Author Archive: aini

About aini

Istri Eun Yud yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya Akib, Biyya, dan Faza. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, namun belum sepenuhnya bisa seperti mereka. Hanya seseorang yang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dunia rabbitry dan hmm... banyak lagi. Saat ini menjabat sebagai Bunda dan asisten (tepatnya drh pribadi) Eun Yud yang punya puluhan ekor kelinci. Jadi just call me dokter hewan subspesialis kelinci :D

Perjalanan Mencoba Steempress

Setelah empat tahun menggunakan platform WordPress dan pada tahun kedua mencoba upgrade self-hosting dengan platform yang sama, akhirnya aku kembali bersemangat mengurus rumah maya ini setelah sebelumnya kugunakan hanya untuk menyetor tugas-tugas di Institut Ibu Profesional (IIP) Batch #3. (more…)

Menganalisa Kegagalan (Aliran Rasa Game Ke-8)

Aliran Rasa Game Ke-8

Di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional Batch#3, aku dan teman-teman pernah berdiskusi, bagaimana supaya Aliran Rasa itu isinya bukan melulu ‘curhat manja’ apalagi bagian ngeles-ngeles kenapa gagal lagi-gagal lagi di game kali ini. Alasan jaringan lah, urusan domestik yang tiada habisnya lah, belum lagi bicara urusan publik dan benturan deadline di tempat lain bagi yang bekerja freelance sepertiku. (more…)

Mencari Permata di Binar Mata (Hari X)

Hari 10

Tugas pengamatan hari ini kudelegasikan ke Ayah anak-anak, karena aku harus berangkat ke Tibang untuk menghadiri sesi pelatihan editing bersama guru menulisku. Ayahnya bercerita bahwa Akib duduk tenang dan sabar. Ia dibolehkan kembali membuka laptop dan menonton tutorial.

Ayah mengawasi saja dan melihat kesadaran dirinya akan waktu-waktu tertentu. Misalnya kapan waktu untuk berbenah, membersihkan diri, waktu salat, dan waktu makan. Ia juga mengoles obat salepnya sendiri. Justru saat sakit begini, Akib lebih mau bekerja sama. Ia masih bisa diajak berlogika, bagaimana jika tidak patuh akan anjuran dokter dan Akib terpaksa harus diulang lagi jahitannya. Jadi, latihan kesabaran dimulai dari titik itu.

Bagiku selera musik Akib sangat easy listening. Aku tetap menyampaikan agar ia menggunakan mini speaker  yang dibelikan itu untuk muraja’ah. “Bolehlah sekali-kali Akib dengar musik juga,”  Yah, pada akhirnya kuamatai ia lebih banyak mendengarkan musik di speaker tersebut. Hanya lepas salat Magrib ia muraja’ah sebentar. Dulu saat terapi disleksianya di Putik Meulu Building, Akib sempat diajarkan bermain piano. Lumayan cepat ia mengingat nada dan memainkannya kembali di rumah. Ada keinginan kami untuk mengantarkan atau mencari mentor untuknya, tapi keterbatasan waktu dan biaya membuat kami urung. Kami juga harus memprioritaskan hal lain, seperti keperluan Biyya dan Akib. Memang sayang rasanya, tapi kupikir ini sudah melalui diskusi berlapis dan lama. Pemetaan keuangan keluarga juga menjadi faktor pengambilan keputusan ini.Apalagi Akib sangat membutuhkan latihan-latihan kemandirian, termasuk executive function-nya yang harus kami latih bersama.

Latihan lainnya adalah ketika Akib tahu bahwa ia diberi uang. Ada uangnya disimpan Ayah, atau uang yang disetornya ke Ayah dari teman-teman yang berkunjung. Kami mengizinkan Akib membeli sesuatu yang lama dinginkannya. Sudah ditebak, ia sedang menggilai berbagai jenis mobil. Sering ia minta izin membuka Youtube untuk sekadar melihat-lihat tipe mobil dan spesifikasinya. Barangkali karena dulu ia punya salah seorang teman yang suka sekali bercerita tentang otomotif.

Akib minta dibelikan mobil Lambhorghini, BMW, dan beberapa tipe dan merk ia sebutkan. Jadilah Ayah membelikan miniaturnya di sebuah toko mainan.

Mungkin salah satu hal baru yang bisa kami dalami juga. Misal hobi Akib mengamati mesin-mesin, apakah ia juga mulai menyukai otomotif? Karena kami pun melihat permata di binar matanya.

Mencari Permata dalam Binar Mata (Hari IX)

Hari ke-9 Tantangan Game Level 7

Semua Anak Adalah Bintang

Hari 9

Tanggal 1 Juni 2018 menjadi hari bersejarah buat Akib. Ia melaksanakan khitan di Klinik Meurasi Lambaro. Sebenarnya aku ingin menuliskan satu catatan mengenai hari ini, tapi ada baiknya sebelum itu, aku menyelesaikan tugas Game Level 7 ini terlebih dahulu.

Apa yang aku amati hari ini bukanlah Akib yang telah baligh, tapi lebih kepada ketangguhan Biyya mengawal sang Abang selama ia dalam keadaan tidak sehat dan tak mampu beraktivitas seperti biasanya.

Biyya sangat protektif, bertanya bagaimana rasanya. Aku memperisapkan obat yang sudah diberikan dokter, Biyya pun memerhatikan. Ia sangat antusias dengan apa yang aku kerjakan dan proses merawat Akib pasca khitan ini diamati Biyya dengan saksama.

Beberapa jam berikutnya tugasku sudah digantikan olehnya. Ia meletakkan susu segar kesukaan abangnya. Mengambilkan gelas, menuangkan denga telaten dan memberikannya ke Akib. Sore hari juga saat aku mempersiapkan bukaan di rumah, Biyya dengan cekatan mengambil sepiring nasi dan mengutamakan Akib untuk makan lebih dulu. Beres sampai sedetail-detailnya.

“Abang mau telur dadar?” Tanya Biyya yang dijawab dengan iya oleh Akib. Biyya segera ke dapur dan memintaku menyambikan satu biji telur dadar buat abangnya. Biyya yang menyanduk nasi, menyiapkan air putih dalam gelas abu-abu Akib.

Akib tentu mendapat banyak ‘salam tempel’ dari Uci, Uncu, Ummi, dan Mama, ia tidak lupa membaginya dengan Biyya. Biyya jadi ketiban rejeki juga dan langsung membeli Squasy yang sudah lama diinginkannya. Biasanya aku tidak serta merta meluluskan keinginan anak-anak. Aku ajarkan mereka menunda keinginan, membedakan keinginan dan kebutuhan.

Bagiku Biyya sejak 5 tahun, ketika duduk di TK, adalah asisten yang paling ‘connect’ dan ‘valuable’. Ia sangat membantu hari-hari kami. Ia sudah paham kapan membeli keinginannya dan tahu membedakan kebutuhan dan keinginan. Ia berjuang sendiri untuk hal-hal yang tidak penting tapi sangat diinginkannya. Tercatat juga dulu ia membeli sepedanya seharga Rp1.200.000 dari hasil tabungannya sendiri dan hanya dibantu Ayah Rp.200.000.

Mencari Permata di Binar Mata (Hari VIII)

Akib berangkat ke Pesantren Ramadan dan berpesan agar dijemput cepat hari ini. Sebelum Asar ia sudah dijemput dan ikut ayahnya mengurus paket ifthar di masjid Taqwa. Ia pulang ke rumah sambil membawa bungkusan jatah amil. “Wah, Akib dapat nasi ummat juga, ya?” tanyaku yang dijawabnya dengan anggukan.

Akib baru bisa luwes berteman sekitar kelas empat SD. Tapi ternyata ia cepat sekali belajar. Salah satu strateginya untuk bisa bergabung dan nyambung dengan obrolan temannya adalah membuat lelucon. Akhirnya kapan ada kesempatan, ia suka membuka tautan tentang video-video meme. Tidak semuanya yang ada di sana bisa dipahami dan lucu. Terlebih jika ada sedikit guyonan berbau dewasa. Maka kami selaku orang tua mencoba menemani dan memberikan pengertian.

Akib tidak langsung terima, tapi perlahan seiring dengan waktu ia pun belajar banyak hal dan mulai menyesuaikan diri.

Mencari Permata dalam Binar Mata (Hari VII)

Tantangan Game ke-7 kelas Bunda Sayang

Hari 7 (23 Mei 2018)

Biyya juga ulet dan teratur, walau ini perlu arahan lebih lanjut agar ia paham mana yang didahulan mana yang tidak. Selama CCR, ia menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan sebelum tidur. Tidak lupa ia mengingatkan Bunda yang sering dikatakannnya pelupa, untuk melengkapi sesuatu yang tidak bisa dipenuhinya sendiri, seperti telur dan gula yang harus dibeli lebih dulu atau aku yang lebih paham keberadaan stok di dapur.

Hari ini Biyya berencana membuat kebab di CCR, jadi ia memerlukan beberapa butir telur. Sedangkan gula dibawa untuk dimasukan dalam kantong sumbangan kepada teman-teman pemulung di Kampung Jawa yang akan mereka kunjungi hari ini.

Tak ada sedikitpun Biyya merepotkanku dengan persiapan CCR, ia cukup mandiri dan luwes mengerjakannya sendiri. Mandi pagi dan ingin memakai pakaian apa, paling juga ia bertanya jilbab yang cocok yang warna apa untuk paduan pakaian yang dikenakannya.

Di tengah prosesnya membuat kebab, Faza yang sejak tadi sudah mulai keroncongan meminta kebab yang dibuat Biyya. Dengan sabar menahan selera dan titik liur, Biyya membukakan wadah penyimpanan kebabnya dan mencomot bagian atas kebab, menyuapinya ke mulut Faza. “Udah, ya. Jangan minta lagi, ini untuk kakak berbuka puasa nanti.”

Tapi memang Faza yang tak bisa menahan selera dan entah kebab yang terlalu menggoda, yang jelas Faza lapar dan dia minta agar aku membukakan wadah kebab itu lagi. Sedikit penuh drama dan akhirnya dengan tak ikhlas Biyya menyerahkan kebab tersebut untuk disantap Faza. Tentu saja sebenarnya ia menangis dan merengek minta lagi satu kebab utuh kepadaku.

Aku menyarankan agar ia coba mengantre lagi untuk membuat kebab, setelah semua teman yang belum dapat giliran membuat kebab. Aku senang akhirnya Biyya dengan sedikit rengekan, akhirnya mau juga bersabar sampai teman-teman lainnya selesai dan ia mengambil sisa tortila dan membuat kebab tahap demi tahap. Ia juga membuat satu kebab lagi untuk dibawakan pulang untuk Akib.

Kurasa hari itu berkah sekali, Faza yang tidak berpuasa makan siang dengan kebab yang seharusnya jatah Biyya. Biyya juga membuat kebab lain untuk dirinya sendiri, teringat pula membuatkan kebab buat Akib.

Mencari Permata dalam Binar Mata (Hari VI)

Hari 6 (22 Mei 2018)

Kelas Bunda Sayang Tantangan Game Level ke-7

Biyya mengikuti Camp Ceria Ramadan (CCR) sejak pagi pukul 08.00 – 15.00 WIB. Ia sangat antusias dan bercerita tentang detail aktivitasnya di CCR. Pagi salat Dhuha, murajaah hapalan Quran, membuat bros pita, dan menanam bayam.

Keluwesannya dalam bergaul membuat ia tak kesulitan mengikuti rangkaian aktivitas CCR. Jika diberikan kepercayaan sedikit lagi, Biyya terus berkembang menjadi pribadi mandiri dan bermanfaat. Ia memiliki jiwa pemimpin yang ditandai dengan dominannya ia saat bermain dengan teman seusia atau beberapa tahun di bawahnya.

Walau sempat terjadi insiden Curhat karena adanya persaingan dan sahabatnya yang juga dominan, tapi sejauh ini Biyya masih bisa mengatasi semuanya. Ia tipikal anak yang bukan sekadar mandiri, tapi ia juga kuat hati.

Anak tengah memang kerap kali atraktif dan memang punya cara sendiri menarik perhatian orang tuanya. Biyya memang pernah ‘mengkek’ dan menyebalkan kalau sudah mulai rewel dan merasa dalam situasi mood yang jelek. Ini bisa terjadi tanpa kenal kondisi dan waktu. Tapi jika itu sudah kusinggung di rumah, bahwa sikapnya di depan umum itu salah dan mohon jangan diulangi. Ia dengan berbesar hati menerima dan meminta maaf.

Bagiku ada bibit-bibit seni memimpin dan berjiwa besar pada Biyya yang harus kami asah agar menjadi potensi yang baik untuknya di hari depan.

 

Saat kelas cooking di CCR, mereka membuat kue kering dari Coco Crunch, cokelat batang dan sprinkle. Biyya membuat dengan telaten dan mengikuti prosedur. Ia juga mau membagi dengan Faza hasil buatannya. Paling mengejutkan buatku adalah, ia bertahan tidak merengek berlebihan meminta buka puasa walau kentara sekali ia sangat berminat pada kue kering tersebut. Ia bisa menunda keinginannya.

Mencari Permata dalam Binar Mata (Hari V)

Hari 5 (21 Mei 2018)

Tantangan Game level ke-7 Kelas Bunda Sayang

Perasaan berat memasuki sekolah baru dengan teman-teman yang belum dikenal juga menggelayuti Akib. Kurasa sebuah awal amatlah penting, maka aku mencoba tidak memaksa Akib ikut pesantren Ramadan di sekolahnya, tapi aku akan membujuknya dengan hati-hati.

Berkomunikasi dengan Akib adalah metode menggulir bola dari bawah. Apalagi saat ia sudah menyiapkan tembok kokoh dan tinggi. Sebuah kepastian penolakan akan seuatu hal. Maka aku coba membujuknya dengan hati-hati. Melemparkan bola komunikasi padanya sama dengan melempar muka ataupun kepalaku sendiri.

Aku mengajarkan sebuah makna konsekuensi sebuah pilihan. Bahwa apa yang sudah coba kita sepakati adalah sesuatu yang harus kita coba jalani dengan senang hati. Kemarin kita sudah menjatuhkan pilihan untuk bersekolah di HC, sekarang lah saatnya masa orientasi dan penyesuaian. Rasa gamang dan kekhawatiran akan sebuah lingkungan baru, itu wajar karena setiap kita butuh beradaptasi.

Kemampuan Akib berdebat kurasa didapatnya dari bundanya sendiri. Aku masih ingat bagaimana guru IPS-ku yang bernama Pak Daud Sunni pernah berkata, “Kamu memang pintar sekali mendebat orang.” Saat itu aku lupa ada persoalan apa di antara kami, aku bukan seorang siswa yang tidak taat aturan dan bandel, justru aku siswa kesayangan banyak guru, termasuk Pak Daud Sunni yang seringkali membangga-banggakanku sebagai muridnya.

Aku melihat ada potensi semacam ini dari Akib. Di mana dulu aku sering tak habis pikir dan menyangka ia anak yang bandel dan tidak santun. Ia bisa mencari celah dan alibi saat aku membuat aturan-aturan main gawai atau tawar menawar jam gawai ketika ia masih berusia delapan tahun. Dari latihan bertahun-tahun dan menyadari ada bakat negosiasi yang tersimpan dalam diri Akib, aku pun segera mengganti strategi menjadi komunikasi menggulir bola.

Tak ada kata, “yang penting Bunda ingin seperti ini. Titik!” Akib pun akhirnya berpikir mencari alasan yang tepat ia tak mau mencoba datang ke sekolah barunya. Di balik penolakan tersebut, aku mencoba memahami isi hatinya, membaca pikirannya, dan mencoba berempati sedalam mungkin. Sedikit keberatan Akib tetap ingin mencoba hadir dan terlibat di masa orientasi sekolahnya. Di hari pertama katanya ia cukup bosan tapi ia bisa mengendalikan emosi.

Mencari Permata dalam Binar Mata (hari IV)

Hari 4 (20 Mei 2018)

Game Level 7 Kelas Bunda Sayang 

Biyya paling bisa diandalkan dalam menyelesaikan persoalannya denga teman. Kali ini di Camp Ceria Ramadan (CCR) Biyya bertemu lagi dengan Noni (Suha Rakata), seorang homeschooler yang percaya diri dan cerdas. Dominasi Biyya akan terwarnai oleh Noni. Aku sebagai ibu sudah mengamati Biyya sejak awal. Ia terpaksa sedikit mengalah dalam mengatur teman-teman dan tertinggal beberapa langkah.

Membuat tempat pensil dan crafty lainnya seperti Noni. Dia sangat ingin. Di antara dua saudaranya yang lain, Biyya sangat menonjol jiwa kompetisinya. Ia yang dengan senang hati belajar dari sesuatu atau seseorang yang mampu melebihi dirinya. Tapi risiko anak seperti ini tentu ada riak di hatinya. Seperti iri dan cemburu. Biyya suka megakui hal semacam itu secara blak-blakan kepadaku. Seringkali aku terkejut dengan hatinya yang meradang sedih. Duh, agak bahaya, pikirku,

Sebab aku kurang berpengalaman dengan anak yang memiliki jiwa kompetisi. Akib tidak punya hal ini hingga ia sudah memasuki SMP pun itu tak pernah terjadi. Ia sibuk dengan dirinya dan pencapaiannya sendiri. Kalau ada teman yang ia rasa melebihi dirinya, ia sangat santai. Kalaupun akhirnya ada temannya yang suka show off di sana barulah dia Curhat kepadaku mengatakan tak suka. Itu juga tidak memancing ia menjadi hebat versi orang-orang. Pokoknya santai sekali, ia tak punya jiwa bersaing, justru malas kalau mulai bersaing. Kurasa persis seperti diriku. Jadi saat Biyya hadir dengan jiwa kompetisi yang dibawanya, aku canggung.

“Biarlah, Nak. Biyya dalah Biyya, kalau si A tetap Si A. Dia punya kelebihannya sendiri.”

“Iya, tapi Biyya juga bisa kayak gitu. Nggak suka Biyya si A itu bilang Biyya nggak bisa…”

Hahaha…. baiklah, baiklah, oh Tuhan! Kadang memandang dengan kacamata Biyya teramat sulit bagi ibu yang sangat tidak suka persaingan seperti diriku. Pernah aku keceplosan “Ya Allaah..barangkali hati Biyya ini nih, belum bersih. Kita nggak boleh iri begitu.” Tapi aku akhirnya menyadari kesalahanku. Bukan hatinya yang tak bersih api aku saja yang tidak paham bagaimana mengendalikan potensi jiwa kompetisi Biyya yang memang sudah ada ke arah yang lebih positif.

Jadi, hari itu untuk menenangkan dirinya, Biyya mengambil peralatan sendiri mebuat tempat pensil dan tabungan sendiri. Hasilnya membuat dia puas dan merasa bahagia. Setelah tenang, ia kembali bergabung dengan Noni dan teman-teman lainnya. Ia juga sudah lega karena bercerita padaku bahwa hasil karyanya selalu dikomentari negatif karena tidak rapi dan apik seperti milik Noni.

“Kak Noni selalu ejek yang Biyya buat.” Keluhnya.

“Nggak apa-apa, itu bukan mengejek tapi maksudnya baik supaya karya Biyya bisa lebih bagus seperti milik Kak Noni. Jadi kalau Biyya susah hati, jawab aja..iya, Kak, karena Biyya belum sering latihan kayak Kakak. Nanti kita beli perlengkapan dan coba lagi di rumah, ya.” Bujukku.

Biyya juga seorang fast learner, dulu ia diajarkan sekali membuat slime  oleh Putroe, temannya. Setelah itu dia nyaris tak pernah gagal membuatnya kembali di rumah tanpa bantuan dariku sama sekali. Aku hanya membeli bahan bakunya, ia membuat dan membereskan tempat sampai selesai dan rapi.