Author Archive: aini

About aini

Istri Eun Yud yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya Akib, Biyya, dan Faza. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, namun belum sepenuhnya bisa seperti mereka. Hanya seseorang yang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dunia rabbitry dan hmm... banyak lagi. Saat ini menjabat sebagai Bunda dan asisten (tepatnya drh pribadi) Eun Yud yang punya puluhan ekor kelinci. Jadi just call me dokter hewan subspesialis kelinci :D

Adab Menuntut Ilmu

 Sebelum mengeposkan tulisan ini, akan dijelaskan sedikit bahwa ini merupakan catatan kelas matrikulasi Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP Batch #3 Sumut-Aceh). 

 Dengan bismillah, Bunda kembali mengatur waktu, masih dengan debar yang sama saat pertama sekali mempunyai kalian duhai ananda, betapa dirasa beratnya amanah ini. Menjadi Bunda bagi kalian anak-anak yang  telah Allah titipkan. Bunda tahu sebab sangguplah maka Allah berikan, di samping syukur yang terus kami rapalkan, kami pintakan agar selalu dibimbing-Nya mengasuh dan mendidik kalian. Bismillaah Bunda bisa, harus bisa menyiapkan gelas-gelas kosong untuk kerap menimba ilmu, dan entry kali ini adalah materi kuliah bersambung yang disampaikan di IIP Batch 3 dengan sudah seizin fasilitator diposting berseri di blog pribadi dengan harapan bisa mendatangkan manfaat sebanyak-banyaknya untuk yang membacanya, juga sebagai pengingat diri.

 

PROLOG 1

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL

☘☘☘☘
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.
☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Majelis Lukmanul Hakim

Merupakan sebuah kebahagiaan yang tak terperi ketika pasangan kita memiliki kemauan menolong dan bersinergi dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak yang notabene diamanahkan untuk kita berdua, bukan salah satunya, bukan dimanahkan pada ibu saja, bukan pula pada ayah saja. Kali ini fokus pada stigma yang umum terlihat di masyarakat, dimana pengasuhan dan pendidikan anak-anak adalah tugas ibu. Apalagi populernya gaung ‘ibu adalah madrasah pertama bagi anak’, diikuti dengan kalimat ‘tugas utama ayah adalah mencari nafkah’, yang pada akhirnya semakin mengikis peran ayah dalam pendidikan sehari-hari di rumah.
Sebenarnya ini hanyalah sekedar pengantar resume dari pertemuan Majelis Lukmanul Hakim yang digagas oleh komunitas Home Education Aceh pagi tadi 21 Januari 2017 di aula 3 in 1 Coffee, Lampineung. Lalu siapa saya ya, peserta atau anggota komunitas? Hehe… bukan. Saya hanyalah seorang istri yang sedang sumringah, berbunga-bunga dan bahagia karena ‘Partner Segala Hal’ saya dengan semangat yang cukup stabil (saya kurang suka yang menggebu-gebu, jadi kurang seimbang dan terlihat labil) sejak bulan lalu sudah berniat ikut andil dalam pertemuan pertama Majelis Lukmanul Hakim ini yang kemudian sampai hari H, beliau tetap dengan semangat yang sama turut hadir di pertemuan perdana.
Awalnya saya menceritakan buku Ustad Aad (Adriano Rusfi) yang belum saya miliki satu pun (kasihan saya) dan menceritakan pemaparan beliau mengenai pendidikan anak. “Saya melihat/membaca dalam alquran mengenai pendidikan anak. Kemudian saya menemukan satu nama Lukmanul Hakim, dimana nama tersebut pun menjadi salah satu nama surat dalam alquran. Kemudian saya juga menemukan nama Ali Imraan. Membaca lagi bagaimana kisah Ibrahim yang membekali pendidikan Ismail dan masih ada yang lain di dalam alquran. Setelah saya telaah dan teliti lagi, kesemuanya itu jenis kelaminnya laki-laki. Semuanya adalah seorang Ayah. Jadi saya mengambil kesimpulan bahwa pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab seorang Ayah, bukan ibunya. Ibu bertanggung jawab atas pengasuhan anak.”
Tring! Di atas itu adalah intro saya saat pillow talk pada hari saya mengikuti seminar parenting Fitrah Based Education. Saya lanjut memaparkan beberapa hal yang saat itu amat lekat diingatan, karena ada hal-hal yang barangkali lebih detail terlewat oleh saya, sebab sesuatu terjadi saat berlangsungnya seminar yang mengharuskan saya keluar sekitar 40 menit (mungkin lebih) karena mendapat kabar yang mengejutkan, sepupu saya yang sedang dirawat di RS meninggal. Saat kembali ke ruangan fokus saya mulai terpecah dan catatan yang saya buat di note telepon selular tidak tuntas.
Seperti biasa, Eun Yud cukup antusias. Sebagaimana ia selalu memfasilitasi keinginan saya untuk belajar dan turut serta berikhtiar menimba ilmu serta berdoa dalam-dalam agar Allah kerap membimbing kami dalam mendidik dan mengasuh anak-anak. Kita sudah berikrar sejak awal menikah untuk menjadi pribadi pembelajar, bersinergi sepanjang usia, dan berniat bahwa ini upaya kami agar kelak bisa bertemu lagi di Surga-Nya. Karena dalam diskusi panjang kami setiap ada kesempatan, kami sadar apalah kami, bukan seorang alim ulama, bukan pula seorang ahli ibadah. Apa modal kami untuk memiliki anak yang saleh dan saleha? Tentu hanya satu, ikhtiar. Nah, itulah yang kami kerjakan selagi nafas dikandung badan.
Lalu dari sanalah diskusi kami malam ini bermula. Dengan beberapa lembar catatan yang dibawa pulang oleh si ayah. Bunda yang pelupa ini tentu harus mencatat kembali demi mengekalkan ilmu yang bermanfaat tadi. Kami memang sedang berkompetisi siapa yang paling punya kontribusi di dalam keluarga inti dan selanjutnya saling mengapresiasi.
Oh well, ini pengantar yang cukup panjang untuk beberapa poin yang sempat dicatat Sang Kapten kami di Majelis Lukmanul Hakim tadi, semoga bermanfaat terutama untuk kami yang fakir ilmu ini.

Intro
Poin pertama yang disampaikan tentu saja penegasan bahwa Ayah adalah seorang pemimpin, harus memiliki visi dan misi. Seorang Ayah cenderung menggunakan kekuatan finansial untuk mendekatkan dirinya pada anak-anak. Ayah adalah penanggung jawab keluarga yang kemudian akan mentransfer sisi maskulinnya pada anak. Ayah memiliki ego kuat yang mempengaruhi.
Seorang anak selain kuat sosialisasinya, perlu juga dikuatkan individualisasinya, di sinilah pentingnya peran ayah. Ibu biasanya mengajarkan mengenai sosialisasi dan anak yang tidak kuat individualisasinya akan mudah terombang ambing pergaulan, selagi lingkungannya mendukung kebaikan maka ia akan baik dan ketika terpapar pergaulan buruk, ia kan mudah terikut.

Pandangan Islam Tentang Peran Ayah

  • Dalam Alquran ada surat Annisa, tidak ada surat Arrijal, tetapi dalam surat Annisa dikatakan bahwa lelaki adalah pemimpin kaum perempuan.
  • Tugas utama laki-laki adalah menjadi pemimpin. Mencari nafkah adalah penopang kepemimpinan.
  • Setiap turun ayat mengenai perempuan dan anak, maka Rasulullaah mengajarkannya kepada laki-laki.
  • Doa anak akan didapatkan oleh ayahnya jika ayah tersebut mendidik anaknya di waktu kecil. Hal ini sesuai dengan apa yang dilafadzkan dalam doa “Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayaani shaghiraa” sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu aku kecil. Nah, bagaimana kita menyayangi anak kita di waktu kecil?
  • Tugas ayah adalah mendidik anak dan ibu tugasnya mengasuh anak. Melahirkan, menyusui, dan lain-lainnya sudah sangat menguras energi ibu, jika pengasuhan dan pendidikan semuanya dilimpahkan kepada ibu, akhirnya ibu yang kelelahan serta disergap emosi negatif yang memberikan pendidikan untuk anak-anaknya.

Ketika Ayah Lepas Tangan

  • Lahirlah generasi remaja
  • Anak kehilangan ketegasan, tidak berani tampil beda
  • Ibu repot sendiri, frustasi, mudah emosi bahkan bisa jadi depresi.
  • Anak tujuh kali lebih rentan terhadap penyalahgunaan Narkoba.
  • Kurang rasional, tidak mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan.
  • Ayah tidak mendapatkan doa anak.

Percepatan baligh bisa ditekan dengan masalah, ayah perlu memberikan masalah. Dengan memberikan masalah, maka anak akan berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah, tentu saja ayah hanya membimbing tidak mengintervensi setiap tindakan yang dilakukan anak.

Jika Ayah Sibuk

  • Evaluasi kembali sebenarnya kita mencari nafkah untuk apa dan siapa?
  • Jadilah pekerja yang cerdas
  • Jika fisik tak sempat, minimal hati, empati dan perhatian.
  • Gunakan segala sarana komunikasi yang ada.
  • Menangani anak sangat berguna untuk pekerjaan
  • Kenapa kita tidak libatkan saja anak?
  • Jika terpaksa, delegasikan ke ibu.
  • Memberikan permasalahan kepada anak.
    Anak 7 tahun ke atas sudah boleh dberikan permasalahan
    Anak terlebih dahulu sudah dibekali solusi
    Jangan merasa takut membagi permasalahan dengan anak.
  • Jangan lupa tetap memahami dunia anak yang penuh dengan keceriaan
  • Pada dasarnya anak-anak suka dengan permasalahan dan misteri
  • Model pendidikan jangan terlalu mengalah pada zaman dan jangan terlalu mengalah dengan waktu.
  • Pentingnya mematangkan anak.
  • Mastermind dalam sebuah musyawarah diperlukan. (Penjelasannya cukup njlimet ini, intinya keputusan dalam musyawarah harus diayahfikasi terlebih dahulu). Sebuah seni mengarahkan.

Tips Bagi Ayah yang Sibuk

  • Delegasikan kewenangan
  • Keep in touch
  • Konsekuensi learning (Arrum 41)
  • Sebahagian nafkah ke istri (Annisa 34)
    Kesempurnaan terjadi jika ada titik keseimbangan terbentuk. Titik keseimbangan inilah yang harus dicapai.

 

Peran Ayah

  • Man of vission and mission
  • Penanggung jawab keluarga
  • Konsultan pendidikan
  • Sang ego dan individualitas
  • Pembangun sistem berpikir
  • Penegak profesionalisme
  • Supplier maskulinitas
  • ‘The King of Tega’

Pencapaian itu sangat penting, jadi harus ada goal getting dan goal setting bukan sekedar problem solving. Harus ada langkah-langkah menuju tujuan.

Demikian resume pertemuan Para Ayah Hebat pagi tadi. Walau secara pemaparan langsungnya akan sangat menarik, apalagi berkumpulnya para Ayah lengkap dengan cangkir-cangkir kopinya, tadi saat sharing materi ini ke saya terlihat ada binar optimisme dan kebahagiaan di mata Eun Yud. Tentu adanya aura semacam ini karena baru saja mengisi penuh baterai saat berkumpul tadi.  Ada sekitar 50 ayah luar biasa yang berpartisipasi.

Tentu ini amat besar manfaatnya untuk negeri yang pernah terdengar oleh kita kemarin bahwa Indonesia termasuk Fatherless Country karena adanya peningkatan kenakalan remaja, kita dikatakan negeri tak berayah, juga merujuk pada banyaknya single parent wanita. Anak-anak besar tanpa sosok ayah.

Seminar-seminar parenting yang pernah saya datangi menunjukkan fenomena ini masih bertahan, dimana biasanya ayah atau kaum lelaki yang datang hanya segelintir saja, kalau sudah membicarakan pengasuhan dan pendidikan anak, kaum perempuan yang merasa wajib untuk hadir.
Majelis Lukmanul Hakim ini sangat direkomendasikan untuk para ayah ataupun calon ayah. Termasuk untuk para paman yang menjadi wali para ponakannya ketika mereka membutuhkan figur seorang ayah, misalkan ayah mereka menghadap Allah lebih cepat.

 

Akan ada sensasi yang berbeda saat para ayah yang memiliki misi sama, yaitu untuk memulai penguatan dari rumah, duduk semeja. Langkah seperti ini sudah harus dimulai dan gaungnya harus terus ditingkatkan. Hal sekecil apapun itu akan bisa menyelamatkan generasi kita. Bagi saya ini adalah kegiatan yang terlihat kecil tapi berdampak besar seperti yang pernah disebutkan oleh Pak Abdul Mu’ti, jangan pernah remehkan kaderisasi keluarga. Jika keluarga hancur, kehancuran negara tinggal menunggu waktu saja. Ini merupakan strategi longitudinal, yakni mendidik anak-anak sekarang, dimana ke depannya mereka-mereka inilah yang akan menjadi orangtua.

Semoga dimudahkan-Nya. Aamiin ya, Rabb.

 

Waktunya menerapkan apa yang sudah didiskusikan tadi. Semoga para ayah di Majelis Lukmanul Hakim tetap terjaga semangatnya.

Catatan Senggang

Masih dalam perjalanan ke Gedung Dakwah Muhammadiyah. Rapat dengan teman-teman dan kajian. Ibu negara yang biasanya dikawal hari ini harus blusukan dengan angkutan umum. Eun Yud dan Uncu masih dikarantina. Si Abang Naufal masih ada kelas. Jadi Bunda sudah di jalan menuju ke lokasi dengan labi-labi jurusan favorit. Agak canggung tanpa Faza, jadi tidak ada bahan bacaan juga, melirik ke penumpang lainnya yang macho dan rada garang, di sini barangkali sudah dikategorikan kota ya, walau bagi Bunda ini mah, masih di seputaran Gampong, kita masih boleh saling sapa dan menghalau tabiat individualistik karena toh tidak sehectic di kota-kota besar.

Kepala berbenturan ide dan bising sendiri bercakap-cakap. Kalau ada Faza tentu lain ceritanya.

Pemuda di depan Bunda merokok, tapi tangan kanannya terkulai sepertinya bukan cacat bawaan tapi patah. Dari kesal karena rokoknya yang masih mengepul, Bunda ingin mendoakan semoga diberi hidayah agar tidak lagi merokok di tempat umum, tapi paling tidak ada usaha juga menunjukkan Bunda tidak suka asapnya dengan menutup hidung dan terbatuk.

Mengingat anak-anak dan Eun Yud yang sedang sakit, sejak beberapa hari sedih saja, mau sedang main atau bekerja, air mata ngalir sendiri. Berdoa lekas waktu berlari dan obat-obatan atau suplemen yang dikonsumsi lekas bekerja, semua sembuh seperti sediakala.

Nah, sediakala… sementara pemuda di depan Bunda seolah tak lagi dapat berdoa hal yang sama. Patah tulang atau semacam apalah itu, akan membuat cacat permanen di tangan kanannya. Bunda bersyukur ternyata masih bisa berdoa dan berharap kesembuhan yang sesungguhnya.

Melepas pandang ke luar jendela labi-labi dan menemukan salah satu titik proyek fly over Kota Banda Aceh masih dalam pengerjaan dan memaksa labi-labi berbelok mencari jalan alternatif. Membatin kapan ini akan selesai dan warga bisa bepergian keliling dengan nyaman lagi. Ruko-ruko bisa kembali menggeliat menarik pembeli tanpa harus disesaki bisingnya proyek dan debu polusi. Lagi-lagi waktu yang mengambil porsi peran paling besar. Mencintai proses tiba-tiba saja harus menjadi keharusan.

Tepat pukul 13.28 Bunda sampai di lokasi pertemuan. Panas yang tadi menyerigai garang agaknya sedikit meredup.

Saatnya menutup gadget yang sedari tadi Bunda pakai untuk mencatat apa saja aksara yang berkata-kata dalam kepala. Kembali ke dunia nyata dan menyapa Pak Wan security di Gedung Dakwah Muhammadiyah.

Rekam jejak 24 sept 2016♥0

Sebab Kita Sedang Berjuang

Kita Sedang Berjuang

Sebab kita, Nak… sedang berjuang. Tidaklah sama kondisi kita dengan yang lain. Barangkali ada sedikit kesal kenapa Ayah dan Bunda turut menarik kalian ke dalam pusaran perjuangan, tapi yakinlah anak-anakku, kita akan memanen apa yang telah kita semai. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tidak pula sama nilainya di mata Yang Maha Kuasa yang berpeluh dan tanpa berjuang mengejar nikmat dan hidayah-Nya. Maka simpanlah seonggok kesal dan uraikanlah dengan segala prasangka baik pada-Nya.

Sebab, Nak, kita ini sedang berjuang. Perpanjanglah sumbu sabar. Ini bukan sebuah lelah tak berujung.

  • Lamteungoh, di tengah kedahsyatan rasa itu. Di tengah perjuangan bak gelontor gemuruh panjang menghantam.

Ketika Aku Berada di Atas Angin

Ketika aku berada di atas angin

Ketika aku berada di atas angin
Adakah satu dua orang yang berucap ingatkan aku untuk kembali menepaki tanah

Ketika aku berada di atas angin
Adakah sepasang tangan yang rela merangkulku dengan setulus hati lalu menuntunku untuk kembali ke bawah

Ketika aku berada di atas angin
Adakah benang merah tetap mengait mesra pada kucuran nadiku dengan penuh cinta atau mereka jengah karenaku kerap tengadah

Ketika aku berada di atas angin
Melampaui batas diriku
Dari atas tampak oleh pandanganku betapa semua mengecil

Adakah lambaian tangan yang sayup memanggilku pulang
Atau sepasang tangan penuh cinta lembut melambai menggumamkan “Nak…”

Atau sepasang tangan yang dimiliki jiwa lapang tersebut hanya tersenyum dari bawah

Mengernyit melihat silaunya apa yang kudapatkan
Walau hati tak pernah ragu mereka turut bahagia
Saat aku berada di atas angin
Sepasang binar cinta memandangiku bangga tapi lambaian tangannya tak menyuruhku turun

Ketika aku berada di atas angin
Dielukan dipuji-pujikan
Dipenuhi kenangan sebuah perjuangan tentang betapa sulitnya terbang
Mozaik-mozaik perjuangan dengan lembaran-lembaran tangan dan wajah
Sebagian wajah memudar hilang
Sebagian lagi tampak terang

Ketika aku berada di atas angin
Mengoyak batas angan
Menyemburat euforia
Melupakan siapa sebab kuhadir ke dunia
Cukup tahu saja untuk siapa aku ada

Ketika saat itu…
Kukerat kata agar tak lupa

November 30th Funniest Disaster (no.. no more, kiddos!)

Sebenarnya niat menyalakan laptop malam ini tak lain dan tak bukan adalah untuk menyelesaikan sebuah worksheet lagi untuk anak-anak kelas 9. Tapi sampai ke rumah tadi sore lalu disambut dengan senyum Akib dan Biyya plus celoteh mereka berdua pasca dijemput si ayah tadi siang, membuat fokus si bunda ini hilang sekejap mengenai tugas luar. Disimpan, dilipat yang rapi dan disembunyikan di balik karpet ruang tengah untuk sementara waktu. Langsung menyiapkan makan malam sambil melayani celotehan kedua kakak adik itu, sementara Faza sudah tidur.

ab6a0af3a26efc4290478714140d9f66

Ah, Akib Biyya! Akur-akurannya nggak pakai lama. Entah apa asal mulanya, Biyya jadi sebal sama Akib. Akib juga semakin menjadi-jadi menggoda Biyya. Magrib menjelang dan seperti biasa kita salat berjamaah. Biyya masih dengan seonggok kesalnya salat masbu’ satu rakaat. Akib juga ba’da salam masih juga mengomentari Biyya yang arah manik matanya tidak ke tempat sujud. Padahal tadi si bunda sudah bilang, “ayo, Biyya… pergi wudhu terus supaya setannya pergi, marahnya reda.”

Ayah dan Bunda tidak begitu menggubris sengketa yang nggak jelas asal mulanya, sepertinya tadi tidaklah seserius itu, hanya karena salah gambar dan buku Biyya sobek sedikit, Biyya tidak terima, Akib juga ogah minta maaf. Kami juga tidak memaksa salah satunya minta maaf, tapi tetap bilang hal seperti itu jangan dibesar-besarkan Biyya, dan Akib kalau memang tidak sengaja sebaiknya dijelaskan ke Biyya. Nah, bagus kalau ada yang minta maaf dan lainnya mau memaafkan. Tapi keduanya bersikeras tidak ada yang mau mengalah apalagi minta maaf.

Baiklah, usai salat kita ada tausiyah dan sedikit diskusi. Biyya yang masih kesal ikut dengan tertib termasuk mengaji, mengambil buku iqra-nya dan mengulang setengah halaman. Bang Akib justru melendot di samping bunda, mendengarkan bunda baca quran supaya dapat rahmat. Iih, ini ikut ayah atau bunda, ngeles nggak baca nyimak doang. Oke, bangkitlah, Kib, giliran Akib mengaji. Malam ini Akib berhasil mengelak karena sudah waktunya makan malam. Masih dengan berdebat hal yang tidak penting di meja makan, Ayah minta Akib dan Biyya lebih tenang. Acara makan berlangsung lancar dan khidmat. Kecuali Akib yang tidak menghabiskan nasinya sekitar tiga suap. Di meja makan si ayah ada panggilan juga, Tengku Ballah memberi kabar akan bertandang ke rumah sekejap. Oke… sulit melepaskan telepon selular kalau sudah mulai ada panggilan tiba-tiba.

Ayah balik lagi bergabung ke meja makan tapi dengan si seksi tadi, penarik perhatian nomor satu. Si telepon genggam. Mulailah percakapan banjir Singkil tadi terputus. Tema jadinya entah kemana-mana. Sejauh ini situasi under control. Bunda menegur kuku Akib yang mulai panjang. Biyya yang hobi sekali menggunting kuku, berinisiiatif lebih dulu mencari penjepit kuku. Nah, iniah muasal perkara besar malam ini.

Ya, benar kita punya beberapa penjepit kuku dengan berbagai ukuran. Hanya satu yang masih baru, mengkilat, tajam dan jadi favorit. Biyya yang sepertinya sejak tadi masih ‘belum terurai’ perasaannya, mulai lagi membuat Akib kesal. Akib juga sudah mengantri jepit kuku favorit tadi. Selain membuat lama proses pemotongan kuku tangannya, Biyya mulai lebay ingin memendekkan lagi kuku kakinya. Pada dasarnya itu tidak begitu urgen. Bisa dilihat dari kuku kakinya yang masih pendek dan bersih. Ada saja cara Biyya supaya penjepit kuku itu tetap   di tangannya. Ini si abang yang sejak awal juga semakin besar gondoknya dengan si adik. Pecahlah perang suara.

“Sssttt… Dedek Faza bobok sayang, jangan ribut. Ayo kakak adik harus sayang-sayangan…” cara persuasif dilaksanakan, karena kalau larangan jangan berantem akan semakin memantik perselisihan. Mulailah saling mengeluh tidak suka abang yang begini, tidak suka adik yang begitu. Suara naik sekian oktaf. Seperti biasa si bunda minta tolong ke ayah untuk menggondol kakak adik ini ke teras supaya mereka bisa meanjutkan adu mulut dengan adu jotos sekalian tanpa mengganggu kami seisi rumah yang butuh ketenangan.

“Ayah, tolong angkat Akib, Bunda gendong Biyya ke luar!” ini klimaks. Gendongan yang tidak dirindukan keduanya adalah saat ini. Biyya yang fisiknya lebih terlatih dibanding Akib, tentu saja bunda urus duluan. Langsung, deh, dia ngacir sambil bilang kalau mereka sudah akur. Akib demi melihat penjepit kuku yang tergeletak langsung memungut dan mulai memotong kukunya sambil menyalah-nyalahkan Biyya yang memulai keributan ini. Melihat gelagat Akib yang belum bisa berdamai, bunda masih usaha menangkap Biyya yang ternyata cukup licin seperti lele- berhubung bunda belum pernah nangkap belut, baru kaliber ikan lele- sungguh Biyya sulit dicekal. Dia juga mahir mencari tempat yang membuat proses ini beribet. Meja makan. Kami berputar mengitari meja makan. Bunda harus mengeluarkan sedikit jurus Harimau Menepis apalah gitu, untuk bisa mencengkeram gadis yang rutin main pencak silat setiap minggu itu. Lengannya dapat, mulai bunda apit kedua kakinya supaya lebih nyaman. Eh Biyya nya malah meronta jadi kaki satunya lagi terjuntai. Bunda hanya memegangi satu lengan satu kaki. Jarak meja makan ke pintu keluar sekitar sepuluh langkah, supaya Biyya tidak sakit, bunda singkat dengan berlari.

Ayah siaga dengan Akib, tapi lebih cekatan bunda lagi. Penjepit kuku terlepas dari tangan Akib, bunda tarik Akib ke luar. Akib dan Biyya sudah di teras dan pintu bunda kunci. Histeria Akib yang tidak suka dikunci di luar, ia mulai menggedor sampai Faza terganggu tidurnya. Bunda mengurus Faza, Ayah keluar mengurus Akib dan Biyya. Untuk menenangkan Akib ayah berikan satu gertakan di kaki Akib. Ayah juga menantang Biyya dan Akib adu jotos di teras. Dihadapkan berdua. Selesaikan sengketa, habis-habisin kesal. Mereka cuma gagu, menangis keduanya. Ayah mulai pidato Akib masih belum bisa menstabilkan emosinya. Matanya masih menyala, Biyya mulai menyesal dengan apa yang terjadi dan mereka harus berakhir di teras rumah menjelang isya. Ayah melanjutkan pidato sambil nggak mau rugi waktu. Hehe… kasih pakan kelinci dan isi penuh dot mereka semua. Di teras ada tumpukan daun Indigofera, di samping itu Akib dan Biyya duduk bersandar ke dinding. Pidato ayah terus berlanjut. Bunda tidak tahu lagi apa kejadian, tapi dari dalam terdengar suara pidato ayah saja. Hahaha…

Terdengar Akib mengulang hafalan doa iftitah, bergantian dengan Biyya. Di sekolah mereka diajarkan doa iftitah Allaahuakbar kabira… sementara di rumah kita juga menghafal yang lebih singkat Allahumma ba’id… Biyya antusias. Laporan terkini dari ayah, Biyya tadi mencoba tenang, dewasa dan mencairkan suasana. Akib masih dengan amarah membara dan tidak terima. Faza minum dan minta makan, karena memang belum sempat makan malam tadi langsung tidur. Setelah selesai bunda elus punggungnya dan melanjutkan tidur lagi.  Bunda wudhu dan pakai mukena. Beranjak ke teras. Meihat ayah sedang mempreteli daun indigo dari tangkainya. Akib dan Biyya masih bersandar dengan kaki ditekuk. Keduanya memeluk kaki dan bersandar ke dinding. Terenyuh hati bunda menyaksikannya.

“Gimana kalian berdua?” bunda tanya dan Akib langsung menoleh ke bunda dengan mata yang memerah dan kali ini memelas. “Kami udah baikan.” Sekilas bunda bertanya kenapa hanya menatap ayah yang sedang menyiangi pakan kelinci, bukannya ikut membantu. Akhir cerita bunda suruh keduanya masuk, sebeum tidur ambil wudhu dan salat isya. Bada isya Biyya masih dengan hafalan doa iftitah dan meminta buku berisikan doa tersebut. Ia keluar lagi memamerkan buku itu ke ayah. Malah minta menyetor lagi nanti. Biyya … Biyya…

 

ignore-them

Menyapih (Faza) Dengan Cinta -WWL versi Bunda dan Faza-

15 november lalu, Faza genap berusia 2 tahun. Sudah sekitar 4 bulan sebelumnya kami sounding tentang sapih. Awalnya reaksi Faza lucu sekali, tapi apapun itu memang namanya baby kerap menggemaskan.

“Faza, sebentar lagi disapih ya…” kata si ayah mengingatkan. Terburu-buru ia menuju kotak mainan dan mengambil mainan sapinya. Menunjukkan ke si ayah sambil bergumam “mooooo! Sapi, sapi!” Meledak tawa kami seluruhnya. Kak Biyya dengan lengkingan khas dan memamerkan gusi depannya yang masih ompong.

Menjelang setengah bulan akan disapih sungguhan, aku pergi menghadiri Musda NA di Nagan, Aceh Jaya. Malam itulah pertama sekali Faza tidak disusukan menjelang tidurnya. Kalau tidur siang memang sudah pernah beberapa kali dinina bobokan Uncu. Hanya berbekal elusan di punggung, air putih, susu formula, teh, buku-buku, mainan atau malah video.

Aktivitas favorit. Pelototin gambar di buku.

Aktivitas favorit., pelototin gambar di buku.

Malam kedua aku sudah sampai ke rumah, Faza memang sudah tidur. Aku menghampiri dan memindahkannya ke kamar kami. Agaknya ia sadar Bundanya sudah pulang dan bergumam “blah… blah” selain kata nenen, blah itu maksudnya sebelah lagi, ya. Hahaha… maafkanlah spontanitas yang kemudian menjadi habit itu. Akhirnya karena rindu iya, mammae juga sudah penuh karena nyaris dua hari tidak menyusukan Faza, aku berikan lagi ASI. Toh belum genap dua tahun pun, pikirku.

Nah, itu proses weaning yang awal. Berikutnya siang aku coba tidak memberikan ASI lagi, jadi hanya menjelang tidur malam. Cuaca november tidak begitu bagus, pancaroba. Faza demam dan rewel, ia kerap minta disusui. Aku kembali ke frekuensi biasa dengan durasi menyusui yang cukup pendek. Tapi ya, kapan dia minta harus dikasih lagi. Begitu sudah ada tanda-tanda selera makan kembali membaik, aku menguragi pemberian ASI dengan lebih kentara. Malah malam kalau cukup dengan dibacakan buku dan dielus punggungnya, aku tidak lagi memberi ASI. Eh, tapi ia baru saja sembuh. Rewel dan manjanya masih terbawa pasca demam. Jadilah Uncu bilang, “kasih aja dulu, napa? Kan belum pun dua tahun penuh” demi mendengar Faza menangis tengah malam.

Tahap kedua masih belum sukses, malah Faza semakin lengket dengan ASI. Sebelum kelewatan, aku mulai mengelurkan beberapa amunisi ala-ala si ayah. Kalau ingat nen, aku perlihatkan video di tablet. Bisa dibilang saat proses penyapihan Faza mulai-mulai terpapar gawai lebih sering dari biasanya. Tapi jangan keterusan, dong. Bahaya!

Buku-buku masih terus menarik minatnya dalam proses ini. Hingga akhirnya tanggal 15 tertera di kalender rumah kami. Yup, Faza is 2 years old. Alhamdulillaah.

 

img20161119190309

buku-buku yang siap sedia menemani Faza menjelang tidur. His fave!

Besoknya walau sapih tetap disampaikan, aku masih menyusui menjelang tidurnya. Tapi Faza sudah tahu kalau susu dari dot lebih kencang dan banyak. Terkadang ia lelah tapi tidak puas dan akhirnya menyerah minta susu. Sufor juga tidak menjadi sesuatu yang wajib untuk bayi yang disapih, ditambah Faza agak ribet memilihkan susunya. Ia alergian. Hanya satu hari satu malam aku hentikan memberi ASI dengan total. Alhamdulillaah tidak ada drama dan histeria di hari keduanya. Ini sudah seminggu tidak menyusu sama sekali, begitu Faza ngantuk dan meminta ASI, aku hanya tinggal bilang Faza sudah disapih. Lalu Faza akan memilih opsi lain, susu atau teh. Sekedar baca buku pun boleh. Juga tidak ada bunda yang demam karena payudara yang bengkak kepenuhan ASI.

Oh iya, Faza suka sekali susu kambing organik. Dia bisa menghabiskan 150 ml dalam beberapa menit. Karena ada riwayat alergi susu sapi dulu ketika masih ASI ekslusif, saat aku sok rajin minum susu ibu menyusui. Hehe… akhirnya aku tidak berani mencoba memberi susu sapi organik. Sedangkan susu formula itu bisa membuatnya mulas, konon lagi susu segar, pikirku.

Dulu sepertinya menyapih tanpa digantikan susu formula serasa menjadi momok tersendiri. Apalagi banyak suara-suara, eh nanti digantikan pakai apa ASI-nya. Ya, makanan sehari-hari dan buah itu jauh lebih menggantikan ketimbang susu formula ternyata. Apalagi jargon empat sehat lima sempurna tidak ada lagi, digantikan dengan makanan gizi seimbang.

Yah akhirnya … barakallaah, Faza sayang. Happy graduation! Sudah lulus ASI 2 tahun dengan ending WWL. Semoga menjadi anak yang salih. Aamiin.

Hari-hari baru dalam kemasan lampau

Baru saja menulis postingan blog mengenai Sang Kapten yang 1×24 jam di rumah. Stand by layaknya security mengayomi seluruh penghuni, eh mulai minggu depan sudah ada panggilan. Walau tidak setiap hari, tapi kemungkinan besar dalam seminggu akan ada tiga hari absen mengantar anak-anak ke sekolah atau menemani si bungsu makan siang.

Then, how is your feeling, Aini?

Awkward, yes for the first time. Menimbang kapasitas diri ini yang selama ini begitu banyak tergantung pada kelenturan waktu Eun yud.

Happy, yes of course. Harusnya perasaan inilah yang harus aku pelihara seterusnya.

Menyampaikan pada Akib dan Biyya mengenai jadwal baru si ayah, itulah yang aku lakukan. Karena yang selama ini sangat menikmati anugerah kelapangan waktu itu tentu saja anak-anak. Kalau bundanya sih, malam biasanya masih begadang makan kuaci berdua sambil nonton film-film bluray secara random. Walau belakangan ini Eun yud lebih banyak memuat video belajar IELTS dari band 1-9 dan mengajakku belajar bersama. Ealaaah, nggak tau apa emak-emak kayak aku butuhnya Korean Drama! buahahahha.

Ingatanku melayang ke tujuh tahun silam, dimana Eun yud masih ngantor dan ‘sanjungan’ pulang saat pukul 12.30 untuk makan siang sekaligus mengantar Akib yang masih semata wayang, adalah hal yang sangat mengesankan. Waktu itulah aku mulai membuat blog, eh tepatnya sembilan tahun yang lalu membuat blognya dan mulai diisi rutin tahun kedua. Sambil menunggu Eun yud kembali dari Sibreh, aku sempat membuat tulisan ini

Anak Kunci Itu



(more…)