my world

Antara PMK, Tradisi Meugang, dan Iduladha

Kita dikagetkan dengan berita mewabahnya virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau yang disebut juga Foot and Mouth Disease (FMD) pada ternak saat Idulfitri lalu, padahal pada tahun 1990, Indonesia telah dinyatakan bebas PMK.

Pada acara silaturahmi alumni dokter hewan Medicus FKH 2001 pertengahan Mei 2022 lalu, kami banyak membahas seputar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang saat ini mewabah di beberapa provinsi di Indonesia, termasuk di Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Besar dan sudah mulai menginfeksi hewan-hewan di daerah lain. Hal yang paling dikhawatirkan dan akan berdampak langsung dengan mewabahnya PMK ini bukanlah kesehatan masyarakat atau kesehatan pangan, tetapi lebih kepada sektor ekonomi, karena penurunan produksi hasil peternakan serta pembatasan perdagangan internasional. Tanpa edukasi yang benar dan kajian evidance based, hoaks akan memperburuk dampak sektor yang dikhawatirkan tadi. Terlebih lagi jika wabah belum teratasi menjelang hari raya kurban, kita bisa membayangkan bukan hanya kerugian yang akan dialami peternak Aceh, tetapi juga sedihnya warga tak bisa menikmati daging kurban Iduladha akibat paranoia yang kurang berdasar.

Sebagai warga, kita juga semestinya cerdas dan mendukung usaha-usaha pemangku kebijakan dalam menghentikan dan mengeradikasi wabah hingga tuntas, karena PMK adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang penularannya sangat cepat dengan angka kesakitan yang tinggi. PMK disebabkan oleh virus tipe A dari keluarga (family) Picornaviridae, genus Apthovirus dengan 7 jumlah serotipe. Penyakit ini menyerang hewan berkuku genap/belah seperti sapi, kerbau, kijang, rusa, domba, kambing, unta, dan babi. Hewan-hewan liar yang ada di kebun binatang juga memungkinkan bisa terjangkit PMK, terutama hewan ruminansia.

Penyakit ini menular dari hewan ataupun produk hewan yang masuk ke negara kita yang terpapar dengan virus tersebut, terutama yang masuk secara ilegal melalui jalan tikus tanpa pengawasan. Dari dokumen Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE), disebutkan PMK adalah masalah kesehatan hewan, bukan kesehatan masyarakat. Di jurnal-jurnal bereputasi menyebutkan, pernah ada laporan pada tahun 1921, tetapi korban tidak lebih dari 40 orang dan itu juga terjadi karena kecelakaan. Bisa dikatakan kasus ini sangat kecil (extremly low) dan bisa diabaikan, karena itu masyarakat tidak perlu khawatir. Bukan berarti para peternak tidak waspada, terutama peternak yang ternaknya sakit dan jangan sampai yang sehat terkena juga.

Terkadang, hewan yang sakit tidak menampakkan gejala yang jelas, sehingga kemungkinan terjadi penyembelihan hewan yang terjangkit PMK. Lalu bagaimana sikap masyarakat mengenai hal ini? Pertama, karena saat ini Aceh termasuk daerah wabah, sebaiknya pemotongan hewan memang dilakukan di RPH. Jadi, hewan tersebut sudah diperiksa oleh dokter hewan dan sudah dipastikan sehat sebelum dilakukan penyembelihan. Langkah lainnya ketika Anda ragu apakah hewan yang disembelih tersebut sesuai prosedur, setelah dibawa ke rumah, daging tersebut sebaiknya jangan langsung dicuci, karena virus bisa tersebar melalui air cucian daging dan mencemari lingkungan. Lakukan pelayuan agar pH daging turun dengan cara membekukan daging tersebut ke dalam pembeku. Bisa juga daging tersebut langsung dipanaskan atau dimasak agar virus tidak aktif lagi (inactive).

Menurut Mustofa Helmi Efendi, guru besar bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH Unair, dengan teknik pelayuan daging akan mampu menurunkan pH dan berefek pada jumlah virus PMK yang mengontaminasi daging sapi, sehingga dagingnya masih layak dikonsumsi masyarakat. Biasanya setelah disembelih, asam laktat terakumulasi dalam jaringan otot karena glikogen habis. Hal ini menyebabkan penurunan pH daging dari -7,0 menjadi -5,5. Untuk waktu penurunan pH ini bervariasi tergantung kondisi, penurunan pH bisa berlangsung lebih lambat, tetapi pada dasarnya selalu selesai pada -24 jam pasca pemotongan. Virus PMK juga sensistif terhadap pH di lingkungan mikronya, sehingga virus tersebut bisa dinonaktifkan di bawah pH -6.0 dan di atas -9.5. Virus ini juga cukup rentan terhadap sejumlah disinfektan yang tersedia secara umum seperti natrium hidroksida dan asam sitrat.

Virus PMK bisa menyebar melalui udara dengan radius 10 km, tetapi virus tersebut tidak menular dan menginfeksi manusia. Selama dimasak dengan matang di suhu minimal 60-70 derajat Celsius selama 30 menit, maka tidak membahayakan manusia. Karena dengan suhu pemanasan tersebut, bisa menginaktivasi virus PMK.

Cara penularan PMK ke hewan lain bisa melalui kontak langsung dalam satu kandang dengan hewan terinfeksi atau hewan yang sehat kontak dengan cairan hewan yang sakit; seperti liur, feses, atau alat-alat dan sisa pakan. Penularan juga sangat riskan terjadi apabila paramedik sehabis menagani hewan yang sakit, kemudian menangani hewan yang sehat, ini akan menularkan virus tersebut dan penularannya sangat masif, malah hewan bisa merilis virus tanpa ada terlihat sakit, karena tidak semua hewan menunjukkan gejala klinis. Hal inilah yang perlu menjadi titik kewaspadaan bagi manusia, jangan sampai menjadi reservoir aktif yang menyebarkan virus PMK. Apalagi jika hewan disembelih di sembarang tempat, darah, liur, jeroan dan sisa-sisa pemotongan lainnya bisa mengontaminasi lingkungan.

Tindakan pemberlakuan pembatasan wilayah dan vaksinasi yang saat ini telah diinstruksikan oleh Kementan menjadi solusi yang paling tepat untuk mencegah penyebaran fatal dan diharapkan bisa menjadi langkah awal mengentaskan PMK ini. Saat ini manusia sebagai reversior (tempat/sumber agen infeksi dapat tumbuh dan berkembang biak) harus lebih waspada, jika peternak atau petugas kesehatan, seperti dokter hewan yang menangani hewan sakit tersebut kemudian menularkan ke hewan lainnya, seperti yang disebutkan di atas, penyebaran virus ini sangat cepat dan bisa berakibat fatal.

Pencegahan dengan biosekuriti, seperti perlindungan zona bebas dengan membatasi pergerakan hewan, pengawasan lalu lintas, disinfektan aset dan peralatan atau material yang terinfeksi seperti kandang, mobil pengangkut hewan, baju-baju yang dipakai para petugas saat kontak dengan hewan terinfeksi, hewan baru sembuh atau hewan yang kemungkinan kontak dengan hewan terinfeksi. Musnahkan bangkai dan semua material yang terinfeksi, serta tindakan karantina atau pembatasan lalu lintas hewan. Hewan-hewan ternak dari daerah wabah sebaiknya dilarang masuk ke daerah yang belum tercemar. Beberapa pencegahan dan tindakan medis untuk daerah yang sedang wabah bisa dengan vaksinasi virus aktif yang mengandung adjuvant.

Karena beberapa daerah Aceh sudah dinyatakan sebagai daerah wabah, perlu adanya pengobatan dan pengendalian. Untuk itu bisa dilakukan pemotongan dan pembuangan jaringan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti pada kuku kaki. Kaki yang terinfeksi diterapi dengan clhoramphenicol atau cuprisulfat. Injeksi intravena sulfamidine  menurut laporan juga efektif terhadap virus PMK.

Sementara untuk hewan yang tidak terinfeksi harus ditempatkan pada lokasi kering dan diberikan pakan yang cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mereka juga memerlukan asupan vitamin. Pada kaki hewan yang sehat bisa dioles cuprisulfat 5% setiap hari selama satu minggu untuk mencegah tertular PMK. Sebaiknya, peternak segera melaporkan pada pihak berwenang seperti dinas peternakan atau dokter hewan, jika ada hewannya yang terindikasi sakit. Setiap peternak pasti tahu hewannya sakit, hal ini dapat dilihat melalui tanda-tanda hewan menjadi lemah, nafsu makan menurun, jika diperiksa lebih lanjut, ada demam, ada luka-luka di kuku, di mulut dan ada air liur yang banyak. Liur ini mengandung virus.

Sekali lagi, masyarakat tidak perlu panik karena risiko tertular manusia kecil dan bisa dikatakan tidak ada. PMK bukan masalah kesehatan masyarakat dan bukan masalah kesehatan pangan. Apalagi selama konsumen makan makanan yang matang. Dimasak di atas suhu 70 derajat selama 30 menit. Intinya daging aman dikonsumsi manusia. Pemotongan hewan jangan dilakukan di sembarang tempat, harus di RPH yang diawasi oleh dokter hewan dan paramedis sehingga benar-benar hewan yang sehat yang disembelih dan dan hanya daging serta bagian hasil pemotongan yang sehat yang diperjualbelikan. Produk hewan yang sudah diolah dengan proses pengolahan seperti susu UHT, nuget, sosis, daging asap, aman dikonsumsi oleh manusia.

Semoga virus PMK lekas musnah dari negri kita dan Indonesia kembali bebas PMK, terutama untuk masyarakat Aceh yang dikenal dengan tradisi meugang jelang Iduladha ini, kita sama-sama berharap semoga Allah menjauhkan kita dari marabahaya dan bisa berhari raya dengan gembira seperti biasanya.[]  

drh. Syarifah Aini medicus_84@yahoo.com (Anggota Medicus 2001 FKH USK, ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Aceh)

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.