cerita ceriti,  disleksia,  my little angels,  my world,  Parenting

Belajar Asyik Ala Homeschooler

Sembilan anak homeschooler Bintang Kecil Atjeh kali ini belajar sains dengan materi Mikrobiologi di Laboratorium Fundament Lab Sains yang berada di jalan Laksamana Malahayati Baet, Kecamatan Baitussalam Aceh Besar. Anak-anak yang ditemani oleh dua mentor Bintang Kecil, Via dan Wardah mengadakan outing class dengan belajar langsung ke lapangan. Melihat bakteri-bakteri dan jamur yang dibiakkan dalam media-media tertentu, mempelajari manfaat bakteri dan jamur bagi kehidupan sehari-hari, dan yang paling menakjubkan adalah menyaksikan organisme yang berukuran mikro tersebut melalui mikroskop.

“Bakteri itu bentuknya macam-macam, ada yang basil atau berbentuk batang, ada juga kokus atau bulat. Kebetulan tadi kami mengamati bakteri berbentuk batang dan berwarna ungu,” ujar Alfi Kawakib salah satu siswa Homeschooling Bintang Kecil. Sebenarnya ada juga siswa yang bersekolah di sekolah formal, seperti Abdurrahman Hanif yang paginya ia bersekolah Madrasah Ibtidaiyah Terpadu, tapi sore juga mengikuti kelas sains di Bintang Kecil.

Salah seorang orang tua siswa yang ikut mengantar ke lokasi merasa tertarik dengan cara belajar yang tak biasa dari anak-anak HS ini. “Banyak hal-hal baru yang kita tahu. Selama ini saya juga enggak tahu, lo, kalau bakteri itu bisa diternak dan dijual pula. Kata Bu Dewi (Direktur Fundament Lab Sains) satu biakan kurang lebih sepertiga gelas kimia, biasa dijual 600 ribu. Luar biasa,” cerita Yusrina takjub.

 Banyak yang bisa dipelajari anak-anak saat outing class, selain tentang mikrobiologi dan peralatan pendukungnya seperti mikroskop, cawan petri, tabung reaksi, inkubator, sterilitator, anak-anak juga jadi tahu mengenai profesi seorang laboran. Variasi profesi tersebut menambah wawasan untuk memahami ke depan nantinya akan menggeluti profesi yang diminati. 

Maria Ulfa, Direktur Yayasan Bintang Kecil Atjeh mengatakan kelas sains adalah salah satu kelas informal yang diadakan di Bintang Kecil selain kelas Cooking. Biasanya anak-anak melakukan eksperimen sains dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka. “Belajar dengan cara ini lebih mengasyikkan dan membuat anak-anak teringat karena mereka langsung praktik,” terangnya.

Mencarikan kegiatan yang mengayakan semacam ini adalah cara-cara yang dilakukan orang tua yang memilih jalur Sekolahrumah atau yang biasa disebut Homeschooling. Lompatan cara belajar bisa didapatkan setiap hari. Apalagi bagi yang mengetahui tentang bakat. Orang tua yang sadar bakat, seringkali memilih jalur Sekolahrumah ini untuk anak-anak mereka. Penyelenggaraan pendidikan anak oleh keluarga sebagaimana yang dilakukan oleh keluarga homeschooling adalah sebuah kegiatan yang legal dan dijamin oleh hukum. Keluarga sebagai bagian dari masyarakat dijamin haknya oleh UU no 20/2003 untuk menyelenggarakan pendidikan bagi putra-putrinya. Sebagaimana dinyatakan dalam UUD 1945 dan UU Sisdiknas, setiap warga negara mendapat jaminan dan perlindungan untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Setiap anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan sesuai minat bakat dan kemampuan anaknya (Pasal 12).  

Banyak yang masih salah paham mengenai homeschooling, terutama mengenai sosialisasi. Jika berpikir homeschooling sekadar memindahkan sekolah ke rumah, mungkin bisa saja berdampak buruk pada kegiatan sosialisasi anak. Anak homeschooling terbiasa bergaul dengan orang-orang lintas usia di mana pada dunia kerja atau realita tidak semua rekan kerja usianya sebaya. Riset justru menunjukkan paparan sosialisasi lintas usia (vertical sosalization) yang dilakukan anak-anak homeschooling membuat mereka lebih luwes terhadap kegiatan sosialisasi dibanding dengan sekolah formal yang hanya terekspos dengan sosialisasi sebaya (horizontal sosialization).

 Saat ini banyak praktisi homeschooling di Aceh dengan latar belakang yang berbeda-beda, alasan memilih Sekolahrumah juga sangat bervariasi. Ada yang karena kerap berpindah-pindah tempat tinggal karena tuntutan kerja, ada yang merasa anaknya tidak nyaman di sekolah formal, ada juga karena merasa tercerahkan dengan sistem Home Education di mana orang tua terlibat langsung dengan pendidikan anak-anaknya.

Anak-anak homeschooling biasanya bisa belajar di mana saja. Bukan hanya di rumah sendiri, kadang mereka belajar di taman, di perpustakaan, di kampus sebuah universitas, di kafe, dan di rumah keluarga lainnya yang menyelenggarakan kegiatan homeschooling. Begitu juga dengan guru-gurunya. Biasanya yang mengajar anak-anak homeschooling adalah tutor-turor yang ahli di bidangnya masing-masing atau orang tua yang berbagi peran mengajarkan beberapa mata pelajaran yang diminati oleh anak. Mata pelajaran dan kurikulum anak homeschooling biasanya terkostumisasi disesuaikan dengan kebutuhan dan minat bakat anak.

Ada tiga jalur yang umum dikenal pada homeschooling yakni, jalur profesional, jalur akademis, dan jalur entrepreneur. Pada jalur profesional yang dinginkan adalah output dan kemampuan menghasilkan karya. Maka biasanya yang memilih jalur ini akan memiliki portofolio berupa hasil karya yang bermanfaat bagi orang lain. Saat ini profesi cukup beragam, seperti fotografer, desainer, videografer, web developer, penulis, blogger, dan lain-lain. Apalagi dengan pertumbuhan marketplace di dunia freelancing, ijazah saja tidak cukup, tapi dibutuhkan kemampuan riil dalam menghasilkan output dan menyelesaikan masalah.

Yang kedua, jalur entrepreunership. Menjadi pengusaha atau pebisnis adalah sebuah bidang profesi yang semakin populer di Era Revolusi Industri 4.0. Inilah yang dimaksud jalur entrepreneur. Apalagi saat ini peluang semakin terbuka karena modal yang dibutuhkan lebih minim dibandingkan dengan zaman dulu.

Ketiga, jalur akademis adalah jalur yang biasa diaplikasikan di sekolah-sekolah formal. Ini merupakan jalur biasa (mainstream) yang dulu disebut sebagai jalur satu-satunya untuk menggeluti dunia profesi. Padahal tidaklah seperti itu. Namun, bagi anak homeschooling yang menginginkan ijazah, bisa mengikuti ujian kesetaraan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang dikelola swasta maupun milik negeri. Untuk mengetahui PKBM yang terdekat dan kredibel, bisa mencari di website resmi Kemendikbud.

Menjadi orang tua homeschooling tentu berbeda dengan orang tua yang anaknya belajar di sekolah formal. Dikatakan berbeda karena orang tua homeschooling harus lebih banyak belajar agar bisa menjadi fasilitator dan tutor yang efektif bagi anak-anaknya. Orang tua homeschooling juga harus membuka diri dan bersedia belajar hal-hal baru. Kesediaan orang tua untuk belajar akan menciptakan budaya belajar yang tentu saja akan diadopsi juga oleh anak-anaknya dalam keseharian.          

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *