cerita ceriti,  Fiksi,  my world,  Resensi

Sentimen Diskriminasi dalam Gadis Minimarket

Resensi buku Gadis Minimarket ( by Sayaka Murata)

Saat itulah untuk pertama kalinya aku merasa menjadi bagian dari masyarakat. Aku telah terlahir kembali, pikirku. Hari itu aku terlahir sebagai bagian yang normal dari masyarakat ~The Convenience Store Woman, Gadis Minimarket hal-24.

Novel setebal 159 halaman ini diceritakan dari sudut pandang seorang Keiko Furukura, gadis berusia 36 yang sudah 18 tahun bekerja paruh waktu di Smile Mart Stasiun Hiromachi. Keiko bekerja di sana sejak pertama kali konbini (minimarket) itu mulai beroperasi. Semua inderanya begitu karib dengan aktivitas dan suara-suara yang ada dalam minimarket tersebut. Keiko digambarkan sebagai seseorang yang memiliki gangguan emosi dan kesulitan bersosialisasi, hanya saat dia menjadi karyawan di minimarket, Keiko bisa merasa menjadi bagian normal dari sebuah masyarakat, walaupun diceritakan bahwa Keiko juga tidak pernah paham apa yang membuat dia berbeda dan kenapa dia dianggap tidak normal oleh orang lain bahkan keluarganya sendiri.

Buku manual karyawan, gerakan-gerakan, kata-kata yang harus diucapkannya sebagai pegawai minimarket telah membantunya menjadi manusia ‘normal’ dalam pandangan orang-orang. Dia sedikit mengerti bahwa dirinya berbeda ketika pernah di masa kecilnya, dia dan teman-temannya melihat seekor burung kecil terjatuh dari sarang dan mati. Respons yang dimiliki Keiko berbeda dengan teman-teman lainnya, saat teman-temannya merasa iba dan sedih, dia justru mengantarkan bangkai burung itu ke hadapan ibunya dan meminta ibunya agar memasak burung kecil itu. Dalam ingatan polosnya, dia memikirkan ayahnya yang suka yokitori dan dia dan adiknya yang sangat menyukai karagee, lalu apa salahnya memasak burung kecil yang lehernya sudah patah itu?

Sebuah momen lagi yang membuat Keiko berbeda dengan orang lain adalah, saat Keiko berusaha menghentikan dua orang teman lelakinya yang sedang bertengkar. Ketika teman lainnya berteriak mengatakan tolong hentikan, Keiko justru mengambil sekop dan memukul kepala salah satu anak lelaki itu agar berhenti berkelahi. Dia tidak merasa bersalah karena hal yang terpenting adalah kedua anak lelaki itu menghentikan pertengkaran mereka.

Setelah peristiwa yang membuat orang tuanya harus dipanggil ke sekolah dan ibunya harus berkali-kali mengucapkan maaf dengan tertunduk-tunduk, Keiko memutuskan untuk berhenti bicara, kecuali sangat diperlukan. Itu pun ternyata tidak membuatnya bisa dikatakan normal seperti teman lainnya.

Dalam Gadis Minimarket, kita bisa berkaca betapa tuntutan adalah yang yang tidak bisa dielakkan dalam interaksi sosial. Sayaka Murata mendeskripsikan tokoh protagonis yang mengajak kita merenung dan tak perlu underestimate terhadap karakter orang yang berbeda dari diri kita. Cara penyajiannya yang mengalir dan wajar membuat novel tipis ini begitu mudah diselesaikan. Pada tahun 2016, novel ini berhasil memenangkan Akutagawa Prize yang bergengsi, dan telah terjual lebih dari 600 ribu kopi di Jepang.

Sisi kehidupan kota besar, tetapi memiliki sebuah tradisi sama dalam sebuah sudut pandang mengenai kenormalan;orang yang dianggap normal semestinya sama seperti orang kebanyakan.

Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu mengeliminasi objek yang dianggap asing. Mereka yang tak layak akan dibuang. (hal. 82)

Dalam usaha Keiko menjadi normal, dia bertemu dengan Sirahara. Salah satu tokoh lain yang juga terkucil dari masyarakat karena berbeda. Sirahara dianggap punya khayalan terlalu tinggi, tetapi sangat pemalas. Karena itulah sosok Sirahara ditampilkan selalu mengeluh dan Keiko memahaminya sebagai sentimen diskriminasi.

Menilik latar belakang keluarga Keiko, tidak ada hal yang bisa diduga memicu sifat aneh Keiko. Bahkan adiknya menjalani kehidupan normal, kedua orang tuanya memberikan cukup kasih sayang dan perhatian. Ayah dan ibunya berusaha ‘menyembuhkan’ Keiko, adiknya juga menyayanginya dan menginginkan Keiko menjadi normal; menjadi wajar sebagaimana gadis 30-an tahun lainnya.

Membaca Gadis Minimarket memberikan kontemplasi tersendiri bagi diri, tergantung dari sudut pandang yang kita maknai sebagai pembaca dan bagian dari masyarakat.

Judul: The Convenience Store Woman, Gadis Minimarket

Penulis: Sayaka Murata

Penerjemah: Ninuk Sulistyawati

Penerbit: GPU, Jakarta

Ulasan ini telah terbit di flpaceh.com

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *