my world

Logo Manis Inong Literasi

Pertama sekali Kak Hurrin menunjukkan logo Inong Literasi, aku langsung fokus pada warna-warna yang ditampilkan aplikasi desain kekinian. Aku bukan ahli desain, itu sudah pasti, tapi paduan indranila dan lila memang warna yang enak dipandang mata.

Inong Literasi sebuah WhatsApp Group yang dikenalkan Kak Ria Fachria padaku awal April. Saat itu Kak Ria membagikannya di snap WA yang langsung kurespons ke jaringan pribadinya. Alhamdulillah, di grup ini aku bertemu dengan kakak-kakak yang memiliki renjana yang sama, Kak Cut Putri Dinata, dan Teh Dinie (Teteh imut yang kerap mengingatkanku pada ponakan yang usianya setahun lebih tua dariku, mungkin nanti ini harus kutulis di bab tersendiri, hubunganku dan ponakan itu bisa dibilang seperti satu sosok dan bayangan, di mana ada dia, di situ ada aku, pun sebaliknya).

Ada satu PR yang belum kuselesaikan di grup Inong Literasi, saat ada tamu istimewa hadir untuk mendongkrak citra pengetahuan kami tentang literasi di platform digital, Kak Ria mengundang Haya Nufus di grup Inong Literasi. Tak ayal, Haya bisa buka-bukaan banyak mengenai platform menulis digital saat itu. Biasa diskusi kami berdua random seputaran pengasuhan, blog, dan banyak lagi, tapi baru kali itu Haya menjabarkan secara detail mengenai lika-liku menulis di platform digital. Decak impresif hadir, dong, tentunya. Inilah beda diskusi random dan FGD. Hahaha…thanks anyway atas ilmunya ya, Haya. Tinggal diamalkan lagi, nih, semoga konsisten.

Balik lagi ke logo. Pastinya yang paling tahu apa filosofis detail sebuah logo adalah founder dan kakak-kakak admin, tapi tak apa-apa kalau aku sebagai pengekor (bahasaku untuk follower, alih-alih member, rasanya lebih cocok dibilang pengikut. Haha) di grup Inong Literasi ini, aku juga ingin menulis sekilas pandang.

At the first sight, saat logo ini kuunduh dari ponselku, aku langsung berkomentar tentang warna. “Ah, warna pastel lila membuat mataku nyaman.” Saat berikutnya aku mengernyitkan dahi, aku harus mengamati dengan saksama. Warna-warni ini cukup kekinian. Sebagai individu yang sering ditabalkan sebagai pegiat literasi, aku merasa terpanggil meriset kecil-kecilan tentang warna yang dipilih Kak Hurrin untuk logo komunitas menulis untuk perempuan ini.

Warna pada tulisan ‘Inong’ tadi disebut dalam bahasa Indonesia sebagai indranila, kalau dalam KBBI dijabarkan sebagai hijau gelap kebiru-biruan, dalam bahasa Inggris disebut deep torquois. Ada lila yang mirip merah ungu tapi lebih pudar, hampir seperti warna merah jambu, warna yang agak mengelabui. Filosofinya apa? Kupikir itu menandakan perempuan-perempuan cenderung memiliki selera. Selera saat pertama ingin memberikan kesan.

Aku tak tahu pilihan font atau gaya huruf, tapi untuk logo itu tak muluk-muluk, langsung bisa dibaca hurufnya. Kupikir bagus! Bagaimana menurutmu?

Literasi… Yona Primadesi menjabarkan satu kata ini menjadi panjang sekali. Bukan sekadar tulis, baca, hitung. Jika kembali aku mengutip apa yang disampaikan Yona, “Meskipun literasi tingkat dasar menurut deklarasi Praha memang menyangkut kemampuan mengenal dan membaca sumber pengetahuan. Akan tetapi praktiknya, literasi tidak bisa dipilah-pilah bertingkat secara gamblang seperti demikian. Literasi menyangkut banyak aspek, salah satunya baca-tulis, yang kemudian mesti dikembangkan menjadi baca, kaji, hitung, nalar, kritis, tulis, dan komunikatif.”

Nah! Tugas berat Inong Literasi menjadi duta baca, kaji, hitung, nalar, kritis, tulis, dan komunikatif. Bagaimana tetap menjadi cerdas dengan membaca, mengkaji, menghitung, bernalar, kritis, tapi tetap komunikatif. Hal ini bisa dijabarkan dengan kesantunan dan ketinggian moral serta kemuliaan akhlak.

Oh baiklah, karena ada tugas lainnya memanggil, lalu Kak Hurrin dan Kak Ria pun bilang bahwa menceritakan tentang logo tak cukup sekali saja, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri pembahasan sampai di sini untuk kiriman kali ini. Paling tidak agar aku punya bahan untuk tulisan lanjutan. Hahaha…

Saatnya menyaksikan logo. Tamtaraaaa…inilah dia!

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *