Antara Sudah, Belum, Siang, Malam, Timur, dan Barat

“Sudah salat, Kib?” “

“Udah di tempat Naufal tadi.”

Kapan ke tempat Naufal-nya. Akib barusan aja sama Bunda duduk di depan waktu azan.”

“Oh..eh.. maksudnya. Barusan azan, ya?”
“Betul, Nak. Salat sekarang, ya.”
“Iya, Nda.”

Penggalan dialog itu antara aku dan Akib. Mungkin kalau aku orang lain akan mengira Akib sedang ngeles tak mau salat, tapi karena percakapan itu adalah antara aku ibunya, seorang disleksik yang tahu persis bagaimana struggling-nya hidup selaku penyandang disleksia, semuanya jadi selesai tanpa konflik berarti.

Disleksia bukan hanya perihal kesulitan baca tulis. Dalam pemaparan berdasarkan penelitian valid, otak kami secara anatomi sama saja, tapi tidak secara fungsi, ini dibuktikan dari tes functional Magnetic  Resonance Imaging (fMRI) pada individu disleksia. Di mana hasil tes memperlihatkan area otak yang aktif saat melakukan suatu kegiatan ditandai dengan meningkatnya aliran darah ke area tersebut.

Anak disleksia menunjukkan pola aktivitas otak yang berbeda dibandingkan pola aktivitas otak individu yang tidak menyandang disleksia, yaitu menunjukkan peningkatan aktivitas di area otak bagian depan saja. Pada pemeriksaan magnetoencephalography memperlihatkan bahwa kalau individu normal dipaparkan pada kata-kata bermakna atau pun tidak bermakna selama 300 ms setiap detik, maka ternyata individu normal akan menunjukkan aktivasi 180 ms kemudian di otak sebelah kiri di area temporo-occipital, sedangkan individu disleksia tidak menunjukkan aktivitas di area tersebut, malah menunjukkan bagian depan otak yang merespons sekitar 400 ms setelah terpapar kata-kata tersebut.

Seperti itulah beberapa dasar  neurobiologis  disleksia. Lalu apa perlunya mengetahui hal tersebut?

Banyak yang tidak menyadari peran pola asuh orang tua dan guru terhadap kehidupan dan masa depan anak disleksia. Penghakiman, kesalahpahaman, dan bahkan hukuman tak ayal akan terus ditujukan kepada anak-anak disleksia.

Sebab sebenarnya cara menghadapi individu disleksik tidaklah sama dengan anak lainnya. Penanganan yang salah akan memperparah dan memperburuk kondisi anak disleksia, di mana ketika akomodasi yang pantas tidak ia dapatkan, segala kecendrungan dan talentanya tenggelam bersama amukan amarah dan kekesalan orang tua atau pun guru.

Ketika ia bosan, hal yang ia lakukan bisa saja disangka tidak beradab. Gerakan dan gestur yang tak mampu dikendalikan, tiba-tiba kesopanan menghilang dari dirinya, dan banyak hal lain yang ia lakukan yang bisa memancing rasa kesal guru yang ia sendiri merasa itu tak ada masalah.

Pernah Akib menghilang dari sekolah sejak Zuhur hingga Asar. Guru sudah sibuk mencari, sudah pula menelpon kami. Aku selalu meyakinkan hati akan perlindungan dari Allah, doaku di setiap saat adalah, ketika ia hilang dari mataku maka kuharapkan penjagaan lebih dari-Nya. Aku yakin akan hal itu. Jadi tidak ada kepanikan yang terlalu ketika mendengar Akib tak tahu keberadaannya di mana.

Asar ia kembali dengan kondisi sehat walafiat. Ketika ditanya ke mana, tanpa merasa bersalah ia mengatakan bahwa ia mengantar teman barunya ke rumah kakeknya. Rumah kakek anak tersebut tak jauh dari sekolah, hanya berjalan kaki sekitar 500 m jaraknya. Akib kemudian berkeliling sebentar karena ia mengaku sangat bosan di kelas. Sumpek, seperti itu kurang lebih kata yang mewakili perasaan yang ia paparkan panjang lebar kepadaku. Akib susah minum dan tak suka sayur, gangguan pencernaan yang kerap ia alami adalah konstipasi dan itu terjadi sebelum ia kembali ke sekolah. Ia BAB di sebuah toilet masjid. Ke toilet pun ia sangat pemilih, ia ingin toilet yang terang dan bersih, bahkan saat di rumah sewa kami dulu, ia berusaha menabung untuk merehab toilet di sana, hanya saja ia tak konsisten dan kami keburu pindah ke rumah yang lain.

Di toilet masjid ia nyaris menghabiskan waktu satu jam setengah. Biasanya memang begitu, pun di rumah. Jadi ia terlambat balik ke sekolah dan sempat disangka cabut oleh gurunya. Alhamdulillah Ustaz-nya sangat mengerti Akib. Tidak ada hukuman melainkan nasihat yang membuat Akib paham kalau apa yang ia lakukan nyaris disangka kenakalan.

Aku sendiri juga tak luput dari banyak kekonyolan. Salah satunya adalah bisa lupa kiblat ketika salat di rumah sendiri. Barangkali kalau ada tamu yang datang dan tak paham siapa diriku akan mengira aku seorang munafik. Mengaku muslim tapi jarang salat, buktinya kiblat di rumah sendiri saja bisa lupa. Padahal ingatanku yang lebih lompatan sering mengacaukan pikiranku. Misalnya aku menandai kiblat berdasarkan letak jendela, jika aku berpindah ke ruangan satunya lagi dan di sana ada jendela yang persis sama, maka aku akan dengan santai membentangkan sajadah merujuk arah jendela tersebut walaupun sejatinya arah kiblat bukan ke sana.

Comments (4)

  1. Irni Irmayani

    wah aku baru tahu diseleksia seperti itu mbak. kirain gak bisa baca aja

    Reply
    1. aini (Post author)

      Hehe…masih banyak Mbak, terima kasih sudah mampir yaa

      Reply
  2. Okti Li

    Wah pengalaman seru nih Mbak… Saya ikut belajar dan memahami. Sehat selalu ya Akib. Semoga Allah selalu menjagamu.

    Reply
    1. aini (Post author)

      Terima kasih doanya ya, Teh…doa yang baik untukmu juga. Aamiin.

      Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *