my world

Belajar Adalah Sebuah Proses (Cerdas Finansial Hari ke-6)

Alhamdulillah di hari keenam proses mencatat masih berlanjut. Mencatat apa? Barangkali ada pembaca yang belum mengikuti laporan-laporan Tantangan 10 hari Cerdas Finansial yang kutulis sebelumnya, silakan bagi yang ingin turut termotivasi mengelola keuangan sendiri di day 1, 2, 3, 4, 5. Silakan memodifikasi dengan ritme keluarga inti. Sebenarnya game tantangan seperti ini adalah untuk mengasah kekompakan keluarga juga. Jika ingin berubah, mulailah dari hal kecil dan mulailah dari diri sendiri dan keluarga.

image credit

Selama ini tanpa bantuanku, suami sudah memulai mengelola keuangan dengan mencatat nya di buku-buku kas ini. Termasuk dulu usaha budidaya kelinci yang dirintisnya. Karena satu dan lain hal kami off untuk sementara waktu, bisnis budidaya kelinci ini kami hentikan untuk waktu yang belum ditentukan.

Biasanya buku kas ini dicek setiap pagi sebelum keluar rumah.

Sementara itu Kak Biyya sudah mulai berusaha mencoba membuat mini budget, belum ada alokasi untuk yang lainnya selain keperluan sekolah dan keinginannya membeli jajan seperti teman lainnya, namanya juga berproses jadi pelan-pelan saja.

sisa jajan Biyya yang bekum sampai seminggu

Bang Akib masih dibantu ayah mengelola uang bulanannya. Begitu kami sampaikan nominal jajannya jika dikalkulasikan dalam sebulan, Akib ternyata sudah membuat planning yang belum tepat dan ia bersungguh-sungguh akan melakukannya persis seperti saat dia keukeh membelanjakan lebih dari separuh angpaunya untuk membeli keinginan sesaatnya.

“Akib mau beli Tamiya.”

“Tapi mobil remote control yang Akib beli dari uang angpau lebaran kemarin belum bisa Akib rawat dengan baik.”

Terjadi diskusi alot dan ia pun legawa kami bantu mengatur uang jajannya sebulan dengan catatan ia tidak boleh cuek, harus ada progress dari hari ke hari.

Musim Tamiya hanya terjadi kurang lebih dua minggu di kompleks, setelah itu Akib tidak lagi terlalu berminat membeli Tamiya. Ia sibuk membuat es kepal hampir setiap pulang dari sekolah Akib dan kawan-kawan meminta ijin  memakai peralatan dapur untuk membuat Es Kepal Milo. Membeli bahan-bahannya sendiri ke kedai terdekat.

Saat kami sampaikan jajannya tinggal sekian, Akib menyimak dan mulai mengira-ngira. Di sekolah barunya juga tidak banyak jajanan yang bisa dibeli, hanya kantin di dalam sekolahnya yang kelasnya masih berupa Ruko. Akib menghabiskan  Rp10.000 per hari, terkadang tidak sampai sejumlah itu.

Progress keluarga kami memang tidak cepat, tapi di sini kami juga bisa belajar menikmati dan mencintai sebuah proses, terutama bagi Kak Biyya yang selalu antusias dengan game tantangan di Kelas Bunsay Batch#3 Sumatra 1.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *