cerita ceriti,  my world,  Self reminder

Aku Menulis Karena Aku Cinta

Dari mana aku belajar menulis pertama sekali? Aku tak ingat persis, tidak bisa menjawab pertanyaan itu secara tepat. Lalu apakah sekarang aku adalah seorang penulis? Terlepas dari segala definisi penulis yang kamu pikirkan, aku adalah seseorang yang sangat menggemari aktivitas yang satu ini.

Aku masih ingat ketika kelas tiga sekolah dasar, aku tenggelam dalam kenikmatan aktivitas membaca. Ayahku memiliki beragam genre buku dan majalah. Aku masih ingat bagaimana gayanya memegang, membaca, dan menekuri sebuah buku. Sangat mengesankan. Kelas enam sekolah dasar, aku coba-coba menulis sebuah fiksi menggunakan mesin tik tua milik orang tuaku. Aku bawa ke kamar dan bersama sepupuku yang lain, kami mulai menulis.

Aku masih bisa mengingat cerita apa yang kutulis. Kurasa aku cukup menyukai tulisanku saat itu. sebuah cerita fiksi yang berjudul “Bagaimana, Sih, Cara Belajar Sungguh-Sungguh?” Berkisah tentang seorang anak yang diminta ibunya belajar di rumah dengan baik, tapi ia bingung bagaimana cara belajar yang baik, bagaimana cara belajar yang dimaksud ibunya. Setiap kali ia disuruh belajar, maka ia akan mengambil buku dan alat tulisnya, mencoba membuka buku dan melihat-lihat isinya. Mengambil pena dan tak tahu menulis apa dan akhirnya ia menggambar saja.

Cerita di atas murni fiksi. Usiaku belum 11 tahun, tidak ada guru menulis zaman dulu, yang ada hanya guru umum belajar Calistung. Aku suka membaca-baca majalah Bobo dan aku pernah membaca genre tulisan yang serupa di atas, aku tak tahu kalau itulah yang disebut tulisan fiksi atau rekaan semata. Ibu dan ayahku tidak terlampau berorientasi akademik, jadi di kehidupan nyata, aku jarang sekali disuruh belajar di rumah. Ibu dan ayahku tak memiliki waktu khusus untuk menyuruh kami mengambil buku dan pena lalu menyuruh mengulang pelajaran yang ada di sekolah.

Setelah satu tulisan fiksi tersebut, aku masih suka membuat tulisan yang berhasil muncul dari imajinasiku. Ada pula yang berbentuk visual dan mendorongku untuk mulai menggambar. Jadi, mulailah aku melarik garis demi garis membuat sebuah gambar. Saat itu kelas lima sekolah dasar, aku membuat komik berjudul The Little Cindy. Cerita yang terinspirasi dari kesukaanku membaca komik Jepang Candy-candy. Temanku bernama Khairunnisa, sering memberikan ide untuk gambar-gambar dan ceritaku. Sebagai wujud terima kasih dan apresiasiku atas idenya maka kubuat di buku gambar tersebut nama kami berdua. Teman sekelasku yang lainnya adalah para pembaca yang menanti terbitnya karya kami berdua. Tepatnya menanti kapan aku selesaikan lanjutan komik The Little Cindy. Komik tersebut selesai dan mendulang sukses dari banyaknya para penggemar. Aku melanjutkan membuat komik yang berjudul The Twin. Kisah dua gadis kecil kembar yang menyukai satu orang anak lelaki yang sama, tapi mereka berdua saling menjaga perasaan kembarannya. Duhai, anak kelas enam sekolah dasar yang sudah tahu apa itu rasa suka. Tepatnya baru saja tahu. Aku tak lagi ingat bagaimana nasib komik The Twin itu. Aku mulai mencoba-coba membuat komik lainnya yang kali ini terinspirasi dari kartun Sailor Moon yang aku tonton.   

Begitulah rangkaian fiksi yang kucoba tuangkan dalam bentuk komik dan cerpen. Ketika kelas satu setingkat sekolah menengah, aku dan teman-teman ikut menggagas terbitnya buletin sekolah yang kami namakan Al-Qalam. Di sana aku berkontribusi membuat cerpen yang berjudul Surat untuk Fai. Bercerita tentang seorang anak yang sudah mulai paham mengenai pergaulan dalam Islam, ia menerima sebuah surat dari kakak sepupunya di luar kota, teman-teman mengatakan kalau itu adalah surat cinta, padahal bukan. Fai atau Fairuz, nama tokoh perempuan dalam cerita fiksi itu, tidak pernah berpacaran.

Akumulasi dari semua cerita ataupun oponi yang kubaca, lalu film-film yang kutonton, termasuk ketika memperhatikan keadaan di sekelilingku, acapkali membuat kepalaku penuh dan bermonolog. Kupikir aku bukan pribadi pendiam juga, tapi tidak juga mudah dekat dan talk active, barangkali dari sana munculnya dorongan-dorongan untuk menulis.

Masih di kelas tiga sekolah dasar juga, aku dibelikan diari berwarna biru bergambar beruang lucu yang melongok dari jendela. Buku itu mungil dan di dalamnya berisikan lembaran kertas berwarna- warni. Ingatan visualku masih bisa membayangkan bentuk buku tersebut secara detail. Itu adalah buku diari pertamaku. Kunamakan ia Theodora. Aku menulis pengalaman ringan sehari-hari di sana. Kebiasaanku menulis diari terus berlanjut hingga sekolah menengah pertama, aku masih ingat nama diari tersebut sesuai dengan gambar yang ada di diari tersebut. Yuyu Hakusho, belakangan aku baru tahu ternyata itu sebuah film animasi Jepang yang entah bercerita tentang apa. Ada satu lagi diari yang kunamakan Midori. Saat di universitas diariku kunamakan Rorick.

Rorick hanyalah buku tulis dengan sampul boardbook biasa. Aku tak lagi suka buku-buku yang lemabarannya penuh warna-warni. Dengan Rorick, aku tak terlalu sering berinteraksi alias jarang menulis diari. Sesekali saja saat ada sesuatu yang tak mungkin aku ceritakan pada teman, adik, dan saudaraku yang lain. Entah karena alasan apa, bagaimana mungkin aku tertutup seperti itu, ya? Aku membatin sekarang. Walau suka memperhatikan dan mengamati, aku juga suka berbicara dan cukup terbuka.

Aku masih memiliki Rorick hingga hari ini. Kurasa aku masih menyimpannya di kotak surat dan diktat kuliahku dulu. Oh iya, aku juga punya banyak surat yang masih kusimpan, terutama surat untuk suamiku saat ini. Dulu, kami tak banyak berinteraksi. Jadi banyak yang ingin kusampaikan padanya, aku juga suka bercerita hal remeh temeh yang kualami dan opini-opini ganjil yang pernah terlintas di kepalaku. Aku ingin dia memahamiku luar dan dalam. Kami tentu saja tak bisa sering jalan berdua, tidak tinggal di tempat yang dekat dan mudah dijangkau. Tapi bagaimana mentransfer visi-misiku nanti dalam membangun sebuah keluarga, membangun sebuah rumah tangga, dan aku ingin ia mengenali pemikiran-pemikiranku. Apa yang ada di dalam kepalaku. Jadilah kebiasaan menulis diari berpindah menjadi menulis surat. Surat yang kutulis unik dan langka. Orang biasanya akan menulis surat paling panjang lima halaman, dimasukkan ke dalam amplop dan dikirim ke alamat tujuan.

Suratku tidak berlembar-lembar kertas, tidak dimasukkan ke dalam amplop berwarna merah jambu seperti itu. Suratku adalah tumpukan buku-buku notes yang kuberikan padanya saat kami bertemu di beberapa event. Ia sering merasa tak enak tak sempat membalas satu per satu. Tentu saja! Siapa yang sanggup membalas surat setebal novel tiap kali datangnya. Membacanya saja sudah hebat, kan?

Sering kami beraktivitas terpisah dan di daerah yang tak terjangkau untuk bertatap muka. Pun saling menelepon memberikan kabar berita, hanya hening satu sama lain, tapi aku punya banyak kabar dalam tumpukan-tumpukan kertas. Kurasa aku menikmati saat-saat menulis dengan kertas dan pena.

Sebenarnya aku tidak menyadari itu passion dan panggilan alam yang tak terelakkan. Karena akhirnya aku tidak menekuninya secara menyeluruh. Terbukti ketika mengambil jurusan di Perguruan Tinggi, aku tak memilih yang berkaitan dengan dunia tulis menulis dan tidak pula bercita-cita menjadi seorang penulis profesional.

Tepatnya di tahun 2009 atau 2010, aku menemukan sebuah keasyikan di sebuah platform media sosial. Ya, aku menemukan senangnya menulis di catatan Facebook dan banyak orang yang tak kukenal secara pribadi bisa membaca karyaku. Seorang editor atau penulis profesional menemukanku, tepatnya aku mengikuti sayembara menulis yang diadakannya, bertema tentang ibu.

Aku sangat menyukai cara ibuku menunjukkan keteladanan dan sikap filantropisnya. Lalu dengan sangat menikmati, aku mulai menulis menceritakan tentang ibuku. Judul tulisan itu masih bisa kuingat, yaitu: Hati Emas yang Bersepuh Emas. Menceritakan ibuku yang inspiratif, kebaikan hati dan ketulusannya yang selalu berprasangka baik pada orang lain dan semangat filantropisnya. Ia mengasuh berpuluh anak walau tidak dalam waktu bersamaan. Aku hidup bersama keluarga angkat lainnya dengan bahagia.

Tulisanku terpilih dalam sayembara tersebut dan ditebitkan oleh sebuah imprint penerbit mayor. Aku memang beruntung kala itu. Teh Triani Retno, selaku penulis dan editor buku tersebut memuji tulisanku tersebut. “Ini, nih, aku paling suka saat pertama kali membacanya.” Sebutnya dalam sebuah komentar di trit postingannya. Aku senang bukan kepalang.

Aku pun berpikir, mungkin ada baiknya aku mengasah kemampuan menulisku. Aku pun mencoba mendaftar ke sebuah komunitas menulis di Indonesia yang memiliki perwakilan di Aceh. Namanya Forum Lingkar Pena. Di sana aku banyak bertemu penulis-penulis hebat. Baru aku tahu bahwa di tulisan-tulisanku masih banyak hal yang harus kubenahi.

Saat itu aku dibimbing oleh seorang penulis buku anak nasional yang bernama Beby Haryanti Dewi. Beliau individu yang disiplin dalam hal menulis. Karyaku direvisi bekali-kali dengan komentar-komentar pedas dan panas. Satu bulan digembleng mengenai teknik penulisan dan dulu tata bahasa. Pemilihan kata dan kalimat efektif, saat itu animo menulisku menanjak tajam.

Kak Beby ini bukan saja tipe disiplin dan ulet dalam menulis, beliau yang terbilang produktif kala itu tak segan mengapresiasi karya-karya kita. Suatu kali saat tugas pertama kusetor, Kak Beby memberikan masukan melalui komentar di catatan Facebook, namun di akhir ia mengatakan “Teruskan, Ain. Kayaknya kamu berbakat, deh!” hatiku kembali mengembang.

Kabar kover buku yang akan diterbitkan datang, begitu juga dengan honor menulisnya. Tulisanku dibeli putus dan royalti yang didapat disumbangkan untuk membebaskan tanah Rumah Dunia di Banten yang digagas oleh Mas Gola Gong dan Mbak Tias Tatanka. Aku bahagia tak terkira. Apalagi Ibu dan Ayahku, tulisan yang hanya beberapa lembar itu semoga bermanfaat. Proyek buku selanjutnya untuk charity kembali datang. Aku tak mau ketinggalan ambil bagian. Kembali naskahku dibeli putus dan royaltinya untuk disumbangkan.

Aku membuat blog dan menulis di sana. Aku masih menikmati menulis sesukaku tanpa ada tuntutan deadline. Saat itu aku tidak bisa memilih menjadi penulis profesional, kupikir ada hal yang menyangkut hak orang lain yang harus kutunaikan lebih dulu daripada memilih fokus menulis. Menulis memang passion-ku tapi menjadi profesional rasanya masih jauh dari cocok. Aku menulis di sela-sela waktu yang tersisa. Terkadang aku mencari sayembara apa yang bisa kuikuti akan aku terpacu untuk lebih produktif. Ada juga ajakan membuat buku bersama dari teman-teman komunitas dan aku mengikutinya. Tahun 2013 aku kembali menerbitkan buku antologi yang bergenre komedi. Sementara tawaran menulis buku anak tak mampu kuselesaikan. Kukatakan padamu, kurasa menulis buku anak itu cukup sulit. Jangan dikira karena ingin belajar menulis lalu kamu akan berpikir memulai dengan menulis buku anak adalah mudah. Tidak. Menulis buku anak itu termasuk tantangan berat.

Seiring waktu, aku mencoba memilih dan memilah kembali apa yang paling kuinginkan saat ini. Tahun 2018, ketika aku harus berinteraksi intens dengan jurnalis senior yang kuceritakan di awal tulisan tadi, kemudian menemukan tiga teman dengan renjana yang sama, salah satunya sangat mengagumkan, dengan kemampuan menulis yang mumpuni, ia sesantiasa humble down to the earth, mengobrol beberapa jam dengannya seperti kuliah 12 SKS, aku insaf kalau menulis adalah sebuah proses dan itu harus kujajaki dengan rendah hati seperti dirinya. Aku pun kembali memulai dari nol, dengan diskusi-diskusi literasi, mencoba berlatih dan jangan lekas berpuas diri.

Aku menulis karena aku cinta. Cinta yang mendatangkan suka, cinta yang membikin bahagia, cinta yang membuatku terus membutuhkannya, cinta yang yang kerap membuatku merasa dahaga, hingga terlampau sulit untuk tidak melakukannya.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pecinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

2 Comments

  • Nurul Fajri

    Wah..keren kakak.
    Dari kecil sudah mulai nulis ternyata.
    Kalau Nurul mulai nulis dari SMP dan itupun isinya curahan hati semua. Heheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *