cerita ceriti

Anggota Keluarga Baru yang Tidak Kalah Seru (dari Steempress)

Terus terang, setelah memasang plugin Steempress di WP, aku jadi keranjingan memosting sesuatu. Walau sedikit bosan melanjutkan fiksi yang kemarin ingin kurampungkan, aku akhirnya membuat tulisan lain mengenai apa saja. Misal serunya suasana Idulfitri di kampung halaman.

 

image credit 

Tahun ini masih seperti tahun sebelumnya, serunya berkumpul dengan keluarga besar tiada habisnya hingga kita kembali ke aktivitas rutin nanti di perantauan. Selain serunya menyaksikan ramai anak-anak panti asuhan putri Aisyiyah, tahun ini kami juga kedatangan anggota keluarga baru dari Muskat, Oman. Suami sepupu perempuanku yang berdarah asli India, namanya Ashu Khan. Letak serunya itu karena ia belum bisa berbahasa Inonesia sama sekali. Ia menggunakan dua bahasa, yaitu Arab dan Inggris, saat berkomunikasi dengan istri dan tentu saja keluarga istrinya.

kawasan laki-laki yang perempuan minggir dulu

Assalamu’alaikum, I’m Aini. Vilza’s cousin.” Sapaku di awal pertemuan.

Wa’alaikumussalam, I’m Ashu, Reshu’s father.” Jawabnya sambil mengajak bermain anaknya Reshu 2,5 tahun.

Yes, I knew already from my mom. I’m coming here to greeting you.

Masha Allah… thank you!

Ashu Khan yang selanjutnya kami panggil Abah Reshu masih sekitar tiga tahun lebih muda dariku. Ia senang dengan sambutan hangat keluarga kami. Ah, tentu saja. Anggota keluarga baru bagaimana pun selalu mendapatkan sambutan hangat, apalagi dari jauh.

Perjuangan Abah Reshu untuk sampai ke kampung kami pun penuh drama bagaikan film-film India. Ia yang sama sekali belum pernah traveling  ke Indonesia, harus berangkat sendiri dengan petunjuk-petunjuk apa saja yang sudah disampaikan oleh istrinya sebelumnya. Mungkin juga sudah browsing terlebih dahulu, aku belum menanyakan sejauh itu.

Ia mengambil rute Oman-Jakarta-Medan dan mengambil mobil travel ke Rimo, Aceh Singkil. Awalnya di Jakarta Ashu akan dijemput oleh sepupu laki-lakiku, abang kandung Vilza yang bernama Vitra. Tapi Ajo Vitra yang seorang jurnalis mendapat tugas liputan secara tiba-tiba, tepat di jadwal kedatangan Abah Reshu, akhirnya sepupu yang lain  menjemputnya. Namanya Yasser. Sayang sekali saat itu karena terburu, Ajo Vitra tak sempat lagi mengabari Abah Reshu secara langsung. Ia jadi bingung kenapa bukan Ajo Vitra yang menjemput. Drama dimulai dari sana.

Ia yang masih bingung dan harus segera mengambil pesawat ke Medan kembali menghubungi istrinya yang biasa kupanggil Uncu Eza. Sedikit komplain dan meminta konfirmasiulang bahwa nanti di Medan Uncu Eza yang akan menjemputnya. Uncu Eza memastikan dengan mantap sekali lagi.

Sudah lebih dua tahun tidak berkumpul, Reshu yang lahir di Jakarta pun belum pernah bertemu Abahnya hingga usinya jelang tiga tahun. Aku bisa membayangkan bagaimana buncah perasaan keluarga tersebut. Tiba-tiba hal tak terduga terjadi lagi, Reshu diare. Jarak tempuh Rimo dan Medan memakan waktu sekitar enam sampai tujuh jam. Tidak mungkin membawa Reshu dalam keadaan seperti itu menjemput Abahnya. Terpaksa rencana menjemput dibatalkan lagi.

Kota Medan menyambut Abah Reshu yang kebingungan. Dengan kemampuan bahasa Indonesia yang sama sekali nol, Abah Reshu disambut oleh salah seorang anak panti yang sedang studi di Medan. Permasalahan selanjutnya anak ini juga tidak bisa berbahasa Inggris. Jadilah mereka berbahasa Tarzan mulai penjemputan di Kualanamu. Sudah pun lelah tak terbilang, impiannya memandang wajah istri dan anaknya belum juga kesampaian. Tempat istirahat hanya sofa usang di ruang tamu kost-kostan putri.

Sedikit kesal Abah Reshu kembali menghubungi Uncu Eza, bertanya apa kedatangannya benar-benar diinginkan. Kenapa semuanya menjadi terlalu aneh baginya. Bukan hal yang mudah tentunya, mengambil cuti dari pekerjaannya di sebuah Chocholate Factory di Oman, sekian tahun menabung rindu dengan bayi yang hanya dilihatnya di layar ponsel melalui video call, lalu nervous bertemu keluarga besar Uncu Eza barangkali berkelindan di hatinya.

Apalagi dahulu saat di Dubai mereka menikah dengan wali hakim, seorang ulama yang baik hati membantu memudahkan segala urusan pernikahan mereka yang sedang di perantauan. Orang tua Uncu Eza yang dulu berdomisili di Jakarta saat ini sudah tiada, jadi ibu dan bibi-bibiku yang lain lah ibu Uncu Eza saat ini.

Pak, pokoknya kalau ada apa-apa, langsung telpon saya, ya. Dia nggak bisa bahasa Indonesia.” Terang Uncu Eza pada sopir mobil travel yang membawa Abah Reshu.

Perjalanan yang tidak sebentar dan melewati Brastagi, Kabanjahe, Nantampukmas yang merupakan perbatasan Dairi dan Pak Pak Barat, melewati Kota Subulussalam, perbatasan Sumatra Utara dan Aceh yang barangkali belum tentu pernah ditempuh orang lokal sekali pun, sudah dilampaui Abah Reshu.

Bayangkan bagimana kalutnya setelah dua kali pula penjemputan tak sesuai dengan yang diinformasikan. Namun, ketika tiba di rumah One Murni, di Kompleks Muhammadiyah Gunung Lagan, Abah Reshu langsung disambut sosok anak dan istrinya beserta keluarga besar kami yang berjejer ramai. Semua sudah menunggu di teras rumah.

Lelah, kalut, dan marah bisa hilang seketika. Semua senang dan kecanggungan dimulai lagi karena language barrier. Memang anak One keduanya adalah guru bahasa Inggris, lalu kakak-kakakku juga bisa bahasa Inggris aktif. Saat ada Uncu Eza, semua khidmat mendengarkan mereka mengobrol. Tak ada seorang pun berani menyela dan mencoba beramah-tamah lebih jauh. Ketika Uncu Eza meninggalkan Abah Reshu sejenak, mulailah seperti dengungan lebah semua berebut berbicara.

Utaran? No, I don’t know about that movie. If you ask me what its mean, Utaran is mean duster.” Buahahhaa… dasar iseng. Ternyata sinetron India yang zaman baheula itu artinya kain lap. Ada-ada saja yang ditanyakan ponaan dan kakakku. Mereka juga memintanya bernyanyi dan berjoget ala-ala India.

Aku datang di minggu berikutnya, ia sudah mulai akrab dengan seluruh anggota keluarga kami. Terutama ponaanku yang bernama Puja (Sabrina Mahfuzha) yang sedikit nyentrik.  Ternyata saat diucapkan kata “puja” ada tradisi di sana untuk mengatupkan tangan dan sedikit menggoyang kepala. Mungkin bisa kalian bayangkan bagaimana lagak para aktor atau aktris India menggelengkan kepalanya.

Dalam dua minggu Abah Reshu sudah memutuskan akan hijrah ke Indonesia. “Nice people, nice place...” ucapnya berkali-kali. Mungkin ditambah lagi tak tahan berpisah dengan keluarga intinya. Ia mulai membuat business plan bersama sang Istri, bukan sebagai owner karena ia masih WNA, tapi pengalaman belasan tahun di kafe dan pabrik coklat, pelatihan barista dan pizza maker, sertifikat pelatihan resto berstandar hotel bintang lima yang dikantonginya menunjukkan passion mereka berdua menuju ke mana.

Kami sebagai keluarga besar bertugas mendukung penuh usaha keluarga lintas bangsa ini berkumpul utuh. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan seluruh keluarga besar kami. Semoga segera berkumpul kembali dan sukses menjalankan bisnisnya. Untuk sementara ini Uncu Eza sebagai guru pengganti di SMP Muhammadiyah Gunung Lagan dan Abah Reshu kembali ke Oman untuk menyelesaikan kontrak kerjanya di sana.

Kami yang belum sempat lengkap berfoto. Selaluu ada yang ngacir entah ke mana.

Wah, ternyata Steempress berhasil memaksa saya menulis lebih dari seribu karakter malam ini. Semoga bisa menjadi cerita seru yang bisa dibagikan sambil menunggu ide-ide lanjutan untuk fiksi yang kubuat. Juga beberapa editan yang selalu saja memancing kantukku mulai dari paragraf kedua.

 

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *