Author Archive: aini

About aini

Istri Eun Yud yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya Akib, Biyya, dan Faza. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, namun belum sepenuhnya bisa seperti mereka. Hanya seseorang yang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dunia rabbitry dan hmm... banyak lagi. Saat ini menjabat sebagai Bunda dan asisten (tepatnya drh pribadi) Eun Yud yang punya puluhan ekor kelinci. Jadi just call me dokter hewan subspesialis kelinci :D

Gadis Uap Kopi

Kau seperti kepulan asap kopi pagi yang hadir sejenak dan berlalu pergi meninggalkan berjuta sensasi rasa di indera bauku, merasuki otakku, dan mendiami alam bawah sadarku.

image credit

“Terima kasih atas kunjungannya, silakan datang lagi.” hari ketiga kucoba berhenti dipecundangi amukan grogi walau yang kudapati hanya selarik senyum basabasi.

 

Barangkali yang kemarin ada juga artinya bagimu yang biasanya hanya singgah di kafe kami hari Sabtu, hari Minggu ini kau datang lagi dan tentu saja sendiri seperti biasa.

 

“Sanger panas, kan?” tanyaku sok akrab dengan senyuman khas pramusaji.

 

“Ah, ya!” wajahmu sedikit kaget. Dengan spontan kau membetulkan letak kacamata yang bertengger di hidung bangirmu. Memperhatikanku sekilas dan duduk di bangku biasa dengan wajah bergurat tanya.

 

Aku sedikit menyesal menyapamu dengan cara itu. Aku khawatir mengganggu privasimu sebagai pelanggan dan tentu saja aku mulai cemas kalau tiba-tiba esok kau enggan singgah di kafe kami.

 

Ternyata benar, setelah sapaan sok akrab itu, seminggu lebih aku tak melihat batang hidungmu di salah satu sudut atau meja mana pun di kafe kami. Ah, dasar bodoh! Gerutu batinku.

 

“Kehilangan seseorang?” Kila seperti membaca gelagatku seminggu ini. “Pasti mencari gadis yang biasa datang hari Sabtu dan duduk di meja sudut itu, kan?”

 

“Sekentara itu, ya?”

“Ho-oh.” Jawab Kila singkat sambil terus membereskan pembukuan seperti biasa.

Kau tahu bagaimana rasanya tertangkap basah? Seperti inilah keadaannya. Tentu saja aku semakin kecil hati. Siapa aku yang barangkali tak pernah kau ingat barang sejenak.

“Tenang saja, besok-besok dia juga balik lagi.” Imbuh Kila santai.

“Ah, sok tahu. Kamu kenal?” Tanyaku lagi yang dibalas Kila dengan selarik senyum.

Entah otakku yang mandek atau memang pesonamu yang keterlaluan, sejak kau tak pernah lagi singgah, semangatku menguap seperti uap kopi pagi ini.

“Sanger panas, ya!” Sebuah suara petang itu terdengar familier. Hujan terlihat masih belum ingin berhenti tumpah dari langit. “Tambah teh panas satu.”

Kau tahu bagaimana air panas melarutkan kopi? Kemudian ketika dibubuhi gula, diracik oleh barista ternama, tentu akan menghasilkan cita rasa, aroma, dan cinta. Lalu kau tahu bagaimana rasanya ketika hasrat tiba ingin menyesapnya sirna, seiring dengan tumpahnya ia bersama dengan gelas kaca. Luluh lantak di atas teras basah.

“Ari! Melamun lagi! Sudah berapa gelas pecah minggu ini?!” Kila datang mengantarkan sodokan sampah dan sapu padaku. Tak lupa ia membisiku dengan kliamat tajam tadi.

Kau seharusnya tak sekejam itu untuk membuatku sadar, bahwa kau adalah langit dan aku adalah bumi. Bahwa kau memang selaksa uap kopi yang menggelantang di udara lalu hilang tak bersisa.

Gadis uap kopi, kau tak lebih dari sekadar imaji.

Belajar Mencapai Cerdas Finansial

Ini seperti ujian setelah teori-teori selesai dipaparkan. Aku sendiri rada bingung akan memulai dari mana ketika sampai pada materi Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini. Teringat bagaimana khidmatnya saat aku mengikuti seminar Teh Patra beberapa bulan silam, tapi susahnya bukan main untuk  menerapkannya di rumah.

Dua hari lalu, tanggal 25 Juni, aku juga sempat mendengarkan kuliah dari Pak Adnan Ganto mengenai Literasi Keuangan dan Perbankan. Di sana dibahas mengenai mulai krisis ekonomi dunia,  krisis keuangan Asia, upaya mengatasinya serta prospek perbankan syariah, hingga opsi investasi yang paling menguntungkan.

Aku tepat di belakang Pak Adnan Ganto, memperhatikan tokoh penting ini dari dekat. Bagiamana ibunda dan ayahanda beliau mendidik beliau dulu, ya? Hehe

Tiba-tiba aku melek dan tercerahkan dengan pernyataan Pak Adnan mengenai pentingnya uang. Seperti kita yang memiliki SDA luar biasa, tapi tak mampu mengambilnya karena tak punya uang. Amerika tak segan membayar NASA untuk memotret titik-titik lokasi yang memiliki SDA potensial dan kemudian mengeluarkan sejumlah uang untuk mengeruknya. Lalu kita bisa apa?

Ah, bayangkan! Kurasa anak-anak kita memang seharusnya didik cerdas finansial seperti Pak Adnan Ganto! Presentasi singkat yang sungguh mencerahkan itu, tak bisa kujabarkan singkat di sini. Benar-benar mencengangkan dan membangunkanku dari tidur panjang. Tak peduli tentang pengelolaan keuangan. Merepotkan!

Memang tak ada kata terlambat untuk belajar dan memulai lagi. Aku bukan tak mengerti kenapa ini sulit. Pertama, karena aku diskalkulia. Selama ini bendahara keluarga adalah suamiku, aku tidak mengatur kas besar keluarga yang dulu awal menikah pernah ditawarkan suami. Dengan usia pernikahan yang menjelang tiga belas tahun seperti ini, memang agak telat rasanya, tapi lebih baik daripada sama sekali tidak dicoba.

Kedua, tentu saja aku masih gamang mengajari anak untuk cerdas finansial sementara aku sendiri belum mumpuni mengelola keuangan keluarga.

Ketiga, manajemen waktuku masih kacau. Sebagaimana bingung angka, individu disleksia dengan spesifikasi diskalkulia juga sangat bingung mengenai waktu dan hal apa yang harus diprioritakan. Skuensi, orientasi, prioritas, dan kerja-kerja eksekutif otak lainnya butuh empat kali lebih keras daripada orang lain.

Saat ini aku menginsafi sepenuhnya—meminjam diksi Buya Hamka dalam fiksi-fiksinya—memahamkan uang adalah bagian dari rejeki yang diberikan Allah harus dimulai dari ibu. Bagaimana membedakan keinginan dan kebutuhan, ibu harus jadi teladan yang baik dalam hal ini. Seperti tema materi kali ini, “Rejeki itu Pasti, Kemuliaan yang Dicari”. Inilah waktunya bagiku learning by teaching, dengan teman-teman seperjuangan dan fasilitator  Institut Ibu Profesional yang siap membantu kapan saja, insyaallah.

Kami akan memulainya dengan memberi pemahaman kepada anak bahwa rejeki datang dari Sang Maha Pemberi Rejeki. Rejeki itu luas, mulai dari kesehatan, udara yang kita hirup, keluarga yang hangat, dan uang adalah sebahagian kecilnya saja.

Aku dan suami mengambil waktu sejenak duduk berdua. Mengumpulkan materi-materi yang ada dan membahasnya bersama. Ini bukan pertama kali, dulu saat Akib terapi, kami juga sudah mulai mengajarkan cara mengelola uang kepada Akib dan Biyya, tapi karena ketidakkonsistenan kami harus mengulangnya dari awal.

Duduk sejenak membahas bagaimana rencana keuangan keluarga

Buku Make it Happen yang ditulis Prita Hapsari Ghozie sangat memudahkan aku yang disleksik ini. “Inilah yang Ayah ajarkan ke Bunda kemarin, tapi susah karena Ayah nggak bikin tabel dan detail gini. Buku ini memang cocok untuk disleksik,” kata suamiku dengan gaya ala endorser yang sukses membuatku geram. Baiklah!

Jangan sungkan meminta struk kepada kasir setelah kita menikmati hasil kerja kita. Mengelola uang sebagai rejeki yang diberikan Allah juga salah satu bentuk tanggung jawab kita sebagai insan. Bukankah kelak rejeki yang kita belanjakan pun akan diminta pertanggung jawaban?

Kami membahas beberapa bab dan suamiku memberitahu, tepatnya mengulang apa-apa saja investasi yang sudah pernah dicobanya dan mana yang masih berlanjut hingga hari ini. Lalu penawaran investasi untukku pribadi yang kali ini harus harus kupelajari ulang.

Tahap-tahap yang harus kami jalani akan sangat tergantung pada buku pegangan kami kali ini. Prita Hapsari Ghozie, dalam bukunya Make it Happen! Menyebutkan ada enam tahap merencanakan keuangan. Pertama, tuliskan apa mimpimu. Defisnisikan setiap mimpimu tersebut, apa mimpinya, berapa biayanya, kapan jatuh temponya, bagaimana strategi mencapainya.

Kedua, hitung kebutuhan dana. Setelah menetapkan apa saja yang menjadi tujuan kita, langkah berikutnya adalah membuat tulisan berupa angka-angka—aduhai, di sini akan struggling bagiku—ketiga, menyusun strategi sesuai rencana. Keempat, pahami berbagai produk finansial. Kelima, implementasi rencana keuangan. Keenam, monitor dan evaluasi. Setelah menjalankan action plan, langkah berikutnya evaluasi secara berkala. Buku tersebut juga dilengkapi dengan bonus peta Perencanaan Keuangan yang dapat kita hitung untuk diri sendiri.

Semoga bisa kami laksanakan setahap demi setahap dan selalu diberikan Allah ketetapan hati. Bagi yang belum berkeluarga dan membaca tulisanku ini, selain buku Marie Kondo, buku-buku Prita Hapsari Ghozie akan sangat membantu kalian mewujudkan sehidup sesurga dengan pasangan anda. Ecieee…

Sebanyak apa pun kekayaan yang dimiliki seseorang sama sekali tidak akan menjamin kesuksesan apalagi kebahagiaan hidupnya. Bahkan jika kekayaan tidak dikelola dengan baik, justru akan menjadi sumber malapetaka. (Materi Bunsay IIP Batch#3 Sumatra)

Demikian. Doakan kami, ya!

#Tantangan10Hari

#Level8

#KuliahBunsayIIP

#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari

#CerdasFinansial

Bernostalgia Sejenak dengan Aroma Kertas

Suasana kampung halaman mengingatkan banyak hal, salah satunya kebiasaanku dulu tenggelam dalam bacaan-bacaan fiksi berbau misteri. Aku tidak ingat persis kapan aku menyukai genre bacaan semacam ini, karena hingga hari ini genre fiksi kriminal belum mampu mewarnai tulisan-tulisanku. Untuk menghasilkan suspence yang baik dalam cerita roman saja rasanya aku belum mampu. (more…)

Pantai Gosong Telaga, Riwayatmu Kini

Aku sempat mengabadikan di sebuah foto setahun silam di mana bibir pantai Gosong Telaga dihiasi segala jenis sampah berserakan. Tahun ini masih belum ada perubahan, pun kesadaran para pengunjung atau pengelola tempat wisata di Aceh Singkil tersebut. Aku tak tahu ada pihak pengelola atau tidak, tapi setahuku setiap akan memasuki gerbang pantai, ada yang memberikan karcis,  menagih biaya masuk dan parkir untuk satu sepeda motor,  kami dikenakan total biaya Rp.5000. Setelah kami memarkirkan sepeda motor, saat akan pulang juga masih ditarik biaya parkir oleh orang lain lagi dengan tarif Rp.2000. Mantap! (more…)