cerita ceriti,  my world,  Self reminder

Bekerja Atau Berkarier?

Tidak terbayangkan kalau pada akhirnya aku memilih untuk tidak berkarier. Karena dulu betapa pun ambigu, sejak kecil aku sangat menginginkan profesi ini. Menjadi Dokter Sayang (dokter hewan).

Berawal dari bacaan masa kecil. Cerita fabel yang diperankan oleh seekor landak, kalau aku tak salah, ia adalah seorang dokter hewan di lingkungannya. Ia bak pahlawan penyelesai perkara berupa-rupa di tempatnya. Ia menolong banyak warga, ia penuh kebermanfaatan dan penuh berkah.

Mungkin menurut pengalaman inilah aku tak pernah keberatan dengan cerita fabel dan fiksi. Kata Ali bin Abi Thalib ra., “Ajarilah anakmu sastra, agar yang penakut menjadi pemberani dan yang pemberani menjadi lembut hati”.

Kembali kepada pilihan tadi. Seiring waktu pula, karier tak sejalan dengan panggilan nurani menjadi ibu. Pengabaian atas segala yang mengusik hati menatap mata-mata bening yang mungkin saja hanya aku yang terlalu berlebihan menafsirkan bahwa mata itu penuh pinta untuk didampingi. Hati serasa diuji.

Pada akhirnya aku memilih bekerja dan tidak mencoba meniti karier. Dengan bekerja aku tetap bisa mengaktualisasikan diri, mewujudkan segala gagasan-gagasan, mempraktikkan segala teori. Dengan bekerja tak ada usikan nurani menatap mata-mata bening penuh arti.

Bagiku bekerja memiliki mobilitas yang kendalinya penuh di tangan sendiri, kelenturan atau fleksibilitas yang jauh melebihi ketika saat kita memilih berkarier sesuai profesi.

Dengan bekerja kita tetap bisa memilih profesional tanpa harus ada tuntutan profesi yang seringkali tak punya dispensasi.

Seiring waktu, keinginan menginjakkan kaki ke jenjang profesi kian hilang ditelan waktu. Barangkali terselip di antara lipatan waktu, terutama terasa ketika bertemu dan dipantik oleh tanya teman sejawat. Halo, melihat kesungguhan dan keuletanmu, masih sulit kupercaya bahwa kau tidak memilih kariermu. Wajar saja, karena selama meraih gelar profesi, tak pernah keluh kesah terlontar dari mulutku. Aku melakukan semuanya dengan penuh rasa gembira dan lihatlah hasilnya, tak pula mengkhianati usaha. Apa yang menjadi indikator sukses dalam pencapaian akademik kala itu telah kutuntaskan, barangkali tampak sebagai modal untuk berkarier, tapi pada akhirnya aku memilih bekerja untuk lebih merdeka.

Kalau kalian memilih berkarier atau bekerja?

 

Care, sahabat seperjuangan saat belajar di Klinik Bedah dan Klinik Interna. Beruntung bisa mengabadikan foto ini, walau cukup kontroversi. Ada yang melihat ini sebagai totalitas, ada pula yang menghakimi tingkat ketaatanku sebagai muslim dalam satu bingkai semacam ini. Senyumin aja…

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *