Monthly Archive: June 2018

Pantai Gosong Telaga, Riwayatmu Kini

Aku sempat mengabadikan di sebuah foto setahun silam di mana bibir pantai Gosong Telaga dihiasi segala jenis sampah berserakan. Tahun ini masih belum ada perubahan, pun kesadaran para pengunjung atau pengelola tempat wisata di Aceh Singkil tersebut. Aku tak tahu ada pihak pengelola atau tidak, tapi setahuku setiap akan memasuki gerbang pantai, ada yang memberikan karcis,  menagih biaya masuk dan parkir untuk satu sepeda motor,  kami dikenakan total biaya Rp.5000. Setelah kami memarkirkan sepeda motor, saat akan pulang juga masih ditarik biaya parkir oleh orang lain lagi dengan tarif Rp.2000. Mantap!

Foto lebaran Idulfitri tahun lalu (1438 H)

Hari ini seperti tahun kemarin, kami kembali ke pantai Gosong Telaga. Pantai pasir hitam ini objek wisata terdekat yang bisa kami tempuh dari kediaman keluarga besar di Gunung Lagan. Berencana berangkat pukul 07.00 WIB dan molor hingga setengah jam, akhirnya kami tiba sekitar pukul 08.00 WIB. Pantai masih sepi tapi pondok-pondok penjual kuliner sederhana sudah mulai buka.

Abang iparku memilih tempat langganan keluarga kecilnya di pojokan paling kanan. Tempatnya cukup teduh, tapi sayang sekali sampah-sampah walau dengan segala daya upaya pemilik pondok itu membersihkan, masih kentara sekali liarnya para pembuang sampah sembarangan yang datang ke pantai ini.

Sebelum duduk bersantai, kami akhirnya berinisiatif membersihkan sekeliling tempat kami duduk. Persis seperti tahun sebelumnya, tak ada perubahan berarti. Sampah plastik mendominasi, mulai dari plastik siomay, wadah cup air mineral, botol air mineral, plastik makanan ringan, hingga tusuk sate yang sempat membuat kaki Faza, bungsu kami, terluka.

Aku belum tahu bagaimana cara menggugah kesadaran masyarakat setempat. Hal kecil yang barangkali belum terasa artinya hanya mencoba menuliskan keprihatinan ini dan setiap mengunjungi Gosong Telaga kami sekeluarga melaksanakan ‘ritual’ bersih-bersih sampah terlebih dahulu.

Ini memang terdengar menyedihkan, satu-satunya objek wisata paling ramai dikunjungi saat hari-hari libur adalah pantai Gosong Telaga, tapi tempat ini pula yang menjadi kawasan serupa TPA di Aceh Singkil.

Di diskusi-diskusi keluarga, kerabat, dan teman-teman yang bisa saja salah dua atau tiga dari mereka cukup dekat dengan para pemegang kebijakan, tapi kabarnya hal ini belum lagi mengusik mereka hingga membuat kebijakan-kebijakan tegas bagi yang memiliki andil dalam memperburuk keadaan.

bersih-bersih pantai dimulai

Pada dasarnya, sampah yang kita bawa sendiri tidak lah menggunung sebagaimana keadaan yang terlihat dari hasil akumulasi sampah yang dibuat per individu. Apa salahnya setiap orang bertanggung jawab pada sampahnya masing-masing.

Sangking kesalnya, kurasa aku ingin memesan sebuah spanduk untuk ditempel di sana dengan redaksi yang sama liarnya dengan kelakuan para pembuang sampah. Misalnya bertulskan “Selain b*bi dilarang buang sampah di sini”, tapi Kakakku mengatakan aku keterlaluan. Bagaimana kalau bagian sini diboikot oleh para pengunjung. “Kasihan ibu penjual itu,” kilahnya.

Semoga permasalahan ini segera mendapatkan solusi konkret, sayang sekali kalau persoalan sebesar ini masih luput dari perhatian kita semua.

Paling tidak, pengunjung bisa menikmati suasana pantai tanpa terluka atau terganggu pemandangan seperti pantai-pantai di seputaran Aceh Besar dan Banda Aceh.

Pantai Lampuuk

 

 

 

 

 

Anggota Keluarga Baru yang Tidak Kalah Seru (dari Steempress)

Terus terang, setelah memasang plugin Steempress di WP, aku jadi keranjingan memosting sesuatu. Walau sedikit bosan melanjutkan fiksi yang kemarin ingin kurampungkan, aku akhirnya membuat tulisan lain mengenai apa saja. Misal serunya suasana Idulfitri di kampung halaman.

 

image credit

Tahun ini masih seperti tahun sebelumnya, serunya berkumpul dengan keluarga besar tiada habisnya hingga kita kembali ke aktivitas rutin nanti di perantauan. Selain serunya menyaksikan ramai anak-anak panti asuhan putri Aisyiyah, tahun ini kami juga kedatangan anggota keluarga baru dari Muskat, Oman. Suami sepupu perempuanku yang berdarah asli India, namanya Ashu Khan. Letak serunya itu karena ia belum bisa berbahasa Inonesia sama sekali. Ia menggunakan dua bahasa, yaitu Arab dan Inggris, saat berkomunikasi dengan istri dan tentu saja keluarga istrinya.

kawasan laki-laki yang perempuan minggir dulu

Assalamu’alaikum, I’m Aini. Vilza’s cousin.” Sapaku di awal pertemuan.

Wa’alaikumussalam, I’m Ashu, Reshu’s father.” Jawabnya sambil mengajak bermain anaknya Reshu 2,5 tahun.

Yes, I knew already from my mom. I’m coming here to greeting you.

Masha Allah… thank you!

Ashu Khan yang selanjutnya kami panggil Abah Reshu masih sekitar tiga tahun lebih muda dariku. Ia senang dengan sambutan hangat keluarga kami. Ah, tentu saja. Anggota keluarga baru bagaimana pun selalu mendapatkan sambutan hangat, apalagi dari jauh.

Perjuangan Abah Reshu untuk sampai ke kampung kami pun penuh drama bagaikan film-film India. Ia yang sama sekali belum pernah traveling  ke Indonesia, harus berangkat sendiri dengan petunjuk-petunjuk apa saja yang sudah disampaikan oleh istrinya sebelumnya. Mungkin juga sudah browsing terlebih dahulu, aku belum menanyakan sejauh itu.

Ia mengambil rute Oman-Jakarta-Medan dan mengambil mobil travel ke Rimo, Aceh Singkil. Awalnya di Jakarta Ashu akan dijemput oleh sepupu laki-lakiku, abang kandung Vilza yang bernama Vitra. Tapi Ajo Vitra yang seorang jurnalis mendapat tugas liputan secara tiba-tiba, tepat di jadwal kedatangan Abah Reshu, akhirnya sepupu yang lain  menjemputnya. Namanya Yasser. Sayang sekali saat itu karena terburu, Ajo Vitra tak sempat lagi mengabari Abah Reshu secara langsung. Ia jadi bingung kenapa bukan Ajo Vitra yang menjemput. Drama dimulai dari sana.

Ia yang masih bingung dan harus segera mengambil pesawat ke Medan kembali menghubungi istrinya yang biasa kupanggil Uncu Eza. Sedikit komplain dan meminta konfirmasiulang bahwa nanti di Medan Uncu Eza yang akan menjemputnya. Uncu Eza memastikan dengan mantap sekali lagi.

Sudah lebih dua tahun tidak berkumpul, Reshu yang lahir di Jakarta pun belum pernah bertemu Abahnya hingga usinya jelang tiga tahun. Aku bisa membayangkan bagaimana buncah perasaan keluarga tersebut. Tiba-tiba hal tak terduga terjadi lagi, Reshu diare. Jarak tempuh Rimo dan Medan memakan waktu sekitar enam sampai tujuh jam. Tidak mungkin membawa Reshu dalam keadaan seperti itu menjemput Abahnya. Terpaksa rencana menjemput dibatalkan lagi.

Kota Medan menyambut Abah Reshu yang kebingungan. Dengan kemampuan bahasa Indonesia yang sama sekali nol, Abah Reshu disambut oleh salah seorang anak panti yang sedang studi di Medan. Permasalahan selanjutnya anak ini juga tidak bisa berbahasa Inggris. Jadilah mereka berbahasa Tarzan mulai penjemputan di Kualanamu. Sudah pun lelah tak terbilang, impiannya memandang wajah istri dan anaknya belum juga kesampaian. Tempat istirahat hanya sofa usang di ruang tamu kost-kostan putri.

Sedikit kesal Abah Reshu kembali menghubungi Uncu Eza, bertanya apa kedatangannya benar-benar diinginkan. Kenapa semuanya menjadi terlalu aneh baginya. Bukan hal yang mudah tentunya, mengambil cuti dari pekerjaannya di sebuah Chocholate Factory di Oman, sekian tahun menabung rindu dengan bayi yang hanya dilihatnya di layar ponsel melalui video call, lalu nervous bertemu keluarga besar Uncu Eza barangkali berkelindan di hatinya.

Apalagi dahulu saat di Dubai mereka menikah dengan wali hakim, seorang ulama yang baik hati membantu memudahkan segala urusan pernikahan mereka yang sedang di perantauan. Orang tua Uncu Eza yang dulu berdomisili di Jakarta saat ini sudah tiada, jadi ibu dan bibi-bibiku yang lain lah ibu Uncu Eza saat ini.

Pak, pokoknya kalau ada apa-apa, langsung telpon saya, ya. Dia nggak bisa bahasa Indonesia.” Terang Uncu Eza pada sopir mobil travel yang membawa Abah Reshu.

Perjalanan yang tidak sebentar dan melewati Brastagi, Kabanjahe, Nantampukmas yang merupakan perbatasan Dairi dan Pak Pak Barat, melewati Kota Subulussalam, perbatasan Sumatra Utara dan Aceh yang barangkali belum tentu pernah ditempuh orang lokal sekali pun, sudah dilampaui Abah Reshu.

Bayangkan bagimana kalutnya setelah dua kali pula penjemputan tak sesuai dengan yang diinformasikan. Namun, ketika tiba di rumah One Murni, di Kompleks Muhammadiyah Gunung Lagan, Abah Reshu langsung disambut sosok anak dan istrinya beserta keluarga besar kami yang berjejer ramai. Semua sudah menunggu di teras rumah.

Lelah, kalut, dan marah bisa hilang seketika. Semua senang dan kecanggungan dimulai lagi karena language barrier. Memang anak One keduanya adalah guru bahasa Inggris, lalu kakak-kakakku juga bisa bahasa Inggris aktif. Saat ada Uncu Eza, semua khidmat mendengarkan mereka mengobrol. Tak ada seorang pun berani menyela dan mencoba beramah-tamah lebih jauh. Ketika Uncu Eza meninggalkan Abah Reshu sejenak, mulailah seperti dengungan lebah semua berebut berbicara.

Utaran? No, I don’t know about that movie. If you ask me what its mean, Utaran is mean duster.” Buahahhaa… dasar iseng. Ternyata sinetron India yang zaman baheula itu artinya kain lap. Ada-ada saja yang ditanyakan ponaan dan kakakku. Mereka juga memintanya bernyanyi dan berjoget ala-ala India.

Aku datang di minggu berikutnya, ia sudah mulai akrab dengan seluruh anggota keluarga kami. Terutama ponaanku yang bernama Puja (Sabrina Mahfuzha) yang sedikit nyentrik.  Ternyata saat diucapkan kata “puja” ada tradisi di sana untuk mengatupkan tangan dan sedikit menggoyang kepala. Mungkin bisa kalian bayangkan bagaimana lagak para aktor atau aktris India menggelengkan kepalanya.

Dalam dua minggu Abah Reshu sudah memutuskan akan hijrah ke Indonesia. “Nice people, nice place...” ucapnya berkali-kali. Mungkin ditambah lagi tak tahan berpisah dengan keluarga intinya. Ia mulai membuat business plan bersama sang Istri, bukan sebagai owner karena ia masih WNA, tapi pengalaman belasan tahun di kafe dan pabrik coklat, pelatihan barista dan pizza maker, sertifikat pelatihan resto berstandar hotel bintang lima yang dikantonginya menunjukkan passion mereka berdua menuju ke mana.

Kami sebagai keluarga besar bertugas mendukung penuh usaha keluarga lintas bangsa ini berkumpul utuh. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan seluruh keluarga besar kami. Semoga segera berkumpul kembali dan sukses menjalankan bisnisnya. Untuk sementara ini Uncu Eza sebagai guru pengganti di SMP Muhammadiyah Gunung Lagan dan Abah Reshu kembali ke Oman untuk menyelesaikan kontrak kerjanya di sana.

Kami yang belum sempat lengkap berfoto. Selaluu ada yang ngacir entah ke mana.

Wah, ternyata Steempress berhasil memaksa saya menulis lebih dari seribu karakter malam ini. Semoga bisa menjadi cerita seru yang bisa dibagikan sambil menunggu ide-ide lanjutan untuk fiksi yang kubuat. Juga beberapa editan yang selalu saja memancing kantukku mulai dari paragraf kedua.

 

Perjalanan Mencoba Steempress

Setelah empat tahun menggunakan platform WordPress dan pada tahun kedua mencoba upgrade self-hosting dengan platform yang sama, akhirnya aku kembali bersemangat mengurus rumah maya ini setelah sebelumnya kugunakan hanya untuk menyetor tugas-tugas di Institut Ibu Profesional (IIP) Batch #3. (more…)

Menganalisa Kegagalan (Aliran Rasa Game Ke-8)

Aliran Rasa Game Ke-8

Di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional Batch#3, aku dan teman-teman pernah berdiskusi, bagaimana supaya Aliran Rasa itu isinya bukan melulu ‘curhat manja’ apalagi bagian ngeles-ngeles kenapa gagal lagi-gagal lagi di game kali ini. Alasan jaringan lah, urusan domestik yang tiada habisnya lah, belum lagi bicara urusan publik dan benturan deadline di tempat lain bagi yang bekerja freelance sepertiku. (more…)

Mencari Permata di Binar Mata (Hari X)

Hari 10

Tugas pengamatan hari ini kudelegasikan ke Ayah anak-anak, karena aku harus berangkat ke Tibang untuk menghadiri sesi pelatihan editing bersama guru menulisku. Ayahnya bercerita bahwa Akib duduk tenang dan sabar. Ia dibolehkan kembali membuka laptop dan menonton tutorial.

Ayah mengawasi saja dan melihat kesadaran dirinya akan waktu-waktu tertentu. Misalnya kapan waktu untuk berbenah, membersihkan diri, waktu salat, dan waktu makan. Ia juga mengoles obat salepnya sendiri. Justru saat sakit begini, Akib lebih mau bekerja sama. Ia masih bisa diajak berlogika, bagaimana jika tidak patuh akan anjuran dokter dan Akib terpaksa harus diulang lagi jahitannya. Jadi, latihan kesabaran dimulai dari titik itu.

Bagiku selera musik Akib sangat easy listening. Aku tetap menyampaikan agar ia menggunakan mini speaker  yang dibelikan itu untuk muraja’ah. “Bolehlah sekali-kali Akib dengar musik juga,”  Yah, pada akhirnya kuamatai ia lebih banyak mendengarkan musik di speaker tersebut. Hanya lepas salat Magrib ia muraja’ah sebentar. Dulu saat terapi disleksianya di Putik Meulu Building, Akib sempat diajarkan bermain piano. Lumayan cepat ia mengingat nada dan memainkannya kembali di rumah. Ada keinginan kami untuk mengantarkan atau mencari mentor untuknya, tapi keterbatasan waktu dan biaya membuat kami urung. Kami juga harus memprioritaskan hal lain, seperti keperluan Biyya dan Akib. Memang sayang rasanya, tapi kupikir ini sudah melalui diskusi berlapis dan lama. Pemetaan keuangan keluarga juga menjadi faktor pengambilan keputusan ini.Apalagi Akib sangat membutuhkan latihan-latihan kemandirian, termasuk executive function-nya yang harus kami latih bersama.

Latihan lainnya adalah ketika Akib tahu bahwa ia diberi uang. Ada uangnya disimpan Ayah, atau uang yang disetornya ke Ayah dari teman-teman yang berkunjung. Kami mengizinkan Akib membeli sesuatu yang lama dinginkannya. Sudah ditebak, ia sedang menggilai berbagai jenis mobil. Sering ia minta izin membuka Youtube untuk sekadar melihat-lihat tipe mobil dan spesifikasinya. Barangkali karena dulu ia punya salah seorang teman yang suka sekali bercerita tentang otomotif.

Akib minta dibelikan mobil Lambhorghini, BMW, dan beberapa tipe dan merk ia sebutkan. Jadilah Ayah membelikan miniaturnya di sebuah toko mainan.

Mungkin salah satu hal baru yang bisa kami dalami juga. Misal hobi Akib mengamati mesin-mesin, apakah ia juga mulai menyukai otomotif? Karena kami pun melihat permata di binar matanya.

Mencari Permata dalam Binar Mata (Hari IX)

Hari ke-9 Tantangan Game Level 7

Semua Anak Adalah Bintang

Hari 9

Tanggal 1 Juni 2018 menjadi hari bersejarah buat Akib. Ia melaksanakan khitan di Klinik Meurasi Lambaro. Sebenarnya aku ingin menuliskan satu catatan mengenai hari ini, tapi ada baiknya sebelum itu, aku menyelesaikan tugas Game Level 7 ini terlebih dahulu.

Apa yang aku amati hari ini bukanlah Akib yang telah baligh, tapi lebih kepada ketangguhan Biyya mengawal sang Abang selama ia dalam keadaan tidak sehat dan tak mampu beraktivitas seperti biasanya.

Biyya sangat protektif, bertanya bagaimana rasanya. Aku memperisapkan obat yang sudah diberikan dokter, Biyya pun memerhatikan. Ia sangat antusias dengan apa yang aku kerjakan dan proses merawat Akib pasca khitan ini diamati Biyya dengan saksama.

Beberapa jam berikutnya tugasku sudah digantikan olehnya. Ia meletakkan susu segar kesukaan abangnya. Mengambilkan gelas, menuangkan denga telaten dan memberikannya ke Akib. Sore hari juga saat aku mempersiapkan bukaan di rumah, Biyya dengan cekatan mengambil sepiring nasi dan mengutamakan Akib untuk makan lebih dulu. Beres sampai sedetail-detailnya.

“Abang mau telur dadar?” Tanya Biyya yang dijawab dengan iya oleh Akib. Biyya segera ke dapur dan memintaku menyambikan satu biji telur dadar buat abangnya. Biyya yang menyanduk nasi, menyiapkan air putih dalam gelas abu-abu Akib.

Akib tentu mendapat banyak ‘salam tempel’ dari Uci, Uncu, Ummi, dan Mama, ia tidak lupa membaginya dengan Biyya. Biyya jadi ketiban rejeki juga dan langsung membeli Squasy yang sudah lama diinginkannya. Biasanya aku tidak serta merta meluluskan keinginan anak-anak. Aku ajarkan mereka menunda keinginan, membedakan keinginan dan kebutuhan.

Bagiku Biyya sejak 5 tahun, ketika duduk di TK, adalah asisten yang paling ‘connect’ dan ‘valuable’. Ia sangat membantu hari-hari kami. Ia sudah paham kapan membeli keinginannya dan tahu membedakan kebutuhan dan keinginan. Ia berjuang sendiri untuk hal-hal yang tidak penting tapi sangat diinginkannya. Tercatat juga dulu ia membeli sepedanya seharga Rp1.200.000 dari hasil tabungannya sendiri dan hanya dibantu Ayah Rp.200.000.