dulu masih sempat kusortir sebulan sekali, kini tak sempat lagi. Biyya dan Akib ikut menyortir sehingga mereka nanti tidak protes saat barang miliknya hilang. Apalagi Akib yang suka bereksperimen dengan benda-benda yang kurang jelas fungsi dan bentuknya.

Kalau aku sedang menyortir barang-barang dengan Biyya, tampak jelas semangat berbagi anak itu sangat tulus, tapi terkadang saking polosnya aku jadi tidak sabaran. Namun paling tidak aku tahu ia sedang belajar saleh sosial. Tak jarang terbit rasa bersalahku padanya yang jarang bisa memenuhi keinginan Biyya dan mungkin anak-anak lainnya. Di rumah kami belajar sedikit keras membedakan keinginan dan kebutuhan. Barangkali orang melihat bisa saja menilai kami bukan orang tua yang baik.

Di musim anak-anak bersepatu roda, Biyya merengek-rengek meminta sepatu roda, Biyya juga suka sekali melihat koleksi-koleksi squisy teman-temannya tapi aku selalu mengajak dia berdiskusi, apa itu kebutuhan atau sekadar keinginannya. Memang ada juga di akhir diskusi, keinginan-keinginan Biyya disimpulkan menjadi kebutuhan, seperti sepeda, smart watch, dan tentu saja perlengkapan sekolahnya yang lucu-lucu seperti rautan pensil unik, kotak pensil unik, dan pensil ber-casing warna-warni. Biyya membeli semua tadi dengan menabung uang sendiri. Ada yang hasil angpau lebaran, ada uang tabungan jajannya. Ia malah mau membawa bekal dari rumah supaya tidak jajan seminggu atau dua minggu.

Setelah dia punya pun, biasanya dijaga dengan baik. Akib terkadang menggeleng-geleng tak percaya kalau Biyya sudah bertekad membeli sesuatu, karena selain hebat, ia juga lebay menjaga barangnya. Kalau si Abang mencoba mengusik, Biyya akan misuh-misuh sepanjang hari. Kadang aku jadi pusing kalau Biyya sedang menjaga propertinya. Sementara Akib semakin suka menggoda Biyya yang punya sifat lekas naik darah berkenaan dengan hal ini. Maklum, perjuangan ia membeli barang-barang tadi cukup epik.

Nah, begitulah ceritanya. Anak-anak memang guru luar biasa, ya.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *