cerita ceriti,  my world,  Resensi

5 Buku Mengesankan

Hm…benar juga, selain menuliskan resensi buku–yang sebenarnya belakangan sudah jarang sekali kulakukan—aku  belum pernah menulis secara gamblang sebenarnya buku apa yang paling kusukai. Benar, tidak? Eh ternyata iya.

Anehnya aku jadi bengong terlebih dahulu ketika tema ini terbaca. 5 buku pemikat hati? Eh, iya juga. Sebenarnya buku apa saja yang benar-benar memikat hatiku. Bagaimana pula memulai menuliskannya. Detik kemudian judul-judul buku yang kusukai silih berganti hadir, semuanya rasanya berkesan, semuanya terasa memikat. Namun yang mana sebenarnya paling memikat dan apakah kalau aku baca ulang sekarang, aku benar-benar masih menyukainya?

Contohnya buku yang ditulis Mark Twain dengan judul asli The Advanture of Tom Sawyer. Aku masih ingat saat itu duduk di bangku kelas lima SD dan aku sangat terkesan dengan buku yang masih disajikan dengan ejaan Soewandi tersebut. Dimulai dengan adegan Tom dicari-cari oleh Bibi Polly dan didapati dengan sisa selai di dagu atau mulutnya. Mark Twain telah memulai dengan sangat baik dan memikatku dengan diksi yang cocok dengan imanjinasiku kala itu.

Namun hingga hari ini, ketika aku mencoba kembali mencari buku-buku karangan Mark Twain atau pun buku Petualangan Tom Sawyer itu lagi, aku justru tak sanggup melahapnya hingga selesai. Entah karena sekarang buku-buku yang kubaca mulai berganti selera diksi. Lebih kekinian dan memikat daya imajinasi sesuai dengan apa yang kerap kualami. Misal ketika membaca buku-buku Ika Natassa dan Dee Lestari. Bukankah lebih mudah karena seting kekinian terasa lebih hidup di imajinasi.

Aku juga masih membaca buku-buku kesayanganku seperti serial Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle, tapi aku ragu apa itu senikmat dulu. Mungkin sekarang rasanya sudah kalah pamor dengan De Davinci Code milik Dan Brown. Entahlah…

Ada baiknya aku mencoba fokus, untuk menggali ingatan tentang  lima buku yang benar-benar mengesankan hatiku. Baiklah, mari kita mulai:

  1. Tom Sawyer karya Mark Twain. Terlepas bagimana perasaanku saat ini membacanya, tapi sewatu aku kecil, buku ini sangat memikat hati. Aku mengurung diri dan beberapa hari setiap pulang sekolah demi menuntaskan buku yang dipinjamkan oleh tetanggaku ini dari sebuah pustaka sekolah negeri di kampungku saat itu. Dengan penuh semangat aku menceritakan isinya kepada tetanggaku tersebut, pada kakakku, dan beberapa temanku. Sebenarnya ada dua buku lagi yang masih bisa kuingat alur ceritanya dan aku lupa siapa pengarangnya. Cerita petualangan tentang dua orang anak yang memakan buah murbei atau buah ceri (semacam itulah) dan tiba-tiba mereka bisa berbahasa binatang dan bertualang hingga beberapa hari di hutan. Mereka tersesat tapi menagalami petualangan yang sangat mengesankan. Kurasa ini memang cocok dengan ‘permintaan’ kepalaku saat kecil dulu yang masih menanti serial Sailor Moon dan Kera Sakti, hahahaha….
  2. Serial Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle. Gambar Orang Menari dan Lima Biji Jeruk adalah dua serial yang kubaca dan aku cukup terkesan. Waktu itu aku masih duduk di bangku menengah atas. Aku membaca serial-serial ini saat bulan Ramadan di sela-sela tadarus dan bermain scrabble, ludo, dan ular tangga. Lalu aku membacanya tengah malam ketika terbangun dan sore menjelang buka puasa. Kadang-kadang aku merasa seram sendiri dan aku memang terkesan. Hahaha (ketawa lagi, deh).
  3. Sketsa karya Ari Nur Utami. Katakanlah aku mulai dewasa muda, ya. Sebenarnya dulu saat duduk di bangku menengah pertama, buku-buku Maimon Herawati dan Izati Safitri yang kubaca juga cukup mengesankan. Hm, aku bisa mengingat sensasi membaca “Sehangat Mentari di Musim Semi”, tapi aku bingung apa harus memasukkan ini ke dalam lima buku yang mengesankan, karena ke depan aku masih punya banyak kesan terhadap beberapa buku. Novel Sketsa ini masih ada sekuelnya dan ku menunggu cukup lama hingga menikah dan memiliki anak. Lanjutannya adalah Rumah Hujan.
  4. Rumah Hujan karya Ari Nur Utami. Ah, Mbak ini lucu! Sungguh lucu. Apa nanti kalau aku bertemu dnegannya aku akan histeris atau minta foto bareng dan semacam euforia bertemu idola? Entah, aku juga tidak tahu. Namun Rumah Hujan adalah salah satu fiksi yang berhasil memikatku dan aku menikmatinya hingga halaman terakhir. Tokoh Katrina, Edwin, dan Ariko terlalu hidup. Seolah-olah Mbak Ari benar-benar telah menuliskan peliknya kisah cintanya sendiri. Cara bertutur yang khas dan detail. Aku mendapati Mbak Ari di media sosial dan tersenyum, ini dia orangnya yang menulis Sketsa Rumah Hujan dan entah karena belum cukup waktu, aku tidak pernah sempat menyapanya secara langsung dan mengatakan bahwa betapa kedua bukunya telah memikat hatiku berkali-kali.
  5. Pollyanna karya Elanor H. Porter. Ada dua serialnya dan kalau bisa aku jujur, aku menyukai yang pertama saja, aku terpancing dengan permainan yang diciptakan Pollyana. Permainan Sukacita!

 

Eh udah habis ya? Ya ampun! Aku baru saja mau bilang kalau serial-serial Anne of Green Gables juga memikatku. Belum lagi Sang Alkemis yang ditulis Paulo Coelho atau Farewell to Arms-nya Ernest Hamingway yang bikin kesal dengan ending yang seperti itu. Lelah membacanya lalu sad ending.

Buku yang kubaca masih sedikit dan sepertinya usiaku tidak cukup untuk melahap semua yang teman-teman rekomendasikan. Dulu sekali aku terkesan dengan buku yang ditulis Maurice Buccaile, mungkin keinginanku untuk rehat dan berekreasi dengan cara membaca membuatku tidak lagi mencari  buku-buku beliau yang sangat ilmiah. Termasuk buku-buku Karen Amstrong yang sebenarnya menggugah selera. Aku selalu mengatakan nanti dan nanti untuk buku-buku bagus semacam itu, hingga hari ini aku belum sempat membacanya. Aku justru terkesan dengan buku-buku Dee Lestari yang Aroma Karsa tempo hari, hingga hari ini masih sedikit menyihir. Apa boleh buat, terkadang usia dan keributan dalam kepala justru membuatku membidik buku-buku fiksi untuk lebih dulu dinikmati.

Kalau untuk karya-karya nonfiksi, aku juga punya beberapa buku yang sangat mengesankan hati. Memang penulisnya ingin menyentuh sisi-sisi terdalam empati, seperti buku Postive Parenting, Segenggam Iman Milik Anak Kita yang ditulis Faudhil Adhim.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

2 Comments

  • nur rochma

    Halo mbak Aini,

    Suka buku sastra ya? Wah, keren! Dulu ketika zaman kuliah aku pernah baca The Old Man and The Sea by Ernest Hemingway. Setelah itu aku lebih suka baca novel pop buat bacaan santai di rumah.

    • aini

      Iya, Mbak. Kata orang membosankan, tapi menurutku sebenanrnya tergantung penerjemahnya, kalau bagus pasti mengasyikkan sekali membacanya. Aku nggak begitu ngerti sastra, tapi suka aja, membaca buku-buku tersebut meninggalkan kesan mendalam di hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *