cerita ceriti

Antara kita (Bagian kesekian)

    I don’t have any idea when we are fighting and keep silent during a day except remember all your kindess and whisper how I miss you. The way you tie my hair, the way you look in to my eyes, and the way you laugh.

   Tidak selamanya hubungan pasutri lempang dan manis. Tentu ada bruntul-bruntul, ngambeg sesekali, kesal bin frustasi kalau sudah tidak sesuai dengan rencana.

For example, the simple things are; aku baru saja akan menyeduh kopi paginya, seketika kulihat ia sudah menyeruput habis kopi buatannya sendiri. Hm, what’s the matter?
Sip! Aku lupa memisahkan antara sampah plastik dan organik untuk kesekian kalinya atau lupa menggantung plastik sampah di pohon kayu belakang rumah, sekenanya saja aku taruh di samping pintu dan sukses diobrak-abrik ayam tetangga. Dua kali kerja sementara biasanya yang membuang sampah ke kontainer adalah Eun Yud. Ia harus mengais sampah sebelum membawanya ke kontainer dengan kondisi yang lebih mengenaskan. Bau, bertebaran, dan jorok.

Sekali waktu aku sedang cuti salat, saatnya aku menonton film yang sekian lama aku endapkan di laptop or harddisk, berhubung laptopku rusak, aku harus meminjam laptop Eun Yud. Film itu sukses dihapusnya tanpa ‘babibu’. Yes! Aku kesal setelah ngedumel tentang apa yang aku kesalkan. Tega, padahal kita sudah menahan diri setiap hari untuk seminggu ini selama satu bulan pun dikebiri.

Memasak, membuat kopi dan pekerjaan rumah tangga adalah kerja seluruh anggota keluarga. Aku sudah menjelaskan kenapa mengambil porsi lebih besar dibanding seluruh anggota keluarga karena aku suka, aku senang melakukannya, aku bangga melakukannya dan yang paling praktis itu, kerjaku lebih rapi dan bersih. Expert tepatnya, hahaha.

Banyak sekali lika liku mulai hal kecil ataupun besar yang bisa memicu konflik pasutri. Hal itu harus diakui, walau antara aku dan Eun Yud dalam sebulan belum tentu ada korslet apalagi gegap gempita. Sebagaimana tipikal romantisme kami yang standar dan tiada kentara, begitu juga konflik kami. Aku dan Eun Yud adalah pasangan yang tidak romantis. Nah, percayalah. Kami penganut romantis itu jangan sampai bikin eneg. Begitulah kira-kira. Kecuali ritual menulis surat cinta setiap kali hari jadi, lainnya rasanya semua biasa saja bagi kami. Tak ada kata kata kaulah bulan, kau lah bintang dan sejenisnya. Mengingat kemampuan verbal Eun Yud yang kurang mumpuni, ia hanya memiliki tatapan dan sentuhan yang coba sebelas tahun aku terjemahkan. Hm, sudah ahli juga akhirnya. Sementara cara itu masuk di slot yang aku sediakan, ketimbang rayuan maut atau tingkah lebay yang membuatku ilfeel, cara sederhana dan sesekali itu menjadi amunisi kebahagiaan tersendiri bagi rumah tangga kami.

Seperti sore ini, aku bilang ke Eun Yud hari ini kita berbuka bersama di salah satu tempat yang sudah kusebutkan, aku diundang singkatnya. Saat aku menyampaikan ke Eun Yud, ia sedang pusing karena baru kembali dari pasar dan cuaca di luar cukup menyengat. Setelah salat zuhur ia tidur hingga jam 5 sore. Aku bangunkan untuk salat asar. Setelah salat ia berberes kandang dan aku menonton drama korea (aku mengambil jatah bulananku) sambil membereskan kain.

Kami berbenah dan Eun Yud mbuang sampah lama sekali. Ternyata ia membeli kopi dan kue hingga menjelang buka. Bailkah, aku kesal dan terjadilah episode saling mendiamkan.

“Ayah lupa, kok nggak bilang…”
Jiaah hahaha…

Dengan sabar Eun Yud mengajak Faza bermain setelah ia tilawah magrib tadi. Aku masih kesal dan ingin mengambil jatah drama lagi. Tapi anak-anak belum tidur. Oh well, Faza ketiban per besi saat diajak bermain. Aku protes lagi, harus lebih hati-hati mengajak anak bermain. Seharusnya telaten sebagaimana aku. Hihihi betapa seramnya diriku.

Sambil bermain dengan Biyya dan Faza, kami tidak saling mendiamkan tapi terasa ada bukit es di sisi kiri dan kananku. Suasana beku.

Lalu yang biasanya aku lakukan adalah membaca, menulis, meyibukkan diri dengan pekerjaan rumah jika masih ada. Aku begitu bosan ketika semua pekerjaan selesai. Di kepalaku hanyalah segala kebaikan Eun Yud, senyum hangatnya, tangan besarnya, dan binar matanya.

Ia pergi ke luar, ia berpamitan, ia mencium keningku, masih sempat menggodaku karena drakor yang belum selesai kutonton. Malam ini barangkali terakhir aku cuti salat dan bisa menonton. Ia tahu aku kesal tapi ia harus keluar dan janji akan pulang segera.

Sekarang habislah aku dicekam rindu dan sesal. Alangkah lebih bahagianya aku balas memeluk sebentar tadi. Dasar kekanakan. Habislah aku, beberapa jam serasa beberapa bulan. Segeralah pulang, Eun.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *